First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 06




...-Sarapan Pagi-...


Seorang pria paruh baya melangkah memasuki kamar sang putri, mengamati kamar putrinya yang selalu terlihat rapi dan bersih. Pria paruh baya itu ingat bahwa putrinya tidak pernah mengijinkan orang masuk selain dirinya.


Di atas ranjang putrinya tertidur pulas membelakanginya dengan tubuh mungil terbungkus selimut. Jam dinding sudah menuju pukul 05.10 pagi dan tumben sekali putrinya satu ini belum bangun.


Pria paruh baya yang tak lain adalah Galen Rahardhan, ayah Ayli. Pria itu baru saja pulang dari luar negri tadi malam dan pagi ini ia berencana memberi kejutan untuk putrinya atas kepulangannya. Sudah hampir 1 bulan lebih ia di luar negri karna tuntutan pekerjaannya.


“Sayang, bangun nak sudah pagi” ucap ayah Ayli mengusap surai lembut lembut putrinya.


Ayli menggeliat dan malah memeluk erat gulingnya. Ayah Ayli terkekeh melihat putrinya yang masih sama susah dibangunkan sejak kecil.


“Ayah udah pulang looo, kog putri ayah gak mau bangun sih”


“Ayah” gumam Ayli mengerjapkan matanya yang masih terasa ngantuk. Ia saja baru tidur jam 3 tadi.


“Huh, Ayli sekangen ini ya sama ayah sampek ngehalu kalo ayah ada di kamar Ayli. Padahalkan ayah masih di luar negri sibuk kerja.” gumam Ayli sedih yang berpikir ia sedang berhalu.


Ayah Ayli terdiam mendengar gumaman sang putri, sesibuk itu kah dirinya selama ini sampai putrinya berpikir bahwa dirinya sedang berhalu. Rasa ngilu menjalar di hatinya, selama ini ia memang terus bekerja tanpa henti hanya untuk menghilangkan bayang bayang sang istri yang sudah tenang di sana. Tapi ia lupa bahwa pitrinya juga butuh perhatiannya, putrinya lebih sakit hati dari pada dirinya.


Galen akui selama ini ia tidak pernah tau tentang perasaan putrinya entah itu sedih atau pun bahagia, putrinya juga sudah lama tidak menyinggung sang istri. Yang Galen tau putrinya selalu dalam keadaan sehat dan aman, sudah sampai di situ saja.


Seketika semua ingatannya berputar. Ayli, putrinya tidak pernah menelponnya lebih dulu jika ia sedang dinas ke luar kota atau pun luar negri. Putrinya akan diam dan setia menunggu telpon darinya itu pun bisa dihitung dalam satu bulan tidak sampai 5 kali panggilan telpon.


“Huh, Ayah kenapa nangis?” Tanya Ayli mencoba meraih lengan pria yang ia panggil ayah.


Ayli terkejut saat menyentuh lengan ayah nya itu berarti ini bukan halusinasinya, ini nyata!


“Ayah!” Pekik Ayli bahagia menubruk tubuh ayahnya.


Ayah Ayli terkekeh di tengah isak tangisnya, putrinya sudah dewasa.


“Ayah kenapa nangis?” Tanya Ayli saat mendengar isak tangis sang ayah.


“Ayah terlalu rindu padamu, sayang. Sini peluk ayah lagi” ujar ayah Ayli merapatkan pelukannya.


“Aaaa Ayli juga kangen ayah, ayah kapan sampenya?”


“Semalem ayah baru sampe, karena udah malem banget ayah pikir kamu sudah tidur jadi ayah akan memberi kejutan di pagi hari”


Ayli tersenyum mendengarnya.


“Sekarang kamu siap-siap ya nak, trus kita sarapan bareng nanti ayah antar ke sekolah” Ayli mengangguk antusias membuat sang ayah mengacak rambutnya gemas.


Sepeninggalan sang ayah Ayli bergegas bersiap. Ia tidak mau membuat ayah dan kakaknya menunggu lama. Semoga saja Farel tidak melewatkan sarapan pagi ini karena semeja dengan nya.


Di ruang makan Galen termenung menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Pikirannya masih melayang saat membangunkan putrinya tadi. Sesekali ia menghela nafas merutuki kebodohannya selama ini.


“Pagi yah” sapa Farel santai. Semalam ia bertemu sang ayah yang baru saja masuk melalui pintu utama.


“Pagi boy, bagaimana kuliahmu? Kamu ada kuliah pagi?” Tanya Galen menatap putranya.


“Seperti biasa berjalan dengan baik dan yaps hari ini ada kuliah pagi” jawab Farel terkesan santai sambil mengoles roti dengan selai kesukaannya.


Galen tersenyum bangga mendengarnya, putra sulungnya ini memang memiliki kecerdasan yang dimilikinya dan sang istri. Jadi tidak salah jika Farel mengembat semua piala di setiap bidang mata pelajaran.


Bahkan saat ini Farel sudah tahap skripsi mendahului temannya yang lain, dan setelah lulus kuliah S1 Farel akan langsung terjun kedunia bisnis menggantikan sang ayah. Galen memang berencana pensiun dini dari dunia bisnis, baginya Farel sudah cukup siap menggantikannya.


“Semangat untuk skripsi mu boy, seperti yang sudah kita bahas setelah lulus kamua akan langsung menggantikan ayah. Itu berarti tinggal beberapa bulan lagi” ucap Galen penuh harap.


“Siap yah” jawab Farel tersenyum tipis.


Ayli tersenyum pada ayah dan kakaknya.


“Pagi sayang, duduklah di dekat ayah nak” Galen menunjuk kursi ya ia maksud.


Ayli meneguk saliva melihat lirikan bengis Farel. Ayli pun menolak dengan alasan lebih nyaman duduk di tempatnya.


Belum ada 5 menit Ayli duduk, Farel bangkit dan pamit untuk berangkat lebih dulu.


“Ayah aku berangkan dulu” singkat Farel pergi.


Galen menghela nafas, bodoh jika ia tidak tau sikap dingin Farel pada Ayli. “Habiskan sarapanmu nak, nanti ayah yang antar”


Ayli tersenyum getir dan sarapan dengan tenang.


Kini Ayli sudah sampai di depan gerbang sekolah dan sesuai ucapan Galen ia mengantar putrinya.


“Mau ayah anter sampe dalam?”


Ayli menolak cukup sampai depan gerbang saja sudah membuatnya jadi pusat perhatian bagaimana kalo sampai parkiran, ia terlalu malas mendengar ocehan mereka.


“Dari sini aja yah, lagian ayah kan juga baru sampe jadi ayah pulang trus istirahat nanti baru jemput Ayli” ucap Ayli semangat.


“Baiklah princess ayah, kamu belajar yang rajin tapi juga jangan terlalu memporsir pikiran kamu. Baik-baik di sekolah sayang” nasehat Galen pada putri nya.


“Siap ayah, dadah ayah” Ayli pamit dan keluar dari mobil lalu melangkah masuk dengan langkah semangat tentunya masih dengan topeng cuek dan pendiamnya, mahir juga si Ayli.


Galen menatap punggung putrinya menjauh sebelum pergi menuju rumah dan beristirahat.


Ayli melangkah menuju kelas dengan berbagai suara gunjingan untuknya.


“Wiihhh di anter siapa tuh si anak pembawa sial?”


“Wah anak pembawa sial kek dia bisa jadi simpanan om om juga ya”


“Semalam dibayar berapa tuh?”


“Btw tuh om om selamet gak ya selesai maen ma dia, ya takutnya kan kenak sial gituh”


“Dih ngejalang juga tuh orang”


“Sok cuek dan pendiam bergerak mencari om om”


“Bikin malu sekolahan gak sih?”


“Moga aja dia dikeluarin biar nih sekolah gak kenak sial”


Kurang lebih seperti itulah kata-kata pedas tentang Ayli pagi ini. Makhlumlah mereka berbicara seperti itu, Ayli sendiri tidak peduli dengan pemikiran mereka. Bodo amat!


Ya mo gimana lagi dirinya yang sering naik bus atau jalan kaki tiba-tiba di antar ayahnya dengan mobil baru milik ayahnya itu, sudah pasti membuat mereka berasumsi ya tidak tidak. Dahlah Ayli malas membahasnya.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...