
... -Day 2, Pelukan hangat untuk Ayli-...
...Viona yang baru sampai Pun berlari menuju gerbang rumah keluarga Rahardhan setelah membayar taksi. Viona berlari dari gerbang depan sampai teras yang jaraknya lumayan membuat nafasnya terengah....
“Hah.. hah.. aduh capek” peluk Viona menetes.
Mendengar suara amukan dari dalam Viona segera masuk mencari suara itu berasal, entah kenapa perasaannya tidak enak. Sampai Viona terpekik melihat keadaan ruang makan yang berantakan begitu juga dengan pemandangan menyayat hati Viona.
Di depan matanya sendiri Viona melihat bagaimana bengisnya Farel memperlakukan seorang perempuan terlebih dia adiknya.
“FARELL STOOPP!!!” Teriak Viona mendorong Farel sekuat tenaga sampai cengkraman pada Ayli terlepas.
Viona berlari memeluk tubuh bergetar Ayli, menatap sengit Farel yang juga menatapnya tajam.
“LO GILA HAH!!! LO UDAH BERBUAT KASAR SAMA ADEK LO SENDIRI FARELL!!!” Cukup sudah Viona tidak memiliki stok sabar dalam menghadapi pria seperti Farel saat ini.
Viona paling anti dengan kekerasan, apa lagi kekerasan pada perempuan dan anak. Jiwa emosionalnya akan mudah meledak begitu saja.
“LO ENGGAK USAH IKUT CAMPUR VI!!” Tanpa sadar Farel pun membentak Viona untuk pertama kalinya.
“KENAPA GUE ENGGAK BOLEH IKUT CAMPUR HAH?!! KARENA GUE BUKAN BAGIAN KELUARGA LO?!! Sekalipun gue bukan anggota keluarga lo, harusnya lo tau tentang gue yang enggak suka kekerasan Rel!” Sahut Viona berani tanpa goyah sedikit pun walau dalam hari ia merasa sakit saat Farel membentaknya.
“Gue enggak mau kita bertengkar Vio, jadi gue mohon lo pulang. Sekarang!” Tekan Farel mengepalkan kedua tangannya menatap Viona yang masih setia memeluk Ayli yang terisak.
“Dan gue enggak akan pergi dari sini!” Tegas Viona, sudah ia katakan bukan dirinya bukanlah wanita lemah. Di balik sikapnya yang ceria, ceroboh dan sedikit bawel. Viona juga orang yang tidak takut dalam membela orang yang tertindas.
“AAARRGGHHH” teriak Farel mengacak rambutnya kasar lalu pergi begitu saja menuju kamar.
Farel tidak bisa berbuat kasar pada Viona, ia sangat menyayangi gadis itu tanpa satu orang pun tau.
Viona menghelan nafas lega melihat kepergian Farel. Bi Narmi tergopoh mendekati Ayli yang terus terisak dalam pelukan Viona.
“Non Ayli” tangis bi Narmi menangkup wajah Ayli yang kacau.
“Kita bawa Ayli ke kamar aja yuk bi, biar Vio obati” ucap Viona memapah Ayli dibantu bi Narmi.
Viona mendudukkan Ayli di atas ranjang dengan posisi bersandar. Bi Narmi memberikan kotak P3K pada Viona lalu pergi membereskan ruang makan.
“Udah ya jangan nangis lagi” ucap Viona mengusap tangis Ayli dengan tangannya.
“Sakit bundaa hiks sakit hiks” tangis Ayli membenamkan wajahnya memeluk erat kedua kakinya.
Tak kuasa menahan tangis Viona sampai mendongak menghalau air matanya yang lancang keluar. Viona kembali memeluk Ayli membiarkan gadis itu menangis sepuas yang ia butuhkan. Baru setelahnya Viona akan mengobati luka Ayli.
————
Viona baru saja keluar dari kamar Ayli setelah dua jam ia menemani gadis itu menangis. Selesai mengobati luka dan memberi obat pereda pusing kini Ayli baru saja tertidur. Wajahnya sudah tidak sekacau tadi.
Viona menghela nafas menatap pintu kamar Ayli. Kejadian hari ini membuatnya kasian terhadap gadis itu.
“Non Vio” panggil bi Narmi di belakangnya.
“Ah iya bi, kenapa? Ada yang bisa Vio bantu?” Tanya Vio menatap wanita paruh baya itu.
“Non Vio udah mau pulang?”
“Iya bi, Vio mau langsung pulang aja. Nanti kalo Ayli udah bangun suruh dia makan siang dan kasih obat pereda pusing ya bi” pesan Vio sebelum pamit pulang.
“Iya non, makasih ya non”
“Sama-sama bi, kalau gitu Vio pulang dulu ya bi” pamit Viona beranjak pergi.
Viona berhenti saat matanya menangkap kehadiran Farel yang berada di lantai dua dekat tangga. Sepertinya pria itu akan turun.
Diatas sana Farel menunduk sambil memijat keningnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar.
————
Kaivan menatap layar ponsel dan geebang di depannya bergantian. Sejak istirahat kedua tadi Ayli tidak bisa dihubungi, tidak ada satu pesannya yang dibalas begitu juga dengan telponnya yang tidak diangkat satu pun.
“Kamu kemana sih Ay?” sekali lagi Kaivan mencoba menelpon gadis itu, tapi hasilnya tetap sama. Berdering sih tapi enggk di angkat.
“Apa mending aku masuk aja ya? Masak manjat sih? Dikira maling nanti. Apa lewat gerbang depan aja kalik ya?” Pikir Kaivan.
“Enggak usah ah disini aja. Kalo sampai 30 menit kedepan Ay gak keluar juga baru lewat gerbang depan” gumam Kaivan kembali bersandar pada motor sportnya.
Sambil terus memantap room chat Ayli.
30 menit kemudian.
Kaivan menatap jam dipergelangan tangannya lalu menaiki motor menuju gerbang depan rumah Ayli, gerbang utama tepatnya.
Kaivan menghentikan motornya lalu turun menemui satpam rumah Ayli yang kebetulan berada di pos satpam.
“Siang pak” sapa Kaivan.
“Siang den, ada perlu apa? Atau cari siapa?” Tanya Satpam itu.
“Saya Kaivan pak temennya Ay, maksud saya Ayli” ucap Kaivan memperkenalkan diri.
“Oh temennya non Ayli, ada perlu apa den?”
“Aylinya ada di rumah gak pak? Saya sudah ada janji sama Ayli”
Satpam itu terdiam sejenak menatap Kaivan seperti menilai, “Waduh maaf ya den, barusan ada pesan dari dalam kalo ada yang nyari non Ayli di suruh pulang aja gitu. Non Ayli enggak bisa di ganggu den katanya. Non Ayli sibuk” jelas Satpam itu.
Memang tadi setelah Viona pulang bi Narmi memberi tahu satpam rumah untuk memberitahu kalau Ayli tidak bisa di ganggu dan sibuk, jika ada yang mencari gadis itu. Bi Narmi memang bisa diandalkan.
“Ayli sibuk?” Gumam Kaivan seakan tidak percaya dengan ucapan satpam itu.
“Iya den, jadi den Kaivan pulang saja”
Kaivan menatap rumah Ayli sebelum akhirnya pamit pulang. ‘Mungkin Ay memang sibuk sampai enggak bisa bales pesan dari aku atau pun angkat telepon. Nanti sore di coba lagi aja kalo gitu’ pikir Kaivan.
“Yaudah kalo gitu saya pamit pulang ya pak, nanti tolong sampaikan ke Ayli kalo saya dateng gitu” pesan Kaivan.
“Baik den nanti saya sampaikan pad non Ayli”
“Permisi pak” pamit Kaivan menunggangi kuda besinya dengan menenteng helm di lengan kirinya.
Di sepanjang perjalanan Kaivan merasa ada yang disembunyikan satpam rumah Ayli tadi. Perasaannya juga gelisah sejak Ayli tidak bisa dihubungi. Kemana gadis itu? Bukankah mereka sudah janjian akan ke pantai? Ayli sendiri juga sudah mengiyakan ajakannya.
Sampainya dirumah Kaivan langsung memasukkan motor sportnya kedalam garasi.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...