First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 25




...-Day 3, Tanpa Kabar-...


Semalaman Kaivan mencoba menghubungi Ayli tapi sampai pagi ini gadis itu belum membalas atau sekedar membaca pesan Kaivan.


“Kamu kemana sih Ay? Kenapa sampai sekarang enggak ada satu pun chat q yang kamu balas atau pun baca. Minimal kamu read lah, gak papa kog” gumam Kaivan menatap layar ponselnya.


“Sayaangg!!! Cepetan turun kita sarapan!!” Suara teriakan mama Kaivan dari lantai dasar.


Kaivan pun mengambil ransel dan kunci motor tanpa menyahut panggilan sang mama. Moodnya pagi ini sedang tidak baik.


Ziya sendiri di buat heran melihat putra sulungnya yang menuruni anak tangga dengan malas, seperti tidak ada gairah hidup saja.


“Anak mu kenapa ma?” Tanya Radit pada istrinya.


“Anak kamu juga” sewot Ziya menghampiri putranya.


Ziya menahan langkap Kaivan sambil memegang pundak pria itu, “Hey sayang, kenapa ditekuk gitu sih mukanya? Ada apa? Cerita sama mama, uluh uluh gantengnya mama” gemas Ziya mengunyel-unyel pipi Kaivan.


“Aaaa mama jangan di gituin” rengek Kaivan sambil mencak-mencak lucu.


Hadeeh, ini mah kalo orang luar pada lihat auto gemes bukan ilfeel. Anaknya mama Ziya emang beda.


“Manjanya kumat kan ke istri gue” dengus Radit lirih, bahaya kalau istrinya sampai dengar.


“Iya udah makanya senyum dong gantengnya mama” ucap Ziya menangkup kedua pipi Kaivan.


“Kaivan lagi gak mood senyum mah” jujur Kaivan.


“Dih acara gak mood senyum segala, inget umur udah gede” sahut Radit yang langsung mendapat plototan dari sang istri, kan apa dia bilang tadi bahaya sedang mengintai dirinya.


“Oke papa diem” sambung Radit seakan mengunci bibirnya lalu membuang kuncinya.


“Papa nyebelin” dengus Kaivan.


“Udah sekarang kita sarapan aja yuk” Ziya menarik putranya untuk duduk.


Ibu dua anak itu lalu sibuk menyiapkan nasi dan lauk untuk anak dan suaminya. Kaivan menatap malas sarapan pagi ini tapi ia juga tidak mau membuat mamanya kecewa.


Selesai sarapan bersama kini Ziya mengantarkan anak dan suaminya sampai depan pintu.


“Kaivan berangkat dulu ya pa,ma” pamit Kaivan saat menaiki motornya.


“Hati-hati sayang” Ziya melambaikan tangan pada putranya.


“Ternyata putra kita sudah beranjak dewasa ya ma, cepet banget” gumam Radit menatap Kaivan yang mengendarai motor menjauh dari teras rumah.


“Iya pa, mama jadi kangen sama adek” ucap Ziya menatap suaminya. Sudah lama ibu dua anak itu merindukan putrinya yang tinggal bersama kakek neneknya.


“Nunggu Kaivan libur semester ya ma, baru kita ke Belanda bareng-bareng” Radit mengusap punggung sang istri.


“Beneran pah?” Heboh Ziya antusias.


Radit mengangguk lalu pamit pergi ke kantor. “Kalo gitu papa ke kantor dulu ya ma”


“Hati-hati suamiku, daahh” Ziya menatap mobil sang suami sampai hilang di balik gerbang rumah mereka.


————



Di dalam kamar Ayli terdiam menatap ponselnya yang teronggok di atas nakas samping ranjang. Entah siapa yang menyetel ponselnya dalam mode hening, hal itu benar-benar membantu dirinya dari suara bising semalaman mengingat banyaknya panggilan telpon dan pesan masuk dari satu nama yang sama.


Perlahan Ayli meraih ponsel itu, 245 panggilan tidak terjawab dan 374 pesan dari Kaivan. Ayli menaruh kembali ponsel tersebut tanpa membuka room chat Kaivan. Ayli menyibak selimutnya dan bangkit tertatih menuju sofa.


Ayli menatap hampa sarapan yang sudah tersaji di atas meja di depannya. Napsu makannya sudah hilang sejak kejadian kemarin. Ia merutuki kesalahannya, berandai-andai jika dirinya memilih diam waktu itu pasti tidak akan seperti ini. Kakaknya tidak akan semurka ini padanya.


“Maaf bunda, maafin Ayli hiks” tangis Ayli memenuhi sudut ruang kamarnya.


Ayli kira tidak akan ada yang tau masalah iki ternyata takdir berkehendak lain dimana kakaknya yang harus terkena imbas perbuatannya.


“Hiks Ayli udah bikin kaka malu bunda, kakak berhak marah sama Ayli bunda hiks” tangis Ayli.


————


Di sekolah Kaivan tampak melamun duduk di mejanya, saking asiknya melamun sampai tidak sadar akan kedatangan Yudha pagi ini.


“Busyet dah ini anak orang kenapa malah nglamun pagi-pagi di kelas lagi. Tuh kuping enggak panas apa banyak yang lagi ngomongin?” Gumam Yudha, karena saat ia memasuki kelas banyak siswa yang membicarakan ketampanan si teman yang menjalar jadi sahabatnya itu.


“Oooeeeii” tepuk Yudha tepat di punggung Kaivan dengan kencang.


Kaivan terjingkat kaget lalu menggetok kepala si pelaku, “Bikin kaget lo!”


“Lagian siapa suruh pagi-pagi ngelamun babi? Lo tuh muka ganteng tapi kucel banget” canda Yudha yang hanya di balas dengusan oleh Kaivan.


“Makaseh gue emang ganteng dari orok” sahut Kaivan menyugar rambutnya kebelakang.


Bagaikan adegan slomotion ya membuat siswi sekerasnya terpekik histeris.


“Ck brisik lo pada anj*ng” sewot Yudha pada segerombolan siswi dikelasnya.


“Yeeee syirik bilang boss” celetuk salah satu gadis di gerombolan itu.


Yudha mendengus kesal membantung tas di atas mejanya lalu duduk menghadap sahabatnya yang dilanda badai kegalauan.


“Kenapa lagi seh lo Kav?” Tanya Yudha saat ini dengan mode serius.


Kaivan menoleh menatap sejenak Yudha sebelum berucap. “Ayli enggak bisa gue hubungin dari kemarin sampe sekarang, dan gue khawatir”


Yudha mengusap wajahnya kasar, oke jadi ceritanya pagi ini si Kaivan ngegalau cuma gara-gara chatnya enggak di bales? Oh ****! Hebat kau Yudha mengurusi kegalauan cinta si Kakav merah ini, pikir Yudha.


“Lah govlok banget deh lo Kav” ujar Yudha menarik perhatian Kaivan yang tidak terima dikatai govlok alias bodoh.


“Maksud lo apaan!” Sewot Kaivan.


“Ya santae dong elahh, baperan amat deh. Gini-gini kalo telpon lo enggak di angkat atau wa lo enggak di bales ya samperin lah kerumahnya. Bukannya lo satu kompleks cuma beda gang aja?” Yudha menepuk punggung Kaivan.


Gue udah samperin dan kata si satpamnya Ayli lagi sibuk”


“Yaudah dong Kaaav si Kakav merah, kalo gitu kenape lo galau. Ah aneh lo mah, lebay lebay” gedek Yudha mendengarnya.


“Tapi gue ngerasa gelisah dan khawatir sama keadaan Ayli, Yud. Gue takut terjadi sesuatu sama dia” geram Kaivan menjelaskan, entah kenapa bisa ia merasa seperti itu.


“Udah lah Kav, itu cuma perasaan lo aja karena telpon dan wa lo enggak ada satu pun yang dibales ma Ayli. Lagian tuh cewek juga selalu di jaga ketat kan dan bisa dipastikan Ayli cewek pujaan lo itu baik-baik saja” papar Yudha menyakinkan sababatnya yang terserang virus bucin.


“Tapi ....”


“Udah oke, lagian nanti pulang sekolah kan elo bisa mampir dulu ke rumah Ayli” sambung Yudha di balas anggukan kepala Kai an. Seperti yang di katakan Yudha ada benernya.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...