
...-Day 1, Taman Bunda-...
Kaivan baru saja berhenti di depan gerbang kecil yang di tunjuk Ayli tepatnya sisi samping rumah Ayli. Ayli turun di bantu Kaivan tak lupa melepas helm dan mengembalikan pada Kaivan.
“Bawa aja Ay, jadi tiap kita keluar udah enggak bakal bingung helm lagi” Ayli mengangguk.
“Jadi mulai sekarang aku jemput kamu dari gerbang ini? Bukan gerbang utama?” Tanya Kaivan memastikan.
“Iya, kalo lewat depan jauh jalannya males, capek” kilah Ayli.
“Oke, besok pulang sekolah aku langsung di sini. Aku tunggu di sana” tunjuk Kaivan pada pohon di seberang sana.
“Oke, thanks... Ian” ucap Ayli akhirnya lali berlari meninggalkan pria itu.
Kaivan terkekeh dengan sikap malu-malu Ayli yang mungkin hanya dirinya yang tau. “Gemes banget sih”
Tak ingin berlalu lama Kaivan menyalakan motor melaju ke rumahnya yang dekat, ingatkan mereka satu komplek cuma beda gang aja.
————
Keesokan harinya Kaivan berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan untuk sarapan rutin bersama.
“Pagi ma, pa” sapa Kaivan lalu duduk dengan tenang.
“Pagi sayang” “Pagi nak” sahut Ziya dan Radit bersamaan.
“Kau punya masalah boy?” Tanya Radit pada putra sulungnya itu.
“Masalah?” Kaivan menautkan alisnya bingung.
“Iya masalah sampai om mu harus turun tangan” jelas Radit yang di angguki Kaivan. Pria itu paham sekarang maksud dari papanya.
“Enggak pah, Kaivan enggk ada masalah lagian cuma nolongin te-“
“Temen apa temen? Kata om kamu dia cantik, manis, pendiam lagi” serobot Ziya dengan jiwa keponya yang membara.
“Apaan sih mah, mama mulai deh” Kaivan kesal sendirikan jadinya kalo om nya itu sudah mulai ember.
“Jadi?” Tanya papa Kaivan tak kalah kepo. Gimana enggak kepo masalahnya putranya ini tidak pernah dekat atau menjalin hubungan dengan gadis lain. Sekalinya mereka dapet kabar kam jadi penasaran.
“Oke Kaivan bakal cerita dan jangan ada yang motong sebelum selesai” ucap Kaivan di angguki papa dan mamanya yang sudah menanti sejak tadi.
Kaivan pun cerita sejak awal pertemuannya dengan Ayli, bagaimana sifat Ayli yang pasti tidak untuk masalah pribadi Ayli yang ia tau dari Yudha. Kaivan juga menjelaskan bahwa Ayli yang di maksud mamanya adalah gadis yang sedang menarik perhatian Kaivan saat ini dan nanti. Mereka dua gadis yang sama.
Kaivan juga menceritakan kejadian kemarin dimana Ayli membuat tiga orang yang membullinya masuk rumah sakit, sampai Kaivan meminta bantuan sang paman atau omnya itu, sama saja kan toh mereka juga satu orang yang sama.
“Astaga, kog masih ada sih yang suka julit sama bully temen nya sendiri. Mama enggak terima kalo Ayli sampai segitunya di jauhin satu sekolah lagi. Awas aja mama temuin satu-satu orang tua mereka yang buat Ayli di skors seminggu” geram mama Ziya dengan tangan mengepal.
Ziya tidak terima mendengar cerita dari putranya itu, menurutnya Ayli gadis yang baik, cantik dan ramah. Ia jadi ingat awal pertemuan mereka, Ayli sangat menjaganya saat di rumah sakit waktu itu. Ia tidak menyangka jika gadis cantik nan manis itu satu sekolah dengan putranya. Mendengar sifat Ayli yang bertolak belakang dengan sifat pertemuannya membuat Ziya merasa kasian dengan Ayli.
Ibu dua anak itu seakan tau apa yang terjadi pada Ayli saat ini, sejujurnya dirinya juga seperti itu dulunya sebelum bertemu sang suami.
“Mama tenang dong” sahut Radit menenangkan istrinya yang pagi-pagi sudah berapi-api saja.
“Biarin nanti biar mama bicara sama Sam, enak saja gadis sebaik itu kog” Ziya tetap tidak terima.
Kaivan pun mengusap bahu sang mama lalu memilih pamit. “Iya deh terserah mama aja ya. Kalo gitu Kaivan berangkat dulu ya ma, pa” pamit Kaivan setelah menyalami kedua orang tuanya.
————
Hari menjelang siang dan Ayli masih memilih rebahan di atas ranjang kasurnya sambil mendengarkan musik kesukaannya. Hari pertama yang membosankan, Ayli menatap langit kamar mengingat tadi pagi sang ayah menelpon membuatnya jantungan.
Takut-takut jika sang ayah tau masalahnya, ternyata hanya menanyakan kabarnya. Ayli bangkit keluar menuju meja makan perutnya sudah keroncongan minta di isi.
“Iya bi lagi males” singkat Ayli mencomot empat lembar roti dan selai kacang sebagai olesannya.
“Cih, selain jadi anak pembawa sial lo juga jadi anak enggak guna ya? Mau maluin keluarga? Buang-buang duit aja lo” suara sinis seorang pria yang memasuki area ruang makan. Siapa lagi kalo bukan Farel, pria itu baru akan berangkat kuliah siang ini.
Tadinya Farel ingin menemui bi Narmi untuk membuatkan cookies kesukaannya tapi malah mendapati Ayli yang santai mengunyah roti.
“Den Farel mau berangkat? Mau bibi buatin sesuatu dulu?” Tanya bi Narmi menengahi perdebatan yang akan panjang jika tidak di hentikan.
“Nanti buatin cookies bi” pinta Farel lalu berbalik. Baru beberapa langkah Farel berbalik menatap Ayli yang juga menatapnya dengan raut wajah sedih? Entahlah Farel tidak peduli.
“Dan lo jangan pernah bikin malu keluarga cuma karena otak tolol yang lo pelihara” ketus Farel menunjuk Ayli lalu berangkat begitu saja.
Di meja makan Ayli menatap roti selai kacangnya dengan malas, napsu makannya hilang begitu juga rasa laparnya. Ia seakan merasa kenyang dengan kalimat sinis kakanya itu. Ayli bangkit membawa sepiring roti itu ke kamar, ia akan memakannya nanti. Sayang kan kalo di buang, diluar sana juga masih banyak orang yang menahan lapar karena faktor ekonomi.
“Non” panggil bi Narmi menghentikan langkah Ayli.
“Ayli mau roti aja bi” sahut Ayli hafal dengan apa yang akan ditanyakan bibinya itu.
Bi Narmi hanya bisa menghela nafas melihat punggung putri majikannya itu yang hilang di balik dinding. Bi Narmi merasa kasihan mengingat sikap Farel pada Ayli, tapi apa boleh buat dirinya tidak bisa ikut campur dalam masalah ini.
Sampai nya di kamar Ayli menaruh piring itu di nakas dan berjalan ke arah taman untuk menenangkan hatinya.
...(Anggap aja kayak gini yah tamannya)...
Ayli duduk di sana menatap langit cerah siang ini. “Ayli rindu bunda dan taman bunda ini yang selalu menjadi penawar sesaat rasa rindu Ayli sama bunda”
“Kapan kita bisa ketemu bunda? Apa masih lama waktu Ayli di sini?”
“Kak Farel marah lagi sama Ayli bunda” Ayli menunduk meremas tangannya.
Ddrrttt
Ddrrttt
Ponsel Ayli bergetar menandakan telepon masuk.
...*Ian rese🤓is calling...*...
“Hallo Ay” suara Kaivan di seberang sana.
“Hmm” gumam Ayli.
“Kamu siap-siap ya, pulang sekolah kita keluar bareng” ucap Kaivan lebih tepatnya memerintah Ayli.
“Ma-“
“Kalo kamu enggak mau bukain gerbangnya aku bakalan lompat. Okay? Oke deal kita pergi, bye Ay. Sampai ketemu nanti” ucap Kaivan sepihak lalu memutuskan sambungan telpon.
Ayli berdecak kesal sebelum akhirnya tersenyum dan bangkit untuk bersiap.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...