First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 19




...-Tangis pilu Ayli & Ian-...


Kaivan menarik tangan Ayli menuju rooftop sekolah dan mendudukkan gadis itu di salah satu bangku di sana. Ayli terdiam menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan Kaivan yang mengkhawatirkannya.


Kaivan memilih duduk di samping Ayli memeluk tubuh mungil itu dalam dekapannya. Bahkan Kaivan tidak akan menghakimi Ayli sendiri, pria itu berpikir pasti ada alasan mengapa Ayli berbuat seperti tadi.


“Nangis aja Ay kalo kamu butuh itu, anggep aja aku enggak ada” ucap Kaivan mengusap punggung Ayli yang perlahan bergetar.


Tangis Ayli pun pecah dalam pelukan Kaivan. Ayli sudah tidak bisa menahannya lagi, hatinya terlalu sesak untuk menahan rasa sakit ini. Tangan Ayli pun ikut bergetar memeluk Kaivan.


“Gue bukan pembawa sial, gue juga bukan ******, gue bukan gadis murahan” gumam Ayli di sela isak tangisnya.


Hati Kaivan teriris mendengarnya, Kaivan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak tau seberasa sakitnya Ayli saat ini, Kaivan hanya berusaha menjadi pendengar terbaik dan bahu bersandar Ayli.


“Gue udah bikin mereka kesakitan Ian, gue bikin mereka masuk rumah sakit. Kenapa gue bisa kelepasan? Harusnya gue bisa nahan emosi gue lebih lama Ian. Gue takut” tangis Ayli tanpa sadar untuk pertama kalinya ia memanggil Kaivan dengan panggilan Ian.


Sesaat Kaivan tertegun mendengarnya sudut bibirnya tertarik ke atas, tapi haruskah ia tersenyum dalam situasi seperti ini? Oh ayolah tahan Kaivan.


“Jangan takut Ay, ada aku disini. Aku akan bantu kamu untuk selesaiin masalah ini. Mereka memang pantes diperlakukan seperti tadi, aku juga akan kumpulin semua bukti-bukti pembullyan yang udah Renata lakuin selama ini. Biar dia dan temen-temennya bisa dihukum” jelas Kaivan berusaha menenagkan Ayli.


Kaivan mengurai pelukan mereka mengusap lembut air mata Ayli yang menganak sungai, sampai mata Kaivan membulat mendapati pipi kiri Ayli yang lebam bekas tamparan. Gigi Kaivan menggerutuk menahan amarahnya.


“Ulah siapa Ay?” Tanya Kaivan menatap lembut mata Ayli yang masih terisak.


Ayli menggeleng tak ingin menjawab siapa yang sudah menamparnya. Lagi pula mana mungkin Ayli mengatakan pada Kaivan bahwa Farel, kakaknya sendiri yang menamparnya kemarin.


Apa ulah Renata dkk tadi Ay?”


“Hiks bukan Ian” lagi-lagi sudur bibir Kaivan tertarik mendengar Ayli memanggil namanya. Jika di ingat-ingat hanya Ayli yang memanggilnya ‘Ian’


“Trus siapa Ay? Kasih tau aku Ay, kamu bisa cerita apa pun ke aku Ay” bujuk Kaivan.


Ayli tetap menggelengkan kepalanya membuat Kaivan bertanya-tanya siapa yang sudah menampar gadis pujaannya ini. Seingatnya kemarin pipi Ayli masih baik-baik saja dan jika Renata yang menamparnya itu tidak mungkin karena bekas tamparan itu seperti beberapa jam lalu mungkin kemarin.


Kaivan menghela nafas tak ingin memaksa Ayli. “Udah dong Ay jangan nangis terus, cantiknya ilang lo”


“Gue udah cantik dari sononya hiks” sempat-sempatnya Ayli membalas candaan Kaivan.


Pria itu jadi gemas sendirikan jatuhnya. Ayli mendongak menatap Kaivan “Ian”


“Kenapa hmm?” Tanya Kaivan yang bikin meleot pembaca.


“Gimana keadaan mereka?” Tunduk Ayli memainkan jarinya.


“Udah tenang aja, harusnya mereka gak kenapa-napa paling cuma luka ringan aja. Percaya deh sama aku” Kaivan mengusap surai Ayli lembut.


Ddrrttt


Ddrrttt


Ponsel Kaivan bergetar membuat pria itu sedikit menjauh dari Ayli setelah membaca nama kontak di layar ponselnya.


...Via telpon...


“Halo Yud, gimana kondisi mereka?” Tanya Kaivan sambil melirik Ayli yang duduk terdiam.


“Enggak ada yang luka serius cuma luka ringan dan lebam aja sih. Ini gue juga mo balik sekolah“ jelas Yudha dari seberang sana.


“Eh tapi Kav, kek nya Ayli bakal dapet masalah deh“ sambung Yudha membuat Kaivan mengerutkan keningnya.


“Iya, secara kan orang tua mereka enggak terima anak-anaknya di perlakukan seperti itu. Gue denger juga mereka mau ke sekolah nemuin kepala sekolah anjir. Bisa-bisa Ayli dapet hukuman berat Kav” heboh Yudha di seberang sana, pria itu bahkan tidak sadar jadi pusat perhatian para suster dan pasien di rumah sakit.


“Tenang aja buat itu gue bisa atur semuanya, thanks Yud” balas Kaivan tenang.


“Oke bro”


Tut


Kaivan beralih menghubungi seseorang yang bisa membantu masalah kali ini, dering pertama belum diangkat sampai dering ketiga baru di angkat oleh seseorang di seberang sana.


...Via telpon...


“Halo, ada apa Kav?” Ucap suara di seberang sana.


“Halo om, Kaivan mau minta tolong sama om” Kaivan to the point.


“Apa?” Santai suara di seberang sana yang tak lain paman Sam. Masih ingat paman Sam kan? Paman Kaivan pemilik SMAN RENVARICA kalau kalian lupa.


“Soal gadis manis itu Kav?” Sambung paman Sam membuat Kaivan terkekeh pelan.


“Seperti yang om tau, ternyata cepat juga masalah ini sampai di telinga om” dengus Kaivan di akhir kalimat.


Terdengar suara tawa di seberang sana. “Kamu tenang saja, masalah ini sudah om selesaikan. Tapi tetap saja gadis manismu harus menerima hukuman skors selama satu minggu, bagaimana?”


Kaivan menghela nafas melirik Ayli yang masih sama di posisinya tertunduk melamun. “Lalu mereka?”


“Mereka bertiga akan mendapat skors selama satu bulan mengingat banyaknya bukti pembullyan yang sudah mereka lakukan. Selain itu mereka dalam pengawasan dan jika melakukan pembullyan lagi mereka bertiga akan langsung di drop out. Kau puas son?” Jelas paman Sam, pria itu sendiri tidak suka dengan kasus pembullyan apa lagi terjadi di sekolah miliknya.


“Oke, Kaivan setuju” sahut Kaivan mantap.


“Baiklah, kamu bisa ambil langsung surat hukuman untuk gadis manismu itu di ruang kepala sekolah. Antar saja dia pulang dan satu lagi jaga gadismu son”


“Thanks paman“


“Ck kau ini sebenarnya ingin memanggilku paman atau om sih?”


Kaivan terkekeh mendengar gerutuan paman atau omnga itu, ah sudahlah tidak penting.


Tut


Jika Kaivan sibuk dengan ponseknya berbeda dengan Ayli yang sibuk melamun memikirkan kejadian hari ini. Bagaimana jika ayahnya sampai tahu? Pasti akan kecewa, Ayli berpikir apa yang harus dirinya lakukan.


Ayli merutuki kebodohannya hari ini. Sungguh ia bodoh sampai menjadikan Renata dan teman-temannya sasaran empuk pelampiasan masalah pribadinya. Tapi ucapan Renata sendiri juga memancingnya tadi, sudah cukup masalah hari ini membuatnya frustasi.


‘Bunda maafin Ayli, maaf Ayli sudah berbuat kejam hari ini bunda. Bunda Ayli takut bunda, ayah pasti akan kecewa pada Ayli. Ayli sudah mempermalukan ayah dan bunda juga kak Farel. Maafin Ayli bunda‘ gumam Ayli dalam hati dengan isak tangis yang kebali terdengar.


Kaivan mendekat kembali memeluk Ayli mengucapkan kata penenang dan menyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang harus gadis itu takuti karena masih ada dirinya di sini.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...