First Fall In Love

First Fall In Love
Stalker



Rama mengikuti Nifa secara diam-diam, sejak tadi pagi dia menunggu di post satpam depan gerbang. Menunggu kehadiran Nifa yang tak kunjung datang. Duduk di depan post satpam sambil menggunakan topi, masker, dan kacamata hitam. Sengaja selain agar tidak ketahuan dirinya juga tidak ingin berakhir dikejar-kejar fans alaynya di pagi hari. Terlihat dikejauhan bus berhenti tepat di depan kampusnya. Seorang dengan seragam khas medis serta buku di dekapannya turun dari bus. Itu dia mangsanya! Rama terus memperhatikan menunggu cewek itu memasuki area kampus.


“Pagi Nifa.”


Terlihat cowok menggunakan jas putih menyapa Nifa dengan senyum mengembang. Bisa di tebak kalau cowok itu jurusan kedokteran, Nifa hanya menanggapinya dengan senyum tipis kemudian menghindari cowok itu. Good girl Rama bersorak dalam hati, terus mengikuti cewek itu sampai memasuki kelasnya. Setelah memastikan cewek itu duduk dengan tenang sambil membaca buku, Rama kemudian melenggang pergi ke arah kelasnya.


“Kemana aja lu Ram? Udah dua hari kagak masuk kelas.” Arga menatap Rama penuh selidik, menatap Rama dari atas sampai bawah.


Mendesis pelan kemudian mendudukan diri di samping Bagas. “Gua gak enak badan.”


Bohong! Itu memang alibinya saja, tapi kalau dia berkata jujur mau dikemanakan mukanya. Tidak mungkin berkata kalau dia malas kekampus karena sedang patah hati. Hancur sudah harga dirinya sebagai cowok terganteng di kampus ini.


“Tapi lu keliatan baik-baik aja tuh.”


“Ya kan gua udah minum obat, udah lah apa sih!” Malas berdebat mood Rama sedang buruk akhir-akhir ini. Menatap bagas yang ada di sampingnya. “Gas gua minta nomer Melinda dong.”


Bagas yang tengah memakan pop mie instan itu terbatuk mendengarnya. Arga menyodorkan minuman kearahnya. “Pelan-pelan makannya! Gak lucu pagi-pagi kelas ini ramai gara-gara salah satu mahasiswa mati keselek mie.”


“Sialan lu Ar! Lagian si Rama bikin gua kaget tiba-tiba minta nomer Melinda. Ngapa lu, suka sama sepupu gua Ram?” Bagas meneguk lagi minumannya sampai habis. “Jangan deh Ram, kasian gitu-gitu dia masih sodara gua. Lu kalau mau main-main sama cewek jangan sama Melinda!”


Menatap tajam kearah Bagas kemudian menoyor kepalanya. “Siapa yang mau suka sama sepupu alay lu itu! Gua cuma mau kontak Melinda, buat nanyain kapan kelasnya selesai gua pengen nemuin Nifa.”


“Oh gitu, kirain kan gua takut soalnya tuh anak kalau galau ngeri. Ya udah nih cari aja sendiri di handphone gua namanya anak bebek.”


Terkekeh mendengar nama kontak Melinda di handphone Bagas. Setelah menyalin nomer tersebut Rama mengirimi pesan pada Melinda. Pesan itu di jawab sangat cepat katanya kelas selesai jam sepuluh. Kemudian menanyai lagi apakah ada kelas lagi dan dijawab tidak. Ini kesempatan untuk jadi stalker Nifa ingin mengetahui aktivitasnya.


Tepat jam sepuluh Rama bangkit memunguti alat tulisnya memasukkan kedalam tas. “Gua duluan ya. Buat kelas selanjutnya tolong izinin gua, soalnya gua ngerasa gak enak badan. Gua pulang duluan ya.” Pura-pura menampilkan ekspresi lesu dan kesakitan Rama berjalan keluar kelas.


Rama menunggu di depan gerbang kampus di dalam mobilnya. Terlihat Nifa sedang duduk di halte bus sendirian. Dengan satu buah buku di pangkuannya yang sedang di bacanya. Sekitar lima menit bus itu berhenti didepan Nifa, kemudian Nifa memasuki bus tersebut.


Rama kemudian melajukan mobilnya mengikuti bus tersebut. Bus itu berhenti tepat di caffe om Herman, tempat Nifa bekerja saat itu. Terlihat Nifa memasuki caffe tersebut membuat Rama juga turun dari mobilnya. Rama akan berpura-pura sebagai pembeli untuk menunggu cewek itu selesai bekerja.


Pukul empat sore Nifa selesai bekerja, Sebenarnya ia akan selesai pukul tujuh malam nanti. Tapi mengingat ia mempunyai janji, jadi Nifa meminta izin lebih awal untuk selesai bekerja.


“Aku duluan ya, maaf hari ini pasti akan membuatmu repot. Tapi aku harus pergi ada sesuatu yang mesti aku urus.”


Nisa selaku teman kerja Nifa tersenyum tipis sambil mengusap bahu Nifa lembut. “Gak apa, lu urusin urusan lu dulu. Gua udah biasa kok, hati-hati dijalan ya.”


Menganggukan kepala Nifa mengganti seragam kerjanya kemudian melenggang pergi keluar caffe.


Rama dengan sigap langsung berdiri ketika melihat Nifa selesai bekerja. Menaiki mobilnya mengikuti bus yang sedang di naiki cewek itu, Dahinya berkernyit bingung ketika cewek itu memasuki Rumah Sakit. Yang lebih membuatnya bingung lagi adalah ketika cewek itu memasuki ruangan psikiater.


Mengikuti Nifa lagi kemudian berhenti tepat di depan minimarket. Mungkin cewek itu sedang ingin membeli sesuatu Rama menunggunya dengan sabar. Sampai cewek itu keluar dan terlihat menunggu sesuatu, ternyata dia menunggu ojek online yang di pesannya. Rama terus mengikutinya sampai berhenti pada kontrakan kecil di dekat perumahan kumuh.


Jadi di situ cewek itu tinggal, Rama tidak bisa membayangkan bagaimana cewek itu betah tinggal di tempat seperti itu. Karena sejak kecil dia selalu tinggal di tempat mewah. Meski mama dan papanya sudah berpisah Rama tetap mendapatkan fasilitas mewah, tidak pernah sekalipun ia kekurangan.


Rama tersadar dari lamunannya kala kaca mobilnya di ketuk dengan kencang oleh Nifa. Rama kaget bukan main, pasalnya ia ketauan telah menjadi stalker cewek itu seharian ini. Rama bergegas keluar dari mobilnya.


“Bukannya aku sudah pernah bilang, berhenti mencariku! Tapi kenapa Mas selalu mencariku!” Sorot mata tajam seolah bisa menguliti Rama perlahan-lahan.


“Gak siapa yang bilang gua nyari lu kepedean.”


“Terus apa namanya jika ndak mencariku, Mas aku tau kamu membuntutiku seharian ini. Aku juga tahu mas bertanya pada Melinda kapan aku pulang. Aku tahu mas nunggu aku kerja tadi, kemudian waktu aku mampir rumah sakit aku juga tahu mas nungguin aku diruang tunggu. Apa maksud mas sebenarnya?” Nifa terlihat kesal raut wajahnya berubah marah. Mukanya berwarna merah, serta nafas yang memburu menahan amarah.


“G-gua cuma pengen deket sama lu aja apa itu salah?” Rama gugup sedikit takut melihat ekspresi cewek itu, menyeramkan juga ketika marah.


Menghela nafas kasar, mengepalkan kedua tangannya erat. “Untuk apa mas repot-repot ingin dekat denganku! Aku ndak punya apa-apa, aku hanya sebatang kara di sini. Aku jauh dari keluargaku aku tinggal di sini sendiri, aku juga miskin ndak pantes buat mas deketin aku.”


“Gua gak peduli mau lu siapa, atau lu kaya miskin. Gua Cuma pengen deket sama lu karena gua suka sama lu. Jadi gua mohon izinin gua buat deket sama lu.”


Meneteskan air matanya badan cewek itu terlihat lemas, berjalan meninggalkan Rama begitu saja menuju kontrakannya. Tak tinggal diam Rama mengikuti cewek itu dari belakang. Ketika pintu hendak di tutup Rama berhasil untuk mengganjalnya dengan kaki kirinya, kemudian ikut masuk menutup pintu itu.


Nifa menangis tanpa suara menatap Rama dengan genangan air mata. “Mau apa lagi mas? Apa yang mas mau ndak akan aku wujudkan.”


“kenapa? Apa salah gua! Kenapa lu segitunya buat menghindari gua.” Rama menatap tajam kearah Nifa sudah habis kesabarannya.


Menarik badan mungil Nifa memojokkannya pada pintu yang tertutup.


Rama tersenyum menyeringai menatap Nifa yang tingginya hanya sebatas dada bawahnya. Karena Rama memiliki tinggi badan seperti Papanya yang berbeda dengan tinggi orang Indonesia. Menunduk mendekatkan wajahnya secepat kilat menempelkan bibirnya pada bibir Nifa.


Terlihat Nifa terkejut akan perlakuannya, mendorong dada Rama sekuat tenaga tapi sia-sia Rama terlalu kuat untuk di singkirkan.


Mendapat penolakan dari Nifa tidak membuat Rama menghentikan aksinya. Ia justru memagut pelan bibir Nifa, menangkap kedua tangan Nifa menyatukannya di atas kepala. Demi Tuhan bibir Nifa terasa manis dan kenyal membuat Rama hilang ke warasan. Nifa terus memberontak membuat Rama semakin kehilangan kendali.


Rama mengigit bibir bawah Nifa agar terbuka dan itu berhasil, Rama semakin panas akan ciuman sepihak karena Nifa tidak membalas hanya diam saja sambil berusaha memberontak. Sampai seketika tubuh Nifa lemas jatuh seketika dengan sigap Rama menangkap badan mungil itu. Rama mengendong badan mungil itu berjalan mencari ruang kamar setelah memasuki kamar Rama meletakkan Nifa diatas ranjang dengan hati-hati.


“Nifa bangun, jangan pingsan gua minta maaf.” Rama menepuk-nepuk pipi bulat Nifa dengan pelan namun tak berhasil.


“Duh gimana nih! Mana suhu badannya panas. Gimana kalau dia mati.” Mengusap wajahnya kasar. “Gak lucu kan kalau dikabarkan seorang gadis mati. Di karenakan mendapat ciuman dari orang tampan.”


Maaf jika banyak typo bertebaran atau alur cerita yang absurd, tapi sebisa mungkin aku bakalan next cerita setiap hari jadi tunggu part selanjutnya. salam manis dari author cantik 😁