
...-Day 3, Berkunjung-...
Kaivan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lelah, ia baru saja pulang dari mengantarkan sang mama belanja bulanan dan bisa dibayangkan seberapa lama dan capek yang Kaivan lalui. Itu mengapa Kaivan sering menolak untuk menemani mamanya belanja.
Hari ini saja ia terpaksa karena papanya ada perjalanan luar kota dan tidak bisa menemani sang istri belanja, jadilah Kaivan yang menggantikan sang papa.
“Capek” keluh Kaivan menutupi wajah dengan lengan kanannya.
Ddrrttt
Ddrrttt
Di atas nakas ponsel Kaivan bergetar dua kali menandakan ada pesan masuk, pria itu lansung bangkit menyambar ponselnya berharap seseorang yang dia nanti kabarnya dari kemarin yang menghubunginya.
Namun ternyata zonk. Kaivan mendengus saat Yudha lah yang mengirim pesan padanya bukan Ayli. Tapi tunggu, semua pesannya sudah di baca oleh Ayli terlihat dari tanda centang dua berwarna biru.
Sungguh gadis satu menyebalkan yang sayangnya Kaivan sangat menyukainya. Kaivan langsung menekan tombol telpon di pojok kanan atas. Kaivan beranjak ke balkon kamar dengan ponsel di telinganya.
Sedangkan di tempat lain tepatnya kamar Ayli. Gadis itu baru saja mengantarkan Vio sampai pintu depan. Menghabiskan waktu bersama membuat mereka sampai lupa waktu tidak terasa sudah menjelang malam.
Belum sempat Ayli mengambil handuk untuk pergi mandi ponselnya berdering menandakan telpon masuk.
...*Ian rese🤓 is calling...*...
Melihat nama siapa yang terpajang di layar ponselnya membuat Ayli menggeser tombol hijau.
...Via telpon...
“Hallo? Ay? Hallo Ay? Kamu denger suara aku kan? Kamu kemana aja sih? Kenapa enggak balas wa aku? Kenapa cuma di read doang? Kenapa juga enggak misscall aku setelah tau aku hubungi kamu dari kemarin? Kamu beneran sibuk apa belajar ngilang sih? Kamu bikin aku khawatir tau gak? Aku cemas karena kamu enggak bisa aku hubungin, aku takut kamu kenapa-napa. Jangan di ulangin lagi, sesibuk apa pun kamu plis kasih kabar ke aku. Jangan kayak gini lagi” oceh Kaivan dari seberang sana sambil meremas rambutnya.
Ayli terdiam mendengar ucapan Kaivan yang terdengar frustasi dan khawatir, sampai tidak sadar dirinya meneteskan air mata terharu. Terharu karena Kaivan mengkhawatirkannya sejauh ini. Hati nya menghangat dan merasa bersalah secara bersamaan.
Ayli mengakui dirinya memang bodoh mengabaikan makhluk Tuhan seperti Kaivan yang baik dan tulus padanya. Ayli mengusap pipinya yang basah.
“Maaf Ian” hanya dua kata yang bisa Ayli ucapkan saat ini.
Diseberang sana terdengar helaan nafas Kaivan, mendengar suara Ayli saat ini cukup mengobati rasa rindunya. Oh ayolah biarkan saja kata orang dirinya bucin parah. Yang terpenting dirinya bahagia saat ini.
“Aku ke rumah kamu sekarang Ay”
“JANGAN!” Teriak Ayli spontan setelah mendengar Kaivan yang akan menemuinya.
Apa yang akan ia ucapkan saat Kaivan bertanya tentang lebam di wajahnya atau parahnya luka di keningnya. Tidak! Ia harus menghindari Kaivan sampai luka di wajahnya membaik. Kalau perlu bertemu nanti saja saat ia masuk sekolah lagi.
“Kamu kenapa teriak sih Ay? Nanti tenggorokan kamu sakit. Lagian kalo kamu enggak bolehin aku masuk, kita bisa ketemu di gerbang samping kayak biasanya. Pokoknya aku mau ketemu dan cek kondisi kamu dengan mata kepala aku sendiri” ngotot Kaivan di seberang sana.
“Kog ngotot banget sih lo! Lagian gue juga baik-baik saja, lo enggak usah khawatir berlebih deh” kesal sendirikan jadinya si Ayli, udah kesel panik lagi lengkap sudah.
“Feeling aku kamu enggak baik-baik aja Ay, dan feeling aku enggak pernah salah. Kalo gitu kita ganti ke vidcall aja, biar aku yakin kamu baik-baik aja”
Ayli terdiam mendengarnya, sekuat itu kah feeling Kaivan tentang dirinya.
“Ay kog gak di angkat sih vidcallnya? Angkat dong kita ganti mode vidcall deh kalo kamu enggak bolehin aku kesana” ucap Kaivan membuyarkan lamunan Ayli.
“Halah enggak usah lebay deh lo, denger gue baik-baik aja. So, enggak usah vidcall atau ke sini. Bye!” Ayli segera memutuskan sambungan telpon dan melempar ponselnya ke kasur.
Ayli menghela nafas sebentar lalu bangkit mengambil handuk menuju kamar mandi, “Moga aja si anak ayam satu tuh enggak rese dan dateng kesini”
————
Kaivan menatap layar ponselnya dengan kesal. “Oke kalo gitu aku yang dateng ke sana” tekad Kaivan beranjak mandi sebelum menemui Ayli.
Jujur saja pria satu ini tida akan percaya jika tidak melihat langsung kondisi Ayli saat ini. Selesai dengan ritual mandinya, kaivan bergegas ganti dengan celana jeans dan hoodie hitam.
Menatap pantulan wajah tampannya di depan cermin sebelum mengambil ponsel dan dompetnya untuk dimasukkan ke dalam waist bag hitam. Kaivan langsung menyambar kunci motornya dan berlari keluar kamar.
Kaivan menuruni anak tangga dengan semangat sampai di ruang keluarga Ziya sang mama sedang bersantai.
“Ya ampun mama ini masih setengah tujuh lo, malem dari mana nya? Kaivan ijin keluar bentar ya mamaku yang cantik” pamit Kaivan mengecup pipi mamanya.
Kaivan segera mengeluarkan motornya dari garasi, menunggangi kuda besinya menjauh dari halaman rumah.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di rumah Ayli mengingat rumah mereka satu komplek dan hanya beda blok saja. Kaivan mengambil ponsel lalu memfoto gerbang di depannya. Lalu mengirimkan foto itu pada Ayli.
Ayli yang baru saja mengambil minum di dapur mengambil ponselnya saat ada pesan masuk.
*Iang rese**🤓*
Send picture
Aku udah di depan gerbang samping, kalau sampai 10 menit gak kamu buka aku bakalan manjat Ay.
18.45
Oh ****! Ayli langsung menganti pakaian tidurnya dengan jeans pendek selutut dan hoodie hitam kebesaran. Ia berlari mencari masker yang lupa ia taruh mana.
“Aduuhh mana sih maskernya ih ngeselin” Ayli membuka semua laci sampai ketemu box berisi masker.
Ayli langsung memakai masker dan tudung hoodie yang dapat menutupi lupa di keningnya.
“Tarik nafas hembuskan” gumam Ayli mencoba menenangkan dirinya.
Ayli pun membuka pintu lalu berbalik berniat membuka gerbang.
“Hay?”
“Aaaaa” teriak Ayli terkejut saat Kaivan duduk santai di bangku taman melambaikan tangannya, menyebalkan.
Ayli mengusap dadanya pelan, sungguh ia kaget dan tidak menyadari kehadiran Kaivan saat membuka pintu tadi. Ayli mendengus lalu duduk di bangku seberang Kaivan.
“Jadi bunglon lo! Sejak kapan lo duduk di sini?” Ketus Ayli.
“Sejak kamu kelabakan cari masker buat nutupin luka kamu” jawab Kaivan jujur dan terlampau santai.
Ayli tertegun mendengarnya, “Tadinya aku mau nungguin kamu di depan tapi kelamaan. Trus manjat tembok aja eh sampai di sini di kasih kejutan sama wajah kamu yang luka” tambah Kaivan semakin membuat Ayli terdiam.
“Aku enggak akan nuntut kamu untuk cerita ke aku apapun itu Ay, setiap orang punya hak sendiri untuk cerita atau enggak. Yang aku mau cuma lihat kamu dalam kondisi apapun, jadi jangan sembunyi saat kamu sedang terluka. Karena aku siap buat ngobatinnya” sambung Kaivan mengusap pipi Ayli yang entah sejak kapan maskernya dibuka Kaivan.
“Sakit ya?” Tanya Kaivan lembut, terlampau lembut malahan.
“Iya sakit banget” lirih Ayli menunduk menahan air matanya yang mudah sekali jatuh setiap ada Kaivan, seakan air mata itu mengadu pada pria di depannya bahwa pemilik mata itu sedang tidak baik-baik saja.
“Sini peluk” ucap Kaivan berdiri di depan Ayli membentangkan kedua tangannya.
Ayli bangkit masuk kedalam pelukan Kaivan, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Kaivan.
“Nangis aja kalau mau nangis, nanti kalo udah selesai boleh deh makan martabak manis sama ciloknya” Kaivan mencoba menghibur Ayli dan ternyata sukses, Ayli tertawa mendengarnya dan melepaskan pelukan itu.
Tadi sebelum mandi Kaivan memang sudah memesan martabak manis dan cilok untuk mereka berdua, biar lebih cepet pikirnya. Pesen dulu baru ambil sambil jalan ke rumah Ayli.
Kaivan mengusap pipi basah Ayli, “Jangan nangis sendiri ya Ay, ada aku yang siap menenin kamu”
Ayli mengangguk dan tersenyum menatap Kaivan yang tulus padanya. Bisakah waktu mengijinkannya lebih lama di dunia ini? Menemani sosok tampan di hadapannya lebih lama lagi.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...