First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 29




...-Day 4, Pergi ke pantai-...


Setelah aksi nekat Kaivan manjat gembok semalam, pagi ini mereka berencana untuk pergi ke pantai sesuai ajakan Kaivan yang sempat tertunda kemarin. Tadinya Ayli menolak mengingat hari ini masih jam sekolah, tapi Kaivan ngotot untuk ijin sehari ini saja katanya.


“Aku tuh juga bisa bosen loh Ay sekolah terus, apa lagi kan kamu masih belum sekolah lagi”


Kurang lebih seperti itu alasan Kaivan semalam. Jadilah mereka ke pantai, Kaivan mengajak berangkat pagi agar puas menikmati suasana pantai.


Ting


*Ian rese**🤓


Udah siap? Aku tunggu di depan gerbang ya, jadi enggak perlu manjat kayak kemarin😁


06.23*


Ayli tersenyum membaca pesannya, ia segera mengambil sling bag lalu beranjak menutup pintu kamar tidak lupa ia kunci.


“Non Ayli mau berangkat sekarang?” Tanya bi Narmi sambil menyerahkan paper bag berisi sarapan dan makan siang yang diminta Ayli kemarin.


“Eh iya bi, makasih ya bi” Ayli menerima paper bag.


“Sama-sama non, hati-hati di jalan dan selamat bersenang-senang” Ayli mengangguk pergi melambaikan tangan.


Tanpa mereka berdua sadari dari arah lantai dua Farel menatap kepergian Ayli.


Sampai di depan gerbang Ayli langsung masuk ke dalam mobil sport hitam milik Kaivan. Kaivan sengaja membawa mobil agar mudah dalam membawa barang bawaannya.


“Pagi Ay” sapa Kaivan menyambut kedatangan Ayli yang kini sudah duduk di sampingnya.


“Pagi” balas Ayli duduk manis.


“Udah siap?” Ayli mengangguk semangat menatap Kaivan yang terkekeh gemas.


“Kalo gitu kita let’s go” Kaivan menjalankan mobilnya membelah keramaian kota pagi ini.


Sudut bibir Ayli tertarik setiap mengingat kemana tujuan mereka pagi ini. Semalam Kaivan memang tidak banyak bertanya tentang apa yang sudah terjadi, yang Ayli ingat pria itu langsung mengajaknya ke pantai pagi ini.


Ayli bersyukur dengan segala perhatian Kaivan padanya, Kaivan tidak banyak menuntut tapi juga memberi dirinya waktu jika ingin bercerita. Matanya berbinar menatap wajah tampan Kaivan yang fokus menyetir.


Dari arah sedekat ini mampu membuat jantung Ayli berdebar, seketika pipi Ayli memerah saat seklebat ingatan terlintas di pikirannya. Semalam sebelum pulang Kaivan sempat menyium keningnya. Oke hanya kening! Ingat kening!


Spontan Ayli menangkup kedua pipinya yang terasa panas, wajahnya merona mengalahkan sinar mentari.


“Kamu kenapa Ay?” Tanya Kaivan yang sedari tadi diam-diam mengamati tingkah gadis di sampingnya.


“H-hah? E-enggak” sialnya Ayli malah merasa gugup menjawab pertanyaan Kaivan.


“Trus kenapa pipi nya merah banget?” Goda Kaivan yang tidak luput dari wajah merona.


“A-apaan sih lo-“


“Ian, Ay bukan lo” koreksi Kaivan.


“Iya iya Ian! Maksudnya apaan coba! Sok tau! Udah sana fokus nyetir!” Sewot Ayli menutupi kegugupannya dengan memilih menatap luar jendela.


‘Apaan sih Ayli!!! Bikin malu aja sih? Lagian jangan baper ah! Nanti kalo sakit hati gimana? Nanti nanges’ gumam Ayli pada dirinya sendiri.


“Kalo capek tidur aja Ay, lagian masih lama perjalanan kita” kata Kaivan melirik Ayli yang bersandar dengan wajah masih menatap jendela.


“Hmmm” Ayli memang mulai mengantuk tanpa Kaivan ingatkan. Gadis itu memilih memejamkan mata dari pada menemani Kaivan yang menyetir.


————-


Akhirnya sampai juga, Kaivan menoleh kesamping saat menyadari pergerakan Ayli yang bangun saat mesin mobil di matikan.


“Udah sampai hm?” Tanya Ayli menatap sekitar.


Suara deburan ombak menyapa pendengarannya dan luasnya hamparan air terbentang sejauh mata memandang menyadarkan Ayli sepenuh bahwa mereka sudah sampai di pantai.


“Wuaahhh!! Pantai! Kita udah sampai!” Pekik Ayli layaknya anak kecil yang bahagia karena baru mengunjungi pantai.


Ayli langsung keluar dari mobil setelah melepas snakersnya, dan berlari ke bibir pantai. Meninggalkan Kaivan yang mengeluarkan barang bawaan mereka.



Kaivan tertawa gemas melihat tingkat semangat Ayli. Bahkan Kaivan harus mengingatkan gadis itu agar tidak mendekati air pantai yang masih dingin di pagi hari.


“Jangan lari Ay! Air nya masih dingin jangan deket-deket!” Teriak Kaivan tak digubris oleh Ayli.


Ayli terpekik kaget saat kakinya menyentuh air laut, benar apa Kaivan air laut pagi ini masih dingin.


“Makanya kalo di bilangin jangan ngeyel” ucap Kaivan dari arah belakang menarik tangan Ayli menuju karpet yang sudah ia gelar tak jauh dari mobilnya.


Pagi ini pantai masih sepi mungkin karena bukan hari libur jadi pengunjung tidak terlalu ramai.


Mereka duduk di atas karpet dengan selimut kecil yang dibawa Kaivan tadi untuk menutupi kedua kaki Ayli. Gadis itu masih merasa kesal dengan air yang dingin dengan wajah di tekuk.


“Udah jangan cemberut gitu, nanti cantiknya hilang” canda Kaivan menyodorkan bekal sarapan yang dibawakan sang mama dan bi Narmi.


“Kita sarapan yuk, nih udah aku siapin” Kaivan menyodorkan sepiring sarapan pada Ayli.


Mereka sarapan bersama sambil memandang indahnya pantai, sungguh sarapan yang menyenangkan.


“Baru kali ini deh gue sarapan dengan suasana setenang ini” gumam Ayli menarik perhatian Kaivan di sampingnya.


“Thanks ya Ian, lo udah bikin gue sadar hidup itu enggak cuma tumpukan masalah” ucap Ayli tulus menatap Kaivan.


“Ada kalanya bahagia juga menyapa gue” senyum tulus Ayli terbit dan kali ini untuk Kaivan, pria dengan segala tingkah yang mencoba mendekatinya dan merubah cara hidup Ayli.


Kaivan menanggapinya dengan senyuman pula, tangan Kaivan terulur mengusap puncak kepala Ayli. “Sama-sama Ay, aku harap apapun yang terjadi kamu akan tetap kuat. Ingat ada aku yang selalu ada di samping kamu kapan pun kamu perlu”


“Thanks” ucap Ayli tulus.


Kali ini biarkan Ayli mencoba untuk memulai banyak hal baru dalam hidupnya. Kali ini saja Ayli akan menerima uluran tangan pria di hadapannya ini untuk membuat cerita indah di hidupnya. Biarkan dirinya sejenak egois hanya untuk kesenangannya. Toh tidak lama, tidak akan lama waktu yang Ayli pakai.


————


Jika Kaivan dan Ayli yang bersenang-senang di pantai, maka berbeda hal nya dengan Yudha yang harus menerima hukuman hormat pada tiang bendera karena ulah sahabatnya. Siapa lagi kalo bukan Kaivan. Di mapel jam ketiga Yudha harus rela panas-panasan.


Mungkin terlalu bersemangat jalan-jalan bersama Ayli, Kaivan melupakan buku tugas milik Yudha yang tertinggal dirumahnya saat mereka mengerjakan tugas bersama.


Padahal semalam Yudha sudah mengingatkan pria itu untuk tidak lupa membawa buku tugas miliknya. Dan ternyata alih-alih lupa membawa Kaivan bahkan tidak masuk sekolah tanpa menghubunginya. Dan berakhirlah dirinya di lapangan sekolah.


“Kenapa si curut satu tuh enggak bilang kalo enggak masuk! Tau gini kan gue pagi-pagi ke rumahnya ambil tuh buku! Emang kamvret si ikan kakap satu tuh!” Dumel Yudha mengusap keringat di dahinya.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...