
Alunan musik yang romantis serta nuansa malam yang mendukung sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara. Kerlipan bintang dan sinar rembulan menambah pendukung malam yang indah ini. Saling merapatkan diri untuk mengesampingkan ego masing-masing.
“Gua tau mungkin ini bakalan terdengar menjijikan tapi gua benar-benar ngerasain hal yang begitu dahsyat saat pertama kali ketemu lu. Getaran yang gak biasa dan hasrat ingin bertemu terus kian menjadi-jadi setiap harinya.”
Rama meletakkan kedua tangannya di pinggang mungil milik Nifa. Mencium kening cewek mungil dalam rengkuhan dansa romantis yang sengaja Rama atur sedemikian rupa. Kali ini Nifa tidak menolak, entah kenapa malam ini rasanya pobianya serasa sedikit melunak.
Mendongakkan kepala kemudian tersenyum menatap Rama yang lebih tinggi darinya. “Aku berharap kamu adalah obat dari segala obat Mas, bantu aku yang sedang melawan mentalku untuk dapat bersamamu seperti apa yang Mas inginkan.”
“Gua bakal selalu berusaha tapi mau kan lu tetap selalu disisi gua, dan gak akan memisahkan diri seperti apa yang dialami oleh orang tua gua.”
“Aku tidak dapat berjanji Mas semua tergantung pada Mas, bisa atau tidaknya bertahan walau banyaknya rintangan menghalau suatu saat nanti.” Menghela nafas panjang. “Aku sedang mengusahakan untuk sembuh dan selalu berdekatan denganmu Mas.”
Menganggukkan kepala Rama menunduk untuk menatap wajah Nifa yang lebih pendek darinya. Alunan musik romantis menemani kedua orang berbeda jenis kelamin ini. Merasakan seolah dunia hanya milik berdua dan tak ada yang bisa memisahkan.
Rama mendorong pelan badan mungil Nifa kemudian menarik tangan kanan Nifa mendekat. Gerakan dansa yang aneh namun membuat keduanya tertawa riang malam ini. Bahkan mungkin saat ini bulan dan bintang di langit sedang tersenyum senang melihat kedua manusia yang sedang gembira terlampau batas ini.
Cinta yang terasa tidak mungkin saat ini terlihat sangat saling menginginkan. Begitulah cinta datangnya berangsur-angsur mirip cicilan mobil tetangga sebelah. Mengejutkan serta menimbulkan emosional untuk egoisme dalam mendapatkan sesuatu.
Keduanya terus berdansa maju dan mundur seperti yang ada di dalam film dongeng Cinderella saat pesta dansa.
Akhirnya kini Nifa tersadar bahwa yang harus dilakukan untuk mengobati dirinya adalah menghadapi bukan menghindari. Dan saat ini Nifa tidak akan menghindar lagi dari segala sesuatu. Sebab lelaki ini sangat menginginkannya, lagi pula walaupun Rama memang terkesan konyol dan egois tapi untuk saat ini Nifa terlihat berminat berdekatan dengan Rama.
Jantungnya berdetak tak karuan padahal sebelumnya tidak ada riwayat penyaki jantung, namun kini Nifa mengerti bahwa hal tersebutlah yang dinamakan jatuh cinta.
Ternyata rasanya tidak seburuk itu dan tidak semengerikan ketika teman-temannya selalu mengeluhkan sifat pacar-pacarnya.
Berbeda, Rama benar-benar lain dari yang lain. Selalu punya cara untuk membuatnya kagum tanpa henti, getaran di hati yang belum pernah sekalipun Nifa rasakan kini di rasakannya.
Rama mengecup kening Nifa lama membuat Nifa memejamkan matanya, merasakan sensasi bibir hangat milik Rama yang menempel dikeningnya. Melepaskan kecupan di dahi Nifa, kemudian mengangkat dagu cewek mungil itu untuk menatapnya. “Lu hanya milik gua jadi mulai sekarang gua adalah satu-satunya cowok yang boleh lu sukai, tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun.”
Kali ini Nifa tidak merasa sebal ataupun kesal justru hatinya sedang senang, rasanya seperti sedang ada banyak kupu-kupu yang hinggap di sekujur badannya. Tersenyum singkat kemudian berjinjit mengecup singkat bibir Rama secepat kilat kemudian hendak pergi namun tangan Rama dengan cepat mencekal lengan Nifa.
Terkejut tentu saja ini kali pertama Nifa seperti ini jika biasanya Rama yang nyosor duluan kini cewek mungil itu yang memulainya lebih dulu. Rama menarik tangan Nifa menyebabkan keduanya sangat dekat tanpa cela. Tangan kiri Rama memeluk erat pinggang Nifa kemudian tangan kanannya menekan belakang kepala cewek mungil itu. Mendekatkan bibirnya kearah bibir mungil Nifa.
Cup
Awalnya ingin membalas kecupan singkat Nifa namun rasa bibir mungil yang terasa manis membuatnya terhipnotis. Seolah lupa akan semuanya kecuali cewek mungil ini, Rama melanjutkan kecupan itu dengan memagut lembut.
Entah kenapa Nifa merasa tak ingin Rama melepaskannya, kedua tangannya kini di kalungkan pada leher jenjang Rama. Sedikit kesulitan membalas ciuman Rama yang terkesan lembut namun penuh tuntutan untuk di balas.
Nafas keduanya sudah terengah-engah oleh sebab itu keduanya memutuskan menyudahi ciumannya. Ralat hanya Nifa yang ingin menyudahi ciuman itu sebab sudah kehabisan nafas, tidak dengan Rama mana mungkin seorang Rama puas hanya sekali ciuman.
Raut wajah Rama menjadi cemberut dan mengerucutkan bibirnya. “Ayo lagi baby.”
Menggelengkan kepala menatap tajam kearah Rama. “Tidak aku sudah kehabisan nafas, bagaimana jika aku pingsan karena kehabisan nafas Mas.” Mendengus sebal.
Melebarkan kedua mata bulatnya saat mendengar penuturan bodoh Rama. “Aku benar-benar menyesal telah menyukai cowok bodoh sepertimu Mas, tenaga medis juga manusia yang jika terjadi sesuatu membutuhkan bantuan orang lain agar tetap hidup. Lagi pula dalam ilmu medis tidak membahas bagaimana agar tidak kehabisan nafas saat berciuman tuh.”
“Iya juga sih bener, jadi acara ciuman ini sampai disini aja?” Mendengus sebal.
Menghela nafas pajang, ya begitulah Rama jika apa yang dimau tidak di turuti. “Kita bisa mencoba lagi nanti Mas.”
Rama menyeringai mesum kearah Nifa. “Nah gitu dong.” Mengelus pucuk kepala Nifa. “Kamu memang terbaik sayang.”
Rama kembali meraih pinggang mungil Nifa, melanjutkan dansa yang tertunda akibat kecupan panjangnya tadi. Bukan kecupan sih, tapi ciuman panas yang di buat seorang Rama. “Lu tau gua gak pernah sebahagia ini deket sama cewek, ya walau gua pernah punya pacar sebelumnya tapi gua bener-bener ngerasain jatuh cinta cuma sama lu doang.”
“Oh ya? Kenapa begitu, bukankah Mas Rama orang yang paling ganteng di kampus. Banyak lho yang naksir Mas, Mas tinggal tunjuk salah satu pasti dengan senang hati mereka mengampiri Mas.”
“Ya lu benar tapi sayangnya gua lebih suka sama cewek yang gak gampangan. Cewek yang susah di deketin pasti nantinya akan setia.”
“Ah gak semua asumsi Mas itu benar.” Nifa mengalungkan kedua lengannya pada leher Rama. Perasaan mual selalu di tahannya, ia tak ingin merusak momen kebahagiaan ini. Apalagi ketika melihat Rama menangis saat di dalam rumah pohon tadi.
Keduanya mulai melanjutkan dansanya bergerak maju mundur serta kesamping kiri dan kanan. Seolah tak bisa terpisahkan dua makhluk yang sedang dimabuk asmara ini.
“Gua Cuma ingin kesetiaan dari pasangan, gua takut apa yang dialami orang tua gua keulang di diri gua nantinya. Bayangan kala nyokap gua di tinggalkan bokap gua dan lebih memilih cewek uler itu masih teringat jelas. Gua pengen benci sama bokap gua, tapi dia sayang banget sama gua. Meski udah pisah tapi keduanya masih memberi kasih sayang walau gak sempurna.” Menghela nafas sejenak menatap mata bulat cewek mungil dalam rengkuhannya.
“Jadilah yang terakhir bagi gua ya Nif, gua lelah memilih mana cinta yang benar atau yang salah. Tapi yang jelas saat ini dan seterusnya gua cinta sama lu.” Sambung Rama.
Nifa tertegun dengan pernyataan sekaligus permintaan dari Rama. Kepalanya mendadak penuh, bagaimana tidak ia sendiri bahkan sedang berusaha untuk sembuh. Lalu bagaimana ia harus membagi pikiran antara pemulihannya dan perhatiannya pada Rama nantinya.
Tersenyum tipis namun terlihat sangat manis dimata Rama. “Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan mengusahakannya Mas.”
Mencium kening cewek mungil itu dengan lembut. “Kamu selalu menjadi yang terbaik dan aku menyukainya.”
Sudah hampir pukul 11 malam tapi Rama masih enggan meninggalkan tempat ini. Kenangan sewaktu kecil yang menyenangkan bersama keluarga yang utuh. Tertawa, bercanda dan bergurau selayaknya keluarga yang sangat bahagia. Namun sekarang tak dapat ia rasakan lagi.
Kenangan itu begitu indah dan menyenangkan. Dahulu Rama pasti akan sangat manja jika sesuatu yang diinginkan tak kunjung dapat terwujudkan. Tetapi sekarang ini siapa yang akan mengabulkan keinginannya, meskipun jika ia menghubungi salah satu orang tuanya pasti akan mengabulkannya.
Tidak ingin menyelami dunia masalalu kini Rama menyudahi berkunjung ketempat ini dan kemudian mengajak cewek mungil ini untuk kembali ke villa lagi.
“Jadi bagaimana menurutmu tentang kencan kita ini. Lu tau mungkin gua kurang romantis tapi gua selalu mengusahakan yang terbaik buat lu, apapun bakal gua lakuin asalkan itu untuk lu.” Rama memeluk pinggang Nifa dari belakang menyandarkan kepalanya pada bahu cewek mungil itu.
Udara di balkon kamar yang di tempati Nifa dan Rama saat ini cukup dingin, tetapi pelukan dari lengan kekar milik Rama menghangatkan badannya. Meski tidak hangat semuanya tapi lumayan untuk dinginnya malam ini.
Mengelus lengan kekar milik Rama yang berada di pinggang mungilnya. “Terimakasih untuk semuanya Mas. Aku menyukai semua pemberianmu untukku.”
Menganggukkan kepala kemudian mengendus leher pendek milik Nifa. Aroma strawberry favoritnya, hal candu yang membuatnya bagai pengguna narkotika yang seolah-olah tidak bisa lepas dari heroinnya.