
...-Day 1, Danau-...
Sesuai janji Kaivan waktu itu, hari ini sepulang sekolah ia akan mengajak Ayli untuk jalan-jalan. Kaivan tidak akan membiarkan gadis itu mati kebosanan atau larut dalam masalah yang telah terjadi.
“Buru-buru banget sih lo Kav?” Tanya Yudha melihat temannya itu.
“Ada janji” singkat Kaivan.
Mata Yudha mendelik mendekati Kaivan yang sibuk memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
“Mo ngedate kan lo” tuduh Yudha sambil menunjuk wajah Kaivan.
Kaivan menepis tangan Yudha sambil bangkit menggendong ransel di punggungnya. “Kalo iya kenapa?” Sahut Kaivan membuat Yudha terdiam.
“Duluan” ucap Kaivan menepuk bahu Yudha.
“Seriusan tuh anak mo ngedate? Trus sama siapa?” gumam Yudha sampai matanya menatap meja kosong di samping meja Kaivan.
“Oke gue tau sama siapa tuh anak ngedate xixixi” Yudha terkekeh sendiri.
“Gilak lo Yud? Apa ketempelan setan lo?” Ucap salah satu teman sekelas Yudha.
“Bukan urusan lo, bye!”
————
Kaivan baru saja sampai di depan gerbang yang sama seperti kemarin dirinya mengantarkan Ayli pulang. Saat pria itu akan menghubungi Ayli ternyata gadis itu sudah lebih dahulu membuka pintu gerbangnya.
“Helmnya mana?” Tanya Kaivan saat tak melihat Ayli membawa helm yang ia berikan kemarin.
Mendengar itu Ayli menepuk keningnya, ia lupa tidak membawa helm yang sudah ia siapkan di sofa kamarnya. “Bentar”
Ayli kembali masuk mengambil helm dan tak lama keluar sambil memakai helm itu.
“Udah siap?” Tanya Kaivan diangguki oleh Ayli.
Ayli pun naik ke jok belakang Kaivan dibantu pria itu tentunya mengingat tingginya hanya sebahu Kaivan.
“Mau kemana sih? Maksa banget tau gak” sungut Ayli saat Kaivan akan menyalakan motornya.
“Udah diem aja, nanti kamu juga suka aku jamin deh Ay” Kaivan mulai melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan Ayli terdiam menikmati terpaan angin siang ini. Kali ini Kaivan membawa motor dengan kecepatan sedang jadi Ayli bisa menikmatinya.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di sebuah danau buatan yang indah. Dengan pohon rindang di pinggirnya, jadi tidak akan merasa kepanasan.
Ayli menatap kagum danau itu, ia tidak pernah kesini dan tidak pernah tau kalau ada danau seindah ini.
“Suka?” Tanya Kaivan.
“Suka banget, gue enggak pernah tau ada danau seindah ini” kagum Ayli.
Kaivan tersenyum lalu menggandeng tangan Ayli dan duduk di bawah pohon. Terpaan angin menyejukkan siang ini.
“Gue pengen foto di sana” tunjuk Ayli.
“Ayok” Kaivan menarik lembut tangan Ayli.
Sampainya di jembatan itu Ayli menghentikan langkahnya membuat Kaivan menoleh. “Kenapa Ay? Katanya mau foto di sana?”
“Ini jembatannya aman kan?” Tanya Ayli dengan wajah polosnya.
Kaivan tertawa mendengarnya, “Kamu takut?”
“Enggak ya! Enak aja, gue gak takut. Gue tuh cuma antisipasi aja kan kalo tiba-tiba jembatannya kena-“
Kaivan menarik tangan Ayli berlari di atas jembatan panjang di atas danau itu, membuat Ayli terpekik “Ian! Jangan lari! Nanti kalo jatuh gimana!”
Kaivan terkekeh mendengarnya, sampai langkah mereka terhenti di tempat yang Ayli tunjuk tadi.
”Aman kan?” Tanya Kaivan membuat Ayli kesal mendengar nada pria itu yang terkesan mengejeknya.
“Tau ah kesel gue sama lo” kesal Ayli melipat kedua tangannya di dada.
“Ian Ay, bukan lo” koreksi Kaivan.
“Bodo amat” ketus Ayli membuat Kaivan mengacak rambutnya gemas.
“Udah jangan ngambek, maafin deh. Dari pada ngambek mending sekarang aku fotoin di sana trus kita balik lagi” usul Kaivan mengambil ponsel dari saku celananya.
Ayli pun mulai berpose santai dengan wajah datarnya dan Kaivan masih setia memotret gadis itu. Walau sesekali Kaivan berdecak tidak suka karena Ayli yang tak mau tersenyum.
Ayli mendengus lalu menutupi separuh wajahnya dengan lengan kanannya dan tersenyum.
“Kan gak kelihatan wajahnya Ay” desis Kaivan menarik Ayli dan merangkulnya. Mengarahkan kamera ponselnya tepat di depan wajah mereka. “Senyum Ay”
Perlahan senyum Ayli terbit ditengah jantungnya yang berdebar tak karuan.
“Nah kalo gimi kan cantik” puji Kaivan menatap hasil foto mereka berdua.
Ayli menatap wajah teduh Kaivan sejenak, menikmati pahatan indah ciptaan Tuhan. Kaivan yang merasa di tatap pun mendongak, mengunci tatapan mereka.
Waktu terasa berhenti sesaat, memberikan waktu bagi dua anak manusia itu untuk saling menikmati detak jantung mereka yang kian menjadi.
Sampai Ayli tersadar dan memutuskan tatapan mereka, gadis itu berbalik melangkah tanpa sepata kata pun.
“Jantung aku enggak aman Ay gara-gara kamu” gumam Kaivan mengusap dadanya.
Tanpa Kaivan tau Ayli melakukan hal sama sepertinya. “Detak jantungnya gak ramah” gumam Ayli.
————
Hari berlalu dengan cepat tak terasa siang sudah tergantikan sore, Kaivan dan Ayli belum juga beranjak dari danau. Mereka terdiam menikmati suasana sore ini, pemandangan danau kala sore menjelang malam ini sangat indah.
“Gimana? Suka gak Ay?” Tanya Kaivan setelah hampir dua jam mereka terdiam duduk di bawah pohon rindang ini.
“Suka banget, gue suka” jujur Ayli, ia tidak dapat berbohong kali ini.
‘Dan danau ini bakal jadi tempat kesukaan aku setelah Have Fun Cafe, dua tempat yang bikin aku merasa bahagia bersama kamu Ian. Makasih ya’ batin Ayli menatap lurus kedepan dengan senyum manis yang terpantri di wajahnya sore ini.
‘Aku bahagia Ay lihat kamu tersenyum semanis ini. Aku harap semyum itu akan terus terlukis indah di wajah cantik kamu” batin Kaivan menatap wajah Ayli yang bersinar terkena matahari sore ini.
“Kita pulang?” Tanya Kaivan.
“Sebenernya masih pengen di sini tapi bentar lagi malem dan lo juga belom pulang buat ganti baju. Jadi ya udah kita pulang” sahut Ayli bangkit dan menepuk celananya yang sedikit kotor karena duduk diatas rumput.
“Ian Ay bukan lo” koreksi Kaivan.
“Iya iya Ian, udah puas?”
“Puas banget”
“Ya udah ayok pulang Ian” tarik Ayli saat Kaivan masih duduk santai.
“Iya sabar dong Ay” senyum Kaivan mengacak surai Ayli.
“Lagian lo ko-“
“Ian” tungkas Kaivan.
“Huh! Ribet amat deh perasaan mo ngomong aja” ketus Ayli memukul bahu Kaivan.
“Ya makanya jangan lo-gue dong Ay, aku-kamu kan enak atau panggil aku Ian”
“Ogah! Lagian seneng banget sih lo gue panggil Ian?”
Kaivan tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Ayli.
“Sama kayak aku panggil kamu ‘Ay’ karena bagi aku itu panggilan special dari aku ke kamu. Jadi paham kan maksud aku?” Ucap Kaivan menatap Ayli sambil menaiki motor nya.
Mereka sudah sampai parkiran rupanya, Ayli terdiam mencerna setiap kata yang barusan Kaivan ucapkan.
“Wait! Jadi maksud lo ‘Ian’ itu panggilan special dari gue gitu?” Akhirnya otak Ayli sampai juga mikir ke sana.
“Yups, karena cuma kamu yang panggil aku ‘Ian’ dan hanya kamu yang boleh panggil aku kayak gitu” ucap Kaivan mantap.
“Udah yuk pulang aku anterin keburu malem, angin malem gak baik buat kesehatan kamu Ay” Kaivan membantu Ayli naik motornya.
Setelahnya Kaivan melajukan motornya ke arah rumah Ayli.
‘Dan asal kamu tau Ian, kamu juga satu-satunya orang yang panggil nama aku dengan Ay. Dan aku suka panggilan itu’ batin Ayli memeluk pinggang Kaivan saat pria itu mulai ngebut di jalanan.
...****...
.
.
.
.
...Kaivan & Ayli...