First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 33




...-Day 6, Hampir Tertabrak-...


"Viii... Vio, tunggu Vi" teriak Farel menahan lengan Vio yang beberapa hari ini terus menghindarinya.


"Lepas" ketus Vio.


"Gue gak akan lepasin tangan lo, kalo lo masih terus ngehindar kek gini" tegas Farel membuat Vio mendengus kesal.


"Lepas gak??"


"Enggak!"


"Ih Farel" rengek Vio.


Dalam hati Farel tersenyum melihat tingkah gadis di depannya ini yang tak berubah, selalu manja padanya.


"Makanya jangan ngehindar terus dari gue" ucap Farel menunduk menyamakan tinggi badannya dengan Vio.


Vio memalingkan wajahnya saat wajah Farel sedekat sekarang. Kalo terus terusan kayak gini kan gak baik buat kesehatan jantungnya sendiri, pikir Vio.


"Gue minta maaf soal waktu itu karna udah bentak lo Vi" ucap Farel.


"Jadi jangan marah lagi ya Vi?"


Vio menoleh menatap wajah Farel dengan posisi sedekat ini. "Kamu tau gak Rel salah kamu dimana?"


Farel mengernyit bingung. "Maksudnya?"


"Kamu minta maaf ke aku tapi kamu gak tau masalah intinya itu ada di kamu tau gak?" ucap Vio sedih.


Vio sedih karena kelakuan Farel yang ternyata sejahat itu, terlebih pada adik kandungnya sendiri.


"Lo ngomong apa sih Vi? Masalahnya ada di gua? Oke, gue emang salah. Maaf udah bentak lo Vi"


"INI BUKAN MASALAH KAMU BENTAK AKU ATAU ENGGAK FAREL" bentak Vio dengan emosi yang entah datang dari mana.


Untung saja suasana koridor kampus siang ini sepi, jadi tidak ada yang melihat pertengkaran mereka.


Farel menghela nafas melepas cekalan tangannya lalu mundur selangkah. Vio sendiri masih diam setelah menyadari sikapnya yang baru saja membentak Farel.


''Kalo ini bukan masalah gue yang bentak lo? Terus masalah apa Vio?? Lo bikin gue bingung tau gak??" ucap Farel.


Di ingatan Farel saat ini Vio marah karena dirinya kelepasan membentak gadis itu. Tanpa ia sadari ada satu masalah yang Vio benci atas kejadian waktu itu.


"Aku gak tau kamu pura-pura lupa atau memang sifat asli kamu kayak gini Rel. Kamu sadar gak sih? Kamu bukan cuma bentak aku waktu itu Rel! Kamu bahkan udah nyakitin saudara kandung kamu sendiri, adek kamu sediri Rel! Sa-"


"DIA BUKAN ADEK GUE DAN GUE GAK PERNAH PUNYA ADEK SELAMA HIDUP GUE!!!" lagi-lagi farel kelepasan hanya karena mendengar kata adek terucap dari bibir Vio.


Vio tertegun ditempat, sebenci itu kah Farel pada adeknya sendiri. Hanya pembahasan tentang Ayli saja sudah cukup untuk mengundang amarah pria itu.


Vio tersenyum miris menatap wajah Farel yang memerah menahan emosi yang siap meledak kapan saja "Miris banget sih hidup kamu Rel? kamu bertahan hidup selama ini dalam lubang kebencian yang kamu nikmati. Aku emang gak tau ada masalah apa kamu sama Ayli. Tapi sadar gak sih kamu itu nyakitin hati bunda kamu yang udah berjuang hidup dan mati demi kebahagian putri kecilnya?? Sama kayak beliau lahirin kamu, dan sekarang kamu dengan seenaknya nyakitin perempuan yang jelas jelas dia adek kamu sendiri? SADAR GAK KAMU!! HARUSNYA KAMU MINTA MAAF KE AYLI DAN UBAH SIKAP KAMU!!"


Kedua tangan Farel terkepal mendengar penuturan Vio "Enggak usah lo bawa-bawa bunda gue di masalah ini. ENGGAK USAH!!! KARENA LO ENGGAK TAU APA-APA DAN LO BUKAN SIAPA-SIAPA GUE YANG LANCANG BUAT NGATUR HIDUP GUE!!!"


Hati Vio terasa teriris mendengarnya, tanpa sada air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa ia bendung. Farel sendiri langsung tersadar akan apa yang baru saja ia ucapkan pada Vio. Farel beusaha meraih tangan Vio. "Vi-Vio de-dengerin gue dulu, ma-maksud gue enggak gitu Vi"


Vio menepis tangan Farel mengusap kasar pipinya yang basah karna tangisnya. "Terus maksud kamu apa?? Sorry Rel kalau selama ini aku udah LANCANG ngurusin kehidupan kamu, harusnya aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa kamu. Aku duluan Rel" ucap Vio berlalu pergi meninggalkan Farel yang masih terdiam.


Vio berlari kecil dengan isak tangisnya meninggalkan kampus. Farel meremas rambutnya kasar sebelum berlari menyusul Vio.


Dari jauh Farel melihat mobil melaju dengan cepat dan Vio yang berlari tanpa menoleh, "VIIIOOO AWAASS"


BRUKK


"FAREELLL"


......****......


Vio menunduk terdiam menatap sepasang sepatu miliknya, sesekali ia meremas rambutnya kasar mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Dimana dirinya hampir saja tertabrak karna kecerobohannya sendiri.


"Hiks... Hiks... Maafin aku Rel" tangis Vio akhirnya.


Farel mengerang frustasi sambil meremas rambutnya kasar sebelum berlari mengejar Vio. Ia harus memastikan bahwa gadis itu tidak melakukan kecerobohan yang membahayakan dirinya sendiri.


Dan benar saja, dari kejauhan Farel mendapati mobil yang melaju kencang bersamaan dengan Vio yang berlari untuk menyebrang tanpa menoleh.


"Ck ceroboh" umpat Farel berlari secepat mungkin.


"VIIIOOO AWAASS" Farel menarik lengan Vio dengan tubuh berputar melindungi gadis itu.


Secara bersamaan tubuh bagian kanan Farel terserempet sebelum terjatuh dengan posisi Vio di atasnya.


BRUKK


"Arrghh... Ssstt..." desis Farel sebelum akhirnya pingsan.


"Fa-farel... Rel bangun Rel" panik Vio bangkit dari atas tubuh Farel.


"Rel... Hiks.. Hiks... Bangun Rel" tangis Vio memeluk tubuh lemah Farel.


Vio terkejut saat merasa sesuatu mengalir dari bagian belakang kepala pria itu. "Da-darah"


"FAREELLL"


..._FLASHBACK END_...


"Hiks... Maafin aku Rel. Maaf udah bikin kamu terluka maaf, hiks hiks"


Vio menatap pintu di depannya yang tak kunjung terbuka. Apa separah itu kondisi Farel saat ini? Pikirnya.


Hingga suara derap langkah mengalihkan perhatiannya, tidak jauh dari tempatnya saat ini sosok gadis manis berlari mendekatinya. Vio berdiri langsung memeluk tubuh mungil itu.


"Maafin aku Ayli... Maaf karna aku, kakak kamu jadi kayak gini maaf hiks..."


Ayli menggeleng berusaha menenangkan Vio, "Kakak enggak salah, kakak yang tenang ya. Kak Farel itu orangnya kuat banget" ujar Ayli menahan tangisnya.


Sejak perjalanan menuju rumah sakit Ayli tidak bisa berhenti menangis. Dan kali ini Ayli tidak ingin memperkeruh keadaan. Ia harus menenangkan Vio. Kaivan sendiri memilih diam menatap Ayli yang memeluk Vio.


Tadinya mereka akan pergi jalan-jalan ke taman kota, sebelum akhirnyamereka mendapat kabar tentang kondisi Farel.


Cklek...


Ayli dan Vio saling melepas pelukan mendengar suara pintu yang terbuka menampakan sosok pria paruh baya dengan jas putih dibadannya.


"Dokter bagaimana kondisi kakak saya?"


"Dokter bagaimana kondisi teman saya?" ucap Ayli dan Vio bersamaan.


Kaivan maju memegang kedua bahu Ayli dari belakang, memberikan kekuatan pada gadis itu.


"Kondisi pasien sudah membaik luka bagian belakang sudah kami jahit dan untuk sementara lengan kanan pasien harus di gif untuk beberapa minggu kedepan" ucap dokter yang menangani Farel.


"Apa ada yang patah dok?" tanya Vio sebelum Ayli berucap.


"Kalian tenang saja tidak ada yang patah dengan lengan pasien hanya sedikit ada retak pada lengan pasien. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, kalau begitu saya permisi" jelas dokter itu sebelum berlalu pergi.


Ayli menghela nafas lega mendengar kondisi kakaknya begitu pun dengan Vio. Ayli berbalik memeluk tubuh Kaivan erat menyalurkan segala emosi di pikirannya. Ia terlampau cemas dan khawatir, bagaimana pun sikap Farel padanya Ayli tetap menyayangi Farel selaku saudara kandungnya.


Kaivan mbalas pelukan itu menguap punggung gadis itu. "Semua akan baik-baik saja" bisik Kaivan.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...