First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 14




...-Kampus & Pingsan-...


Bruk


Semua buku jatuh berantakan saat seorang gadis tak sengaja menabrak seseorang dibelokan tembok. Dengan berat hati gadis itu harus menata kembali semua buku yang berserakan.


“Makanya kalo jalan itu hati-hati, ceroboh banget sih lo” ketus suara pria yang sedang membantu gadis itu.


“Farel?” Pekik gadis itu.


“Iya, kenapa? Lo tuh ya sehari aja kaga usah ceroboh bisa gak si?” Farel mengambil buku itu dan membawanya sebagian.


“Ck salah kamu sendiri dong ngapain nabrak aku”


“Makasih” sambung gadis itu.


“Hmm” gumam Farel.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang dosen. Farel yang cuek, dingin dan tidak tersentuh kini berjalan bersama seorang gadis? Sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswi lain, banyak pula yang iri dengan gadis satu ini yang bisa dekat dengan Farel.


Dia Viona Putri Enggrita, gadis ceria, baik dan sangat ceroboh juga sedikit bawel. Panggil saja Viona atau Vio.


“Rel”


Farel menoleh saat Vio memanggilnya. “Apa?”


“Happy Birthday ya” ucap Vio tersenyum manis.


Farel menghentikan langkahnya diikuti Vio. Pria itu menatap lekat Vio yang tersenyum manis padanya. Cantik, pikir Farel.


Farel berdehem lalu berjalan mendahului Vio “Thanks”


“Kamu mau kado apa dari Vio? Kemarin Vio sempet ke mall tapi bingung mau beliin apa secara kan apa pun yang kamu mau kamu bisa beli sendiri hehehe” cengir Vio membuat Farel memutar bola mata jengah.


Bertahun-tahun mereka berteman Farel sampai hafal setiap kata yang akan Vio ucapkan di hari ulang tahunnya. Sejak pertemuan pertama mereka di SMA sampai sekarang sudah cukup bagi Farel mengenal lebih dalam gadis itu.


“Teraktir gue bakso aja” singkat Farel.


“Nah, kan gini enak. Lagian uang Vio juga cukup kalo buat beliin Farel bakso di kantin”


Vio memang tidak terlahir dari anak orang kaya raya seperti Farel, tapi juga tidak kekurangan. Sejak ayahnya meminggal Vio membantu ibunya membuka usaha catering. Kala itu Vio masih menginjak SMA, beruntung ayahnya meninggalkan sedikit tabungan yang cukup untuk menyekolahkan Vio sampai lulus SMA nantinya.


Farel pun tau bagaimana jatuh bangunnya gadis itu, ia selalu menemani Vio. ”Besok jadi antar cateringan?” Tanya Farel.


“Jadi, maaf ya Rel. Vio selalu ngerepotin Farel terus, kalau aja besok ibu enggak ke Semarang pasti udah di anter sama ibu” sedih Vio.


Satu hal yang tidak banyak orang tau, Vio memiliki trauma untuk berpergian jauh sejak ayahnya meninggal. Ayah vio memang saat itu sedang perjalanan ke luar kota dan mengalami kecelakaan hingga tewas di tempat. Farel sendiri tau akan ketakutan Vio itu.


Setiap ada pesanan yang jauh dari tempat tinggalnya ibu Vio sendiri yang akan mengantarkannya. Dan kebetulan besok ibu Vio harus ke Semarang menjenguk saudara yang sakit.


“Enggak apa-apa” Farel mengacak rambut Vio.


“Ihh Farel jangan gitu ke Vio” kesal Vio.


“Kenapa?”


“Soalnya Vio suka deg-deg an” ucap Vio terlampau polos membuat Farel menahan tawanya.


“Jantungan lo” sahut Farel menakut-nakuti.


“Masak sih Rel?” Tanya Vio mulai ketakutan.


Farel menggedikkan bahunya lalu masuk ke ruang dosen lebih dulu, meninggalkan Vio di belakangnya. Ternyata di balik sifat angkuh seorang Farel juga memiliki hati yang hangat. Sayangnya hati yang hangat itu akan berubah menjadi pisau tajam bagi adiknya sendiri.


————


Jam istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit lalu. Kaivan baru saja menyelesaikan catatannya begitu juga dengan Yudha yang duduk di meja sampingnya.


Di dalam kelas ini hanya tersisa Kaivan, Yudah dan Ayli yang menangkupkan kepalanya di lipatan tangan. Dari tadi hanya Ayli yang tidak mencatat apa pun, entah gadis itu sepertinya tidur.


Yudha merenggangkan tubuhnya “Akhirnya selesai juga nih catetan, gila itu guru makan apa sih nyuruh muridnya nyatet segini banyaknya. Waras kagak tuh guru” keluh Yudha.


Kaivan merapikan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Menoleh kearah Ayli yang diam sejak tadi.


“Ay” panggil Kaivan membungkukkan badannya ke arah Ayli.


“Lah si eneng malah tidur aja” ucap Yudha berdiri di samping Kaivan.


“Ay, Ayli bangun”


“Ay” berulang kali Kaivan membangunkan Ayli, tapi gadis itu tudak kunjung bangun.


“Kav, Ayli enggak pingsan kan?” ucap Yudha membuat Kaivan panik.


Pria itu bangkit berjalan kebelakang Ayli untuk menatap wajah Ayli. Pucat. Kaivan panik langsung menegakkan tubuh Ayli yang terkulai lemas. ”Ay, bangun Ay” panik Kaivan.


“Bawa ke uks Kav, cepetan” ucap Yudha.


Kaivan menggendong tubuh Ayli ala bridak style berlari menuju uks di ikuti Yudha di belakangnya.


Sampai nya di uks Ayli langsung di periksa oleh dokter jaga. Yudha pamit membeli roti dan teh anget atas pinta Kaivan dan pria itu sendiri masih setia menunggu Ayli.


“Gimana keadaannya dok?” Tanya Kaivan menatap dokter jaga itu.


“Kamu tenang aja, temanmu cuma kecapekan dan banyak pikiran saja. Nanti kalau dia bangun dan ngerasa pusing atau demam kamu panggil saya saja ya. Sekarang biarkan dia istirahat” jelas dokter itu lalu pergi.


Kaivan menghela nafas lega, astaga jantung nya seperti terpacu hebat melihat Ayli yang pingsan tadi. Baru kali ini dirinya sepanik ini sampai tidak bisa berpikir apapun selain Ayli.


Kaivan duduk di samping ranjang Ayli menggenggam tangan gadis itu.


“Cepat sembuh ya Ay, aku enggak suka lihat kamu tiba-tiba jatuh sakit kayak gini. Kamu bikin aku panik tau gak” gumam Kaivan.


Tak lama Yudha datang dengan pesanan Kaivan dan dua bungkus foam. “Gimana kata dokter?”


“Cuma kecapekan aja” jawab Kaivan.


“Syukur deh kalo gitu, anjir bikin panik tau gak tuh anak. Jarang banget gue lihat dia sampek pingsan kek gini” ucap Yudha menyodorkan satu foam pada Kaivan.


“Tadi gue beliin batagor buat lu ma gue” sambubg Yudha.


“Thanks Yud”


“Iya sama-sama”


Mereka pun makan batagor sambil menunggu Ayli yang masih terlelap. Sesekali Kaivan melirik gadis di depannya ini. Kaivan bertanya-tanya dalam dirinya apa yang di pikirkan Ayli sampai jatuh pingsan seperti ini. Pastinya itu hal yang tak mudah bagi Ayli sendiri, pikir Kaivan.


Selesai dengan makanan mereka Yudha pamit ke kelas lebih dulu karena bel jam masuk sudah berbunyi. Pria itu akan mengijinkan Kaivan dan Ayli.


“Gue cabut ke kelas dulu ya Kav”


“Iya, makasih ya Yud”


“Sans aja bro”


Kini hanya Kaivan dan Ayli saja. Kaivan mengusap kening Ayli yang terasa hangat, tak lama suara ringisan Ayli terdengar.


Ayli mengerjap matanya sampai pandangannya tertuju pada wajah tampan Kaivan sebagai objek pertama yang ia lihat saat ini.


“Gimana keadaan kamu Ay? Pusing banget gak? Kalo pusing aku panggilin dokternya dulu ya Ay, kamu tunggu sini dulu bentar kog” ucap Kaivan beranjak memanggil dokter.


Ayli menahan kain baju Kaivan membuat langkah pria itu terhenti dan kembali menatapnya. “Enggak usah” lirih Ayli.


“Yakin?”


Ayli mengangguk dan Kaivan kembali duduk di samping Ayli. Kaivan membantu Ayli duduk bersandar lalu membantunya untuk meminum teh hangat. “Udah?”


“Iya” lirih Ayli.


“Jangan banyak pikiran ya Ay, aku enggak mau lihat kamu sampek sakit kek gini” ucap Kaivan tulus.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...