First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 27




...-Day 3, Makan siang bersama-...


Bi Narmi dan Viona memasuki kamar Ayli dengan nampan berisi makanan di tangan mereka.


“Loh Ayli kog gak ada di kamar bi?” Tanya Viona saat tidak menemukan sosok Ayli di dalam kamar.


“Non Ayli banyak menghabiskan waktu di taman buatan almarhun nyonya, ayo ikutin bibi” ajak bi Narmi membuka pintu penghubung kamar dan taman serta akses Ayli keluar masuk, masih ingetkan? Masih dong harusnya.


Viona dibuat takjub dengan taman kecil yang indah, banyak tanaman yang berjejer rapi dan terawat tidak lupa pula bunga-bunga bermekaran menyebarkan bau harum. Dari jaraknya saat ini Viona dapat melihat Ayli yang duduk di bangku taman di temani beberapa buku novel di sampingnya.


Viona mematap kagum gadis di depannya sana, Viona yakin Ayli memang sosok yang kuat. Viona sedikit meringis saat melihat wajah Ayli yang lebam dan luka di keningnya. Miris sekali gadis itu.


“Non, makan siangnya” ucap bi Narmi pada Ayli yang tenggelam dalam dunia fiksi nya, sampai tidak menyadari kehadiran bi Narmi dan Viona.


“Eh bi” Ayli bangkit menutup buku membantu bi Narmi meletakkan makanan di atas meja.


Belum sempat Ayli bertanya tentang dua porsi nasi di meja, bola matanya menangkap Viona yang tersenyum hangat.


“Hay gadis manis, makin manis dan cantik” sapa Viona meletakkan nampan nya lalu memeluk tubuh mungil Ayli.


“Kak Vio ke sini? Kog Ayli enggak tau” Ayli tersenyum pada Vio.


“Kejutan dong, gimana keadaan kamu? Udah enakan? Atau masih ada yang kamu keluhin? Bilang sama kak Vio biar nanti kak Vio antar ke rumah sakit. Emm atau kita ke rumah sakit sekarang aja? Gi-“


“Kak Vio, Ayli udah baikan. Lihat Ayli sehat-sehat ajakan. Udah ya, kak Vio pasti belum makan sekarang gimana kalo kita makan siang aja disini. Temenin Vio makan siang ya kak” ucap Ayli menghentikan kehebohan Vio yang mengkhawatirkannya.


Bi Narmi tersenyum melihat kedekatan Vio dan Ayli, ‘Kenapa tidak non Vio saja yang menjadi kakak non Ayli? Pasti pemandangan seperti ini yang akan semua orang lihat, penuh kehangatan’ batin bi Narmi.


“Kak Vio bakal temenin kamu makan siang ya itung-itung numpang makan hemat uang lah ya hahaha” canda Vio membuat Ayli ikut tertawa.


Entah kenapa setiap berada di dekat Vio, Ayli merasakan hangatnya sosok kakak dalam hidupnya. Pembawaan Vio pula membuat Ayli langsung nyaman.


“Kalo gitu bibi tinggal ya non, selamat makan” ucap bi Narmi.


“Makasih bi” sahut Ayli dan Vio bersamaan.


Di atas meja sudah tersaji sesuai dengan menu makan siang yang di pesan Ayli tadi. Sepiring ayam krispi, semangkuk jamur krispi, sambal bawang dan es jus jeruk. Jika kalian pikir Ayli akan meratapi dirinya, kalian salah besar. Karena Ayli gadis kuat dan makan adalah pengembali moodnya. Ya walau tidak semua bisa ia kembalikan moodnya dengan makan.






”Hmm wangi sambilnya itu tuh bikin kaka ngiler tau gak?” Heboh Vio membuat Ayli terkekeh.


“Kalau gitu selamat makan kak Vio”


Selesai berdoa mereka menikmati makan siang kali ini ditemani semilir angin menyejukkan dan berbincang menceritakan banyak hal random.


Tak jarang Ayli terkekeh di sela makannya karena cerita lucu dari Vio. Vio sendiri sampai dibuat meringis setiap Ayli terkekeh atau tertawa, bahkan gadis cantik di depannya ini makan dengan sangat lahap tanpa rasa sakit di sudut bibirnya yang robek.


Vio benar-benar dibuat kagum dengan Ayli yang kuat dan tetap senyum tulus walau nyatanya hati dan batinnya teriris.


————


Farel berjalan masuk ke dalam rumah mencari bi Narmi di dapur. Tadi di depan Farel sempat mendapat kabar dari satpam rumahnya jika Vio sedang berkunjung.


“Iya den” sahut bi Narmi dari dapur berlari menemui putra majikannya.


“Ada apa den? Mau makan siang sekarang? Biar bibi ambilkan dulu ya”


“Enggk usah bi, nanti aja” tolak Farel menghentikan langkah bi Narmi yang akan mengambil piring.


“Vio ke sini bi?” Sambung Farel.


“Iya den, lagi sama non Ayli makan siang di taman” ceplos bi Narmi langsung menepuk bibirnya ini. Hadeehh gimana sih kog bisa keceplosan.


“Vio udah lama sampainya?” Tanya Farel kali ini dengan raut wajah datar, tidak seramah tadi. Eh emang sejak kapan Farel ramah? Udah kek kulkas jalan mana bisa ramah.


“Sepulang kuliah tadi den” jawab bi Narmi gugup.


‘Berarti udah hampir satu jam lebih Vio di sini dan enggak ngabarin gue. Hah! Jadi beneran marah ceritanya’ batin Farel menyugarkan rambutnya lalu pergi meninggalkan ruang makan.


Bi Narmi hanya mengedikkan bahu dan kembali ke dapur.


Saat melewati depan kamar Ayli, Farel menghentikan langkahnya. Sekilas ia dibuat penasaran sedang apa dua gadis di dalam sana? Apa hanya makan siang barsama? Perlahan tangan Farel terangkat memegang ganggang pintu.


Farel membuka pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Farel melongok sedikit memastikan sekitar kamar Ayli. Jujur saja ini pertama kalinya ia masuk kedalam kamar ini.


Sepi...


Satu kata yang ia rasa saat ini, Farel masuk sudah layaknya maling di siang bolong saja. Farel menatap kamar Ayli yang bersih dan rapi, wangi harum alami bunga taman membuat kamar ini terasa nyaman.


Tidak banyak hal memarik di kamar Ayli, dinding kamarnya hanya berisi beberapa foto dirinya dan sisanya foto sang bunda. Farel menyadari bahwa foto sang bunda lebih banyak terpajang di dinding, diatas meja nakas, meja belajar sampai meja rias Ayli.


Terbesit rasa sedih bercampur kasihan pada Ayli yang hanya bisa menatap foto-foto sang bunda. “Ck ngapain gue kasihan sih, justru karena kehadiran dia bunda pergi” gumam Farel membentengi dirinya dari rasa kasihan pada Ayli.


Farel semakin masuk dan dari sinilah ia dapat melihat Vio dan Ayli yang sedang berbincang sambil menikmati makan siang. Sesekali tawa mereka terdengar kala Vio melontarkan cerita lucu yang pernah Vio ceritakan padanya. Suara tawa Ayli yang lebih dominan membuat Farel termenung mendengarnya.


Wajah cantik Ayli, suara tawa sampai gestur tubuhnya mengingatkannya pada almarhum sang bunda. Farel akui setiap melihat Ayli seperti melihat sang bunda.


Tapi Farel tetap lah Farel yang keras kepala dan tidak mau kalah, ia tetap membenci Ayli entah sampai kapan.


“Maaf bunda, Farel gak bisa tepati janji Farel pada bunda. Rasa benci ini sudah mendarah daging sejak kehadiran dia yang membuat bunda pergi dari Farel” gumam Farel menatap Ayli tajam.


Tidak ingin berlama-lama atau kepergok dua gadis itu Farel pun segera pergi. Namun, baru beberapa langkah matanya menangkap sebuah pigura kecil berukuran 4R dimana di dalamnya terdapat foto sepasang anak manusia yang tidak lain adalah Ayli dan Kaivan.


Kaivan memang memaksa Ayli untuk mencetak foto mereka minimal satu untuk Ayli dan satu untuk pria itu sepulang dari danau dua hari lalu.


“Ck apa pria itu tidak takut kena sial sepanjang hidupnya” ucap Farel sinis lalu pergi begitu saja setelah menatap foto tadi.


Entahlah Farel merasa kurang suka saat Ayli terlihat dekat dengan pria di luar sana. Apakah sikap posesif Farel sebagai kaka sudah hadir ke permukanaan? Siapa yang tau tentang isi hati paling dalam?


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...