First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 23




...-Day 2, Pukulan Farel-...


Farel baru saja keluar dari kelas bersama Viona. Hari ini mereka hanya ada satu mapel kuliah di pagi hari dan itu sudah cukup melelahkan apa lagi bagi Viona.


“Dosennya ngeselin, enggak tau apa kalo Vio kan udah capek dengerin ocehannya” gerutu Vio berjalan di depan Farel.


“Ngeluh terus bisanya” sahut Farel menjitak kepala Viona dari belakang.


“Aduh, sakit tau Rel!” Pekik Viona mengaduh kesakitan padahal jitakan Farel tidak sesakit itu, dirinya saja yang ratu drama.


Farel memiting leher Viona menarik menuju kantin, gadis satu ini sangat lemot dalam segala hal.


“Pelan-pelan Rel! Nanti kalo leher Vio putus gimana!” Pekik Viona sekali lagi memukul lengan Farel.


“Ganti sama leher kucing” sahut Farel enteng lalu mencari tempat duduk di kantin.


“Nyebelin banget sih” kesel Viona saat Farel melepaskan pitingannya.


“Lemah” ejek Farel dengan wajah menyebalkan.


“Ih Farel nye-“


BUGH


BUGH


Belum selesai Viona mengomel, gadis langsung berteriak histeris saat seprang pria seumurannya memukul wajah Farel. “Aaagghh... Farell!!”


Tak jauh beda dengan Viona, Farel sendiri terkejut dengan pria yang tiba-tiba memukulnya itu. Farel tak tinggal diam langsung membalas pukulan itu. Perkelahian diantara keduanya pun tak terelakkan.


“Farel stop!! Farell!! Stop!!!” Teriak Viona saat melihat wajah lebam di antara kedua pria itu.


Farel mencengkram kerah pria yang ia ketahui bernama Rio itu. Farel berhasil mengalahkan Rio dengan mudah. “MAKSUD LO APA BANGS*T!! GUE ENGGAK PERNAH GANGGU LO!!! DAN LO DATENG CARI MASALAH, HAH!!! JAWAB GUE!!” Amuk Farel tepat di wajah Rio yang sudah babak belur.


“Lo pengen tau kenapa? KARENA ADEK LO BANGS*T” teriak Rio yang langsung mendapat pukulan keras di wajahnya.


“GUE KAGAK PERNAH PUNYA ADEK!!” Ucap Farel dengan emosi tertahan.


Viona terdiam mendengarnya, bukan kah jelas-jelas Farel mempunyai adek yang jaraknya tidak jauh dengan pria itu. Bagaimana bisa Farel tidak mengakui adeknya? Pikir Viona.


“Cuih! Bullshit lo! Jelas-jelas lo punya adek pembawa sial! Dan sialnya gara-gara adek lo! Adek gue harus masuk rumah sakit dan terancam di drop out! Itu semua juga karena ADEK LO!!” Tekan Rio di akhir kalimat.


Melihat wajah bingung Farel membuat Rio tersenyum mengejek. “Atau jangan-jangan lo enggak tau masalah apa yang udah di buat adek lo yang pembawa sial itu?”


Tepat sasaran tebakan Rio, “Jadi simpenan om-om mana sih adek lo? Sampek dia dapet pembelaan penuh dari sekolah dan cuma di skors selama seminggu. Sedangkan adek gue di skors selama sebulan dan terancam drop out dari sekolahnya” jelas Rio.


Kedua tangan Farel mengepal lalu memukul Rio sekali lagi dan mendorong tubuh pria itu kebelakang. Rio langsung dibawa ke uks oleh teman-temannya.


“Farel” panggil Viona lirih menatap kilatan amarah di kedua mata pria itu.


Farel menepis tangan Viona di lengannya lalu pergi begitu saja dengan amarah yang belum juga reda. Viona panik terjadi sesuatu pada pria itu, Viona pun berlari mengikuti Farel yang sudah masuk kedalam mobilnya.


Viona berdecak kesal lalu berlari ke depan gerbang menyetop taksi mengikuti mobil Farel yang melaju cepat di depan sana.


“Ikutin mobil itu pak! Cepetan” pinta Viona pada sopir taksi.


————


Sedangkan Ayli ditemani bi Narmi sibuk membuat kue bolu yang akan dirinya bawa nanti saat keluar dengan Kaivan. Hari ini Kaivan berjanji akan mengajaknya ke pantai.


Saat ini mereka hanya tinggal menunggu bolunya matang, sesekali Ayli menengok ovennya membuat bi Narmi terkekeh.


“Non Ayli enggak sabar banget ya?” Ledek bi Narmi.


“Iya bi” jawab Ayli dengan wajah polosnya.


“Baunya enak banget bi” seru Ayli saat mencium bau harum kue bolu nya.


“Sabar ya non, bentar lagi mateng kalo udah harum” ucap bi Narmi.


“Oh iya non, kemarin non Ayli pergi sama siapa?” Tanya bi Narmi.


“Kemarin Ayli pergi sama temen bi” jawab Ayli seadanya.


“Kaivan bi” jujur Ayli.


“Orangnya ganteng ya non?”


“Iya.. eh, bibi bilang apa?” Tanya Ayli kelagepan, ini mulut enteng banget jawabnya pikir Ayli.


Bi Narmi tertawa kecil lalu membuka oven mengambil loyang berisi kue yang selesai di panggang itu. “Nih udah mateng non”


Ayli tersenyum kikuk kan jadinya kalo begini. Salah kan saja mulutnya, Ayli mengambil piring berukuran besar untuk menaruh kuenya.


“Bibi irisin dulu ya non” Ayli mengangguk semangat.


“Enak banget bi!” Pekik Ayli saat merasakan kelembutan kue buatannya ini bersama bi Narmi.


“Ya udah non Ayli bawa ke meja makan ya. Sambil nunggu dinginnya, ini biar bibi hang beresin”


“Enggak papa bi? Biar Ayli bantu aja deh bi”


“Eh jangan atuh non, udah non duduk di mena makan aja. Lagian cuma cuci loyang sama beresin oven aja kog”


“Iya udah Ayli tinggal ya bi” Ayli keluar dari dapur dengan sepiring kue bolu di tangannya.


BRUAK!!


Dari arah depan suara pintu di buka secara tidak manusiawi sampai meninggalkan suara keras membuat Ayli penasaran saja.


Baru Ayli akan menaruh piring di tangannya, Farel muncul dengan langkah panjang tangan terkepal dan kilatan amarah dimatanya.


“Kam Farel ke-“


BRUAK


KLONTANG... PYAAARRR...


PLAK


Perkataan Ayli terpotong saat Farel menepis tangan Ayli membuat piring berisi kue dan pisau itu jatuh bersama suara pecahan piring. Tak sampai situ saja Farel melayangkan tamparan keras dipipi Ayli hingga sudut bibirnya robek berdarah.


Ayli yang shock terdiam di tempat, semua terjadi dengan sangat cepat sampai tatapannya tertuju pada kue bolu yang sudah hancur bersama pecahan piring di lantai.


“Non Ayli!” Teriak bi Narmi dari arah dapur.


“DIAM DAN JANGAN IKUT CAMPUR!!” Tudung Farel membuat bi Narmi terdiam di tempat.


“APA YANG UDAH LO LAKUIN BANGS*T!!” Bentak Farel dengan mencengkram rambut Ayli kebelakang membuat gadis itu menangis memohon ampun.


Ayli menangis saat Farel menjambak rambutnya, rasa sakit dan panas menjalar di kulit kepalanya. Ia tidak tau apa kesalahannya sampai membuat Farel semarah ini.


“Ampun kak hiks.. Sakit hiks” tangis Ayli.


Bukannya berhenti Farel semakin menarik rambut Ayli tanpa belas kasihan.


“BIKIN ULAH APA LO HAH!! SAMPAI BIKIN GUE MALU DI KAMPU!! UDAH MERASA JADI JAGOAN LO BIKIN ANAK ORANG MASUK RUMAH SAKIT!!! LO TAU KELAKUAN LO YANG KEK ANJ*NG ITU UDAH BIKIN GUE MALU DI KAMPUS!!” Bentak Farel sekali lagi sebelum menghempaskan kepala Ayli sampai terantuk tembok.


Ayli meringis merasakan darah mengalir di keningnya dengan posisi duduk bersandar.


“GARA-GARA LO GUE KENAK IMBASNYA!!! Jadi dua hari lo di skors? Dan ayah gue enggak tau kalo anak pembawa sialnya lagi bermasalah?” Farel tersenyum mengejek saat melihat raut wajah terkejut sekaligus panik Ayli.


Farel berjongkok tepat di depan Ayli mencengkram keras rahang mungil itu. “Ngej*l*ng dimana lo sampek masalah sebesar itu tertutup dengan rapi? Jadi simpanan om-om mana lo? JAWAB ANJ*NG!!”


Bibir Ayli bungkam terisak ketakutan dengan wajah Farel yang berkilat merah. Bibirnya sakit, kepalanya pening dan Farel bukannya berhenti malah semakin menjadi.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...