
...-Skorsing-...
Ayli menatap surat ditangannya, ia baru saja keluar dari ruang kepala sekolah di temani Kaivan. Ayli pun harus menerima hukuman skors selama satu minggu mulai besok, sesekali Ayli menghela nafas menatap surat itu.
Kaivan yang berdiri di samping Ayli pun meraih surat itu lalu merobek dan membuangnya ke tempat sampah.
“Kog di buang?”
“Biar kamu enggak sedih Ay” sahut Kaivan.
“Lagian juga enggak penting amat, takutnya nanti kamu naruh sembarangan dan ayah kamu lihat” sambung Kaivan ada benarnya juga.
“Hmm” gumam Ayli.
“Tenang aja Ay, aku pastikan ayah atau pun keluarga kamu enggak ada yang tau masalah hari ini. Tenang aja percaya sama aku” ucap Kaivan seakan tau keraguan yang Ayli rasakan saat ini.
“Tapi gue enggak yakin kalau lo pengen tau” ketus Ayli.
“Terserah kamu deh Ay, udah ya sekeang mending ikut aku” Kaivan menarik tangan Ayli menuju parkiran.
Kaivan langsung memakaikan helm pada Ayli tanpa menghiraukan tatapan protes gadis itu. “Lo gak lagi bolos kan?”
“Kalau iya kenapa?” Kaivan bersiap menaiki motor sportmya.
“Enggak! Jangan akal-akal lo ya, gue udah dihukum kek gini dan lo malah mo bolos. Sehat lo?!” Protes Ayli tidak terima.
“Ayo dong Ay, janji deh enggak akan bawa-bawa kamu kalo aku sampek ke hukum masalah bolos kali ini. Kamu aman Ay” Kaivan menarik tangan Ayli mengisyaratkam agar gadis itu cepat naik.
“Awas aja lo nambah-nambahin masalah gue!” Ketus Ayli lalu naik dan duduk manis di belakang Kaivan yang mulai melajukan motornya.
Anehnya satpam sekolah tetap membukakan gerbang untuk Kaivan. Jalur orang dalam mah bebas ya bun.
“Kog bisa sih satpamnya malah bukain pintu buat kita kan udah jam pelajaran?” Teriak Ayli agar Kaivan mendengarnya.
“Ada deh” balas Kaivan.
“Hah? Apa?”
“Ada deh Ay!!”
“Hah! Lo bilang apa?”
Kaivan menghela nafas, emang gitu ya cewek kalo dibonceng auto penyakit telinganya kambuh alias budek dadakan. Kaivan menambah laju motornya tanpa membalas ucapan Ayli. Ayli yang tidak ingin jatuh dari motor langsung memeluk erat pinggang Kaivan, memejamkan mata.
‘Huuuaaa bundaaa, Ayli takut jatuh’ batinya ketakutan.
Kaivan sendiri hanya tersenyum mendapati pelukan erat Ayli, tidak apa lah sekali-kali dirinya modus. Tapi tenang Kaivan bukan playboy ya gais.
Kaivan menghentikan motornya tepat di parkiran taman komplek. Kaivan terkekeh menyadari Ayli yang masih memeluknya dengan mata terpejam, sepertinya gadis itu tidak sadar jika motor Kaivan sudah berhenti.
“Nyaman banget ya Ay meluk aku dari belakang kek gini” canda Kaivan.
Mata Ayli mengerjap lucu mengumpulman kesadarannya yang hilang terhempas angin beberapa menit lalu. Spontan Ayli menarik tangannya lalu memukul punggung Kaivan.
“Bisa gak sih kalo bawa motor tuh pelan-pelan aja! Gue tuh takut jatuh tauk! Masih muda juga masa iya mati cuma gara-gara jatuh dari boncengan!” Omel Ayli membuat Kaivan mengaduh sakit juga tertawa melihat wajah kesal Ayli yang menggemaskan.
“Udah dong Ay kamu enggak malu di liatin banyak orang loh” Benar saja mereka sudah menjadi pusat perhatian pengunjung taman pagi ini.
Ayli berdecak malu lalu turun dari motor dengan bantuan Kaivan. “Lagian ngapain sih ke sini?”
“Biar kamu selalu ingat Ay, di sini tempat pertama kita ketemu” jawaban Kaivan membuat gadis itu memalingkan wajah menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“Gak penting” ketus Ayli melangkah mencari tempat duduk di ikuti Kaivan.
Mereka duduk dikursi taman yang kebetulan berada di bawah pohon rindang. Ayli memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa anak rambutnya.
“Cantik” gumam Kaivan.
“Hah?” Tanya Ayli yang tidak jelas mendengar gumaman pria di sampingnya itu.
“Cantik Ay, kamu itu cantik” lagi-lagi Ayli dibuat tersipu oleh pengakuan Kaivan.
“Baru sadar? Udah dari dulu kalo lo pengen tau” semprot Ayli.
“Iya Ay” balas Kaivan.
Kaivan tersenyum mendengarnya, “Mama udah sehat kog Ay, mama juga sering cerita tentang kamu. Cuma ya gitu mama belum tau kalo kita satu sekolah, nanti deh aku mau bilangin ke mama” jelas Kaivan.
“Kenapa gitu?”
“Mama pengen banget ketemu sama kamu lagi Ay, papa aku juga. Mereka berterima kasih banget sama kamu karna waktu itu. Sekali lagi makasih ya Ay”
“Sama-sama, salam buat mama kamu” ucap Ayli mengingat genggaman hangat mama Kaivan.
“So, apa yang bakal kamu lakuin selama satu minggu ke depan?” Kaivan memposisikan duduknya serong menatap Ayli.
“Rebahan aja mungkin? Entahlah” sahut Ayli enteng.
“Gimana kalo aku buatin kamu jadwal apa aja yang bakal kita lakuin selama satu minggu kedepan?” Ayli mengernyit mendengar kata ‘Kita’
“Kita?” Tanya Ayli.
“Iya kita, aku bakal nemenin kamu selama 1 minggu ke depan. Sepulang sekolah pastinya” jelas Kaivan menatap Ayli.
“Terserah” sahut Ayli.
“Lo mau es krim gak Ay? Di sana ada es krim tuh” tunjuk Kaivan.
Ayli menoleh ke arah yang ditunjuk Kaivan. “Mau banget” manja Ayli tanpa sadar.
“Tunggu di sini bentar” Kaivan bangkit membeli es krim untuk mereka.
Ayli menatap punggung Kaivan lekat, bolehkah ia merasa bersyukur mengenal Kaivan yang peduli padanya. Cukup kali ini saja biarkan dirinya bersama Kaivan lebih lama.
“Nih es krim nya Ay” ucap Kaivan membuat Ayli terhentak dari lamunannya.
“Thanks Ian” Ayli menikmati es krim pembelian pria itu.
Sudut bibir Kaivan tertarik mendengar panggilan dari Ayli. “Tetep panggil aku kayak gitu ya Ay” pinta Kaivan.
“Hah?” Ayli bingung.
“Iya, tetep panggil aku dengan panggilan itu” Ayli semakin bingung dengan maksud Kaivan.
“Maksudnya?” Tanya Ayli mencerna permintaan Kaivan.
“Ian, dari tadi kamu panggil aku dengan panggilan itu dan aku suka” jujur Kaivan membuat Ayli merona.
‘Bodoh lo Ayli, malu-maluin aja. Aaaaarghhh bunda Ayli malu’ teriak Ayli dalam hati.
“Mana ada! Lo nya aja yang salah denger” kilah Ayli, mana mungkin dirinya mau mengakui kebodohannya.
“Enggak Ay, jadi mulai sekarang kamu harus panggil aku Ian” pinta Kaivan.
“Ogah! Males banget gue nurutin lo!” Sewot Ayli padahal dalam hati mau banget.
“Aku maksa Ay, pokoknya panggil aku Ian” paksa Kaivan.
“Kog lo maksa sih?” Ayli menatap sengit Kaivan.
“Karena aku maksa jadi kamu harus terima Ay” kekeh Kaivan.
“Dih! Males banget!” Ayli memilih menikmati es krimnya.
“Ayo dong Ay, ya ya ya panggil nama aku Ian aja ya” rengek Kaivan membuat tawa Ayli meledak.
Demi apa dirinya melihat Kaivan yang merengek saat ini padanya. Sedangkan Kaivan sendiri terpana dengan wajah ceria Ayli yang tertawa lepas, jika dengan bertingkah konyol membuat gadis itu tertawa lepas maka Kaivan akan melakukannya.
“Terus bahagia ya Ay, jangan sedih-sedih terus”
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...