
Suara tawa kecil serta lengkingan senyum membuat Rama merasa tersihir. Tidak sia-sia ia mengajak cewek itu nonton film komedi, tawa riangnya menularkan keceriaan pada Rama.
“Mas lihat deh lucu banget.” Tertawa kecil sambil menunjuk arah layar film.
Rama manatap dengan tersenyum. “Iya lucu ya kamu juga lucu.”
Nifa menghentikan tawanya menoleh kearah Rama, mengangkat satu alisnya. “Aku?” tunjuk dirinya sendiri.
Menganggukkan kepala. “Iya lebih lucu dari apapun.”
Nifa hanya terdiam tidak menanggapi apapun, mendadak menjadi canggung kemudian mengalihkan pandangannya kearah depan.
“Jadi mau kemana lagi kita?” Rama membuka suara lebih dulu sebab dari tadi mereka hanya terdiam.
Menggelengkan kepala menatap Rama yang sedang menyetir. “Ndak tau tapi aku lapar Mas.”
“Oke kita makan, lu mau makan apa? Kalau gua sih pengennya makan lu.” Terkekeh pelan.
“Ish apa sih Mas.” Mengerucutkan bibirnya kemudian memalingkan pandangannya kearah kaca jendela.
Tertawa kencang saat melihat ekspresi malu-malu dari cewek itu. “Bercanda Nif, kita kan sekarang teman jadi harus banyak candaan biar pertemanan kita seru.”
Nifa menganggukkan kepalanya. “Mas aja yang pilih tempat makannya, aku mengikut aja.”
Mereka berdua mampir kerestoran untuk makan berdua, terlihat restoran itu sepi hanya ada mereka berdua.
“Mas kok restoran sebesar ini bisa sepi gini ya?” memotong daging dalam piringnya menggunakan pisau dan garpu.
“Entahlah.” Memasukkan makanan kemulutnya kemudian menggidikkan bahunya.
“Atau Mas sengaja membooking restoran ini kayak di film-film ya?” Nifa menatap penuh selidik kearah Rama.
Menelan makanannya dengan kasar. “Ya gak lah! Buang-buang duit aja, kan kita Cuma temen. Ntar kalau lu udah jadi pacar sah gua baru gua booking restoran ini kalau perlu hotel juga sekalian.”
Nifa menatap horor kearah Rama, tiba-tiba nafsu makannya menjadi hilang. Perutnya rasanya mual.
Dasar mesum!
Huek
Mualnya sudah tidak tertahan lagi, hingga akhirnya keluar begitu saja. Rama yang sedang makan langsung berhenti memutar bola matanya malas. Selalu saja begini dasar cewek aneh tapi bikin cinta.
Seorang pelayan menghampiri kala melihat pelanggannya muntah sembarangan. “Maaf ada apa ya ini? Apakah ada yang salah dengan makanannya?”
“Gak ada kok itu istri gua emang lagi hamil, biasa bawaannya emang muntah-muntah gitu.” Jawab Rama dengan santai
Nifa memelotkan matanya, cowok itu memang kurang ajar membuatnya ingin terus muntah.
“Ayo sayang kita pulang saja mungkin bayi kita butuh istirahat, papanya juga butuh asupan gizi lagian ini udah malem.” Rama memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan kemudian menarik Nifa dan menuntunnya keluar memasuki mobil.
“Mas apa-apaan sih bilang gitu, bikin tambah pengen muntah.”
Terkekeh kencang. “Bercanda dalam pertemanan itu wajar Nif, lagian itu latihan jika suatu saat lu hamil anak gua kira-kira gitu kejadiannya.”
Melototkan kedua matanya kemudian mencubit perut Rama.
“Aduh aduh ampun Nif.”
Nifa melepaskan cubitannya. “Mas itu mesum banget, agresif dan gila.”
“Asal lu tau ya cowok mesum dan agresif itu lebih baik dari cowok pasif.”
Menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa begitu?”
“Mana bisa lu puas nantinya kalau cowok lu pasif cuma bisa nerima doang, yang ada lu capek puas gak malah ilfeel iya.”
“Puas dalam artian apa sih Mas kok aku ndak faham.”
“Gak akan gua kasih taulah lu kan masih bocah, makanya nikah sama gua biar tau apa arti kepuasan.” Menyeringai sambil fokus menyetir.
Memelototkan matanya sambil mencubit singkat lengan Rama. “Mas nih belum juga lulus kuliah udah mikir nikah aja.” Mendengus.
“Kata siapa kalau masih kuliah gak boleh nikah. Rio jurusan tekhnik udah nikah tuh padahal baru semester tiga.”
“Ya tapi kan mungkin udah ada persiapan Mas, lagian aku ndak mau nikah dulu sebelum lulus dan punya penghasilan.”
Benar juga yang dikatakan cewek itu, gimana juga nantinya ngasih nafkah sedangkan ia masih jadi mahasiswa. Ah tapi kan bisa kerja di perusahaan papanya, gampang lah bisa diatur. Yang penting ceweknya ini mau diajak nikah.
Sial!
Gak dikasih masuk.
Keesokan harinya saat Rama datang ke kantin ia melihat Nifa dan kedua temannya sedang makan. Ia menghampiri kemudian duduk tepat disamping Nifa.
“Hay baby.” Merangkul bahu Nifa
Nifa melepaskan rangkulan pada bahunya. “Apaan sih Mas.” Cemberut.
“Kalau gak mau jangan di paksa kali.” Sarkas Melinda.
“Kita kan teman ya kan Nif?” Tanya Rama dengan senyum miringnya.
Menghela nafas kemudian menganggukkan kepala. Yang membuat kedua sahabatnya terkejut melebarkan kedua matanya.
Mimpikah?
Bukannya Rama adalah spesies yang paling di hindari oleh Nifa, lantas sekarang apa ini?
Pertanyaan yang ada di kepala dua sahabatnya ini.
Seolah megerti Nifa pun buka suara. “Terpaksa.”
Kedua sahabatnya terkekeh meledek kearah Rama, membuat cowok itu cemberut tak terima. Kemudian tersenyum menyeringai. “ Kemarin aja kita nonton sama makan berdua. Jadi gak mungkin dong terpaksa ya kan Nif?”
Menghela nafas kasar. “Aku bosan jadinya ya gitu mau diajak jalan sama Mas.”
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Nifa yang membuat dua sahabatnya yang duduk di depannya terkejut. Mereka kan jomblo tentu saja hal seperti itu memancing emosi keduanya.
“Itu tanda pertemanan kita.” Bangkit berdiri kemudian berjalan menjauh.
Nifa muntah gara-gara ciuman Rama, menjijikan. Rama adalah definisi makhluk tak berakal yang pernah Nifa temui. Ia bangkit menuju kelasnya di ikuti kedua sahabatnya dari belakang. Moodnya benar-benar buruk, makhluk bernama Rama itu memang menyebalkan.
Tapi kemudian terbit sebuah senyuman diwajahnya, apakah ini semacam keajaiban? Dirinya bisa dekat lagi dengan seorang lelaki. Setelah sekian lama selalu menghindari makhluk yang berjenis laki-laki sekarang bisa dekat lagi bahkan menjadi teman. Ya walaupun pertemanannya dengan Rama terasa tidak normal, sebab tau sendirilah bagaimana sifat iblisnya itu. Tapi Nifa tetap mensyukuri sebab ini termasuk tahap kemajuan dalam dirinya.
Meskipun terkadang masih sulit mengontrol diri dan emosinya. Ia bersyukur walaupun terkesan seperti gadis aneh, nyatanya masih ada lelaki yang menginginkannya. Bukan hanya menginginkannya tapi selalu berjuang untuk mendekatinya. Nifa rasa mulai sekarang harus membiasakan diri dengan kehadiran lelaki itu yang sekarang sudah menjadi temannya.
Hidup memang terkadang megesankan, namun juga membingungkan. Banyak rintangan yang harus di lalui, termasuk saat ini penyakitnya cukup berat stress, depresi serta pobia yang kadang membuatnya lepas control ingin mengakhiri hidupnya. Tapi ia bersyukur banyak teman yang memperdulikan akan hidupnya.
Selalu jadi sandaran penguat untuk berdiri, mereka berjasa dalam kehidupan Nifa.
Sinar matahari pagi serta semilir angin segar khas pagi hari kini membuat perasaan dan suasana hatinya melunak. Memandangi beberapa anak-anak kecil yang sedang bermain prosotan dan ayunan. Nifa terduduk di salah satu bangku taman, sembari membaca novel dan sesekali melirik anak-anak yang tengah bermain.
“Sendirian aja?”
Nifa terkejut kala mendengar suara bas dari arah belakangnya. Ternyata itu Rama, cowok itu terlihat habis lari pagi. Dengan tampilan celana pendek dan kaos ketat menambah kesan seksi dimata Nifa.
Mengibaskan tangannya di depan wajah Nifa. “Nifa, hello… sibuk memandangi ketampanan gua ya.”
Seketika Nifa tersadar dari lamunannya, kemudian menggelengkan kepalanya. “G-gak kok, aku lagi ngeliatin anak-anak main itu. Mereka lucu banget.” Tunjuknya pada anak-anak yang tengah bermain jungkat-jungkit di belakang Rama.
Memutar badannya menghadap belakang. “Iya lucu… tapi lebih lucu lagi kalau bisa punya sendiri.” Terkekeh pelan.
Mengernyitkan dahinya, kenapa setiap kata yang di lontarkan cowok itu sangat ambigu sih. Membuat Nifa yang mendengarnya begidik jijik. “Mas ngapain kesini bukannya area ini jauh dari apartemen Mas ya?”
“Sengaja sih, niatnya habis lari-lari mau kerumah lu tapi ternyata kita ketemu disini. Memang kalau jodoh gini Nif selalu tanpa sengaja dipertemukan.”
Tuh kan cowok itu terkadang terkesan menakutkan bagi Nifa. Entah harus menyesal atau bagaimana berteman dengan cowok itu. Ya walaupun Rama ini sebenarnya baik namun makin kesini otaknya seperti debu jalanan, kotor!
“Tiap hari minggu aku memang suka kesini kok Mas, udara pagi disini rasanya sejuk. Cocok untuk menenangkan diri sembari membaca sebuah novel.”
“Btw soal novel, lu lagi suka novel yang gimana?” mendudukkan diri dibangku bersama Nifa namun jaraknya sedikit jauh.
“Aku menyukai novel yang kalau aku membaca aku ingin menghabiskan waktuku hanya untuk membacanya.”
Rama menganggukkan kepala, padahal tidak paham. “Genre seperti apa?”
Menatap lurus kedepan, sebenarnya ada seseorang waktu dulu yang membuatnya jadi menyukai novel. “Semua genre asal ceritanya seru aku menyukainya.” Pandangannya teralihkan pada cowok disampingnya. “Mas yakin kita ini sekarang teman? Ah, maksudku Mas ndak akan meninggalkan ku kan seperti pertemananku dengan Melinda dan Siska.”
Menganggukkan kepala. “Aku laki-laki jantan, ketika aku sudah berikrar sebuah janji maka aku akan menepatinya. Walau suatu saat nanti aku akan meminta hubungan lebih dari sebuah teman.”
Nifa tersenyum mungkin sekarang ia sedikit bisa mempercayai seorang lelaki lagi. Ku harap Rama adalah pilihan yang tidak salah.