
Setelah Martin menciumi kening Anna, mereka berbalik dan melemparkan bunga tanga Anna.
Tapi, sebelumnya, para jomblo dan para single telah berdiri dibelakang pengantin baru.
"Satu...Dua....Lempar!!!" tanpa aba-aba lagi, Anna dan Martin melempar bolanya yang meneriman kala itu Andre. Ia secara tidaj sengaja menangkap bunga tersebut. Ia terpeleset dan menerima bunga tersebut.
"Parah lo, Ndre. Abang lo aja belum punya, lo udah mau melepas masa jomblo lo lagi." Seven kesak karena yang terlebih dahulu melepas masa lajang adalah adeknya bukan dirinya.
"Salah lo dong bang. Siapa suruh kagak mau cari calon." Andre terkekeh geli mendengar curhatan kakaknya itu.
"He eleh, gue duluan kali kak yang melepas masa lajang, bukannya kak Andre." Anna datang tiba-tiba karena melihat wajah Seven yang sudah berkerut macam baju belum kena setrika.
"Enak lo dek. Ntar malam pertama sama suami." ledek Andre.
"Gak ada yang namanya malam pertama kalo sama gue kak. Gue gak mau. Gue kan masih sekolah. Lagipula nih ya, biarpun aku ntar tamat sekolah, gue gak bakalan mau." Anna membantah perkataan Andre dengan nada jutek.
"Biasa aja kali Na. Ntaran juga kalau kamu udah jatuh cinta sama aku kamu bakalan mau tuh digrepe-grepe sama aku." Ucap Martin seraya merangkul bahu Anna dan menaikkan kedua alisnya.
"Auto najis!!! Aku gak bakalan mau sama kamu. Mending sama oppa Tae Hyung."
"Cie......udah panggil aku kamu nih ya. Kemaren lo gue sekarang aku kamu. Ada angin apa ndoro?" Andre menjahili Anna sambil menarik hidung adek kesayangannya itu.
"Aku mah terpaksa kak. Disuruh tuh sama big boss" ucap Anna sambil mencubit pinggang Anna dan beralih dari kakaknya, menuju ke tempat teman sekelasnya kumpul.
"Wihhhhh ada penganten baru nih." Ucap Maco melihat kedatangan Anna yang disusul oleh Martin. Namun kali ini Martin tidak hanya merangkul bahu Anna namun ia tidak segan-segan memeluk pinggang Anna. Walaupun Anna sedikit risih dengan tingkah Martin itu.
"Ya kali lo goda istri gue. Co, gak ngucapin nih selamat kek. Atau ngasih hadiah kek." Seketika semua kelas XI IPS A serentak saling tatapan dan
"Happy wedding Anna dan Martin." sontak teriakan keras itu membuat semua orang yang berada ditaman kapel terkejut dan melirik ke arah Anna, Martin dan teman-temannya."
"Buset dah, suara lo semua melebihi mercon tau gak? Pecah kuping gue." Anna menutup telinganya karena teriakan teman-temannya.
"Kan suami lo yang mau." elak Rahmat si ketua kelas.
"Cih...bawa-bawa gue lagi." Martin berdecih karena Rahmat menyeretnya masuk ke dalam hal itu.
"Anna, Martin!!! Ke sini sayang. Ayok kalian ke ruang ganti. Kita mau ke villa." teriak mama Naomi dari arah berlawanan.
"Eh, gengs gue sama Martin cabut dulu ya. Tin, bantu angkatin gaunnya ya. Berat soalnya." Anna cengengesan ketika meminta bantuan Martin. Martin hanya menganggukkan kepalanya karena ia dijadikan pengangkat gaun istrinya sendiri.
Setelah berganti baju, semua tamu undangan dan keluarga mempelai pergi dari kapel menuju villa keluarga Anna. Mereka akan mengadakan resepsi pernikahan Anna dan Martin disana.
Anna dan Martin dibiarkan semobil. Biasa lah ulah opa.
"Anna sama Martin kalian gak boleh pisah mobil. Itu naik mobil yang udah opa siapkan sebagai kado pernikahan kalian." ucap opa karena melihat Anna menuju mobil para teman wanitanya begitu juga dengan Martin.
"Iya opa." ucap Anna dan Martin secara bersamaan.
"Tin, ntar kamu mau aku tinggal dimana? Di rumah orang tua kamu atau di rumah papa?" tanya Anna dalam mobil. Ia bertanya demikian karen sudah mempertimbangkan perkataan opa tadi pagi.
"Bukannya kamu maunya kamu tinggal di rumah kamu, aku tinggal di rumah aku?" tanya Martin heran.
"Aku cuman nanya loh? Yang mana?" Anna mulai kesal.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Anna bingung.
"Ok. Pertanyaan aku, emangnya kamu mau kita serumah?"
"Aku udah mempertimbangkan kok, Tin. Gak usah takut aku berubah pikiran deh."
"Manurut aku sih, lebih baik kita pisah dari orang tua kita masing-masing. Lebih tepatnya bagusnya kalau kita punya tempat tinggal sendiri."
"Ide bagus tuh. Lagian aku gak mau kakek usilin aku terus. Sama mama lagi. Kesel deh. Intinya aku setuju." Martin menyernyitkan dahinya heran
"Gimana kalau kita tinggal di apartemen aja?" Martin bertanys meminta pendapat Anna.
"Emangnya, kamu punya apartemen? Kalo ada, ya gak papa kita tinggal di situ aja. Kalo enggak ya, di rumah orang tua kamu aja."
"Ada kok. Hadiah pemberian papa. Katanya kado pernikahan katanya."
"Oh".
Setelah pertanyaan tentang tempat tinggal sudah mereka bahas, kesunyian terpancar. Dimana Martin menyetir sedangkan Anna memandang keluar jendela sesekali juga ia memandang benda pipih yang sudah ia tempeli stiker kartun kesukaannya.
"Hoammmmm" Anna menguap karena merasa kelelahan.
"Tidur gih. Ntar aku bangunin kalo udah nyampe."
Tak butuh waktu lama, Anna sudah berada dalam alam mimpi. Martin kasihan karena kepala Anna terantuk di kaca mobil, sehingga ia mengambil kepala Anna dan meyenderkannya di bahunya.
Perjalanan panjang mereka tempuh. Waktu untuk menuju ke villa 1,5 jam. Membuat semua orang lelah. Tapi tidak dengan Martin. Ia tidak hanya lelah tapi juga merasa kesemutan pada bahunya.
Akhirnya mereka sampai. Mobil Martin dan Anna berada pada posisi terakhir.Martin menyetir dengan kecepatan sedang karena Anna sedang tertidur.
"Lama banget nyampenya dek." kata Tuti ketika Martin turun dari mobil.
"Anna ketiduran kak, jadi aku gak tega kalau aku ngebut." jawab Martin sambil mengangkat Anna masuk ke dalam villa.
"Opa, kamar Anna dimana opa?" tanya Martin kepada opa yang sedang berbincang dengan kedua orang tuannya.
"Kamar atas dekat pintu. Pelayan, tolong antarkan cucu mantuku ini ya."
"Baik tuan." setelah meminta izin, Martin mengantar Anna ke kamarnya atau lebih tepatnya kamar mereka berdua dan meletakkan Anna di atas kasur dan menarik selimut hingga batas leehrnya.
Setelah mengantar Anna ke kamar, Martin turun ke bawah dan mendatangi orang tuanya.
"Anna mana nak?" tanya Enjeli mamanya.
"Dia ketiduran di mobil ma, jadi aku anterin dia ke kamar buat istirahat." jelas Martin.
"Kamu gak apa-apain menatu mama kan?"
"Ya kali ma. Aku mana berani. Anna aja galak gitu. Bahaya ntar." Martin tertawa setelah berkata seperti itu kepada mamanya.
Lain halnya dengan Andre. Ia sedang mempersiapkan segala yang sesuatu yang dibutuhkan untuk acara resepsi adiknya tersebut ditambah dengan surprise yang akan dia berikan kepada seseorang.