First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 12




...-Have Fun Cafe & Croffle-...


Kaivan berjalan memasuki cafe miliknya yang baru buka beberapa hari ini. Kaivan bersyukur melihat banyaknya pelanggan siang ini. Cafe ini akan buka mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam dengan dua shif kerja.


Have Fun Cafe namanya, cafe ketiga yang Kaivan bangun setelah Stars Cafe dan Garden Cafe. Itu semua Kaivan banghn dengan hasil jerih payahnya sendiri. Sejak kecil Kaivan yang suka menabung dan jadilah ia membuka usaha cafe. Jadi Kaivan punya tiga usaha cafe? Yups bener banget.


“Hai bos” sapa pria berambut ikal, Ilham namanya.


Kaivan mengangkat tangan menyapa beberapa karyawannya. Ilham di sini adalah kepercayaan Kaivan untuk membantunya menjalankan usaha cafe. Katakanlah Ilham ini manager dari ketiga cafe yang Kaivan punya.


Walau pun begitu sesekali Ilham juga membantu melayani para pelanggan. Umur Ilham terpaut dua tahun di bawah Kaivan, bisa dikatakan adek kelas Kaivan hanya saja beda sekolah.


Singkatnya Ilham dulu pernah menolong Kaivan di jalan beberapa tahun lalu, kemudian Kaivan menawarkan pekerjaan pada Ilham. Mengetahui kinerja Ilham yang baik, Kaivan memberikan kepercayaan penuh cafe yang baru ia dirikan pada Ilham, jadi selama Kaivan di luar negri dulu Ilhamlah yang bertanggung jawab atas cafe milik Kaivan itu.


Dan sejak bekerja pada Kaivan perlahan ekonomi Ilham mulai tertata dengan baik, kini Ilham sudah tidak lagi tinggal di panti asuhan tempatnya di besarkan. Hanya sesekali mampir untuk memberikan sedikit rejeki yang ia punya pada adek-adek panti.


“Ke atas dulu yuk Ham” ajak Kaivan ke lantai tiga, ruang kerja Kaivan yang digunakan Ilham juga.


Saat di lantai dua mata Kaivan menyipit menghentikan langkahnya begitu pun Ilham yang berjalan di belakangnya. Kaivan menatap lekat gadis di sudut ruang dekat balkon lantai dua. Tampak gadis itu sedang berkutat dengan tugas dan laptopnya jangan lupakan beberapa piring berisi pesanan gadis itu.


“Emm Ham kita lanjut nanti aja ya, ada temen saya di sini” ucap Kaivan.


“Oke siap, mau di buatin apa bos?” Tanya Ilham.


“Nanti aja saya ke bawah” sahut Kaivan berjalan mendekati gadis di sudut ruang ini.


“Ay” sapa Kaivan pada gadis yang sedang berkutat dengan laptopnya.


Ayli menoleh saat namanya terpanggil oleh suara yang familiar di telinganya.


“Udah dari tadi Ay?” Ayli mengangguk singkat.


Sudut bibir Kaivan berkedut menahan senyum melihat respon singkat Ayli, apakah ini sebuah kemajuan?


“Aku boleh duduk disinikan Ay?”


Ayli diam menatap sekitar yang masih kosong. Lalu menatap Kaivan yang tersenyum manis padanya.


“Meja gue penuh” singkat Ayli.


Memang benar sih meja Ayli sudah penuh dengan buku dan laptopnya serta beberapa pesanannya tadi.


“Enggak papa Ay santai aja yang penting satu meja sama kamu”


“Hmmm”


“Ay” panggil Kaivan mengeluarkan ponselnya.


“Hm” gumam Ayli masih mencatat tugasnya.


“Minta alamat email kamu dong”


“Buat apa?” Ayli mendongak menatap Kaivan.


“Udah nanti juga tau, cepetan aku minta” paksa Kaivan.


Ayli yang tak ingin berdebat saat ini pun segera memberikan alamat emailnya pada Kaivan. Sedangkan Kaivan sendiri mulai mengotak-atik ponselnya, entah apa yang pria itu lakukan sampai ponsel Ayli di atas meja berbunyi.


Ayli lebih dulu menyelesaikan catatannya. Lalu beralih pada ponselnya, kening Ayli mengernyit melihat pesan email yang masuk.


“Itu tugas kelompok kita, udah aku kerjain sampai selesai jangan lupa di salin ya biar enggak dimarahin bu Ika” jelas Kaivan saat Ayli menatapnya.


Ayli hanya diam menatap layar ponselnya sampai suara deritan kurai mengalihkan pikirannya.


“Aku tinggal dulu bentar ya Ay” Kaivan tersenyum mengacak rambut Ayli tanpa ijin.


Ayli tertegun saat merasa usapan lembut Kaivan di kepalanya. Ia menatap Kaivan yang menaiki tangga menuju lantai tiga.


‘Bukannya lantai tiga itu ruang kerja atau semacamnya ya?’ Batin Ayli.


Jadi di lantai dua ini ada skat dinding kaca menuju lantai tiga. Terdapat pintu yang dapat dibuka hanya dengan sidik jari.


“Kog dia bisa buka pintu itu? Pakek sidik jarinya lagi” bingung Ayli.


Ayli tak mau ambil pusing, ia memilih membuka email lewat laptopnya dan menyalin tugas kelompok mereka yang sudah di selesaikan Kaivan.


‘Pinter banget si nih cowok? Padahal kan masih ada waktu tiga hari buat ngumpulin nih tugas’ pikir Ayli.


“Oke, karena tugas yang lain udah selesai sekalian nyalin aja deh” gumam Ayli.


Kaivan yang baru saja turun dari ruang kerjanya bersama Ilham langsung di suguhkan dengan wajah Ayli yang fokus menyatat sambil sesekali mencomot camilannya. Kaivan terkekeh membuat Ilham bingung dan mengikuti pandangan bosnya itu.


“Cantik ya bos?” Tanya Ilham usil.


“Iya, cantik banget” sahut Kaivan masih fokus menatap Ayli.


“Buat Ilham ya bos?” Ilham menahan tawa saat mendapati Kaivan menatapnya sengit.


“Canda boss, ceilah waferan ih si bos” tawa Ilham berlari turun, kabur ceritanya.


Kaivan turun untuk membuat sesuatu untuk Ayli. Jika di luaran sana bos tinggal suruh karyawan maka beda dengan Kaivan, pria itu akan turun tangan langsung untuk membuat apa yang ia mau.


Selesai berkutat dengan dapur Kaivan kembali ke atas dengan nampan di tangannya. Ayli mendongak saat merasakan seseorang mendekatinya.



“Di makan Ay, buat kamu” ucap Kaivan menyodorkan sepiring croffle pada Ayli.


“Ini menu best seller di cafe kita” sambung Kaivan.


“Maksud lo?” Tanya Ayli bingung.


“Maksudnya ini menu best seller di cafe ini, ya itu maksudnya” kilah Kaivan.


Bukannya Kaivan tidak mau mengakui cafe nya, hanya saja Kaivan takut jika Ayli tidak mau berkunjung lagi setelah tau bahwa cafe ini milik Kaivan.


Kaivan sendiri sudah memberi tahu pada Ilham untuk tidak memberi tahu Ayli bahwa cafe ini miliknya. Biar nanti saja saat mereka sudah dekat Kaivan akan mengatakannya.


“Oh” singkat Ayli meraih sepiring croffle tadi.


“Lo kog tau kalau ini menu best seller di sini?” Tanya Ayli sambil memotong croffle.


“Tadi di bilangin mbak-mbak nya, jadi aku pesenin ini buat kamu. Gimana rasanya? Enak gak Ay menurut kamu”


“Enak”


“Trus?”


“Manis”


“Trus?”


“Beli ngapa trus lo rasain, jangan tanya ke gue terus!” Ketus Ayli membuat Kaivan terkekeh.


‘Kayaknya menu ini bakal jadi menu favorite aku di cafe ini. Kaivan pinter banget milih makanannya’ pikir Ayli menahan senyumnya.


“Tugasnya udah di salin kan Ay?” Tanya Kaivan menatap beberapa buku Ayli.


“Udah barusan selesai” Ayli menikmati croffle itu dengan lahap.


“Enak banget ya Ay?” Kaivan tersenyum melihat anggukan Ayli.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...