First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 08




...-Kecelakaan-...


Setelah pulang sekolah tadi Ayli memutuskan untuk istirahat sebentar, sebenarnya ia sedikit kecewa saat sang ayah tidak menjemputnya tadi sepulang sekolah. Lagi-lagi ayahnya disibukkan dengan rapat dan rapat.


Dan sekarang ia baru saja selesai membersihkan badan selepas bangun tidur. Merasa bosan di rumah Ayli pamit pada bi Narmi pergi ke mini market dekat kompleknya.


“Beli apa ya?” Gumam Ayli memutari deretan rak jajan.


Salah satu kebiasaan buruk Ayli adalah lama dalam memilih barang atau makanan. Ayli bisa menghabiskan waktu satu jam dan hanya membawa dua sampai tiga jenis barang atau pun makanan. Beginilah jika dirinya lupa tidak mencatat keperluan yang harus ia beli.


“Beli ini tapi pengen ini” bimbang Ayli.


“Beli dua-duanya takutnya gak ke makan kan sayang” gumam Ayli.


Waktu terus berlalu sudah satu jam Ayli di mini market dan baru lah ia membawa dua snack rasa coklat ke kasir.


“Sekalian isi pulsanya kak?” Ucap pegawai kasir. Ayli menggelengkan kepala.


“Totalnya dua puluh dua ribu kak” Ayli memberikan satu lembar uang berwarna biru.


“Ini kembaliannya ya kak. Terimakasih”


Ayli berlalu tanpa menjawab ucapan pegawai itu, biar saja ia di kata sombong. Tapi sepertinya pegawai di mini market ini sudah terbiasa dengan sikap Ayli sama seperti para penjual di dekat taman kompleknya.


Ayli mendorong pintu mini market dengan pelan sambil memasukkan dompet ke dalam saku hoodienya.


“Udah mau magrib aja” gumam Ayli menatap indahnya langit sore.


Langkah Ayli terhenti melihat seorang ibu-ibu disebrang sana. Tadinya Ayli mencoba tidak peduli, tapi entah kenapa ia memilih memperhatikan langkah ibu itu yang akan menyebrang jalan.


Ayli terkejut saat melihat dari jauh seorang pengendara motor yang ugal-ugalan melaju ke arah ibu-ibu itu.


“IBU AWAS!!!” Teriak Ayli spontan.


Tapi sayangnya kejadian itu berlalu dengan cepat, Ayli terdiam di tempat menyaksikan tabrakan itu.


Orang-orang mulai berdatangan menolong korban tabrakan yang pingsan dengan luka di kepalanya. Sedangkam pelaku nya hanya luka ringan saja.


Ayli pun tersadar langsung menghentikan taksi untuk menolong ibu tadi. Ayli berlari mendekati kerumunan warga.


“Permisi pak tolong ibunya di angkat saya sudah siapkan taksi” panik Ayli.


“Baik mbak, ayo tolong dibantu ibu ini. Agar cepat di bawa ke rumah sakit sama mbak nya” ucap salah satu bapak-bapak.


“Cepet pak!” Entah dari mana datangnya rasa peduli pada Ayli saat ini. Dirinya yang tidak peduli dengan sekitar, hari ini ada rasa takut dan panik melihat ibu itu dalam keadaan lemah tak berdaya.


“Makasih pak” ucap Ayli lalu masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit terdekat.


———-


”Suster! Suster! Tolong, ada pasien kecelakaan!” teriak Ayli yang turun dari taksi.


Beberapa perawat berlari membantu ibu itu, Ayli mengikuti dari belakang setelah membayar taksi tadi.


“Semoga aja ibu itu tidak apa-apa” panik Ayli menunggu di kursi tunggu.


Ayli menatap tas ibu tadi di tangannya. Ia berpikir untuk menghubungi pihak keluarga ibu itu. “Enggak papa kan kalo buka tasnya?” gumam Ayli.


Di dalam tas itu terdapat dompet berisi beberapa kartu atm, uang tunai, kartu identitas dan ponsel ibu itu. Ayli mulai mengotak-atik ponsel itu mencari kontak yang bisa ia hubungi.


“Papa? Mungkin ini kontak suami ibu itu” gumam Ayli dan mencoba menelpon nomor itu.


...Via Telpon...


“Halo sayang, ada apa hm? Masak udah kangen aja sih? Papa bentar lagi sampek rumah kog, kamu yang sabar dikit dong sayang” suara pria paruh baya di seberang sana membuat Ayli meringis mendengarnya.


“Halo maaf om, bi-“


“Loh ini kan nomor ponsel istri saya? Anda siapa? Kemana istri saya?” panik suara di seberang sana.


“Saya Ayli om, yang bawa istri om ke Rumah Sakit Stay Healthy. Bisa om langsung kesini?” Ucap Ayli mendengar kepanikan di seberang sana.


...Via telpon berakhir...


Ayli memasukkan ponsel itu ke dalam tas kembali. Setidaknya ia akan menunggu sampai pihak keluarga ibu tadi datang.


Cklek


Pintu terbuka bersama dokter yang menangani ibu tadi, Ayli bangkit mendekati dokter.


“Bagaimana keadaan ibu tadi dok?”


“Mbak keluarga pasien? Pasien baik-baik saja, lukanya tidak terlalu parah setelah infus habis nanti bisa langsung pulang dan rawat jalan” Ayli mengangguk, rasa lega mendengar keadaan ibu tadi baik-baik saja.


“Kalau begitu saya permisi dulu ya” pamit dokter itu.


“Baik dok, terima kasih” ucap Ayli kembali duduk di kursi tunggu.


Tak berapa lama seorang suster datang dari dalam “Permisi mbak, pasien sudah siuman dan menanyakan mbak” jelas suster.


“Saya?” Tanya Ayli menunjuk dirinya.


“Iya, bukan tadi mbak yang membawa pasien ke sini? Jadi pasien ingin bertemu langsung” jawab suster.


‘Sekalian sama balikin tasnya kalik ya? Trus pamit pulang’ batin Ayli lalu mengangguk dan masuk.


Ayli menatap kasian pada ibu yang ia tolong tadi. Lukanya memang tidak parah tapi cukup membuatnya panik hari ini. Ayli berdiri di samping ranjang rawat.


Tanpa sadar tangan Ayli menggenggam lembut tangan ibu itu, sekilas pikirannya mulai kacau. Berandai-andai jika sang bunda masih hidup mungkin ia bisa menggenggamnya seperti ini. Ayli terus menatap tangan yang ia genggam tanpa menyadari ibu itu menatapnya sendu.


“Nak” lirih ibu itu.


“Hah?” Terjingkat kaget.


“Ah maaf sudah lancang menggenggam tangan ibu, istirahat ibu keganggu ya. Maaf ya bu” ucap Ayli menarik genggamannya namun ditahan oleh ibu itu.


“Tidak apa-apa, justru saya mau berterima kasih karena kamu sudah mau menolong saya. Makasih ya anak manis” ucap ibu itu tersenyum tak kalah manis dengan Ayli.


Sudut bibir Ayli tersenyum teduh lalu mengangguk, sudah lama ia tidak tersenyum walau setipis ini. Kapan terakhir kali ia merasa nyaman sekaligus tenang seperti ini.


“Nama kamu siapa nak?” Tanga ibu itu.


“Ayli bu” singkat Ayli.


“Cantik kayak namanya” puji ibu itu.


“Makasih bu” Ayli malu-malu meong.


“Oh iya suami ibu dalam perjalanan kemari dan ini tas ibu, maaf tadi Ayli pinjam ponsel ibu tanpa ijin” Ayli menaruh tas itu di atas nakas samping ranjang.


“Tidak apa-apa cantik, ibu jutru berterima kasih sekali” Ibu itu terus tersenyum menatap wajah cantik Ayli.


Ayli yang merasa canggung diperhatikan memilih untuk pamit pulang dengan alasan sudah malam. “Ayli pamit pulang ya bu, maaf tidak bisa menunggu lebih lama. Semiga ibu lekas sembuh”


“Terima kasih nak, hati-hati. Dan semiga kita bisa bertemu kembali”


Ayli mengangguk dan keluar dari ruangan itu, tanpa di sadari Ayli berpapasan dengan suami dari ibu yang ia tolong.


Di lobby rumah sakit Ayli menunggu taksi online yang ia pesan, tak lama dari itu taksi datang dan Ayli pun pulang.


“Ayli?” Gumam Kaivan di ujung lobby. Kaivan baru sampai dan melihat Ayli yang baru saja keluar.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...