First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 15




...-Pulang Bareng-...


Waktu jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu dan Yudha baru saja sampai di uks.


“Lama” ketus Kaivan.


“Yeee, tau sendiri tuh si pak botak kalo di taruh jam terakhir selalu lupa waktu. Nih tas kalian” ucap Yudha memberikan tas milik Kaivan dan Ayli.


“Thanks”


Bukan Kaivan yang berucap tapi Ayli barusan, Yudha tercengang mendengarnya.


“Akhirnya lo kagak bisu ya”


Spontan saja Kaivan menginjak kaki Yudha membuat pria itu mengaduh kesakitan. Lalu Ayli? Gadis itu tidak peduli apa kata orang padanya bukan?


“Hadduhh sakit ogeb” ketus Yudha.


“Apa lo bilang? Bilang sekali lagi” pinta Kaivan dengan wajah tak kalah kesalnya.


“Hehehe canda babang Kakav” Yudha menyengir menggaruk tengkuknya.


“Nama gue Kaivan” menekan kata Kaivan.


Ayli memutar bola mata bosan melihat pertengkaran dua pria itu. Perlahan ia turun dari ranjang yang langsung di bantu Kaivan.


“Hati-hati Ay” ucap Kaivan lembut.


“Yeee giliran ma gue aja suka banget ngegas nya” iri Yudha.


Kaivan menyuruh Ayli duduk di sofa dan membantu gadis itu memakai sepatunya.


“Enggak usah gue bisa sendiri” lirih Ayli di sela ringisannya.


“Masih pusing?” Kaivan mendongak menatap Ayli.


Saat ini Kaivan sedang berjongkok di depan gadis itu, Ayli mengangguk jujur jika kepalanya masih terasa pusing. Tadi Ayli menolak saat Kaivan akan memanggil dokter jaga.


“Udah gue sendiri aja”


“Aku maksa Ay” tegas Kaivan.


Ayli diam tak ingin berdebat dengan Kaivan yang ternyata punya sifat keras kepala sama sepertinya.


‘Berasa nonton drama kesukaan kakak gue kan’ batin Yudha lalu pergi begitu saja tidak ingin mengganggu waktu mereka.


Itung-itung membantu Kaivan pdkt kan? Lagian tugas Yudha juga sudah selesai disini. Yudha membuka ponselnya mengirim pesan pada Kaivan.


📩Gue pulang duluan, taksinya udah nunggu di depan gerbang.


Kurang lebih seperti itu isi pesan Yudha. Hari ini Kaivan membawa motor sport kesayangannya ke sekolah jadi sangat tidak mungkin dirinya mengantarkan Ayli pulang dengan motornya. Apa lagi kondisi Ayli yang tidak baik-baik saja.


Setelah membaca pesan dari Yudha, Kaivan mengajak Ayli pulang.


“Kita pulang” ajak Kaivan.


“Lo duluan aja, gue bisa sendiri” tolak Ayli.


“Aku maksa Ay, kita pulang bareng. Aku mau anter kamu sampai rumah dengan selamat. No komen” tegas Kaivan membuat Ayli mengalah.


Kaivan berjalan di samping Ayli, gadis itu tidak ingin di tuntun jadinya Kaivan ekstra hati-hati menjaga Ayli agar tidak tumbang lagi. Di parkiran Ayli menatap motor sport milik Kaivan.


“Motor lo?” Tanya Ayli


“Udah gampang yang penting tuh aku udah mastiin kamu sampai rumah dulu Ay” jelas Kaivan.


Seperti pesan Yudha tadi di depan geebang sudah ada taksi online menunggu mereka. Ayli masuk di ikuti Kaivan di jok belakang.


Ayli memberi tahu alamat rumahnya pada sopir taksi tersebut.


“Rumah kita masih satu area komplek ya ternyata, cuma beda gang aja”


“Kenapa lo ngotot banget si?”


“Udah dari sononya kali Ay” canda Kaivan.


“Lagian lo kan bisa pulang bawa motor lo dan gue pakek nih taksi” Ayli tak habis pikir dengan Kaivan.


“Udah nanti mah gampang biar sopir di rumah yang ambil motornya” sahut Kaivan.


“Ck aneh lo” gumam Ayli masih dapat di dengar Kaivan.


Sampainya di depan gerbang rumah Ayli, Kaivan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Ayli.


“Thanks” lirih Ayli lalu meninggalkan Kaivan begitu saja.


“Ay” panggil Kaivan.


Ayli berhenti lalu berbalik menatap Kaivan yang masih setia di samping taksi.


Ayli masih terdiam menatap taksi yang menjauh dari pintu gerbang rumahnya. Seutas senyum terpantri di wajah cantiknya.


Ayli masuk ke dalam rumah dengan sempoyongan. Bi Narmi berlarian saat melihat anak majikannya terlihat pucat.


“Non ndak papa? Kog wajahnya pucet banget? Mau bibi panggilin dokter non?” Bi Narmi memapah Ayli sampai ke kamar.


“Enggk usah bi, tolong ambilin Ayli makan aja ya bi. Nanti juga sembuh” ucap Ayli duduk di sofa kamarnya.


“Yaudah bibi ambilin dulu ya non”


Bi Narmi bangkit menuju dapur menyiapkan nasi dan lauk untuk nona mudanya itu. Sedangkan Ayli duduk terdiam di kamarnya, mengingat perlakuan Kaivan padanya sungguh manis. Baru kali ini ada yang begitu peduli merawatnya saat sedang sakit selain bi Narmi.


Ayli menoleh menatap bingkai foto sang bunda di meja kecil samping sofanya.


“Bunda” panggil Ayli lirih.


“Kepala Ayli pusing lagi bunda, apa pertemuan kita sudah semakin dekat?” Gumam Ayli menatap lurus kamarnya.


“Ayli pasti bakal kangen banget sama kamar ini bunda” tangis Ayli memegang kepalanya yang berdenyut.


Ayli bangkir menuju nakas samping ranjangnya membuka laci paling bawa lalu mengambil botol kecil berisi obat. Ayli meneguknya bersama segelas air mineral yang selalu tersedia di kamarnya.


Nafas Ayli yang tadinya sedikit tersengkal menjadi tenang dan beratur, rasa sakit yang ia rasakan juga berangsur hilang.


Tok


Tok


Tok


Bi Narmi datang membawa nampan berisi makanan untuk Ayli.


“Non” panggil bi Narmi menaruh nampan di atas nakas.


“Non beneran ndak papa? Kita ke dokter aja gimana non?”


“Enggak usah bi, nanti kalo udah makan juga sembuh. Bibi tenang aja”


Bi Narmi mengangguk lalu pamit ke dapur lagi. Ayli menatap tak napsu makanan itu, tapi ia tidak mau membuat bi Narmi sedih. Ia pun melahap makanan itu dengan perlahan.


“Apa nantinya Ayli juga pergi dalam keadaan sendirian bunda?”


———


“Rel, gimana kalo tugas ini kita kerjain di rumah kamu?” Tanya Vio.


“Di rumah lo aja” sahut Farel.


“Ibu enggak ada di rumah siang ini sampek sore” jawab Vio yang diangguki Farel.


“Oke di rumah gue” ucap Farel.


Bukan apa, Vio tidak pernah membawa teman cowoknya kerumah saat sang ibu tidak ada. Ia sudah terbiasa dengan nasehat alm. sang ayah. Farel sendiri juga tidak terlalu membingungkan hal itu.


Farel duduk di atas motor sportnya lalu menatap Vio yang masih terdiam di tempat.


“Kenapa?” Tanya Farel melihat wajah bingung Vio.


“Jok belakangnya kapan sih dipendekin dikit, susah tau naiknya” omel Vio.


Farel memutar bola matanya kesal, bagaimana gadis itu berpikir heh? Isi otaknya sering membuat Farel kesal sendiri. Farrel mengulurkan tangannya membantu Vio naik ke jok motornya.


“Gak usah ngomel” ketus Farel.


“Lagian kamu ngapain sih Rel beli motor bikin sakit punggung tau gak” ketusa Vio tak mau kalah.


“Udah diem pakek helmnya” Farel mengulurkan helm milik Vio yang selalu Farel bawa jaga-jaga kalo gadis itu nebeng dia.


Tapi emang hampir tiap hari Vio berangkat dan pulang bareng Farel sih.


“Pegangan gue mo ngebut”


“Enggak usah ngebut Rel masih siang juga la- Aaaaargghhh” teriak Vio langsung memeluk pinggang Farel saat pria itu langsung melesatkan kuda besinya.


Sumpah serapah sudah Vio ucapkan sejak tadi dan tanpa gadis itu sadari Farel tersenyum di balik helm full face miliknya.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...