
...-Namanya Ayli-...
Kaivan berlari kecil sampai berhenti di depan ruang rawat. Ia membuka pintu cepat dan menatap wanita cantik yang ia sayangi berbaring ditemani papanya.
“Mamah” peluk Kaivan mengecup kening mamanya.
“Mama kog bisa sampek kek gini sih ma? Harusnya mama tuh lebih hati-hati lagi. Ini pasti sakit ya mah?” Kaivan mengusap luka sang mama yang tertutup perban.
“Tenang lah sayang kamu ini enggak ada beda nya ya sama papa mu. Mama baik-baik saja, kata dokter juga bisa pulang setelah infusnya habis” jelas Ziya mama Kaivan.
“Papa kamu nih juga lebay banget minta pindahin mama ke ruang rawat lagi kan cuma nunggu infus habis aja juga” sambung Ziya menatap suaminya.
“Ya gak papa dong ma, papa itu sengaja pindahin mama ke sini biar mama istirahat dengan nyaman dan enggak terganggu dengan suara bising lainnya” bela Radit papa Kaivan.
Radyta Adhitama pemimpin perusahaan Adhitama Corp. Perusahaan yang bergerak hampir di segala bidang, membuat perusahaan satu ini melambung tinggi. Namun, sesibuk apapun dirinya keluarga tetap nomor 1.
Dari sang papa Kaivan juga belajar untuk mandiri sampai saat ini ia mempunyai usaha cafe sendiri dengan jerih payanye sendiri.
“Bener kata papa ma, lagian perasaan tadi mama masak eh sekarang dah maen ke rumah sakit aja. Kurang kerjaan banget” canda Kaivan langsung mendapat pukulan di lengannya.
“Awas kamu ya anak nakal!” Ketus Ziya menatap kesal putra sulung nya itu.
“Oh iya ma, tadi ada yang telpon papa ngabarin mama di sini. Sekarang orangnya dimana ma? Udah pulang?” Tanya Radit mengingat seseorang yang menolong istrinya ini, ia ingin berterima kasih secara langsung atas kepedulian orang itu.
“Iya pa, anak nya udah pulang. Tadinya mau nunggu sampai papa dateng. Tapi kan udah mau malam, anak gadis lagi kan gak baik pulang malam-malam sendiri. Jadi dia pamit pulang eh gak tau nya bentar lagi papa datang tadi. Mungkin aja papa sama dia papasan di depan” jelas Ziya membuat Kaivan menaut kedua alisnya.
“Dia? Anak gadis? Siapa sih ma?” Tanya Kaivan.
“Jadi tadi itu waktu mama kamu ketabrak motor ada yang nolongin dan nelpon papa buat ke sini. Enggak tau nya udah pulang” ucap Radit.
“Dia masih seumuran kamu kog. Cantik, manis, baik lagi. Namanya Ayli kalo gak salah, oh iya Ayli namanya. Tadi suster juga sempet cerita kalo Ayli teriak-teriak gitu saking paniknya, duh mama jadi merasa bersalah udah bikin dia panik” sambung Ziya.
Yups, takdir memang penuh dengan kejutan. Ayli mungkin memang menjauh dari Kaivan, tapi tanpa ia sadari perlahan hubungan mereka akan saling terikat. Ibu yang Ayli tolong tadi ternyata mama kandung Kaivan, Ziya Tsamara Adhitama.
“Ayli?” gumam Kaivan mendengar cerita sang mama.
‘Apa mereka orang yang sama? Tadi kan Ayli juga di lobby, bisa jadi Ayli yang mama bilang adalah Ayli yang aku kenal. Jika memang benar, mereka semua salah menilai Ayli. Nyatanya Ayli peduli terhadap mama nya bahkan sampai panik. Aku harus bicara besok sama Ayli’ pikir Kaivan.
“Kamu mikirin apa sih Kav? Di ajak ngomong mama mu kog malah ngelamun” tegur Radit menyenggol bahu putranya.
“Eh... Gimana-gimana?” Kaivan menggaruk tengkuknya sendiri.
“Udahlah pah jangan di ganggu lagi broken heart itu anakmu” ledek Ziya mengedipkan mata pada putranya.
Kaivan mendengus kesal. “Jangan mulai deh ma”
“Wait, wait maksud mama?” Tanya Radit bingung.
Ziya pun menceritakan kejadian tadi siang pada suaminya tanpa menghiraukan wajah masam putranya. Kaivan semakin memberenggut kesal saat mendengar tawa dan ejekkan sang papa.
“Dahlah Kaivan ngambek, mo ke kantin aja cari makan” ketus Kaivan pergi.
“Lah kog ngambek, anak mu baperan mah”
“Anak kamu juga pah”
“Iya juga ya” Mereka tertawa bersama membiarkan Kaivan yang mode ngambek. Gimana sih ngambeknya babang Kaivan? Hehehe
———
”Kamu baru pulang nak? Dari mana saja? Bukannya tadi pamit ke bi Narmi cuma ke mini market, tadi ayah cari ke sana kamu enggk ada. Kamu bikin ayah khawatir” Langkah Ayli terhenti mendengar pertanyaan Galen, ayahnya.
Ternyata Galen menunggunya sejak tadi di ruang tamu. Ayli memeluk ayahnya sambil berkata “Ayli ke rumah sakit yah, tadi ada orang kecelakaan. Jadi Ayli bantu antar ke rumah sakit dulu”
“Tapi kamu enggak papa kan nak?” Ayli menggeleng kepala.
“Iya yah, kalau gitu Ayli masuk dulu ya”
Di kamar Ayli segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan berganti dengan baju tidur berwarna hitam polos.
Ayli menatap pantulan dirinya di kaca meja rias. Menatap lekat kaca itu dengan pikiran yang terus berputar akan kejadian sore tadi.
“Ada apa denganku? Kenapa aku sepeduli itu sama ibu tadi?”
Jika kalian bertanya Ayli tidak menyadari, kalian salah. Ayli terdiam menatap telapak tangan kanannya, mengingat hangatnya genggaman ibu tadi.
“Mungkin Ayli terlalu rindu bunda” mengusap telapak tangan kanannya dengan kanan kiri. Masih menatap lekat telapak tangannya.
Tok
Tok
Tok
“Iya bentar” teriak Ayli bangkit membuka pintu kamar.
”Selamat malam non, makan malam sudah siap. Tuan besar dan tuan muda sudah menunggu nona di ruang makan” ucap bi Narmi.
“Iya bi, ini Ayli juga mau ke ruang makan makasih ya bi”
“Sama-sama non, kalau gitu bibi duluan ya” Ayli mengangguk lalu menutup pintu kamar sebelum menyusul ayah dan kakaknya di ruang makan.
“Selamat malam semua” sapa Ayli yang hanya mendapat respon dari ayahnya. Farel? Jangan tanya pria itu lebih asik dengan ponselnya sendiri.
“Malam sayang, duduklah. Farel letakkan ponselmu dan kita makan” perintah Galen pada anak sulungnya.
Mereka pun makan malam dalam keheningan, Ayli sesekali tersenyum menatap ayah dan kakak nya bergantian. Sangat jarang kan mereka makan semeja, terlebih Farel hanya akan makan semeja dengan Ayli saat sang ayah berada di rumah.
“Farel sudah selesai yah, Fa-“
“Duduk dulu dan tunggu adekmu selesai makan, ada yang ingin ayah bicarakan” perintah Galen.
Farel pun menatap tajam Ayli yang belum juga menghabiskan makannya. ‘Ck gadis lelet dan menyusahkan’ batin Farel mendengus kesal.
Ayli pun segera menghabiskan makanannya, ia sangat sadar tatapan kesal kakanya itu.
“Pelan-pelan Ayli” tegur sang ayah.
Ayli hanya mengangguk dan fokus melahap makanannya sampai habis lalu minum jus jeruk yang sudah di sediakan bi Narmi.
“Ayli sudah selesai yah” ucap Ayli.
“Baiklah, jadi Farel, Ayli malam ini ayah akan berangkat ke London untuk perjalanan bisnis selama enam bulan” ucap Galen menatap kedua anaknya bergantian.
Ayli menunduk mendengarnya, belum selesai rasa rindunya terobati tapi sang ayah sudah akan pergi lagi dengan waktu yang lama.
“Ini akan menjadi perjalanan bisnis ayah yang terakhir sebelum kakakmu menggantikan ayah nak” sambung Galen tertuju pada putrinya.
“Dan untuk kamu Farel, jaga adik kamu selama ayah pergi. Persiapkan juga dirimu untuk menggantikan ayah, ayah percaya kalian bisa saling melindungi satu sama lain”
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...