First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 17




...-Tidak Peduli-...


Tok


Tok


Tok


Farel menatap jengah pintu kamar nya yang di ketuk dari luar. Ia beranjak dari ranjang tidurnya membuka pintu.


Cklek


“Ada apa bi?” Ketus Farel moodnya sudah hancur sejak siang tadi.


“Di bawah ada tuan Tama dan nyonya Lilik den” jelas bi Narmi.


“Kakek sama nenek di bawah? Ya udah setelah ini Farel turun ke bawah”


“Baik den” bi Narmi pamit lebih dulu.


Farel menuruni tangga menuju ruang makan dimana suara kakek dan neneknya berasal.


“Malam kek, nek” sapa Farel saat melihat sepasang suami istri yang tidak lagi muda.


“Cucu ku, sini sayang. Nenek sudah siapkan makanan special buat kamu” pekik nenek Farel menata makanan di atas meja di bantu bi Narmi.


“Kemarilah nak” ucap kakek Farel, Putra Tama.


Nenek Farel, Lilik Wahyuni memeluk erat cucunya yang hari ini bertambah satu tahun usianya. “Selamat ulang tahun nak, doa terbaik dari kami untukmu”


“Makasih nek” Farel membalas pelukan wanita yang sudah tak lagi muda itu.


”Hahaha cucu kakek sudah semakin tampan saja” puji Tama memeluk cucunya.


“Aku memang tampan kek” tawa Farel bahagia.


Tama dan Lilik adalah orang tua dari alm. Venya, bunda Farel dan Ayli. Sedangkan orang tua dari pihak ayahnya sudah lama meninggal.


“Ya sudah mari kita makan, nenek mu sudah menyiapkannya seharian ini” sambung Tama.


“Makasih nek untuk makan malam ini” Farel mengecup pipi neneknya penuh sayang. Hangatnya seorang Farel yang tidak pernah di rasakan Ayli.


Lilik, nenek Farel mengambilkan nasi dan lauk untuk cucunya yang tampan itu. Raut bahagia terlukis di wajah mereka, tidak peduli dengan wajah sedih tersirat akan luka yang menatapnya. Ayli terdiam jauh di balik dinding hanya untuk menatap pemandangan indah di depan sana.


‘Andai aku bisa di sana bunda, mungkin aku juga ikut bahagia merayakan ulang tahun kakak. Tapi hari ini Ayli bikin kesalahan fatal bunda’ Ayli membekap mulutnya menahan isak tangis.


Bi Narmi melihat bayangan Ayli yang sudah berbalik kembali ke kamarnya. ‘Kasihan sekali non Ayli’


Di kamar Ayli menangis memeluk bingkai foto bundanya mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Tubuhnya terasa lelah, pipinya sakit dan kepalanya berdenyut.


“Bundaaa”


“Bundaa hiks bundaa hiks bawa Ayli bunda” tangis Ayli meringkuk memeluk bingkai foto itu di atas ranjang tidurnya.


“Bilang sama Tuhan buat panggil Ayli bun hiks”


Suara deringan telpon Ayli abaikan, tidak ada tenaga baginya untuk sekedar mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ayli menangis tanpa henti sampai dirinya tertidur.


————


Di seberang sana Kaivan menatap ponselnya. Beberapa kali panggilannya tidak di angkat, Kaivan kembali menghubungi nomor itu tapi hanya berdering saja.


Kaivan punya nomor ponsel Ayli? Tentu saja, sepulangnya mereka dari cafe Ayli tidak keberatan saat Kaivan meminta nomor ponselnya. Dari situlah keduanya saling mengirim pesan. Oh tidak! Lebih tepatnya hanya Kaivan yang lebih dulu mengirim pesan pada Ayli.


Dan malam ini Kaivan bermaksud menelpon Ayli karena perasaan gelisah yang dirinya rasa setiap mengingat wajah pucat gadis itu. Kaivan hanya ingin memastikan kalau Ayli sudah kembali sehat.


“Apa perlu aku ke rumahnya? Lagian kan deket dari ini? Tapi bisa aja Ay lagi istirahat dan enggak pegang ponsel kan Kav. Gimana sih kamu nih” gumam Kaivan memutar ponselnya mengadah menatap langit malam.


“Iya pasti Ayli udah tidur. Oke, tenang Kav. Ayli pasti baik-baik aja. Lagian besok kan kita ketemu di sekolah” sambung Kaivan lalu menaruh ponselnya di atas meja belajar. Ia akan turun ke bawah dan bergabung dengan mama dan papanya saja.


“Sini sayang duduk dekat mama” pinta mama Kaivan.


“Ck, tadi aku enggak di bolehin sekarang si ikan kakap malah suruh duduk di situ” kesal papa Kaivan.


“Lah papa kog ngegas ngatain Kaivan ikan kakap lagi. Mah, papa jelekin nama aku mah” adu Kaivan memeluk mamanya manja.


“Ngadu teroooosss” sungut papa Kaivan kesal sendirikan.


“Papa pilih diem atau tidur di ruang tamu?” Ucap mama Kaivan mengusap rambut putranya yang sudah berbaring di pangkuannya.


Kicep sudah papa Kaivan saat istrinya mode mengancam. “Diem juga kan” ledek Kaivan.


“Jangan mulai deh kamu juga gak bisa diem” sentil mama Kaivan pada kening putranya itu.


“Mama sakit lo” Kaivan mode manja.


“Dih, pantes aja kemarin cewek yang kamu incer gak mau sama kamu. Kamunya aja masih manja kek gitu” ledek Ziya menarik hidung Kaivan.


“Apaan sih mama mah gak asik” sungut Kaivan memeluk pinggang sang mama menyembunyikan wajahnya di perut Ziya.


Ziya dan Radit tertawa melihat tingkah absurd putra sulungnya satu itu. Di luar aja gayanya kalem di dalam rumah beh manja nya minta ampun ma si mama. Gak papa lah Kaivan kan masih anak SMA kan ya wkwkwkwk.


————


Lain tempat lain cerita pastinya, seperti di kamar Vio saat ini. Gadis cantik itu sedang bersandar di kursi meja belajarnya. Sedangkan pikirannya melayang pada kejadian siang tadi. Baginya ia merasa sedikit mengganjal dengan tingkah Farel tadi.


“Kayaknya ada yang aneh deh dari Farel. Kenapa dia enggak kenalin dulu gitu adeknya ke Vio? Anehnya lagi kenapa wajah Ayli enggak pernah kesorot media? Harusnya ia sama terkenalnya sama kek kakaknya dong?” Gumam Vio bertanya-tanya mengetuk dagunya dengan pulpen.


Vio mengingat-ingat kejadian tadi siang mulai dari dirinya datang sampai Farel menyuruhnya pulang dengan di antar sopir dan bi Narmi yang menariknya lembut untuk segera pulang.


Oh astaga Vio baru ingat sekarang, Vio enggak mungkin salah denger tadi kan. Vio mendengar suara keras bentakan dari dalam rumah. Posisi Vio tadi masih di teras rumah.


“Iya, tadi itu suara Farel aku enggak mungkin salah denger. Tapi kalo itu suara Farel trus siapa yang Farel bentak sampai kek gitu? Masak iya Ayli? Enggak mungkin lah, kan Ayli adeknya. Lagian wajah mereka juga ada mirip-miripnya kog” pikir Vio.


“Duh kan jadi kepo, lagian di rumah Farel kenapa enggak ada foto Ayli sih? Cuma foto Farel waktu kecil sama ayah dan alm. bundanya yang masih mengandung” sambung Vio berbicara sendiri.


Dari awal Vio menyadari sikap Farel yang membatasi temannya berkunjung ke rumah, kecuali Vio pastinya.


“Hah pasti kek di novel-novel yang pernah aku baca. Farel sama ayahnya menyembunyikan Ayli dari media demi keselamatan gadis itu sendiri. Dan kemungkinan aja Farel marah karena aku tau siapa Ayli gitu? Enggak masuk akal sih untuk Farel yang marah-marah”


“Aaaaargghh tauk ah gelap, capek mikirin si Farel” kesal Vio bangkit merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...