
...-Rooftop Sekolah-...
Semilir angin menerbangkan rambut panjang Ayli yang menikmati suasana siang ini. Sesekali ia mendengar teriakan jauh di bawah sana dimana beberapa siswa dengan seragam olahraganya bermain basket.
Saat ini Ayli berada di rooftop sekolah yang jarang dikunjungi siswa lain atau lebih tepatnya tidak ada yang akan kesini mengingat rooftop adalah tempat yang sering Ayli kunjungi. Mereka takut terkena sial, itu lah yang Ayli dengar.
Tapi dengan begitu ia akan merasa lebih tenang dan tidak akan ada orang yang mengganggunya disini.
Rooftop yang didesain sangat elegan mengutamakan kenyamanan para siswi. Jangan lupa bahwa sekolah ini termasuk jajaran sekolah Elite sudah pasti fasilitas yang diberikan terbaik.
Ayli menghela nafas beberapa kali mengingat kejadian tadi pagi, jari lentiknya memainkan gelang ditangan kanannya.
“Kangen bunda” lirih Ayli menatap gelang itu.
“Bunda kenapa pergi sih tau gitu kan mending Ayli aja yang pergi” mengalihkan pandangannya pada langit cerah siang ini.
Cuaca hari ini sangat pas baginya tidak terlalu panas seperti beberapa hari lalu.
“Tadi kak Farel marah sama Ayli bunda, kak Farel juga nglarang Ayli untuk cepat pulang. Temen temen kak Farel mau main kerumah dan seperti biasa Ayli harus nunggu sampek mereka pulang” lagi lagi Ayli berbicara santai seakan sang bunda menemaninya.
“Tadinya Ayli mau lewat pintu biasanya, tapi Ayli juga baru inget kalo bakal kelihatan dari ruang santai tempat kak Farel dan temen-temennya kumpul bun. Kayaknya besok Ayli bakal minta sama ayah buat bikinin Ayli pintu rahasia deh hahaha” tawa Ayli menghibur dirinya sendiri.
Tawa itu perlahan hilang tergantikan dengan raut wajah sedih. Air matanya sudah menganak sungai dengan lancang.
Ayli mengusap kasar pipinya, ia tidak boleh menangis disini. Tidak ada satu pun orang yang tau bahwa dirinya lemah dan cengeng. Cukup Tuhan yang tau bahwa dirinya lemah.
“Huh, Ayli juga laper bunda” gumam Ayli menunduk mengusap perutnya yang terasa perih.
Ayli sudah melewatkan sarapan paginya dan makan siang, ia bahkan lupa tidak membeli camilan saat akan kesini. Ingin beranjak pun ia sudah terlalu nyaman di sini.
...———...
Di kelas Kaivan menatap pintu yang tidak juga terbuka, bukannya apa ia hanya memikirkan kemana Ayli saat ini. Sejak istirahat pertama sampai jam pelajaran terakhir gadis itu tidak juga masuk kelas.
Tadi Kaivan juga sudah mencarinya saat istrirahat kedua tapi hasilnya nihil, Ayli tiba-tiba menghilang. Kaivan jadi tidak fokus pada pelajaran yang di jelaskan.
Kaivan berpikir karena sikapnya tadilah yang membuat Ayli bolos sekolah hari ini.
Triiiinnggg
Triiiinnggg
Triiiinnggg
Akhirnya jam pelajaran terakhir selesai semua siswi mulai membereskan bukunya begitu guru keluar kelas. Kaivan memasukkan buku dan beberapa alat tulisnya dengan cepat seperti di kejar sesuatu.
Yudha yang melihat kegelisahannya pun bertanya “lo kenapa sih Kav dari tadi gue perhatiin gelisah amat, kangen emak lo?” Canda Yudha.
“Resek lo Yud” kesal Kaivan bangkit dengan ransel di punggungnya.
Baru dua langkah Kaivan menoleh pada ransel Ayli yang masih teronggok di atas meja. Yudha yang paham akhirnya kembali bersuara.
“Udah biarin aja nanti tuh cewek juga ambil ranselnya kalo dah pada sepi nih kelas” ucap Yudha membuat Kaivan menatapnya.
“Emang lo tau dimana Ayli?” Tanya Kaivan.
Yudha bersandar pada meja nya yang kebetulan bersampingan dengan meja Kaivan. “Biasanya kalo tuh cewek gak masuk kelas paling juga ke rooftop sekolah” ucap Yudha melipat kedua tangannya.
“Rooftop sekolah? Kenapa gak kepikiran cari Ayli kesana sih Kaivan” batin Kaivan membodohi dirinya sendiri.
“Secara kan gak ada siswa yang mau naik ke rooftop sekolah sejak Ayli sering kesana, biasa takut kenak sial katanya” sambung Yudha geleng-geleng.
“Ya mau dimana lagi, lagian ngapain sih lo nyariin tuh cewek. Suka lo sama dia?” Yudha menyeringai melihat Kaivan yang salah tingkah.
“Emang resek lo” dengus Kaivan menyambar ransel Ayli meninggal kan Yudha yang tertawa.
“Yeee malah ngambek, tinggal bilang suka aja gengsi amat. Lagian baru juga sehari sekolah dah maen suka aja tuh si ikan kakap, dahlah bodo amat mending gua pulang trus rebahan” Yudha pergi meninggalkan kelas yang sudah sepi hanya tinggal dirinya.
Kaivan sendiri berlari kecil menaiki anak tangga menuju rooftop, sebenarnya ada lift yang biasa di gunakan para siswi tapi hari ini sedang ada perbaikan. Jadi terpaksa para siswa menggunakan anak tangga yang tersedia.
Kaivan memelankan langkahnya saat melihat pintu rooftop di depan sana, masih dengan ransel Ayli di lengan kirinya. Ia membuka perlahan pintu itu dan melihat punggung Ayli yang duduk membelakanginya.
Dari jarak Kaivan berdiri ia bisa mendengar gumaman Ayli.
“Huh, Ayli juga laper bunda” gumam Ayli menunduk yang ia lihat mengusap perutnya.
“Sepertinya sejak tadi Ayli tidak pergi ke kantin” pikir Kaivan membuka ransel nya.
Kaivan berjalan mendekati Ayli yang belum juga menyadarinya.
“Makan” ucap Kaivan membuat Ayli tertingkat dari duduknya.
Kaivan sendiri hanya diam dengan kantong kresek berisi roti dan air mineral yang sengaja ia beli untuk Ayli tadi.
Ayli terdiam menatap kantong kresek didepannya, lalu menatap Kaivan gang masih berdiri menatap dirinya.
“Tadinya mau aku buang tapi sayang, jadi nih makan aja. Anggap aja nih roti tiba-tiba datang dan gak usah mikir dari aku” ucap Kaivan mencari alasan dan menaruh kantong kresek itu di atas meja bersama ransel Ayli.
“Tadi ada satpam mau kunci kelas jadi aku bawain sekalian ransel kamu” lagi-lagi Kaivan mencari alasan yang tidak masuk akal.
Secara satpam di sekolah ini akan menutup seluruh akses keluar masuk kelas dan geduang lainnya di jam 5 sore. Mengingat masih ada guru dan siswa yang mengikuti kegiatan ekstra tambahan.
Ayli diam entah kenapa perlakuan Kaivan padanya membuat sisi hatinya yang beku merasa sedikit hangat. Ingat! Hanya sedikit! Tidak lebih ya!
Hening
Kaivan bingung sendiri jadinya melihat respon Ayli yang masih sama.
“Udah jam pulang sekolah, kalo gitu aku duluan. Kamu hati-hati pulangnya” Kaivan berbalik meninggalkan Ayli.
Baru sampai di depan pintu Kaivan terdiam mendengar ucapan Ayli yang masih duduk membelakanginya.
“Makasih” Kaivan menoleh tersenyum menatap punggung Ayli. Tapi senyum Kaivan tidak bertahan lama setelah Ayli kembali berkata.
“Tapi lain kali gak usah kayak gini lagi”
Kaivan terdiam sejenak sebelum pergi tanpa membalas ucapan Ayli, hatinya sakit? Sudah pasti. Tapi Kaivan tidak akan pernah menyerah. Ini baru hari pertama Kaivan, itu berarti masih ada hari berikutnya untuk dekat dengan Ayli pikirnya.
Setelah Kaivan pergi Ayli menengok menatap pintu kaca yang sudah tertutup kembali. Pandangannya kembali pada kantong kresek di atas meja yang diberikan Kaivan padanya.
Perlahan tangan Ayli meraih roti yang ternyata roti kesukaannya, Ayli tersenyum mengunyah roti itu. Perutnya tidak seperih tadi setelah Ayli menghabiskan satu roti itu.
Selesai menghabiskan tiga roti pembelian Kaivan, Ayli pun beranjak pulang mengingat sebentar lagi sekolah akan di tutup. Selama itu ternyata dirinya di rooftop. Ayli berharap teman teman Farel sudah pulang.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...