First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 13




...-Ulang Tahun Farel-...


“Pagi mah, pah” sapa Kaivan sampai di ruang makan.


“Pagi sayang”


“Pagi nak” sahut mama dan papa Kaivan bersamaan.


Ziya menata nasi dan beberapa lauk di atas piring suami dan putranya, sambil sesekali melirik Kaivan yang tersenyum menatap layar ponselnya.


“Kenapa kamu?” Tanya Ziya penasaran.


Kaivan mematikan layar ponsel dan menaruhnya di atas meja. “Apa sih ma”


Radit terkekeh menatap wajah masam istrinya, ia sangat tau tingkat kekepoan sang istri yang menurun pada putri mereka.


“Ya kan mama cuma tanya aja kog kamu sewot sih” sungut Ziya mendelik menatap putra sulungnya.


Kaivan menghela nafas dengan sifat mamanya yang tidak pernah berubah. “Nanti mama juga tau, kalau sekarang cukup Kaivan sama Tuhan aja yang tau. Ya gak pah?”


Radit mengangguk saja, tinggak mengangguk enteng kan? Ziya sendiri mendengus melihat tingkah suami dan anaknya yang selalu saja kompak, mo heran tapi ya mo gimana.


“Sudah-sudah sekarang kita sarapan dulu” Radit memimpin doa sarapan pagi ini.


Mereka pun menikmati sarapan dengan nikmat dan tenang. Berbeda dengan kediaman Rahardhan yang sunyi dan sepi. Tidak ada sarapan pagi bersama, seperti biasa Ayli juga masih di kamar.


Ayli yang sudah siap dengan seragam lengkap berjalan ke arah ruang makan dimana Farel baru saja selesai sarapan. Farel bangkit dan pergi begitu saat Ayli memasuki ruang makan.


“Pagi non” sapa bi Narmi dibalas anggukan seperti biasa.


“Non Ayli mau sarapan sama apa?” Tanya bi Narmi.


“Ayli bekal roti sama selai coklat aja bi, mo Ayli makan di taman sekolah aja” jawab Ayli mulai mengolesi empat iris roti tawar.


Bi Narmi langsung menuju dapur mengambil kotak makan untun anak majikannya ini. “Biar bibi lanjutin non”


Ayli mengangguk dan duduk bersandar kursi makan membiarkan bi Narmi menyiapkan bekalnya. “Kak Farel tadi sarapan sama apa bi?”


“Sama roti juga non, bedanya pakai selai strawberry” sahut bi Narmi tersenyum simpul.


“Kak Farel kuliah bi?”


“Katanya sih masuk siang non, ada apa?”


“Bentar bi” Ayli berlari menuju kamarnya lalu kembali lagi ke dapur.


Ayli memberikan paper bag pada bi Narmi. “Tolong kasihin ke kakak ya bi, hari ini kan ulang tahun kak Farel kan. Kayak biasanya ya bi, jangan bilang kalo dari Ayli”


Bi Narmi tersenyum hangat “Siap non”


Setiap tahunnya Ayli akan menitipkan kado untuk Farel pada bi Narmi, ia tidak punya cukup keberanian memberikannya langsung. Mengingat sifat dingin Farel padanya yang ada malah ke buang nanti. Biarkan saja Farel berpikir itu kado dari para fansnya. Bagi Ayli itu sudah lebih dari cukup.


Memang sejak dulu setiap ulang tahun Farel banyak kado menumpuk dari para fansnya dan bi Narmi akan memberikan kado milik Ayli terakhir dan secara langsung pada Farel. Sampai detik ini sepertinya Farel belum juga menyadarinya, sedikit membuat Ayli merasa tenang.


“Makasih ya bi, kalo gitu Ayli berangkat dulu” pamit Ayli memasukkan kotak bekal ke dalam tasnya.


“Hati-hati non” Ayli mengangguk.


————


Farel terdiam menatap bi Narmi di ruang makan. Tadinya ia ingin mengambil minum di dapur, namun berhenti saat mendengar pembicaraan bi Narmi dan Ayli. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Farel.


“Ehem”


Bi Narmi menatap tuan mudanya terkejut. Farel melangkah mendekati meja makan dan menuangkan air minum ke dalam gelas kosong yang tersedia.


“Tu-tuan muda, ada yang bisa saya bantu?” Tanya bi Narmi gugup.


“Kenapa gugup bi?”


Damn!


Farel melirik paper bag berukuran sedang yang berada di meja makan membuat bi Narmi semakin ketar-ketir tak karuan.


“Emm,, anu tuan.. emm”


“Apa?” Tanya Farel dingin.


“Kado, iya kado. Ini kado buat tuan muda” bi Narmi menyodorkan paper bag itu pada Farel.


“Oke” singkat Farel mengambil paper bag itu dan membawanya ke kamar.


Di dalam kamar Farel membuka paper bag ditangannya itu. Sepasang sepatu pantofel berwarna hitam, sesuai dengan ukuran kakinya.



Farel terdiam menatap sepasang sepatu itu. Di dalam nya ada secarik kertas sticker note yang tertuliskan kalimat ‘Happy Birthday 23th’


Farel memasukkan kembali sepatu itu kedalam paper bag lalu beranjak menuju sebuah pintu yang berada di samping meja belajarnya. Pintu itu hanya bisa di buka dengan sidik jari Farel.


Farel masuk kedalam sana entah ada apa di dalamnya, untuk saat ini hanya Farel yang tau tentang ruangan ini di kamarnya.


————


“Woy babang Kakav” sapa Yudha merangkul sahabatnya dari belakang.


Katakanlah mereka bersahabat mulai sekarang. Kaivan mendengus kesal untung saja ponselnya tidak jatuh ke tanah. “Nama gue Kaivan kalo lo lupa, K-A-I-V-A-N” eja Kaivan.


“Iye iye busyet dah sensi amat sih lo Kav?”


“Gue bukan sensi masalahnya ponsel gue hampir jatoh dodol” ketus Kaivan.


“Ye maap, masih hampir kan?” Kaivan langsung menjitak kening Yudha kesal.


Yudha meringis mengusap keningnya. “Sadis amat dah”


“Makanya jangan resek, masih pagi kalo lo lupa!” Ketus Kaivan meninggalkan Yudha.


“Lah ngambek” gumam Yudha berlari menyusul.


Langkah Kaivan terhenti saat melihat Ayli yang menaiki anak tangga menuju rooftop. Kaivan pun berlari menyusul Ayli tanpa menghiraukan Yudha yang baru sampai di dekatnya.


“Lah si babang kakap emang” dengus Yudha mengatur nafasnya.


Kaivan membuka pintu rooftop perlahan dan di sana Ayli sedang menyantap bekalnya.


“Pagi Ay” sapa Kaivan membuat Ayli menghentikan kunyahannya.


Menggemaskan.


“Hmm” gumam Ayli kembali mengunyah rotinya.


Ayli mendorong kotak bekalnya ke depan Kaivan yang duduk di hadapannya dengan wajah cuek bebeknya. Kaivan tersenyum dan mendorong kembali kotak bekal itu pada Ayli.


“Habisin aja Ay, aku udah sarapan kog” ucap Kaivan.


“Gue kira lo mau” singkat Ayli.


“Pagi ini cerah banget ya Ay” Kaivan mengadahkan kepala menatap langit biru cerah.


“Senin begini harusnya tuh hujan jadi gak perlu upacara nantinya” sambung Kaivan.


“Lo takut panas?” Entah akhir-akhir ini Ayli mulai merespon sedikit perkataan Kaivan tanpa dirinya sadari.


Kaivan terkekeh mengacak rambut Ayli gemas, sungguh dirinya gemas melihat wajah polos gadis itu. Sesaat mereka terdiam menikmati tatapan yang saling beradu.


Kriinngg


Kriinngg


Kriinngg


Suara bel sekolah membuyarkan lamunan dua anak manusia itu. Kaivan spontan menarik tangannya dan Ayli sibuk memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas. Ayli bangkit lebih dulu berlari meninggalkan Kaivan yang terkekeh di belakang sana menatap telapak tangannya.


Tak ingin telat masuk barisan upacara, Kaivan berlari menuruni tangga menuju lapangan sekolah yang sudah mulai terisi dengan siswa siswi yang akan mengikuti upacara hari senin ini. Kaivan tak sempat menuju kelas jadi menaruh tasnya di bangku koridor dan kebetulan disamping tas Ayli.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...