First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 07




...-Tugas Kelompok-...


“Oke anak-anak sampai sini ada pertanyaan?” ucap bu Ika di depan kelas.


“Saya bu” sahut siswi di baris depan.


“Iya kamu”


“Ini kan tugas kelompok bu, satu kelompok berapa orang? Dan kita sendiri yang nentuin atau ibu?” Tanya siswi itu.


Sejak tadi Ayli sudah malas membahas tugas kelompok, jika biasanya ia akan mengerjakan sendiri kali ini bisa di tebak dengan siapa ia berkelompok. Mengingat bu Ika ini tidak terlalu suka dengan jumlah kelompok yang banyak orang dalam setiap tugasnya, katanya nanti banyak yang jagain temennya. Emang benerkan?


“Seperi biasa tugas kelompok ini kalian kerjakan dengan teman sebangku. Itu berarti satu kelompok terdiri dari dua orang” pesan bu Ika.


Tuhkan tebakan Ayli tidak akan pernah meleset. Ia menghela nafas menatap soal dalam tugas kelompok kali ini. Ayli merasa malas saja.


Berbeda dengan Kaivan yang berwajah santai walau dalam hati sedang kesenengan.


“Baiklah kalian bisa istirahat dan jangan lupa tugas kelompoknya kita bahas minggu depan. See you next time” bu Ika pamit keluar.


“See, kita satu kelompok” ucap Kaivan menatap Ayli.


Ayli memutar bola mata malas, ia memilih menidurkan kepalanya diatas meja. Ayli tidak pedulia dengan tugas kelompok apalah itu, menatap langit dengan posisinya saat ini lebih nyaman. Sampai sebuah lengan menutup pemandangannya dan kini kotak bekal telah berada di depannya.


“Makan” singkat Kaivan membuat Ayli mendongak menatapnya.


“Tadi mama sengajak bawain dua bekal katanya sayang kebuang, jadi aku kasih ke kamu aja” jelas Kaivan berbohong.


Nyatanya tadi pagi Kaivan merengek minta dibawakan dua bekal pada mamanya. Mamanya sampai bertanya-tanya untuk siapa bekal satunya, tapi Kaivan tetap diam dan tersenyum.


“Ciiieee ada yang lagi falling in love nih” ledek Yudha.


“Lah lo ngapain balik lagi sih?” Kesal Kaivan.


Tadinya Yudha memang sudah pergi lebih dulu bersama teman kelasnya yang lain, tapi saat di koridor sekolah Yudha baru ingat kalau dompetnya tertinggal di dalam tas. Jadinya Yudha kembali ke kelas dan melihat pemandangan ya langka baginya.


“Yah mo gimana lagi dompet gua ketinggalan, eh gak taunya malah lihat kang mas Kaivan bersama neng Ayli berduaan makan bekal bareng lagi ih so sweet banget deh” canda Yudha.


Ayli bangkit membawa kotak bekal yang diberikan Kaivan membuat pria di sampingnya tersenyum manis. Namun, senyum itu kembali luntur saat Ayli berjalan pada Yudha.


Ayli menyodorkan kotak bekal itu pada Yudha “Nih, buat lo aja. Biar mulut lo bisa diem!” Ucap Ayli berlalu pergi.


Yudha melongo mendengarnya, “Sumpah tuh cewek mulutnya pedes amat”


“Ck, lo sih ganggu tau gak?” ketus Kaivan menatap Ayli yang hilang di balik pintu kelasnya.


“Ya maap kalik Kav, gua juga gak tau kalo tuh cewek gak bisa di ajak bercanda” kilah Yudha tersenyum tanpa dosa.


“Ngelas aja lo!”


“Ngeles woy bukan ngelas” sewot Yudha duduk di bangkunya dan menikmati bekal untuk Ayli tadi.


“Btw masakan emak lo enak juga Kav, kapan-kapan kenalin gua lah ke emak lo” lahap Yudha menambah raut kusut Kaivan saat melihatnya.


“Mo ngapain lo!” Kaivan mendelik tajam, sepertinya ia sedikit sensi karena Ayli menolak bekal yang ia beri.


“Santai anak konda! Ya mo minta makan lah, ya kalik mo jadi bapak sambung lo! Yang ada mati muda gua!” Sewot Yudha, gila kalik pikiran temennya ini.


“Ck males gua sama lo! Nih! Habisin sekalian!” Ketus Kaivan memberikan bekalnya juga.


Yudha menyengir melihat wajah kesal temannya itu, “Makasih Kav, ati-ati di jalan” teriak Yudha saat Kaivan meninggalkannya sendiri di kelas.


———


“Ayli!” Panggil Kaivan berlari mengejar Ayli.


Kaivan menahan lengan Ayli, membuat gadis itu terhenti dan menatap cuek wajah tampan Kaivan. “Pulang bareng aku yuk? Aku anter sekalian ngerjain tuga kelompok dari bu Ika”


“Gak usah” ketus Ayli berlalu.


“Yaudah kalo kamu gak mau aku anter, gimana kalo aku ikutin kamu dari belakang. Dan kita bisa ngerjain tugasnya hari ini” Kaivan tidak akan memaksa Ayli jika itu membuat gadis itu tidak nyaman.


“Lo paham bahasa manusia gak sih?” Tanya Ayli membuat Kaivan bingung.


“Apa hubungannya tugas kelompok kita sama bahasa manusia sih Ay?” Jawab Kaivan.


“Kalo lo paham bahasa manusia, lo gak akan maksa! Kerjain tugas itu sendiri!” Ketus Ayli menepis lengan Kaivan.


Lagi-lagi Kaivan tidak bisa menahan Ayli. Kaivan pun memilih pergi ke parkiran setelah menatap Ayli yang baru saja di jemput dengan sopirnya.


Sampainya di rumah Kaivan menubruk tubuh mamanya yang sedang bersantai di ruang tamu.


“Ya ampuuunn, Kaivaaaan. Kamu bikin mama kaget tau gak!” Kesal wanita paruh baya mengusap dadanya.


“Maaf” lirih Kaivan.


Ziya mengernyit bingung menatap tingkah putranya siang ini, tumben sekali pulang sekolah loyo begitu.


“Kamu ada masalah nak?” Tanya mama Ziya.


“Enggak mah, Kaivan cuma capek aja” manja pria itu pada mamanya.


“Tapi enggk biasanya kan kamu pulang sekolah loyo kek gini, kayak orang baru di putusin aja” ledek mama Ziya.


Kaivan menarik tubuhnya menatap kesal sang mama. “Gimana mau putus ma? Di deketin aja dia enggak mau, Kaivan juga udah ganteng, baik, pinter, punya usaha sendiri kurang apa coba”


Ziya tidak percaya dengan respon putra nya yang di luar ekspektasinya. Tadinya Ziya hanya ingin meledek putranya tapi melihat respon putra suling nya ini membuatnya menahan tawa. Sekarang Ziya paham kenapa putranya ini.


“Oh jadi putra mama ini lagi kasmaran toh? Tapi ceweknya gak mau, atau jangan-jangan bekal tadi pagi buat si cewek yang kamu suka ya?” Ucap Ziya membuat Kaivan kalang kabut sendiri.


Kaivan mendengus kesal, kenapa ia jadi keceplosan sih pada mamanya, kan malu!


“Anu... itu mah... ap-“


“Udah enggak usah ngeles deh ngaku aja sama mama. Kamu lagi suka sama cewekkan?” tekan Ziya pura-pura marah.


Nyali Kaivan menciut melihat mamanya mode garang seperti ini. Kaivan mengangguk sebagai jawaban.


“Dan kamu ditolak? Anak mama ditolak?!” Sentak Ziya seakan tak terima membuat Kaivan panik.


Takut-takut sang mama akan mencari tau dan melabrak gadis yang ia sukai, ya walau itu sangat berlebihan dan bukan tipe mamanya banget.


“Eeh,, udah mah bukan gitu... anu.. mah ja-“


Ziya tertawa lepas melihat wajah panik putranya itu. Memangnya apa yang akan ia perbuat sampai membuat Kaivan sepanik ini.


“Hahaha akhirnya ada juga yang nolak pesona anak mama ini hahaha” tawa Ziya membuat Kaivan mengedipkan mata beberapa kali.


“Hahaha papa harus denger berita ini, putra nya yang tampan ada yang nolak. Hahaha”


Kaivan memberenggut kesal saat sadar ia dikerjain mamanya sendiri. Dan lihat lah mamanya yang sangat suka melihat anaknya tersiksa.


“Ck mama ngeselin tau gak” kesal Kaivan beranjak pergi.


“Lah ngambek”


“Jadi kepo kan sama cewek yang nolak anak tampanku itu, sepertinya aku harus cari tau” Ziya tersenyum bangkit ke dapur menyiapkan makan malam nanti.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...