
"Mas janji kan tidak akan meninggalkan aku?"
Rama membelai rambut halus milik Nifa yang seketika mengeluarkan aroma strawberry. Ia merasa cewek ini mandi dengan buah strawberry atau bagaimana sih aromanya membuatnya candu. "Of course baby, apapun yang terjadi gua gak akan ninggalin lu walau sedetik sekalipun."
"Aku percaya sama mas, tapi kenapa mas mau berjanji demi aku?" Mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Rama dari bawah.
"Tidak ada alasan karena gua melakukannya demi cinta. Apapun akan gua lakuin demi orang yang gua cinta."
Seketika air mata Nifa jatuh tanpa Rama sadari. "Tapi aku ngerasa ndak pantes buat mas."
Mengernyitkan sebelah alisnya, dadanya merasakan getaran. Sepertinya ceweknya sedang terisak pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung ceweknya dengan lembut. "Lu pantes untuk gua, gak ada yang pantas di dunia ini untuk bersanding sama seorang Rama kecuali little princes Nifa. Jadi gak perlu ngerasa kayak gitu, lu amat sangat pantas untuk gua."
Nifa terkekeh dalam isakannya cowok ini selalu bisa mencairkan suasana. "Benarkah itu mas? Tapi kenapa mas memilihku sebagai yang pantas bersanding dengan mas."
"Karena gua cuma mau lu dan gak mau yang lain. Gua udah milih lu, itu artinya lu gak boleh pergi kemanapun harus tetep stay sama gua sampai maut yang memisahkan."
Melingkarkan tangannya keperut abs milik Rama, rasanya bergeronjal ia yakin Rama pasti sering berlatih untuk mendapatkan perut seperti ini. Berbeda dengan dirinya yang memiliki perut sedikit buncit seperti kue bolu. Entah kenapa rasanya tiduran dengan posisi seperti ini membuatnya nyaman, padahal sebelumnya ia sangat anti sekali berdekatan dengan laki-laki. Kecuali yang sudah dianggap keluarga. Tapi kini malah dirinya nyaman, bahkan ia tak menganggap bahwa Rama itu keluarga. Pandangannya terhadap Rama bukan pandangannya terhadap sosok Farid, ia memandang Farid sebagai sosok kakak laki-lakinya. Namun dengan Rama entahlah mungkin sebagai seorang pria. Sangking nyamannya Nifa sampai mulai terserang kantuk, wajar saja ini sudah pukul 1 malam. Ia tadi terbangun dan histeris karena mimpi buruk, untungnya Rama bisa menenangkannya tanpa bantuan medis disini. Perlahan kelopak matanya tertutup dan kesadarannya pun mulai terseret ke alam mimpi.
Rama sedikit mengangkat kepalanya dan menunduk untuk melihat ceweknya, ternyata ceweknya sudah tidur. Pantas saja tidak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut mungilnya itu. Ia membelai rambut ceweknya dengan lembut. Kondisi mental Nifa yang berubah-ubah terkadang membuatnya bingung. Kadang Nifa mendekat tanpa di perintah seperti saat ini, tapi kadang juga Nifa susah untuk di dekati dan berujung muntah-muntah. Sulit menerjemahkan kemauan seorang Nifa, tapi entah mengapa rasanya Rama tak boleh menyerah dan harus terus mendekatinya. Jika ini bisa bertahan sampai seterusnya maka ini adalah hal baik, itu tandanya sedikit mulai sedikit Nifa berangsur membaik. Tak terasa juga kantuk mulai menyerang dan pada akhirnya Rama tertidur sambil memeluk badan mungil Nifa seperti guling.
Sinar mentari pagi mulai mengusik masuk melalui celah-celah jendela. Nifa perlahan membuka matanya, terlihat seorang perawat masuk menyingkap korden yang ruangan Nifa.
Perawat itu sedikit malu-malu saat masuk dan mengetahui posisi tidur pasiennya. Pikirnya pasiennya ini adalah pengantin baru yang tak terpisahkan, tapi ia harus masuk untuk memberi vitamin dan obat melalui suntikan pada selang infus Nifa. Mendekati ranjang Nifa dengan ragu-ragu.
Nifa yang paham pun ingin bangkit dari pelukan Rama namun sulit, melihat wajah teduh dan damai Rama saat tidur ia jadi tidak tega untuk membangunkannya. "Kesini aja ndak apa-apa sus, lakuin apa yang mesti kamu lakuin. Maaf ya aku ndak bisa bangun dia terlalu kuat."
Perawat itu hanya mengangguk paham, kemudian mendekat melaksanakan tugasnya. "Nanti satu jam lagi saya datang lagi kesini untuk memberikan obat dan makanan ya."
Nifa mengangguk mengiyakan ucapan perawat itu. Setelah kepergian perawat itu Nifa mencoba membangunkan Rama namun tak kuncung bangun. Dengkuran halus masih terdengar yang menandakan Rama masih tertidur pulas. Benar-benar kebo cowok ini, tak habis pikir kenapa masih tertidur senyenyak ini padahal ia sudah mencubiti bahkan mengigit lengan Rama.
Sebenarnya Rama sudah terbangun sejak merasakan ada orang lain yang memasuki kamar inap ini. Dan ia tau perawatlah yang tadi masuk, tapi ia tetap berpura-pura tidur agar bisa memeluk ceweknya lebih lama. Rasa nyaman yang mengalahkan segalanya di dunia ini. Ia juga sengaja menahan agar tidak menjerit saat ceweknya mencubit dan menggigit lengannya. Rasa nyamannya mengalahkan segalanya.
Cup
Tiba-tiba sebuah kecupan ringan hinggap di bibir tebalnya, sudah dipastikan itu dari Nifa. Efek dari kecupan pagi yang datang tiba-tiba membuat Rama spontan membuka matanya. Tak percaya akan perbuatan ceweknya ini.
"Nah akhirnya bangun juga kebo bercula badak ini." Nifa memutar bola matanya sebal.
"Morning baby, kecupanmu membuatku tersadar dari mimpi yang indah. Tapi saat mendapatkan kecupanmu yang jauh lebih indah aku memutuskan untuk terbangun dari tidurku."
Menghembuskan nafas kasar. "Cepat bangun dan lepaskan aku mas, tangan dan kakimu terasa berat menindihku. Badanku rasanya sakit semua, lagi pula malu tadi ada perawat yang masuk dan ngelihat kita." Ucap Nifa, tiba-tiba pipinya terasa panas.
Rama terkekeh saat menyadari perubahan warna pada kedua pipi ceweknya, ia kemudian menurunkan tangan dan kakinya yang melingkar di badan mungil Nifa. Tapi Rama langsung bangun dan menindih badan mungil Nifa, membelai pipi merah merona milik ceweknya. "Bukannya ini bagus baby, kita seperti pengantin baru yang tak terpisahkan bukan? Seperti sedang di mabuk cinta." Smrik devil di tunjukkan kepada cewek dalam kungkungan di bawah tubuhnya.
Mendadak merinding jika cowok ini sudah menunjukkan senyum mengerikan itu maka tamat sudah riwayatnya. Menelan saliva kasar mungkin hari ini ia akan jadi santapan serigala lapar.
Nifa buru-buru menyingkirkan Rama dari atas tubuhnya sekuat tenaga, meski susah namun akhirnya berhasil.
Bangun berdiri dari ranjang kemudian berpindah kesofa. Setelah duduk di sofa Rama mengusap kasar wajahnya, aktivitasnya terganggu. Rama menatap tajam kearah perawat yang berjalan perlahan ke arah Nifa.
Tak sengaja perawat itu mencuri pandang pada Rama, ya siapa sih yang tidak ingin curi-curi pandang pada cowok seganteng Rama. Tapi sialnya ia malah mendapat sorot tatapan tajam yang menusuk dari cowok itu. Membuat nyalinya menciut takur, pasti suami dari pasiennya marah karena terganggu. Berjalan menunduk ketakutan kearah ranjang pasiennya. Memberikan obat serta memberi tahu aturan obatnya dan memberikan semangkuk bubur sebagai menu sarapan pasiennya. Kemuduan pamit untuk undur diri.
Nifa menjulurkan lidahnya mengejek kala melihat wajah frustasi Rama, Rama yang di ejek pun membalas dengan tatapan mata tajam kearah Nifa.
Terlihat Nifa hendak meminum obatnya tanpa memakan sarapannya terlebih dahulu, Rama yang melihat itu menghapiri dan mencekal lengan Nifa yang hendak memasukan obat itu kedalam mulut. "Makan dulu baru minum obat!"
Menggelengkan kepala tanda ia tak mau makan, apa-apaan itu bubur dengan bau yang tidak enak. Membuatnya tidak selera makan, justru ingim muntah. "Ndak mau mas aku ndak suka bubur, mas aja yang makan itu bubur."
"No no no lu harus makan, gak ada penolakan." Mengambil mangkuk bubur yang ada di nakas meja samping ranjang ceweknya.
Menggelengkan kepala, sembari menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Rama menghela nafas panjang, jika sudah seperti ini ceweknya sangat susah untuk diatur. "Ya udah lu maunya makan apa? Biar gua cariin asal lu mau sarapan."
"Beneran?"
Menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk princes mungilnya ini.
"Aku pengen sarapan roti buatan kakakku mas."
Mengernyitkan sebelah alisnya, kakak yang mana? Rama bahkan gak tau kalau Nifa memiliki seorang kakak. Sanak sodaranya pun Rama tidak tau karena Nifa gak pernah memberi taunya. "Emang lu punya kakak?"
Menganggukkan kepalanya, "Bahkan mas mengenalnya?"
"Siapa?" Jawab Rama penasaran.
"Tapi mas janji ya kalau aku kasih tau gak boleh kasih tau yang lain?" Menjulurkan jari kelingkingnya.
Rama mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil milik Nifa, rasanya penasaran aja setaunya Nifa hidup sendirian disini.
"Mas kenal Farid kan? Dia kakakku ya bukan kakak kandung tapi kami tumbuh besar bersama. Jadi kami sudah seperti kakak beradik kandung beneran."
Mengangakan mulutnya tak percaya, apa-apaan ini si Farid butut itu kakak dari pacarnya. Ah yang benar saja rasanya seperti mimpi.
"Mas jadi gak buat nyuruh kakakku bikinin roti bakar kesukaanku."
Rama tersadar karena tarikan pada ujung bajunya. "I-iya gua bakal telphone farid biar bawain rotinya kesini ya."
Nifa tersenyum senang, berbeda dengan Rama yang masih cengo tak percaya. Jadi jika Nifa menganggap Farid adalah kakaknya, otomatis nanti si Farid akan menjadi kakak iparnya dong? Wah ini gila sih. Pokoknya harus meminta penjelasan pada si Farid. Bagaimana bisa ia akan menjadi adik ipar dari seorang Farid yang jauh dari kata keren itu? seketika pening mulai melanda, kenyataan ini terlalu cepat di cerna oleh otak kecil seorang Rama. Sungguh mengerikan jika di bayangkan. Lalu apakah nanti ia harus memanggil Farid dengan sebutan kakak juga? sungguh menggelikan.