First Love Greeting

First Love Greeting
First Love Greeting 32




...-Day 5, Makan siang-...


Ayli menaruh dua kantong itu di atas meja dan mulai membuka isi kantong itu. Yang ternyata berisi tiga box di masing-masing kantongnya dan dua cup boba berukuran Large.


“Banyak banget apaan aja nih?” Heboh Ayli mengeluarkan semua box dan dua cup boba.



“Aaaahhh boba” pekik Ayli semangat menggoyangkan dua cup boba.


“Seneng banget sih sama boba” Kaivan mengacak kepala Ayli.


“Iya lah, oh iya ini isinya apa aja?”


“Buka sendiri lah”


Ayli mengangguk membuka semua box di atas meja. Bibir Ayli menganga melihat semua isi nya. Dua box berisi nasi dan ayam geprek sambal ijo, satu box nugget, satu box kulit krispi, satu box lukumades topping coklat kacang, dan satu box croffle topping coklat.







“Waaahh, banyak banget” kagum Ayli.


“Bentar deh kayaknya enggak cocok kalo ayam geprek sambel ijonya minum boba, gue buatin es teh apa es jus jeruk?” Ayli menatap Kaivan yang berpikir.


“Es teh aja deh Ay” jawab Kaivan.


Ayli memberenggut kesal dengan jawaban Kaivan, “Tapi gue pengennya es jus jeruk”


“Samain aja deh sama kamu kalo gitu Ay” gemas Kaivan.


“Oke lo tunggu sini dulu, jangan masuk kamar gue awas aja lo” tegas Ayli.


“Iyaaa Ay”


Ayli pergi untuk membuat due es jus jeruk di dapur, Kaivan hanya diam menatap sekeliling taman. Sejuk dan menenangkan itulah yang ia rasakan.


Tak lama Ayli datang dengan nampan berisi dua gelas es jus jeruk. Kaivan tersenyum dan membantu gadis itu.


“Waahh banyak banget, ah ini namanya surga dunia” pekik Ayli lalu menarik box nasi dan ayam geprek sambal ijo ke depannya.


“Makasih Ian, selamat makan” ucap Ayli dengan senyum merekah.


Deg


Kaivan memegang dadanya saat merasa debaran jantungnya efek dari senyum Ayli, ‘Ma anakmu serangan jantung’


“Kenapa gak di makan?”


“Hah? O-oh ini juga mau makan Ay”


Mereka pun menikmati makan siang kali ini dengan ditemani semilir angin. Sudut bibir Kaivan tertarik melihat lahapnya Ayli. Gadis itu sesekali menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan layaknya anak kecil, menggemaskan.


Tangan kiri Kaivan terulur mengusap saos di sudut bibir Ayli, “Pelan-pelan Ay makannya, jadi cemot semua kan” ujar Kaivan.


Bola mata Ayli membulat akan sikap Kaivan pada nya barusan, kunyahannya sempat terhenti sejenak sebelum kembali mengunyah dengan sedikit gugup.


Kaivan menahan tawa melihat reaksi Ayli yang sungguh menggemaskan.


Selesai makan Ayli menaruh box ke dalam tempat sampah yang tidak jauh darinya begitu pun Kaivan. Untuk saja di taman itu tersedia tempat untuk cuci tangan, tepatnya ayah Ayli menyuruh orang untuk menyediakannya sejak covid 19 melanda Indonesia.


“Hehehe, mereka terlalu sayang untuk di anggurin. Lagian lo beli banyak amat si Ian?” Ayli kembali sibuk mencomoti lukumades yang enak menurutnya.


“Soalnya ada tuan putri yang kelapan di dalam kastil ini” canda Kaivan sukses membuat Ayli tertawa renyah.


“Ck, ada-ada aja deh lo” sahut Ayli ditengah tawanya.


“Oh iya Ay nih buku catetan punya aku nanti jangan lupa kamu salin ya, sekalian dua hari lagi kan kamu masuk kita langsung ada kuis pagi di mapelnya bu Bella di lanjut ulangan harian di mapel pak Budi yang semua materinya ada di catetan ini” ujar Kaivan menyodorkan satu buku nya ke Ayli.


”Ck, masak baru masuk langsung kuis sama ulangan harian sih? Enggak kasian apa mereka sama gue yang udah enggak masuk seminggu eh sekalinya masuk malah kuis ketambah ulangan lagi” dumel Ayli mengambil buku catatan Kaivan.


“Udah dong Ay, kan juga udah aku bilangin dari sekarang jadi masih ada waktu buat belajar. Jangan ngedumel ah gak baik” Kaivan mengusap rambut gadis di sampingnya yang masih saja bergumam kesal.


“Gini aja deh kita taruhan” ucap Kaivan tiba-tiba mengalihkan pikiran kesal Ayli yang siap membludak layaknya gunung berapi siap menyemburkan lava panasnya.


“Taruhan apa?” Ketus Ayli tertarik.


“Taruhannya siapa yang nilainya lebih tinggi diantara kita dia yang menang, otomatis nilai yang dibawahnya harus traktir makan di kantin selama satu minggu. Gimana? Setuju gak?” Ayli terdiam mendengarnya, bukan apa masalahnya di mapel pak Budi nilainya terbilang aman bukan terbaik. Apa lagi saingannya kali ini Kaivan, cowok itu selalu mendapat nilai sempurna di semua mapel.


Entah nyidam apa mamanya waktu hamil sampek punya anak kayak Kaivan, encer banget tuh otak.


“Kenapa kog diem? Takut ya?” Ledek Kaivan dengan alis naik turun.


“Enggak ya! Sok tau lo, gue enggak akan takut!” sahut Ayli tak terima di katakan takut padahal mah emang iya dirinya takut, cuma gengsi nya aja selangit.


“Oke, kita deal?” Kaivan menyodorkan tangannya ke depan Ayli.


“Deal!” Ayli menyalami tangan Kaivan setengah tak rela.


Dalam hati Kaivan tertawa merasakan tangan Ayli yang dingin saat menyalaminya. ‘Good luck Ay’ batin Kaivan. Sebenarnya Kaivan mengajak taruhan hanya sebagai pacuan Ayli, agar gadis itu merasa tertantang dan giat belajar. Iseng-iseng gak papa kan?


————


Di lain benua seorang pria paruh baya menatap layar laptopnya sambil bersandar di kursi kerjanya. Di layar itu menampilkan dua anak manusia yang asik mengobrol selesai makan siang bersama.


“Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang anak itu Jo?” Tanya pria itu pada pria di sampingnya yang tak lain assisten pribadinya.


“Saya sudah mendapatkan berkas yang anda mau tuan” sahut Johan asisten pribadi pria itu sambil menaruh map coklat di atas meja.


Pria paruh baya itu mengambil dan membaca sekilas berkas ditangannya, ia lalu menatap asisten pribadinya sebelum bersuara.


“Dia putra keluarga Adhitama?”


“Benar tuan, dia putra sulung dari tuan Radyta Adhitama rekan bisnis sekaligus sahabat semasa perkuliahan anda” jawab Johan mantap.


“Kebetulan macam apa ini Jo? Hahahaha astagaa sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, terakhir kali kita berkumpul beberapa tahun lalu” ucap pria itu yang tidak lain adalah Galen, ayah Ayli.


Yups, Galen lah yang sejak tadi mengawasi putrinya dari laptopnya. Beberapa hari ini Galen dibuat panik saat mengetahui putrinya membawa masuk seorang pria ke rumahnya, terlebih melewati pintu pribadi putrinya.


Sampai akhirnya ia meminta Johan untuk mencari tahu tentang pria itu. Dan ternyata sebuah kebetulan yang tidak terbayangkan sejauh ini, ternyata pria itu anak dari sahabatnya semasa kuliah dahulu.


Galen dan Radit memang bersahabat sejak jaman kuliah. Setelah lulus dan menikah mereka jadi jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing.


Sekali pun bertemu pasti saat bekerja dengan waktu yang minim. “Sepulang dari sini tolong carikan restoran terbaik yang cocok untuk makan malam dan undang Radit sekeluarga. Aku ingin semua berkumpul bersama” pinta Galen.


“Siap tuan” jawab Johan.


...****...


.


.


.


.


...Kaivan & Ayli...