First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 18




...-Pelampiasan-...


Ayli menatap pantulan tubuhnya di cermin, luka lebam di pipinya sangat kentara belum lagi mata pandanya yang sembab. Ayli meringis saat menyentuh pipi kirinya itu. Selesai dengan riasan natural untuk menyamarkan lebam pipinya Ayli bangkit membuka lemari pakaian khusus hoodienya. Berjejer berbagai hoodie dengan warna berbeda.


Ayli memilih hoodie berwarna hitam untuk hari ini, selain warnanya yang hitam tudung hoodie itu lebih besar dari hoodie yang lain. Sekali lagi Ayli menatap pantulan dirinya sebelum menarik ransel di meja.


Pagi ini Ayli berangkat lewat pintu samping, ia terlalu malas bertemu orang rumah. Dapat ia pastikan kakek dan neneknya masih di rumah ini. Tidak ingin semakin mengacaukan harinya Ayli memutuskan berangkat begitu saja.


“Ayli berangkat bunda” gumam Ayli menatap bingkai foto bundanya.


Tanpa Ayli tahu dari lantai dua seseorang menatapnya dari lantai balkon kamarnya.


Sampai di halte bus Ayli terdiam memasang headsetnya memutar lagu yang akhir-akhir ini sedang asik untuk di dengarkan.


Ayli menoleh ke bawah saat di rasa seseorang menarik hoodienya. “Untuk kakak cantik” ucap anak kecil yang menarik hoodienya.


Ayli menatap lolipop ditangan mungil anak itu, meraih lolipop berbentuk love itu lalu menatap gadis kecil yang kini berbicara pada ibunya.


“Ibu-ibu”


“Ada apa sayang? Sabarnya bus nya bentar lagi datang” ucap wanita itu.


“Kalau udah gede nanti aku pengen jadi seperti kakak cantik itu” sahut gadi kecil menunjuk pada Ayli.


Ayli tersenyum canggung pada ibu gadis kecil itu. “Sayang yang sopan sama kakaknya, maafin anak saya ya dek”


“Enggak papa bu”


“Makasih lolipopnya ya cantik” ucap Ayli menyentuh pipi gembut gadis kecil itu.


“Sama-sama kakak cantik”


“Sayang bus nya udah datang tuh, kita duluan ya dek” pamit wanita itu ramah pada Ayli.


Ayli mengangguk melambaikan tangannya pada gadis kecil pemberi lolipop itu. Ayli tersenyum tulus melihat gadis itu membalas lambaian tangannya. Pagi yang hangat, pikirnya.


Tak lama bus arah sekolah Ayli datang, ia naik dan memilih bangku paling belakang. Rata-rata penumpang bus ini para pelajar yang kebetulan ada empat sekolah dalam satu arah ini, salah satunya sekolah SMAN RENVARICA.


Ayli terdiam menatap lolipop di tangannya ingatannya kembali pada gadis kecil yang ingin menjadi dirinya kala besar nanti. Ayli tersenyum kecut mengingatnya.


‘Jadi sepertiku? Bahkan hidupmu lebih baik dari ku gadis lolipop’ batin Ayli memasukkan lolipop di dalam saku hoodienya lalu turun saat sudah sampai halte sekolahnya.


Ayli melangkah memasuki gerbang sekolah selesai membayar bus tadi. Cuaca pagi ini cukup sejuk untuk suasana hati Ayli yang kacau. Untung saja sebangun tidur tadi tubuhnya sudah mendingan dan tidak demam lagi, hanya sedikit pusing.


Bruk


Ayli tidak sengaja menabrak seseorang saat di belokan koridor. Mulutnya berdecak kesal saat tau siapa yang ia tabrak pagi ini, apa paginya akan kembali ancur? Pikirnya.


“Lo kalo jalan pakek mata dong!” Sentak Renata.


“Ck jalan tuh pakek kaki tolol” ketus Ayli.


“Wah cari masalah nih cewek pembawa sial sama lo Ren” ucap Sisil memanasi Renata.


Tak ingin berlarut dalam masalah tak berguna Ayli berlalu pergi. Namun, lengannya di tahan oleh Renata. “Sombong banget lo” mendorong Ayli ke tembok.


Ayli meringis saat punggungnya menghantam tembok dengan keras. Ia menghela nafas lalu menatap Renata sengit.


“Mau lo apa sih? Oke gue minta maaf soal nabrak lo, gak sengaja” jelas Ayli mendongakkan wajahnya menatap Renata.


“Enggak sengaja kata lo? Lo pasti sengaja lah nabrak gue secara lo pasti dendam banget sama gue” ketus Renata.


Ayli memutar bola mata malas dengan tingkah kekanakan Renata saat ini. “Gue gak ada urusan sama lo dan gue udah minta maaf”


“Masak cuma segini aja Ren? Kasih pelajaran lah dia kan udah nabrak lo” ucap Sisil


“Iya Ren, udah sok cantik lagi cari-cari perhatian ma cowok yang lo suka siapa tuh si Kaivan kan” sambung Ayumi, antek-antek Renata paling jago emang kalo manas-manasin.


Ayli sendiri mengernyit apa hubungannya sama Kaivan coba? Oh Ayli paham cabe di depannya ini suka sama Kaivan gitu? Ck cewek cabe kek dia aja kalah sama gue, mode kepedean si Ayli nih.


“Lo semua emang bener guys, ni orang emang harus di beri pelajaran. Udah pembawa sial, ngejalang lagi semalem di bayar berapa sih lo?” ucap Renata memancing emosi Ayli.


“Di bayar murah tuh pastinya” sahut Sisil dan Ayumi tertawa mengejek.


“Makanya murahan” sahut Renata membuat mereka saling tertawa.


Terlihat dari tangan Ayli yang mulai mengepal menahan emosinya yang memuncak, Renata mendekat satu langkah pada Ayli sambil berkata “Lo itu cuma bikin malu nyokap lo yang udah mampus tau gak”


Ucapan Renata kali ini sudah keterlaluan. Ayli melayangkan tamparan keras pada Renata. Matanya berkilat merah mencengkram kerah baju Renata.


“Lo emang pantes jadi pelampiasan gue kali ini” desis Ayli menakuti Renata yang semakin pucat wajahnya.


Renata tidak habis pikir jika Ayli bisa semenakutkan ini. Bahkan Ayli tidak peduli dirinya yang sudah menjadi tontonan satu sekolah.


BRUAK


BRUAK


Ayli menendang antek-antek Renata dengan masih mencengkram kerah Renata yang mulai kesakitan.


“Lo udah bikin gue muak sama tingkah lo Renata anj*ng” amarah Ayli sudah tak terkendali.


PLAK


PLAK


PLAK


DUG BRUAK


“MATI AJA LO ANJ*NG” teriak Ayli murka.


Ayli melayangkan tiga kali tamparan keras pada Renata sebelum akhirnya menendang perut gadis itu sampai ambruk di lantai dingin koridor tak sadarkan diri. Bahkan Renata sempat semuntahkan darah segar sebelum tak sadarkan diri.


Hari ini Renata memang salah mencari masalah dengan Ayli yang merasa kacau, di sini lain Ayli seakan menyalurkan rasa emosinya yang tertahan selama ini. Ayli merasa puas menghajar Renata dan antek-anteknya. Biarkan saja dan cukup hari ini dirunya lepas kendali, Ayli sudah tidak peduli.


“AYLI!!!” Teriak Kaivan menatap Ayli dengan nafas terengah dan tiga gadis terkapar lemah di atas lantai.


Kaivan dan Yudha baru saja sampai di sekolah dan melihat kerumunan siswa di koridor sekolah, sampai ia mendengar teriakan Ayli membuatnya Kaivan berlari menerobos kerumunan itu. Dan apa yang terjadi kali ini, Kaivan menatap tidak percaya pada Ayli.


“Yud bawa mereka ke rumah sakit terdekat sekarang“ pinta Kaivan lalu menarik tangan Ayli menuju rooftop sekolah.


“Woy bantuin gue malah diem aja lo semua, udah yang laen pada bubar. Bubar lo pada!” Kesal Yudha mendapat sorakan dari siswa lain.


Yudha membawa Renata dan temannya dibantu anak-anak PMR.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...