First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 11




...-Makam Bunda-...


Pagi ini Ayli sudah siap dengan dress cantik yang melekat pada tubuhnya. Ayli menatap pantulan dirinya dan tersenyum menatap bingkai foto sang bunda.



Hari ini hari minggu dan Ayli berencana untuk ke makam sang bunda. Seperti biasa Ayli akan tampil anggun dan cantik setiap ke makam sang bunda.


“Dah siap” gumam Ayli mematap penampilannya kali ini.


Ayli bergegas pergi setelah berpamitan dengan bi Narmi. Kali ini Ayli tidak jalan kaki atau pun naik bus, ia di antar sopir.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di pemakaman, Ayli keluar dari mobil dengan perlahan tak lupa buket bunga yang sudah ia beli tadi di jalan.


Ayli menghela nafas sejenak menatap lurus area pemakaman yang sudah lama tidak ia kunjungi. Langkahnya perlahan tapi pasti, Ayli berhenti tepat di depan makam sang bunda.


...PUTRI RAVEENYA RAHARDHAN...


...BINTI...


...PUTRA TAMA...


...Lahir : 10 Januari 1972...


...Wafat : 20 April 2001...


Ayli tersenyum memberi salam “Assalammualaikum bunda, Ayli datang untuk bunda”


“Gimana kabar bunda? Bunda bahagiakan di atas sana? Ayli harap bunda selalu lihat Ayli dari atas sana” ucap Ayli.



Ayli menaruh buket bunga lily di atas makam sang bunda. Setiap mengunjungi makam sang bunda Ayli tidak pernah absen membawa buket bunga lily. “Bunga lily untuk bidadari secantik bunda”


Mengapa Ayli memilih bunga lily? Bunga lily identik dengan kesucian, kemuliaan dan kemurnian layaknya kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Selain itu bunga lily juga melambangkan keindahan. Itu kenapa Ayli selalu membawa bunga lily, selain karena makna mendalam pada bunga lily. Alm. Bunga lily juga termasuk salah satu bunga yang disukai Venya, Alm bunda Ayli semasa hidupnya.


“Makasih bunda, makasih atas perjuangan bunda untuk Ayli. Dan maaf jika kehadiran Ayli membuat ayah dan kak Farel sedih. Setiap datang ke sini Ayli selalu berpikir, kenapa bukan Ayli aja bun?” gumam Ayli mengusap nisan tertulis nama sang bunda.


Ayli berusaha mengenyahkan pikirannya dan memilih berdoa untuk sang bunda. Selesai dengan doanya Ayli memilih bercerita tentang kesehariannya, mulai dari ayah, kakakanya sampai pria yang akhir-akhir ini mengganggunya.


“Namanya Kaivan Rafandra Adhitama bun, cowok yang suka ganggu Ayli akhir-akhir ini. Panggilannya Kaivan bun, dia baik, pinter di kelas, ramah juga dan bikin Ayli nyaman berada di dekatnya bun”


Ayli menggela nafas “Tapi sejak pertemuan pertama Ayli jahat sama dia bun, ngomong-ngomong dia juga suka soto tanpa koya bun sama kayak Ayli. Apa bisa ya bun Ayli punya harapan sama Kaivan? Tapi Ayli takut Kaivan juga bakal kayak orang lain diluaran sana” lanjutnya.


Banyak hal yang Ayli cerita kan tentang Kaivan yang ternyata setiap detailnya tidak pernah terlupakan oleh Ayli. Di sinilah Ayli benar-bebar menjadi dirinya sendiri, ia bisa menangis sesenggukan lalu bercerita dengan wajah berseri.


Di makam sang bunda lah Ayli akan banyak bercerita tentang apa yang sudah ia lalui sejauh ini. “Oh iya bunda beberapa bulan ke depan Ayli bakal jauh dari ayah. Ayah lagi perjalanan bisnis di London bunda, jadi Ayli cuma sama kak Farel”


“Tapi ayah udah janji sama Ayli kalau perjalanan bisnis kali ini yang terakhir. Bentar lagi kak Farel juga bakal gantiin ayah lo bunda, kak Farel hebatkan bun!” Ayli begitu semangat sampai lupa waktu.


Tidak terasa sudah dua jam Ayli di makam sang bunda, “Bunda, Ayli pamit pulang dulu ya? Udah siang aja, Ayli janji akan sering dateng nengok bunda. Ayli pamit bun”


Ayli beranjak meninggalkan makam sang bunda. Di depan pintu makam sopir Ayli masih setia menunggu.


“Sudah non?” tanya sopir itu di balas anggukan singkat dari Ayli.


Ayli menyandarkan punggungnya menatap keluar cendela. Rasanya sangat lega setelah mengunjungi sang bunda.



Sejak pagi tadi Ayli belum sempat untuk sarapan. Ayli mengambil ranselnya dan berjalan melalui pintu samping. Menatap taman kecil itu sekilas hanya untuk memastikan tidak ada bunga yang layu.


Kali ini Ayli akan pergi kesalah satu cafe yang baru buka di dekat taman kota. Semalam ia melihat beberapa postingan di instagram tentang cafe baru itu. Merasa tertarik Ayli pun akan sarapan sekaligus makan siang di sana. Kenapa tidak sekalian tadi?


Karena Ayli lebih nyaman keluar menggunakan celana jeans, kaos atau hoodie saja. Lagian Ayli juga ingin mengerjakan tugas di cafe itu, melihat tempatnya yang nyaman pasti akan mudah membantu Ayli berpikir.


Ayli turun dari bus dan berjalan ke arah cafe yang letaknya memang sangat pas, tidak terlalu jauh dari taman kota. Ayli menatap dekorasi cafe yang sangat kekinian membuat nya menganggukkan kepala.


‘Sangat kekinian dan instagramable banget sih, pasti yang punya masih muda banget’ batin Ayli memilih tempat duduk dilantai dua paling pojok dekan dengan balkon dan taman kecil yang memang di desain begitu.


Ayli mengeluarkan laptop dan beberapa buku tugasnya. Sebelum naik ke atas tadi Ayli sudah sempat memesan beberapa makanan di bawah.


Ayli menatap sekelilingnya, di lantai dua ini tidak terlalu banyak pengunjung seperti di lantai dasar. Jadi Ayli akan merasa tenang dan nyaman.


“Ternyata keluar sebentar juga menyenangkan” lirih Ayli menatap langit cerah diluar sana.


———-


Kaivan berjalan menuruni anak tangga dengan santai, tidak lupa dengan kunci motor yang ia mainkan.


“Mau kemana kamu?” Tanya Ziya yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama suaminya.


“Eh ada mama toh” ledek Kaivan mendekati mamahnya.


“Kamu mau kemana Kav?” Kini ganti Radit yang bertanya, papa Kaivan.


“Mau keluar bentar mah, pah. Mau ngecek perkembangan cafe Kaivan yang baru buka di taman kota itu loh” jelas Kaivan.


Memang benarkan dirinya akan kesana, Kaivan memang baru membuka cafe baru di dekat taman kota. Bisa di katakan ini cafe ke tiga yang Kaivan bangun, masih merintis.


“Oh yaudah, pulangnya hati-hati ya sayang” Kaivan mengecup kening mamanya.


“Mama mau nitip apa sama Kaivan?”


“Nitip waffles di cafe kamu aja deh nanti” pesan mama Kaivan.


“Oke, nanti Kaivan bawain ya ma. Kalau gitu Kaivan berangkat. Dah mah, pah” pamit Kaivan.


“Hati-hati boy! Jangan ngebut!” Teriak papa Kaivan.


“Siap pa!” Balas Kaivan.


Kaivan mengendarai motor sport nya menuju cafe. Sesekali Kaivan bergumam menyanyikan lagu yang ia suka secara acak. Kaivan memarkirkan motornya di depan cafe lalu masuk ke dalam.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...