First Fall In Love

First Fall In Love
Unstable Emotional State



Pagi hari yang cerah secerah mood Nifa hari ini, sebelum pergi kekampus Melinda sengaja mengajaknya ke supermarket membeli banyak cemilan untuk nanti setelah selesai aktivitas, rencananya Melinda ingin mengajaknya nonton. Walaupun hanya dirumah saja tentu membuat Nifa senang karena tidak kesepian karena ada Melinda.


Nifa dan Melinda hendak memasuki kelas, tetapi langkahnya terhenti oleh tarikan di lengan Nifa. Jesika menarik lengannya kencang membuatnya hampir hilang keseimbangan tapi segera ditahan oleh Melinda.


“Wah wah kemana selama ini baru muncul, oh jangan-jangan abis nginep berdua ya? kali ini siapa lagi setelah Rama.” Jesika bersedekap dada memandang Nifa dengan tajam.


Nifa yang memang kondisi emosionalnya belum stabil pun saat ini terlihat mulai terpancing. Melinda yang melihat pun mengelus pudaknya pelan.


“Nif sabar tahan ya yuk kita pergi aja.” Bisik Melinda pelan.


Nifa menahan tangan Melinda yang mencoba menariknya. “Kenapa emangnya kalau aku sama Rama? Kamu iri ya tidak bisa mendapatkannya.” Nifa tersenyum devil terlihat menantang Jesika. “Bahkan sekarang kami sudah berpacaran, dan satu lagi aku tidak masuk lama karena kami sedang berlibur bersama keluarga Rama agar kami akrab.”


Jesika melebarkan kedua matanya tak percaya. “Apa?”


“Dasar penggoda!” Jesika mengangkat tangannya hendak menampar tapi dengan sigap Nifa menangkap tangan Jesika.


Nifa menghempaskan tangan Jesika kemudian melayangkan tangannya untuk menampar Jesika.


Plak


Plak


Dua tamparan mengenai pipi Jesika, membuat semua yang menyaksikan terkejut termasuk Melinda ia memandang Nifa tidak percaya. Pasalnya Nifa terkenal kalem dan lembut, jangankan untuk memukul orang di bentak saja sudah membuat matanya berkaca-kaca.


“Jangan pernah kamu mengangkat tangan kotormu untuk melukaiku, Karena aku tidak sudi seujung kuku pun kamu menyentuhku.” Nifa pergi memasuki kelas.


Melinda terkekeh kencang. “Gimana? Enak bukan rasanya. Haha itu pembalasan untuk orang gila sepertimu.”


“Bajingan kalian.” Jesika pergi dari hadapan Melinda sambil memegangi kedua pipinya, tamparan bocah kecil itu keras juga membuat sudut bibirnya sedikit berdarah.


Tanpa disadari ada orang ada orang yang diam-diam merekam dan memvideokan kejadian tadi. Menyebar luaskan di sosial media, membuat trending seketika. Berita tersebut cepat menyebar begitu saja, Bagas yang sedang bermain sosial media terkejut kala melihat berita tersebut.


“Oh jadi sekarang teman kita yang paling ganteng ini udah resmi pacaran, udah main liburan bareng keluarga juga ya Ram.” Ucap Bagas sambil mengunyah cemilannya.


Rama yang sedang menelungkupkan kepalanya di lipatan kedua tangannya pun terkejut kemudian mengangkat kepalanya. “Maksud lu apa?”


Bagas memberikan handponenya agar Rama melihat video yang baru saja ditontonnya. Mata Rama melebar terkejut kemudian wajahnya memerah, bibirnya membentuk lengkingan senyum yang indah. Sudah dua bulan Melinda tidak mengijinkan ia menengok Nifa dengan banyak ancaman juga yang membuat Rama menurut, dan sekarang ia mendapat kabar bahwa Rama di akui sebagai pacarnya tentu itu kabar yang membahagiakan.


“Itu beneran Ram?” Tanya Arga menatap Rama penuh atensi.


Farid hanya diam tidak bertanya sebab ia tau kebenarannya jika Nifa selama ini sakit penyakitnya kambuh, tapi juga heran kenapa malah membuat pernyataan bodoh yang akan membawanya pada petaka. Sebab pasti fans alay Rama tak akan tinggal diam dengan berita seperti ini.


“Tentu itu benar, gua dan Nifa kan saling mencintai.” Jawab Rama sambil tersenyum lebar.


Rama berdiri dan melenggang pergi, ia harus mendapat penjalasan pada Nifa. Hatinya sudah senang mulai hari ini karena secara tidak langsung Nifa sudah mengklaim bahwa Rama adalah pacarnya, maka sekarang Rama pula akan mengklaim Nifa sebagai pacarnya. Rama mengirimi pesan pada Melinda menanyai dimana keberadaan Nifa, karena jika Rama mengirim pesan pada Nifa pasti tidak akan dibalas. Setelah Melinda membalas bahwa Nifa berada dikantin, Rama segera melangkahkan kakinya untuk pergi kekantin.


“Hai sayang.” Rama merangkul bahu Nifa dan mengecup puncak kepala Nifa kemudian mendudukan diri disampingnya.


Nifa terkejut akan perlakuan Rama menatap tajam kemudian memukul bibir Rama. Tidak kencang tapi tidak juga pelan karena area bibirnya terasa sakit.


Rama menampilkan raut cemberut sembari mengerucutkan bibirnya. “Sayang kenapa sih, aku kan cium pacar aku sendiri.”


“Dasar gila gak ada yang sudi punya pacar sepertimu.” Nifa bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi.


Rama dan Melinda melongo melihat kejadian itu. Rama tak percaya cewek yang mengakui dirinya pacarnya memperlakukan hal seperti ini, sedangkan Melinda tidak percaya jika hari ini Nifa sudah memukul dua orang meskipun yang dilakukan kepada Rama tidak sekeras pada Jesika tadi.


“Sabar ya Ram hari ini Nifa memang lagi gak stabil, karena belum sembuh betul. Gua bakal ajak dia pulang sebelum ada kejadian lagi.” Melinda melangkah pergi meninggalkan Rama yang masih diam seperti orang bodoh.


Saat Nifa sedang berada di kamar mandi untuk membasuh mukanya, hari ini suasana hatinya berubah-rubah. Sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri, Nifa membasuh mukanya kemudian menatap cermin di depannya. Setelah selesai Nifa hendak keluar dari kamar mandi namun tepat saat membalikkan badannya Jesika dan gengnya memasuki kamar mandi.


“Oh, hay ada pacarnya Rama disini ternyata.” Ucap Flora selaku gengnya Jesika.


Jesika tersenyum miring kearah Nifa tangannya hendak menuangkan minuman yang di bawanya kearah Nifa. Namun dengan sigap Nifa menangkap tangan Jesika kemudian merebut minuman itu dan balik menyiramkan kearah Jesika.


“Apa! Kurang ajar banget ya lu.” Ucap Jesika dengan amarah.


Nifa melenggang pergi begitu saja tanpa mendengarkan umpatan dari mereka. Moodnya sedang tidak baik dan emosinya sulit di kendalikan, ia mengirimi pesan pada Melinda untuk membawakan tasnya karena Nifa sekarang sudah pergi menaiki bus meninggalkan kampus.


Saat sampai dirumah Nifa menutup pintu dengan kencang, air matanya menetes sebab emosinya tidak stabil. Nifa membanting beberapa barang-barang dirumahnya, serta membanting handponenya yang membuatnya bertambah stress sebab terus berbunyi. Berjalan menuju kedapur kemudian mengambil pisau kecil hendak mengiris urat nadi tangannya lagi.


“Hentikan Nifa!” Rama berteriak saat melihat Nifa sudah memposisikan pisaunya pada pergelangan tangannya. Berlari menghampiri Nifa merebut paksa pisau tersebut, merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


“Gua gak tau apa yang ngebuat lu selalu pengen bunuh diri begini, tapi percayalah bunuh diri tidak menyelesaikan masalah lu bisa cerita semuanya ke gua.” Rama mengelus punggung mungil Nifa, mencoba menenangkan walau Nifa selalu memberontak dalam pelukannya.


Huek…


Nifa muntah di dalam pelukan Rama yang otomatis mengenai dadanya, bajunya terasa basah dan hangat karena muntahan Nifa. Rama menjauhkan badan Nifa darinya, Nifa muntah lagi badannya bergetar hebat wajah serta bibirnya pucat pasi.


Tak berselang lama Nifa ambruk pingsan, Rama yang sedang mengelap bajunya di wastafel dapur terkejut mendengar suara seberti benda jatuh yang tersenggol oleh Nifa berbarengan dengan jatuhnya cewek itu.


“Shit! Udah gua duga pasti setelahnya bakal pingsan, bisa gak sih jangan hobi pingsan Nif.”


Rama menguap wajahnya kasar kemudian menggendong badan mungil itu menuju kamar, membaringkan dengan hati-hati.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Terus kalau gini gua harus apa coba, mana suhu badannya meningkat pula. Panas banget jidatnya, gua harus gimana bingung gak mungkin di kompres doang bisa sembuh nih bocah.”


Rama berjalan mondar mandir mengigiti kuku jarinya, khas dia saat sedang dirudung rasa gugup dan bingung. Akhirnya ia menemukan ide untuk menghubungi Melinda yang membuat Melinda yang berada entah dimana juga ikut merasa khawatir.


Melinda datang membuka pintu kamar Nifa terlihat Rama sedang mengompres jidat Nifa.


“Sumpah gua bingung harus gimana Mel, makanya gua nyuruh lu datang kita harus ngapain ini.” Rama menatap Melinda yang kini sibuk mengeluarkan isi tasnya.


“Lu bisa bantu gua Ram, tolong haluskan obat ini gua bakal periksa kondisi Nifa.”


Rama hanya mengangguk membawa obat yang tadi di berikan kepadanya, menghaluskan dengan cara di gerus dengan menggunakan gelas. Sedangkan Melinda memeriksa denyut nadi dan pernafasan Nifa, takut jika ternyata kondisinya seburuk waktu itu.


“Nih udah Mel, terus gimana?” Rama menyodorkan obat yang sudah di gerusnya kepada Melinda.


Melinda menerima obat yang sudah di haluskan kemudian menaruhnya ke dalam sendok, menuangkan air putih sedikit lalu membuka mulut Nifa dan memasukkannya. Setelah berhasil tertelan Melinda bernafas lega setidaknya mungkin obat itu akan menolong sahabatnya.


Rama melirik Melinda dengan kernyitan di dahinya. “Saki tapa sih sebenarnya Nifa itu? Kenapa selalu muntah ataupun pingsan setiap gua deketin.”


Menghela nafas pelan kemudian Melinda menggelengkan kepalanya. “Gua gak begitu paham tapi yang jelas dia akan bereaksi seperti itu jika mendekati atau didekati kaum laki-laki. Semuanya kok bukan cuma lu doang, mungkin dia punya masalalu kelam dia juga gak pernah cerita apa-apa ke gua. Kalau pun gua nanya dia selalu bilang gak ada apa-apa.”


Rama menghela nafas kasar mendudukan dirinya di kursi meja belajar Nifa, menelungkupkan kepalanya di antara lipatan tangannya.


“kalau lu mau pulang gak apa-apa Ram biar gua yang jagain Nifa disini.”


Rama mengangkat kepalanya kemudian menggeleng. “Gak gua bakal tungguin Nifa sadar, lu ada sesuatu yang bisa gua pakai gak? Baju gua basah tadi gua cuci gara-gara kena muntahan Nifa dan sekarang gua kurang nyaman make baju basah begini.”


“Bentar gua cariin baju di lemari Nifa kayaknya Nifa punya baju oversize deh.” Melinda berjalan kearah lemari baju mencarikan baju untuk Rama.


Menyodorkan baju berwarna pink kepada Rama. “Gua Cuma nemuin ini Ram, ini baju Nifa yang paling besar. Ya lu tau sendiri badannya minimalis.


Rama melebarkan kedua matanya. “lu gila? apa-apaan warnanya pink lagi, geli banget.”


“Berisik lu, terserah lu mau make apa gak adanya itu. Kalau lu gak mau ya udah pake aja baju basah lu itu”


Rama merebut kasar baju yang di sodorkan Melinda kearahnya, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Rama mandi menggunakan sabun dan sampo milik Nifa, seketika ingatannya tertuju saat pertama kali bertemu dengan bocah itu. Aroma strawberry yang memabukkan membuatnya candu dan ingin terus berdekatan dengan cewek itu.


Setelah mandi dan memakai pakaian Rama keluar dari kamar mandi, Melinda yang melihat Rama memakai baju Nifa tertawa terbahak-bahak.


“Gila Ram lucu banget haha, padahal tuh baju menurut gua udah gede banget soalnya kalau Nifa yang make bisa selutut gitu tapi pas lu yang make malah ketat banget.”


Rama memutar bola matanya malas meladeni Melinda. “Diem lu, gua udah frustasi make baju ini. Udah warnanya pink gambarnya princes begini, tertekan gua tuh.”


Melinda terus tertawa sampai mengeluarkan air matanya, tak menyangka idola kampus yang selalu terlihat cool saat ini terlihat seperti anak-anak yang menggemaskan.