
...-Kamu punya adek?-...
Farel dan Vio baru saja sampai di kediaman Rahardhan. Beberapa kali ke sini Vio tetap terpanah akan rumah sederhana nan mewah itu.
(Anggap saja masih siang oke 😁 )
Vio berdecak kagum dengan bangunan di depannya, Vio menoleh kebelakang dimana pintu gerbang masuk yang berjarak di depan sana.
“Rel ayah kamu niat ya bangun tumah jauh dari jalan depan jadi enggak bising” puji Vio menatap Farel yang memarkirkan motornya.
“Tapi kalo mau beli bubur atau cilok harus lari dulu itu pun kalo telinga kamu denger” sambung Vio mengikuti Farel yang melangkah lebih dulu di depannya.
“Masuk” suruh Farel.
“Gue mau ganti baju dulu, lo tunggu tempat biasa” Vio mengangguk saja lagian dia sudah hafal letak ruangan di rumah ini.
Farel meninggalkan Vio di bawah, diri nya sudah cukup lengket karena keringat. Vio melangkah menuju ruang santai tempat biasa mereka mengerjakan tugas sejak SMA.
“Punya rumah segede ini tapi sepi banget” gumam Vio.
“Selamat siang non Vio” sapa bi Narmi membawakan nampan berisi jus mangga segar dan beberapa cemilan.
“Siang bi Narmi, kog bibi tau kalo Vio di sini?” Bi Narmi tersenyum “Tadi tuan muda yang bilang ke bibi mau ngerjain tugas sama non Vio”
“Oooo gituu” Vio lupa satu hal kalau Farel bisa saja menghubungi bi Narmi dari telpon kamar yang terhubung langsung ke pada bi Narmi.
“Bibi ke dapur dulu ya non”
“Iya bi, makasih ya bi”
Vio mengeluarkan laptop dan beberapa buku tugas dari dalam tasnya. Sambil menunggu Farel yang pastinya masih mandi, Vio memilih membagi tugas mereka agar nantinya cepat selesai.
Vio mendongak saat mendengar suara langkah kaki, dahi Vio mengerut saat menatap gadis cantik dengan pakaian santainya.
‘Dia siapa? Apa mungkin pacar Farel? Aduh gawat! Bisa salah paham nih, apa lagi kan sekarang hari ulang tahun Farel. Govlok banget sih Vi!’ Pikir Vio panik sampai melupakan satu hal bahwa Farel tidak pernah perpacaran.
Vio berdiri lalu melambaikan tangannya kaku “Hai” sapanya pada gadis di seberang sana yang menatapnya terkejut.
Akhirnya Vio memilih mendekat keburu salah paham pikirnya. “Ohh ya, kenalin nama aku Vio. Kamu tenang aja Vio cuma temen sekelas Farel kog. Bukan pacarnya! Iya bukan pacarnya! Percaya sama Vio, jadi kamu jangan salah paham ya. Kita beneran cuma mau ngerjain tugas kog itubuktinya” cerocos Vio sambil menunjuk meja di belakangnya yang sudah berantakan karena bukunya.
Gadis yang tak lain Ayli pun tersenyum, ia tadinya bingung dengan kepanikan gadis yang menjadi teman kakaknya itu. Dan sekarang ia paham kalau gadis bernama Vio ini yang sedang salah paham mengira dirinya adalah kekasih kakaknya sendiri.
“Kak Vio a-“
“Kalian jangan sampai berantem ya, atau gini aja Vio pulang salamin aja ya ke Farel” panik Vio mulai memasukkan buku dan laptopnya.
“Kak Vio” tegas Ayli menyadarkan Vio dari kepanikannya.
“I-iya” cengo Vio.
Please, kalian bahkan boleh melempar Vio ke samudra Hindia. Sungguh mukanya itu loh bikin ketawa.
“Kayak nya yang salah paham di sini kak Vio deh” ucap Ayli lembut.
“Aku bukan pacarnya kak Farel, kak”
“Hah?” Mata Vio mengerjap menunggu kelanjutannya.
“Kenalin kan nama aku Ayli, Ghanesi Aylliscia Rahardhan adeknya kak Farel” ucap Ayli mengulurkan tangannya pada Vio.
“Adek?” Gumam Vio mendapat anggukan dari Ayli yang masih tersenyum manis.
‘Cantik banget’ batin Vio menerima uluran tangan Ayli.
“Hehehe maap ya dek, kirain kan pacarnya si Farel. Kita kenalan ulang ya, nama aku Viona Putri Enggrita panggil aja Vio”
“Iya kak Vio”
“Aku enggak tau kalau Farel punya adek secantik kamu” sambung Vio saat mereka sudah duduk di sofa ruang santai ini.
“Kamu kelas berapa? Sekolah dimana? Ih beberapa kali aku kesini enggak pernah tuh ketemu kamu. Kamu tinggal di luar kota? Atau luar negri gituh? Secara kan Farel aja pinternya kebangetan apa lagi adeknya gitu” heboh Vio menggenggam kedua tangan Ayli.
“Ay-“
EHEM
Kedua gadis beda usia itu menoleh menatap Farel yang sudah berdiri dengan tatapan tajam menghunus jantung Ayli.
Oh ****! Sepertinya Ayli melupakan sesuatu dan hal itu dapat memancing emosi kakaknya, Farel.
“Rel? Kamu punya adek? Kog gak pernah cerita sih sama Vio?” Terlihat wajah ceria Vio membuat Farel mati-matian menahan emosinya yang ingin meledak saat ini juga.
“Pulang Vi” tekan Farel.
“Hah? Pulang? Ngapain? Kan tugas nya belom selesai Rel”
Entah Vio yang bodoh atau bagaimana sampai tidak menyadari aura mencengkram dari Farel.
“BI NARMI!!!” Teriakan Farel menggema membuat dua gadis di hadapannya terjingkat, terutama Ayli.
Bi Narmi lari tergopoh-gopoh menelan ludah kasar melihat tatapan tajam Farel. “I-iya tu-“
“Suruh sopir antar Vio pulang. SEKARANG!” Tegas Farel.
Bi Narmi langsung membantu Vio memasukkan semua buku serta laptopnya ke dalam tas lalu menarik lengat Vio lembut.
“Mari non” ajak bi Narmi.
“Loh loh loh Rel kita kan be-“
“Pulang Vio!” Tekan Farel menatap tajam Vio.
Tak ingin membuat Farel yang semakin mengamuk tanpa alasan itu, Vio pun memilih pulang. “Dadah Ay, sampai bertemu kembali. Kakakmu lagi PMS mungkin” canda Vio mengusap lengan Ayli sebelum pergi.
Melirik Vio yang semakin menjauh, kini Farel beralih pada Ayli. Farel maju dengan langkah tegas dan
PLAK
PLAK
PLAK
Tiga tamparan keras Farel layangkan pada adeknya sendiri, Ayli. Gadis itu terdiam dengan wajah tertoleh ke kanan, tangannya bergetar menyentuh pipi kirinya.
“LANCANG LO NGAKU-NGAKU JADI ADEK GUE HAH!!! UDAH MULAI BERANI LO!!! HARUSNYA LO ITU MALU KARENA KEHADIRAN LO DI DUNIA INI CUMA JADI BEBAN!!!” Bentak Farel tepat di depan wajah Ayli.
Tubuh Ayli bergetar menutup mata tidak ada keberanian dalam dirinya untuk menatap Farel saat ini. Sakit pada pipinya mulai menjalar sampai kepala. Dengan bibir bergetar menahan tangis agar kakaknya tak semakin mengamuk.
“KARENA KEHADIRAN LO CUMA BIKIN GUE KEHILANGAN WANITA YANG GUE SAYANG!!! LO PENYEBAB BUNDA GUE MENINGGAL!!! KENAPA BUKAN LO AJA YANG MATI ANJ*NG!!” Farel mencengkram kedua bahu Ayli yang bergetar.
“Inget baik-baik setiap ucapan gue hari ini. Sampai kapan pun gue gak akan pernah anggap lo adek gue. Dan satu lagi bagi gue lo itu udah mati” desis Farel meneman dua kata itu lalu mendorong kasar tubuh ringkih Ayli.
Farel menyugar rambutnya kasar sebelum berbalik menuju kamarnya. Lalu Ayli? Gadis itu terduduk lemas dengan suara isak tangis.
“Maaf, maafin Ayli kak” lirih Ayli memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
Tubuhnya yang belum pulih kini kembali menerima sakit yang teramat terlebih hatinya. Ayli bangkit berjalan pelan menuju kamar dan menguncinya dari dalam.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...