First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 10




...-Makasih Ay-...


“Ayli!” Teriak suara dari belakang Ayli.


Ayli memutar bola matanya malas mendenger suara yang akhir-akhir ini mengganggu hari tenangnya. Ayli terus melangkah menuju kelas, tidak peduli dengan pria di belakang sana yang mengejarnya.


“Ay! Tungguin!” Ucap pria yang tak lain adalah Kaivan.


Kaivan menahan lengan Ayli membuat gadis itu menatap jengah padanya. Kaivan mengatur nafasnya sebelum berbicara.


“Tungguin napa Ay, lagian kamu gak capek apa jalan cepet banget. Heran deh aku” Ayli menatap malas Kaivan yang selalu menghancurkan hari tenangnya.


“Bisa gak sih lo tuh sehari aja gak usah ganggu gue?” Ketus Ayli menepis tangan Kaivan.


“Masih pagi loh Ay masak udah badmood aja?” Canda Kaivan mencairkan balok es dihadapannya.


“Lo yang bikin gue badmood” ketus Ayli.


“Oke oke tenang, aku cuma mau bicara bentar aja sama kamu Ay. Janji gak ganggu kamu deh” Kaivan menahan lengan Ayli lagi.


Ayli menatap tajam Kaivan “Apa?!”


Kaivan tersenyum tipis menarik tangan Ayli menuju rooftop yang mungkin juga akan menjadi tempat favoritnya. Ayli hanya diam membiarkan Kaivan membawanya.


Sampai di rooftop Kaivan mengajak Ayli duduk di kursi yang tersedia. “Kemarin sore kamu kemana Ay?”


Ayli mengernyit mendengar perkataan Kaivan yang membuatnya langsung mendidih saja. Ayli bangkit “Lo ngajak gue kesini dan cuma mau tanya hal gak guna kek gitu? Waras lo!”


Bukan marah Kaivan malah menarik lengan Ayli lembut “Duduk dan jawab aja Ay”


Ayli menghela nafas kali ini saja ia akan menuruti Kaivan tapi tidak untuk nanti, agar perbincangan tidak penting ini cepat usai. Ayli duduk dan lagi-lagi Ayli menikmati genggaman tangan Kaivan yang terasa hangat sama seperti genggaman ibu kemarin.


Sekilas Ayli berpikir bagaimana kondisi ibu itu sekarang? Semoga saja keluarganya sudah datang menjemput, pikir Ayli.


“Ay, kenapa nglamun hmm?” Tanya Kaivan lembut.


Ayli tersentak menarik tangannya “Bukan urusan lo! Buruan mo ngomong apa sih!”


“Jadi kemarin sore kamu kemana?”


“Di rumah” singkat Ayli.


“Yakin? Kamu enggak ada keluar kemana gitu?” Kaivan menatap Ayli begitu pun sebaliknya.


“Penting banget ya buat lo ngapain aja gue kemarin?” Ketus Ayli.


“Jawab aja Ay” pinta Kaivan lembut sedikit meluluhkan hati Ayli.


Ayli menghela nafas dan mulai bercerita singkat “Gue kemarin sore keluar ke mini market deket komplek trus pulang, udah gitu aja”


“Kalo langsung pulang trus ngapain ada di lobby Rumah Sakit Stay Healthy?” Ayli menatap Kaivan tak percaya.


“Kog lo tau?!” Sewot Ayli.


“Makanya jawab yang bener Ay, jangan balik tanya. Nanti enggak selesai obrolan kita, keburu masuk juga” Kaivan menatap Ayli yang menghela nafas.


Ayli jadi takut sendiri melihatnya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri siapa tau ada hal yang bikin nih cowok tersenyum kan. Nyatanya Kaivan tersenyum merekah menatap ke arahnya.


“Heh! Gilak lo senyum sendiri kek gitu!” Bentak Ayli memukul bahu Kaivan keras.


“Makasih Ay” ucap Kaivan tulus membuat Ayli tertegun.


“Makasih karena kamu udah peduli sama ibu kemarin” sambung Kaivan.


“Hah?” Ayli bingung.


“Kamu tau gak Ay, ibu yang kamu tolong kemarin itu mama aku Ay. Sekali lagi makasih ya Ay” Kaivan tersenyum.


“Ja-jadi ibu kemarin mama lo?” Ayli tak percaya dengan perkataan Kaivan.


Hingga Kaivan mengangguk lalu membuka ponselnya menunjukkan foto keluarganya. Dan benar saja wanita paruh baya yang di tolong Ayli kemarin adalah mama Kaivan, Ayli menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana bisa? Sebuah kebetulan macam apa ini?


Ingin rasanya Ayli bertanya bagaimana kondisi ibu itu atau lebih tepatnya mama Kaivan, tapi rasa gengsinya lebih tinggi untuk bertanya.


Kaivan yang seakan tau pikiran Ayli pun berkata, “Keadaan mama udah baik-baik aja. Hanya sedikit pusing katanya, mama juga jadi sering bahas kamu Ay. Cuma aku belum bilang kalo kita satu kelas, lagian tadi aku juga mau mastiin Ayli kamu atau orang lain. Tapi aku percaya Ayli yang mama maksud memang kamu, dari awal mama cerita”


Ayli menoleh pada Kaivan, “Kenapa lo percaya banget kalo Ayli yang mama lo maksud itu gue? Secara Jakarta itu luas, nama Ayli enggak cuma gue”


Ayli penasaran dengan pikiran dan jawaban Kaivan yang percaya jika itu dirinya.


Kaivan tersenyum menatap langit cerah pagi ini. “Karena aku bisa melihat sisi lain dari kamu Ay” singa Kaivan.


“Kamu beda Ay dan kamu special. Aku enggak tau sebanyak apa masalah dalam hidup kamu. Tapi dari awal aku tau kamu pemilik hati yang hangat, kamu baik, kamu perhatian dan kamu penyayang. Dan itu semua tersamarkan dengan omongan orang di luar sana yang gak guna”


Jantung Ayli berdetak menatap bola mata Kaivan yang terus memancarkan ketulusan pria itu, hatinya menghangat saat Kaivan berucap dirinya special. Setelah bertahun-tahun Ayli baru mendengar orang lain mengatakan ia special, dan mengetahui sisi lain dalam dirinya yang ia sembunyikan. Terharu kah dirinya? Entahlah.


Ayli tak bisa berucap apa pun saat ini. Ia memalingkan wajah dan berdiri membuat Kaivan ikut berdiri. Ayli membelakangi Kaivan.


”Gue harap lo enggak usah sok tau tentang diri gue. Gue gak sebaik yang lo pikir, gue bisa aja jahatin lo kapan aja gue mau. Dan untuk mama lo, moga cepet sembuh” ucap Ayli beranjak pergi meninggalkan Kaivan.


“Tanpa kamu sadari Ay, kamu udah banyak bicara hari ini. Dan aku cukup bahagia, kamu boleh bersikap cuek dan enggak peduli Ay. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan melihat kamu tanpa topeng itu” gumam Kaivan.


Sepanjang koridor sekolah perkataan Kaivan memenuhi pikiran Ayli. Bolehkah hari ini ia merasa bahagia? Tidak masalah jika itu hanya sehari atau beberapa jam kedepan. Itu sudah lebih dari cukup bagi Ayli.


Langkah Ayli terhenti mengingat mama Kaivan, bolehkah ia menjenguknya? Tapi Ayli tidak mau membuat Kaivan merasa berhasil meluluhkan dirinya, jangan pikir Ayli tidak tau Kaivan yang ingin mendekatinya.


“Ck sudahlah” kesal Ayli dengan pikirannya sendiri.


Lebih baik ia langsung ke kelas saja dan memainkan game yang baru ia download tadi pagi.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...