First Time

First Time
Lelah



"Banyak bacot lo bang!!" Anna mendengus kesal melihat tingkah kakaknya yang sudah kelewatan jonesnya. Maklumi saja karena Seven orangnya memang tak terlalu ambil pusing soal cinta beda dengan Andre.


Anna pun beranjak dari tempat duduknya dsn pergi mencari cemilan. Kepergiaan Anna tidak disadari oleh mereka semua.


Ketika semua kelihatan mengantuk, Martin ingin menanyakan apakah Anna mengantuk atau tidak.


"An, lo ngantuk gak??" Ketika Martin hendak melihat Anna namun ia tidak menemukan Anna sama sekali. Ia seketika beranjak dari tempat duduknya mencari Anna.


Ketika ia selalu saja mondar-mandir, grandpa menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi.


"Kamu cari siapa Tin?" tanya grandpa.


"Grandpa lihat Anna gak? Soalnya tadi dia pergi pas semua main game."


"Gak lihat tuh. Terakhir pas Andre ngelamar kakak kamu Tuti."


"Oh gitu ya opa."


Setelah mendengar keterangan opa, Martin mencari Anna disegala penjuru vila. Tapi, hasilnya nihil. Ia tak menemukan Anna dimana-mana. Setelah berpikir dimana saja ia mencari Anna, terbesitlah di kepalanya agar mencari Anna di kamar.


"Iya, gue lupa belum nengok tuh anak di kamar."


Dengan sigap, Martin ke kamar dengan setengah berlari tanpa menghiraukan tatapan yang diberikan orang-orang kepadanya.


"Kesambet apa tuh adek kamu Tut??"


"Gak tahu. Mungkin pengen boker dia kali."


"Mungkin. Lanjutin gamenya."


Martin masuk ke kamar dan melihat Anna sedang menonton tv. Sejenak Martin memiliki ide untuk mengerjai Anna.


Ia mengendap-ngendap menuju sofa tempat Anna menonton tv. Dan....


"Dorrrr!!!!"


"Balon meletus seribu satu." Anna yang terkejut langsung menyuarakan kekagetannya dengan ocehan tak jelas yang ia berikan.


"Apaan sih, buat orang kaget aja." Anna mendengus kesal karena ulah Martin.


"Dicariin eh nyatanya ada disini."


"Emangnya mau kemana lagi kalo bukan di kamar?"


"Ya, aku kira kamu pergi karena tak menerima pernikahan ini."


"Ya kali,Tin. Yang ada aku dihukum sama papa."


"Siapa tahu aja. Eh, bentar kayaknya kamu udah mulai bisa menggunakan panggilan aku kamu deh." seringai licik pun kelur dari bibir Martin.


"Sudah berani ya menagatai suami kamu yang ganteng ini dengan sebutan bayi gede."


"Biasa aja kale. Seringan juga dipanggil kek gitu."


"Dasar nih anak ya, ngeles mulu kerjaannya."


"Bodo amat!!!! Mwekkmm!!" Anna menjulurkan lidahnya dari Martin dan berlari menuju kamar mandi.


Ia telah menyusun rencana. Ia akan menjahili Martin dan berlari menuju ke kamar mandi. Lagian juga nih ya, ia pengen mandi juga.


"Anna, awas kamu ya!!!" ancam Martin dari luar.


"Bodo amat!!!"


Setelah lima belas mandi, Anna keluar dari kamar mandi dengan baju santai malamnya alias baju tidur. Ia nampak lebih segar karena dari tadi wajah dan tubuhnya terasa lelah dengan semua acara dan aktivitas lainnya.


"Mandi, gih." Anna menyuruh Martin untuk mandi.


"Lima menit lagi." Martin menunda untuk mandi.


"Dibilangin malah ngeyel. Tunda lima menit, aku kunci di kamar mandi sejam. Mau?"


"Iya deh. Handuk mana?"


"Nih." Anna menyodorkan handuk yang dimaksud oleh Martin.


"Makasih bemut!!" ucapnya sambik menhacak rambut istrinya.


"Astaga!!! Ini rambut perawatan pake shampoo dari Prancis woi!!!"


"Palingan shampoo bayi tuh. Kan gak mau jadi duta shampoo lain"


"Dasar korban iklan"


Setelah sedikit adegan perdebatan, Anna beranjak ke tempat tidur. Sangat mudah terlelap. Anna hanya sebentar saja menutup matanya, namun ia sudah terbuai dengan mimpi-mimpinya.


Martin keluar dari kamar mandi mendapati Anna tertidur. Tanpa menunda lagi, Martin pun tidur disamping istrinya. Ia merasa lelah sekali hari ini.


Tanpa mereka sadari pintu kamar terbuka.


"Mereka sudah ternyata jeng." ucap Naomi.


"Iya jeng. Kayaknya mereka kelelahan deh." Enjeli pun menaggapi perkataan besannya itu.


"Kita biarin mereka tidur deh".