
Hari ini setelah satu hari tidak masuk kuliah, Nifa dan Melinda berjalan memasuki gedung jurusannya. Ketika sampai koridor banyak para mahasiswi berbisik-bisik sambil melihat kearah Nifa dan Melinda, membuat keduanya risih karena mereka seperti ingin menerkamnya.
Terlihat dari jauh mading ramai oleh kerumunan orang-orang, tak mau ambil pusing keduanya hanya cuek saja. Saat memasuki kelas semua teman di dalam kelasnya menatap penuh atensi kearah keduanya.
Siska selaku teman yang dekat dengan Nifa dan Melinda berjalan tergopoh-gopoh memasuki kelas. Membuat pandangan teman di dalam kelasnya beralih pada kegiatan masing-masing.
“Nif gawat hah hah hah itu hah--“ Siska berkata sambil ngos-ngosan membuat Melinda tidak tahan menunggu kelanjutannya.
“Apa sih, lu kalau ngomong yang jelas dong!” Melinda menatap tajam kearah Siska yang menjeda lama ucapannya sambil mengatur nafas.
Siska mendelik kearah Melinda dengan raut wajah memberengut. “Sabar dong! Gua juga lagi netralin nafas kan, lu kagak tau gua larian-larian tadi. Okay lupakan, Nif gawat dimading itu ada foto lu sama cowok kayak mirip si Rama.”
Nifa melebarkan mata bulatnya seketika membeku ditempat kepalanya terasa berdenyut, Melinda juga terkejut sampai mengangakan mulutnya lebar.
Siska geram melihat wajah bodoh kedua teman di depannya kemudian menarik keduanya menuju mading.
Saat sampai, baik Nifa atau pun Melinda terkejut luar biasa saat melihat foto itu. Adegan dimana Nifa di tarik keluar lapangan sampai berciuman di dalam mobil Rama. Melinda dengan geram mengambil semua foto yang tertempel, sedangkan Nifa hanya berdiam diri seperti orang bodoh karena tidak tau harus berbuat apa. Kinerja otaknya mendadak menurun, badannya mulai lemas serta wajahya berubah semerah tomat.
“Wah-wah penggoda kampus kita ini sudah datang, pasti kemarin gak masuk gara-gara capek banget abis main sama most wanted kampus kita. Secara gak mungkin banget cowok seganteng Rama mau sama cewek aneh kayak lu.” Jesika menyeringai sambil bersedekap dada tepat di depan Nifa.
Melinda menarik badan Jesika kearahnya, menatap tajam kemudian melampar sampah foto yang sudah di remas tepat kemuka Jesika.
“Jaga mulut sampah lu itu kalau ngomong!”
“Aduh Melinda sayang lu tuh harus sadar sahabat tercinta lu itu penggoda murahan! Gua juga gak asal nuduh kok ini fakta, gua meihat dengan kedua mata gua sendiri ya kan girl.” Ucap Jesika sambil melirik gengnya yang berada di belakangnya, dan mendapat anggukan serta acungan jempol dari gengnya.
Siska berjalan kemudian berhenti tepat di depan Jesika, menampar keras pipi mulus Jesika membuatnya terhuyung kearah kiri. “Jaga ucapan lu sebelum gua robek mulut sampah lu itu!”
Siska memang paling berani di jurusannya, ia terkenal dengan julukan ‘Macan garong’ karena galak dan tak akan sungkan untuk memberi salam keras seperti tadi. Cukup temperamen karena Siska tomboy dan bisa taekwondo, membuat orang-orang disini takut berurusan dengannya.
Jesika hendak membalas perbuatan Siska kepadanya tapi segera di tarik paksa untuk mundur oleh gengnya. “Jangan Jes lu bisa babak belur, lu tau kan Siska itu ganas.” Bisik salah satu anggota gengnya pada Jesika.
Para geng Jesika perlahan mundur menarik serta Jesika membuatnya geram. “Gua akan balas lu liat aja nanti dasar macan garong.” Teriak Jesika kencang sambil mengacungkan jari tengahnya.
“Gua tunggu itu dari lu.” Siska berteriak tak kalah kencang juga sambil mengacungkan jari tengahnya.
Seperginya Jesika Nifa merasa badannya lemas dan hampir tumbang, untung saja Melinda dengan sigap menangkap badan mungilnya. Menuntunnya untuk duduk di salah satu tempat duduk dekat mading menyodorkan air minum yang di beli Siska untuk Nifa, Melinda yang menyuruhnya agar Nifa merasa rileks.
“Udah jangan pikirin apa-apa nif gua bakalan lindungi lu, gak perlu takut akan omongan sampah orang-orang itu.” Ucap Siska sambil mengelus bahu mungil Nifa.
Melinda memegang tangan kanan Nifa sambil menatapnya lembut. “Gua akan ngomong soal ini sama Rama, lu tenangin diri semuanya bakal baik-baik aja. Gua dan siska bakal lindungi lu, jadi jangan khawatir.”
Nifa hanya diam mematung tidak tau apa yang akan dia perbuat, rasannya pusing sekaligus mual. Penyakitnya pasti akan kambuh dan ini tidak akan baik untuk dirinya sendiri.
Siska yang melihat raut wajah Nifa menjadi gelisah dan memerah pun mengernyit bingung. “Lu sakit Nif? Gua anter ke mini hospital yuk.”
Siska dan Melinda memapah Nifa menuju mini hospital, karena badan Nifa terlihat lemah dan lemas. Berjalan saja rasanya tidak sanggup sampai sesekali Siska membantu kaki Nifa untuk melangkah jika Nifa berhenti lama.
Saat sampai di mini hospital Nifa di baringkan pelan oleh Melinda, sedangkan Siska membuatkan Nifa teh hangat.
“Kalian berdua kembali aja ke kelas aku ndak apa-apa kok disini sendiri, aku ndak mau kalian ketinggalan materi gara-gara aku.” Ujar Nifa lemah.
Melinda menggelengkan kepala tak tega meninggalkan Nifa yang terlihat mengenaskan. “Gak gua disini aja biar Siska aja yang masuk kelas.”
“Ndak Mel kamu harus masuk kelas nanti aku pinjam buku catatanmu. Aku ndak apa-apa aku mungkin shock dan butuh istirahat aja kok aku mohon ya kamu masuk kelas.”
“Bener Mel hari ini juga ada kuis dari Bu Melati lu harus masuk kelas, nanti gua yang bilangin buat Nifa ikut kuis susulan besoknya.”
Mlinda menghela nafas kasar kemudian bangkit dari duduknya. “Ya udah gua masuk kelas dulu ya kalau ada apa-apa telpon, nanti gua jemput disini oke gak ada penolakan.”
Nifa hanya mengangguk lemah, kemudian Melinda dan Siska melangkah pergi dari bilik Nifa. Seketika air matanya jatuh selepas kepergian kedua temannya, merasa nafasnya kian memburu dan wajahnya semakin merah serta suhu badan yang berubah panas dingin membuat Nifa bertambah gelisah. Merogoh sakunya mencari obat yang selalu di konsumsinya itu, menelannya dengan terburu-buru kemudian meminum teh hangat yang tadi di buatkan Siska untuknya.
Perlahan-lahan Nifa mulai rileks badannya terasa lebih ringan kemudian pergi kealam tidur. Dosis dalam obat itu cukup tinggi karena sewaktu berobat dokter menambahkan tingkatan dosis sebab akhir-akhir ini penyakitnya sering kambuh.
Jam sebelas siang Melinda dan Siska datang menjemput Nifa, Melinda mengelus bahu Nifa pelan membangunkannya karena ingin mengajaknya pulang bersama. Nifa terbangun dari tidurnya saat dirasa ada yang mengelus bahunya pelan, sebenarnya matanya terasa berat efek dari obat yang di konsumsinya tapi saat Melinda memberi tau bahwa sudah jam pulang maka dengan terpaksa harus memaksa matanya untuk terbuka.
“Upss sorry gak sengaja.” Jesika menyeringai
Siska geram dan mulai tersulut emosi.
“Sengaja kan lu! Dasar uler, gua tau niat busuk lu.”
Nifa memegang tangan Siska yang hendak melayangkan pukulan, mengelusnya pelan menenangkan. “Udah Sis aku ndak apa kok, lagian mungkin aku yang salah jalan gak liat-liat.”
Nifa menarik Siska dan Melinda agar berlalu dari hadapan Jesika, tapi saat melewati geng Jesika salah satunya mendorong Nifa sampai terjatuh kemudian kelima teman geng jesika menyiramkan minuman mereka tepat dari atas kepala Nifa dan ada juga yang melempar telur mentah.
“Bajingan kalian!”
Bugh bugh…
Siska geram memberi ketiga bogem mentah pada ketiga teman geng Jesika karena sisanya lari kabur. Sedangkan Melinda membantu Nifa agar berdiri mengelap sisa-sisa siraman air minum dan telur mentah di wajah Nifa menggunakan tisu.
“Itu hukuman untuk lu yang berani deketin calon pacar gua.” Ucap Jesika kemudian melenggang pergi.
“Sis bisa gua nitip Nifa, tolong anterin pulang gua ada urusan.”
Menganggukan kepala kemudian merengkuh badan mungil Nifa. “Aman tapi gua bawa motor gede lu gak apa kan Nif?”
Nifa hanya menganggukan kepala lemah sebab ia sekarang sudah menangis dalam diam. Siska menuntun Nifa kearah parkiran kemudian mereka berdua pergi menuju rumah Nifa.
“Ram gua mau ngomong sama lu gua tunggu dibawah pohon sana.” Ucap Melinda sambil menunjuk pohon didekat lapangan.
Melinda sengaja mendatangi Rama, ternyata Rama sedang bersama teman-temannya di kantin. Rama mengikuti Melinda dari belakang, menurut saja karena pasti ini tentang Nifa sebab Rama sudah mencari Nifa setelah adegan ciuman panas yang dia lakukan kepadanya Nifa menghilang begitu saja.
“Lu tau apa kesalahan lu Ram?”
Melinda menyandarkan badan di pohon belakang badannya sambari menatap tajam Rama, membuat Rama mengernyitkan dahinya bingung pasalnya ia tidak berbuat salah apa-apa pada Melinda.
Berdecak sebal melihat raut wajah menyebalkan Rama. “Gua tau kadar otak lu tipis tapi please kali ini aja gunain otak kecilmu itu.”
Rama menatap tajam kearah Melinda sebal Karen secara tidak langsung dikatai bodoh.
“Maksud lu apa hah!”
“Lu tau gara-gara lu cium Nifa waktu pertandingan badminton? Lu tau gak tindakan lu tuh bodoh! Nifa jadi kena imbasnya. Ada orang yang memfoto kegiatan kalian dan menempelnya di mading jurusan gua, itu membuat semua orang berfikiran buruk sama dia dan dia mendapat bully dari orang yang katanya calon pacar lu itu.”
Rama melebarkan kedua matanya terkejut atas perkataan Melinda. “Dimana dia sekarang Mel?”
“Lu gak perlu nyari Nifa lagi, mulai sekarang gua gak akan ngijinin lu deketin sahabat gua. Mending lu urus calon pacar lu itu biar gak ngebully Nifa lagi.”
Melinda pergi begitu saja meninggalkan Rama yang terus meneriaki namanya dari kejauhan.
“Sialan!” Rama mengusap wajahnya kasar.
Nifa baru saja selesai mandi membersihkan badannya dari siraman tadi, menggosokkan handuk pada rambut basahnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya membuatnya menghentikan kegiatannya memakai baju kemudian melangkah menuju pintu utama. Saat dibuka tidak terdapat siapapun disana saat ingin membalikkan badannya matanya menemukan kotak besar tepat dibawah kakinya, Nifa menatap kekanan dan kekiri tidak menemukan siapapun kemudian Nifa mengambilnya dan membawanya masuk.
Membuka kotak yang tadi ditemukannya perasaannya tidak enak, tapi rasa penasarannya lebih besar. Tangannya mendadak gemetaran tapi tetap dipaksakan membukanya, saat kotak itu terbuka Nifa mengernyitkan dahinya bingung. Mengambil boneka panda serta setangkai bunga lili, dua benda ini adalah kesukaannya setau Nifa yang mengetahui adalah Farid dan…. Spontan Nifa melemparkan dua benda itu. Melihat didalam kotak ada sepucuk surat diambilnya dan dibaca.
...Hallo sayang apa kabarmu aku merindukanmu...
...Kamu pasti senang dengan pemberianku...
...Tenang kita akan segera bertemu....
Nifa menegang ditempat badannya gemetar dan mengigil, rasanya tenaganya terkuras habis membuatnya limbung terduduk di lantai menangis sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Duh kira-kira Nifa dapat kiriman itu dari siapa ya sampai-sampai kayak gitu. yuk tunggu terus kelanjutannya tetep stay ya 🤗 jangan lupa like dan komen biar semangat buat next ❤