First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 26




...-Day 3, Mereka bertengkar?-...


Farel menatap Viona yang duduk di bangku depan, tidak seperti biasanya akan selalu di samping Farel. Mereka seakan menjaga jarak pagi ini, lebih tepatnya Viona yang menghindar dari Farel.


Masuk kelas sendiri, ke kantin sendiri, seharian ini Viona menghabiskan waktu kuliahnya sendiri tanpa bertegur sapa dengan Farel. Hal itu membuat para mahasiswi berasumsi jika mereka berdua sedang berperang dingin.


Seperti saat di kantin tadi Viona memilih duduk di meja lain dan menikmati makanannya sendiri. Lalu Farel? Sudah pasti pria itu berada di meja biasa dirinya dan Viona duduk. Pemandangan itu membuat heboh seisi kantin.


“Eh eh lihat tuh Viona kog duduk sendirian. Mereka lagi berantem gak sih?”


“Iya bener banget, dari wajah mereka berdua aja udah kelihatan kalo mereka berantem”


“Kali aja karena masalah kemarin itu loh”


“Ah iya bener banget kayaknya si Farel deh yang marah ma si Viona, iya gak sih?”


“Akhirnya mereka putus juga”


“Mereka berantem ya? Atau putus? Emang pernah jadian ya?”


Kurang lebih seperti itulah desas desus yang terjadi tadi sampai membuat Viona beranjak pergi dari kantin tanpa menghabiskan makanannya, dirinya terlalu risih dengan omongan mahasiswi lain.


Farel menghela nafas mengingatnya, ia paham betul pasti Viona tidak nyaman tadi. Di depan dosen pun memberikan arahan tugas untuk mahasiswanya sebelum mengakhiri jam pelajaran siang ini.


Farel tidak menggubrisnya sama sekali sampai jam pelajaran itu pun berakhir dan kelas mulai sepi. Farel beranjak mendekati Viona yang masih sibuk memasukkan laptopnya.


“Vi” panggil Farel.


Diam, tidak ada sahutan dari gadis itu. Viona seakan tuli saat Farel memanggilnya. Gadis itu hanya sibuk dengan ranselnya sebelum bangkit dan pergi begitu saja.


“Vi! Lo kenapa sih?” Farel menahan lengan Viona. Oke sepertinya Farel salah berucap kali ini.


Viona menepis tangan Farel lalu mengangkat kepala menatap tajam pria di depannya ini.


“Kamu barusan bilang apa?”


Farel terdiam sebelum kembali berucap, “Lo Vi, lo kenapa sih? Oke gue minta maaf soal bentak lo kemarin. Tapi enggak usah sampek segitunya lo ngehindarin gue kan?”


Viona tertawa kecil mendengar perkataan Farel yang begitu enteng dalam pemdengarannya. Farel sendiri di buat heran dengan tawa Viona.


“Rel, enteng banget sih kamu bilang kek gitu? Kamu sadar enggak sih sama yang udah kamu lakuin kemarin, hah?” tuding Viona dengan wajah memerah menahan emosi.


Farel diam.


“Kamu sendiri tau kalo aku enggak suka kekerasan tapi apa nyatanya? Orang yang paling deket sama aku, selalu ada buat aku walau sikapnya kadang dingin, ternyata orang yang berkelakuan kayak hewan, dan kamu orang itu!! Kamu enggak punya perasaan Farel!! Kamu tega nyakitin perempuan yang seharusnya kamu jaga, dia adek kamu Fa-“


“DIA BUKAN ADEK GUE VIO!!!” Teriak Farel tepat di depan wajah Viona, gadis itu sampai terjingkat ke belakang.


Untung kondisi kelas saat ini sepi jadi mereka tidak akan menjadi pusat perhatian mahasiswa lain. Tatapan tajam masih terpancar dari keduanya.


Dada Farel naik turun bergemuruh akan emosi setiap mendengar seseorang mengatakan tentang Ayli adalah adeknya.


“Kamu egois Rel. Aku enggak tau ada masalah apa di keluarga kamu, terlebih hubungan kamu dan adek kamu. Tapi yang aku tau saat ini kamu jahat, aku kecewa sama sikap kamu” Viona berucap lalu pergi meninggalkan Farel begitu saja.


Farel meraup wajahnya kasar sambil berbalik menendang meja kuliah di dekatnya sebagai pelampiasan akan amarahnya.


Farel membungkuk bertumpu pada meja, “Andai lo tau sakitnya Vi”


————


Tok


Tok


Tok


“Selamat siang non Vio” sapa pelayan itu pada Viona yang datang bertamu.


“Siang mbak” sahut Viona dengan wajah tersenyum ramah.


“Non Vio cari tuan muda ya, kebetulan tuan muda belum pulang non. Non Vio bisa tunggu di tempat biasa ya biar saya hubungin tuan muda dulu” jelas pelayan itu.


Memang semua pelayan di rumah ini mengenal baik gadis cantik satu ini, banyak pula pelayan yang mendoakan semoga tuan muda mereka berjodoh dengan sosok hangat dan ramah seperti Viona. Doa terbaiklah ya untuk mereka berdua walau sekarang lagi marahan.


“Eh enggak usah mbak, saya ke sini mau ketemu Ayli bukan Farel. Bagaimana kondisi Ayli mbak?” Tanya Viona.


Sepulang kuliah Viona memang sudah berencana untuk menjenguk Ayli, hati Viona seakan terpanggil untuk menemani gadis malang itu. Terlepas dari rasa marah dan kesalnya terhadap Farel.


“Waduh non, kalo tentang nona muda saya kurang tau. Gimana kalo saya panggilkan bi Narmi dulu? Soalnya cuma bi Narmi doang yang di bolehin masuk kamar nona muda. Apa lagi dari kemarin sampai sekarang nona muda belum keluar juga dari kamar” jelas pelayan itu membuat Viona ikut merasa sakit di hatinya.


“Iya mbak, saya tunggu di sini ya” ucap Viona.


Pelayan itu langsung bergegas ke dapur memanggilkan bi Narmi yang sedang menyiapkan makan siang untuk Ayli. Tadi gadis itu sempat meminta ayam goreng krispi dan jamur krispi berserta sambal bawang kesukaannya.


“Bu Narmi di depan ada non Viona ingin bertemu ibu” ucap pelayan itu yang memang jauh lebih muda dari bi Narmi.


“Non Viona? Yaudah kamu terus ini ya saya mo ke depan” sahut bi Narmi tidak lupa menyuruh para pelayan lain untuk segera menyiapkan semua makanan yang sudah selesai ke atas meja, karena sebentar lagi tuan muda nya pasti akan turun untuk makan siang bersama Viona, pikir bi Narmi.


“Selamat siang non” sapa bi Narmi.


Viona tersenyum, “Siang bi”


“Ada perlu apa non Viona panggil saya? Apa tuan muda sedang ke kamar?” Tanya bi Narmi.


“Vio kesini sendiri bi, Farel enggak tau kemana” ujar Viona terdengar malas saat membahas Farel.


Bi Narmi hanya tersenyum menanggapi tingkah Viona, bi Narmi sudah hafal dengan sikap Viona saat bertengkar dengan tuan mudanya itu. Tapi kalau dipikir-pikir apa masalah kemarin yang membuat mereka bertengkar? Batin bi Narmi.


“Oh iya bi, Vio mau ketemu sama Ayli bisa?” Viona menatap harap bi Narmi yang tampak berpikir.


Bukannya apa, Ayli saja tidak membolehkan sebarang orang masuk ke kamarnya hanya bi Narmi yang diperbolehkan walau dalam hal tertentu saja.


“Gimana ya non?” Pikir bi Narmi bimbang, bagaimana tidak bimbang sudah jelaskan kalau di suruh keluar pun Ayli tidak akan mau. Dan membawa Viona masuk ke kamar Ayli tanpa ijin sang pemilik kamar bukan kah itu juga tidak sopan.


“Emm Ayli udah makan siang belum bi?”


“Belum non, ini tadi saya baru aja selesai menyiapkan menu pesanan non Ayli” jelas bi Narmi membuat senyum sumringah tercetak di wajah Viona.


“Ayli makan di kamar kan bi? Kalo gitu biar Vio bantu bawa makanannya ke kamar. Gimana? Aku jamin deh Ayli enggak akan marah. Jadi ayo bi Vio bantu keburu Ayli kelaperan kasian nanti” ucap Viona bersemangat menarik bi Narmi pelan menuju dapur.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...