First Time

First Time
Reseption



"Kak, mama mana kak?" tanya Martin kepada Tuti kakaknya.


"Mama lagi meriksa catering dek. Takut kalo makanannya kurang." sahut Tuti.


"Oh. Ada yang bisa aku bantu gak?" tanya Martin. Ia merasa kasihan melihat kakaknya hilir mudik terus dihadapannya sedangkan ia hanya berdiri memandang kakaknya.


"Gak usah kamu bantuin kakak. Mending kamu lihat gimana kondisi Anna dulu apa dia udah bangun atau belum?" elak Tuti.


"Yaelah kak, barusan juga gue nganterin si bemut tadi ke kamar, masa nengok lagi sih? Yang ada nafsu gue gak bakal tertahan lagi kali kak." Martin meracau gak jelas karena kesal dengan tingkah kakaknya.


Tuti tertawa terbahak-bahak karena pernyataan yang diberikan oleh Martin. Tapi, tanpa ia sadari, sejak tadi ia terus dipandangi oleh seseorang. Ia tak berkutik. Ia terus saja memandangi Tuti.


"Gue bakalan buat lo kaget dengan apa yang akan gue berikan ke lo, Tut." kata seseorang tersebut dalam hati dengan seringai licik.


"Ndre, bantuin gue kek, dari tadi liatin apa sih?" perintah Seven yang tak bisa dia elak lagi.


"Gue lagi mandangin lucifer turun dari langit. Mana yang gue angkatin kak?" Andre bertanya tentang apa yang akan dia kerjakan.


"Ini, bawain barang-barang pengantin baru di kamar paling atas."


"Ke kamarnya queen?"tanya Andre.


"Yailah."


"Mending suruh Martin dah, dia kan suaminya si queen."


"Cepetan dah lo suruh dia setelah itu lo balik ke sini buat menata meja. Ingat lo gak usah lo lari dari tanggunggjawab lo ya." tatapan Seven ke Andre bagaikan tatapan elang yang siap menyerbu mangsanya. Andre paling sering lari dari tugas yang telah diberikan kepadanya oleh karena itulah Seven sangat mengantisipasi tingkah laku adeknya itu.


"Tin, bangunin Anna deh, acaranya mau mulai soalnya." Tuti menyuruh Martin memanggil Anna karena melihat semua persiapan telah rampung. Memang untuk acara resepsi ini persiapannya baru dilaksanakan setelah acara di kapel, berhubung karena jarak antara kape, rumah Anna dan vila sangat jauh. Untuk perawatan villa, pengurus villa hanya datang sekali seminggu, karena jarak antara rumahnya dengan vila cukup jauh. Lagipula untuk tempat diadakannya resepsi secara tiba-tiba saja dipilih oleh opa.


"Sekalian bawain barang kalian, Tin." sergah Andre.


"Iya kak. Kalo gitu aku ke atas dulu ya." pamit Martin.


"Lo mau diperhatiin kek gitu gak Tut?" tanya Andre seraya melirik Tuti yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Gak tahu gue. Mending lo bantu-bantu daripada ngoming terus."


"Baiklah kanjeng putri." Andrw kesal karena Tuti tidak menanggapi apa-apa.


"Emang enak aku kerjain? Lagian sih, santai mulu." Tuti cengengesan setelah Andre pergi sedikit menjauh dari Tuti.


"Tin, mau kemana nak?" tanya Darman.


"Mau bangunin Anna pah, soalnya acara mau mulai."


"Baiklah, bangunkan istrimu itu. Dia susah untuk dibangunkan jadi yang sabar ya nak." Darman tertawa setalah memberikan keterangan kepada Martin anaknya itu.


"Kalo gak bangun nanti aku buat gak bisa lagi pah" Martin ikut membalas celotehan papanya itu.


"Sudah mulai berani kamu ya, gangguin cucu opa." tanpa disadari oleh Martin, Opa Markus datang dan menjewer telinga kanan Martin.


"Ampun opa! Cuman becanda kok. Opa aku minta maaf, gak bakalan ngulangin hal serupa janji deh." Ucap Martin sambil mengancungkan jarinya membentuk huruf V.


**************


"Na, bangun acara mau dimulai."


"lima menit lagi ya."


"Bangun sekarang atau keperawanan lo sampai sini aja?" ancam Martin.


Namun, Anna tak berkutik ia berpukir bahwa Martin hanya berpura-pura. Anna tak menyangka bahwa Martin langsung melompat ke tempat tidur dengan perlahan-lahan membuka kancing kemejanya.


Acara resepsi pun dimulai. Anna menggunakan baju berwarna krem dengan motif renda-renda dengan celana pendek dengan bahan kain sama seperti bahan celana Martin, dengan kain berwarna perak menjuntai ke belakang menyerupai gaun nikahan yang ia gunakan tadi tetapi dalam versi celana dan baju. Ia menggunakan sepatu kets dan rambut digerai.


Sedangkan Martin menggunakan kemeja berwarna senada dengan ditutupi dengan jas dengan warna yang sama dan menggunakan celana pendek berwarna krem. Tak lupa ia menggunakan jam tangan breanded di tangan kirinya dan menggunakan snickers berwarna cokelat kesukaannya.


Jalur perjalanan mereka berada di atas karpet merah. Kedatangan mereka disambut dengan taburan bunga hingga mereka sampai ke meja mereka berdua.


Acara resepsi ini lebih ke acara barbequan. Keluarga Hilarius Prasetya dan Kristoforus lebih menyukai acara seperti ini karena lebih menonjolkan rasa kebersamaan.


Para lelaki memanggang daging sapi, sedangkan para wanita menyiapkan hidangan lain. Kedua pengantin pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sehingga mereka ditegur oleh opa.


"Seharusnya penggantin baru duduk santai bukannya bantu-bantu seperti ini."


"Bosan opa." jawab Anna.


"Kalau bosan, gak usah bantu masak atau apalah itu, kalian bantuin nyiapin meja hidangan aja. Ingat gak boleh menyentuh panggangan, gak boleh ke dapur, gak boleh ikut ke kelompok masing-masing." tegur opa.


"Sip opa" Martin mengancungkan jempolnya kepada opa menunjukkan bahwa ia akan melaksanakan tugasnya sesuai dengan arahan yang diberikan oleh opa.


"Tin bantuin aku dong"


"Bantuin apa?"


"Tiup mata dong, aku kelilipan."


"Bentar."


Wuihhhhhhh. Martin meniup mata Anna dan seketika tatapan mata mereka bertemu hingga membuat pipi Anna bersemu merah dan membuat Martin salah tingkah.


Setelah semuanya siap, mereka menuju meja makan dan makan bersama.


"Untuk pernikahan cucuku dan cucu mantuku cheers" Opa membuka acara makan bersama.


"Cheers." semua menyahut serempak.


Setelah acara makan-makan, Andre mengusulkan agar para anak muda berkumpul. Kumpulan anak muda itu siapa lagi kalau bukan Anna and she husband, Marti and he brothers, Anna friends, dan Tuti.


"Kita bakalan main truth or dears."


"Sip dah." sahut Nur.


"Gue puter ya botolnya dan....... Nur giliran lo truth or dear?" tanya Andre ke Nur.


"Truth aja deh, pertanyaannya kalo lo ngupil, lo suka naroh dimana?" pertanyaan konyol pun dikeluarkan oleh Andre.


"Kalo gue ngupil sih, gue suka naroh di kursinya Maco. Soalnya gue kesela dengan tingkah jonesnya." jawab Nur jujur sedangkan Maco menatap Nur dengan wajah garang.


"Sekarang giliran lo muter botolnya Nur." Maco menyuruh Nur untuk memutar bola dengan sedikit nada jutek.


"Martin truth or dear." Kali ini Martinlah yang terkena hukuman.


"Ciuman pertama lo sama siapa? Dan jika gak ada lo harus nyium Anna sekarang dengan sedikit bumbu gitulah" Nur memberikan pertanyaan plus challenge ke Martin.


"Apa-apaan sih ini? Bawa-bawa gue segala..."


"First kiss gue gak ada."


"Astaga! Kenapa gak bohong dikit sih, kan aku sasarannya." Anna menekuk wajahnya karena harus menerima kenyatasn pahit tentang apa yang akan dia terima.


Cup. Sebuah ciuman berakhir di bibir mungil Anna ketika semua perhatian menuju ke padanya.


"Oh God. My first kiss." Anna setengah berteriak namun berhasil ditahan oleh Martin dengan menutup mulut Anna dengan kedua tangannya.