First Fall In Love

First Fall In Love
Always Dodge



Nifa tersadar dari pingsannya, menggeliat menatap sekitar. Tunggu... ada tangan melingkar di perutnya. Apa ia sedang halusinasi? Atau masih dialam mimipi? Mencoba berpikir dengan benar.


Tiba-tiba terasa ada yang menggeliat disampingnya. Spontan Nifa menarik selimut yang menutupi dirinya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Rama tidur disampingnya dengan melingkarkan tangannya di perutnya. Nifa mencoba meraih kesadaran penuh sambil mencubit pipinya pelan. Ini nyata tidak mimpi! Nifa menendang badan Rama dengan keras. Alhasil badan Rama terjatuh kebawah.


“Arrgh! Lu apa-apaan sih! Gak tau terimakasih banget. Udah gua selametin juga. Heh, bocah kalau bukan karena gua lu mungkin udah mati. Lu semalem demam gua bolak balik ganti air panas dalam baskom itu buat kompres lu!”


Rama mengelus pinggangnya yang terasa sakit. Kuat juga tuh bocah padahal badannya kecil, Rama melihat Nifa dengan tatapan tajam.


Nifa membalas tatapan Rama tak kalah tajam. “Aku lebih memilih mati dari pada mas yang jadi penyelamatku!” Bangkit dari tidurnya, Nifa mengambil roket nyamuk. “Pergi dari sini cepat, atau akan aku hantamkan roket nyamuk ini ke mukamu!” Nifa berbicara dengan nada tinggi terlihat marah.


Rama langsung bergegas berdiri saat melihat roket nyamuk itu dinyalakan. Berjalan setengah lari keluar, takut jika roket itu beneran akan menghantam dirinya. Nifa mengikuti dari belakang, saat di depan pintu keluar Nifa melemparkan hoodie hitam milik Rama.


“Jangan pernah mencariku! Jangan pernah mengikutiku atau pun menemuiku! Aku muak melihatmu. Pergi dari hadapanku.”


Menutup pintu dengan kencang membuat Rama terkejut. Hatinya berdenyut ngilu tidak pernah dia di perlakukan seperti ini oleh perempuan.


Di balik pintu tubuh Nifa merosot begitu saja, menangis kencang sambil menjambak rambutnya sendiri. Depresinya kambuh ini tidak akan mudah untuk dikendalikan.


Rama mendengar tangisan di barengi oleh jeritan frustasi. Berjalan mendekat kearah pintu menempelkan telinganya pada pintu. “Nifa maafin gua, gua gak ngelakuin apapun kok. Soal ciuman itu… gua minta maaf. Itu cara gua menyalurkan rasa gua ke lu. Tapi gua gak nyangka kalau lu malah jadi gini.” Rama sangat menyesal menundukkan kepala, masih berdiri di depan pintu rumah kontrakan Nifa.


“Pergi dari sini, aku ndak ingin melihatmu lagi pergi!” Nifa menangis histeris memilukan.


“Nifa tenang iya gua bakal pergi. Tapi gua gak akan nyerah buat deketin lu.” Rama melangkah pergi menaiki mobilnya.


Sudah satu minggu Rama mencari keberadaan Nifa tapi tidak ada dimanapun. Rama juga bertanya pada Melinda, tapi Melinda juga tidak mengetahuinya. Mencari di perpustakaan tempat yang sering dikunjungi Nifa pun tidak ada. Rama juga bertanya pada salah satu dosen yang mengajar Fisioterapi, tapi tidak ada hasil Rama benar-bernar merasa frustasi.


Tiba-tiba bahunya di tepuk oleh seseorang membuat Rama menolehkan kepala. “Kenapa Rid?”


“Lu yang kenapa, kagak pernah masuk kelas, kagak ada keterangan. Lu kenapa sih, gua kan jadi repot mau kasih alasan apaan kedosen.” Farid menoyor kepala Rama pelan.


Diam tak merespon atau pun membalas toyoran dari Farid. Rama merasa galau dan tidak berminat untuk melakukan apapun.


Menghela nafas kasar kemudian menggelengkan kepalanya. “Ayo duduk disana gua tau apa yang bikin lu begini.”


Hanya menuruti perkataan Farid tanpa berniat mengeluarkan suaranya. Mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan. Farid melirik Rama dengan ujung matanya tanpa berniat menghadap kearahnya.


“Lu suka sama Nifa kan Ram? Saran gua lu lupain dia.”


“kenapa?” Menoleh kearah Farid secepat kilat. “Lu suka sama Nifa juga Rid?”


Menoyor kepala Rama lagi. “Ganteng-ganteng tapi kepala lu kosong ya Ram. Gak mungkin lah gua suka sama dia, pokoknya lu harus jauhin dia kalau lu gak mau kecewa.” Bangkit dari duduknya meninggalkan Rama begitu saja.


“Dasar aneh!”


Melamun lagi, memikirkan bagaimana caranya agar menemukan Nifa. Seketika teringat Nifa kan bekerja di caffe om Herman. Rama berjalan ke parkiran menuju mobilnya. Mengendarai mobilnya menuju caffe om herman. Tapi setelah sampai om herman mengabari jika Nifa sudah tidak masuk kerja selama seminggu lamanya tanpa keterangan.


Memantapkan dirinya Rama mengetuk pintu kontrakan Nifa. Sudah ketukan ke lima tapi tidak kunjung mendapatkan respon.


“Nyari siapa Nak?”


Tiba-tiba ada suara di belakang Rama. Spontan membuatnya menengok kebelakang ternyata itu seorang Ibu-ibu sedang menggendong anak.


“Saya nyari teman saya yang tinggal disini Bu, apakah Ibu tau?”


“Oh, neng Nifa ya? Dia sudah pindah kemarin. Saya juga gak tau deh pindah kemana. Soalnya keliatan buru-buru banget.”


“Gitu ya Bu, ya udah makasih saya pamit pamit dulu Bu.”


Cewek itu seperti menghindarinya sejak kemarin. Kemana perginya sampai-sampai rela pindah segala. Segitu burukkah dirinya dimata cewek itu? Sehingga selalu menghindar ketika di dekati.


Rama menyerah untuk mencari Nifa sebab sudah dua minggu menghilang. Keluar dari mobil menuju kelasnya. Sebenarnya malas untuk pergi kekampus tapi ia tidak mau jika sampai mengulang semester. Itu akan menjadi hal buruk baginya. Saat sedang menatap sekitar tak sengaja bola mata Rama menemukan presensi seseorang. Terlihat Nifa sedang berjalan kearah gedung jurusannya bersama Melinda. Rama bergegas menghampiri dengan langkah besar agar cepat sampai.


“Nifa!”


Nifa dan Melinda spontan menghentikan langkahnya. Rama berjalan menghampiri sampai di depan kedua cewek tersebut.


“Gua pengen ngomong sama lu bisa?” Terengah-engah karena tadi Rama berlari setelah memanggil Nifa.


“Aku ndak punya waktu Mas.”


Setelah mengucapkan itu Nifa berlari kencang menghindari Rama. Saat Rama hendak mengejar pergelangan tangannya di tahan.


“Jangan memaksanya Ram biarkan saja.”


Melinda menatap kearah Rama dengan tatapan memohon. Membuat Rama menghela nafas kasar kemudian melepaskan tangan Melinda.


“Lu tau berapa lama gua nyari dia? Dua minggu Mel dan sekarang lu malah nyegah gua.”


“Dengerin gua Ram, Nifa gak suka dipaksa. Semakin lu maksa semakin dia berontak. Deketin dia dengan cara halus, jika dia menghindar biarkan saja lu dekatin dia di lain waktu lagi. Karena jika lu terus-terusan maksa, maka dia akan semakin ketakutan sama lu.”


Melinda melenggang pergi meninggalkan Rama. Benar juga apa yang dikatakan Melinda, mulai sekarang Rama harus mengubah strateginya untuk mendekati Nifa.


Saat sedang berada di kantin Rama melihat di bangku ujung terdapat Nifa dan Melinda. Rama bergegas membeli minuman kemudian menghampiri Nifa. Duduk begitu saja tanpa permisi membuat Nifa terkejut.


“Hai apa kabar kalian.”


“Ingat Ram jangan dikejar.”


Melinda memperingati Rama lalu berjalan meninggalkan kantin. Membuat Rama terlihat frustasi.


“Sialan!” Umpat Rama kemudian menengkulupkan kepalanya pada lipatan tangan.


Tepat pukul sebelas siang Rama menuju perpustakaan. Bukan untuk membaca buku tentu saja. Mana mau seorang Rama membuang waktunya hanya untuk membaca. Membosankan, Dia hanya ingin mencari Nifa sebab kata Melinda Nifa selalu ke perpustakaan pukul sebelas. Katanya itu sudah menjadi rutinitas Nifa sambil menunggu pukul satu sebelum pergi ke caffe untuk bekerja.


Rama menatap kanan dan kiri mencari Nifa. Ternyata cewek itu berada di pojokan pantas saja susah dicari. Sudah kecil di pojokan menyusahkan saja tapi juga menyenangkan. Melihat wajah damainya saat membaca buku membuat Rama semakin terpesona.


“Hai, boleh aku duduk disini?”


Mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang bertanya. Saat melihat itu Rama, segera mungkin Nifa bangkit dari duduknya. Berjalan pergi keluar perpustakaan, Rama hanya diam tidak mengejar ia teringat pesan Melinda untuk bersabar.


“Sendirian aja? Gua boleh duduk sini gak? Gua bakal duduk dibangku ujung ini kok.”


Rama bertanya kepada Nifa yang sedang duduk di belakang gedung jurusannya sendirian. Tapi lagi-lagi Rama hanya mendapat balasan kepergian Nifa begitu saja.


“Cukup sudah gua bersabar. Sekarang tidak ada lagi Rama penyabar.”


Rama menyeringai seperti devil. Berjalan kekelasnya ia akan merencenakan sesuatu. Jika sabarnya tak membuahkan hasil maka cara lain akan membuahkan hasil.


Rama mengendarai mobilnya kearah caffe om Herman. Tentu tujuannya adalah Nifa, dunianya sudah dipenuhi oleh Nifa tanpa sisa.


“Wah wah keponakan Om tumben kesini. Pasti mau cari pujaan hatinya.”


om Herman tersenyum menggoda kearah Rama. Membuat Rama jadi salah tingkah.


“Tapi Ram, gadismu itu kemarin dua minggu tidak bekerja.” Menatap Rama tajam. “Kamu tidak berbuat macam-macam kan Ram? Kalau sampai kamu menghamilinya om gak akan segan untuk mematahkan lehermu.”


Terkejut bukan main perkataan omnya membuat Rama melebarkan matanya. “Rama masih waras Om. Tapi kalau Rama ditinggalkan olehnya mungkin menghamili bisa dijadikan jalan.” Rama terkekeh dengan senyum jahilnya.


Om Herman menjitak kepala Rama membuat Rama mengaduh. “Jangan ngawur kamu awas saja!”


“Om ih sakit tau! Ya gak mungkin lah Rama begitu.” Rama mengelus kepalanya yang terjitak. “Om Rama izin bawa Nifa ya, Om tau kan anak muda kalau sedang kasmaran ingin berdua terus.”


Menghela nafas panjang anak ini pasti susah ditolak. “Baiklah tapi jangan macam-macam.”


“Siap Om.”


Nifa sedang mencuci piring dengan teliti. Namun tiba-tiba ada tangan melingkar di perut membuatnya sangat terkejut.


“Gua gak akan lepasin sebelum lu setuju ikut gua.”


Rama semakin mengeratkan tangannya di perut Nifa. Nifa risih, rasanya mual dan badannya lemas seketika.


“O-oke lepasin.”


Rama melepaskan pelukannya kemudian menarik tangan Nifa. Melajukan mobilnya dengan kencang berhenti di parkiran apartemennya.


“Kenapa kesini? Aku masih ada pekerjaan di caffe.”


Menatap Nifa lekat kemudian melepas safety belt. Mencondongkan badannya kearah Nifa. Membuat Nifa ingin muntah menahan tangannya di dada Rama.


“Tolong buka pintunya.” Nifa memelas menatap Rama.


Menyeringai menatap cewek yang ada di depannya. “Kenapa gua harus buka pintunya?”


Membekap mulutnya dengan tangan kirinya. Rasanya pusing, Mual, dan lemas. “Ram aku mau muntah, tolong buka pintunya.”


Tangan Rama mengambil plastik hitam di dalam tasnya menyodorkan pada Nifa. “Pake ini buat muntah, gua gak akan lepasin lu kali ini.”


Nifa merebut plastik itu dengan cepat memuntahkan isi perutnya. Rama yang melihat itu menahan mual. “Lu tuh kenapa sih mabok naik mobil?”


Menggelengkan kepala sambil kembali muntah di plastik itu. Rama mengambil plastik ditangan cewek itu membuangnya melalui jendela mobil. Persetan akan membuat kotor tempat ini.


“Emang gua bau ya? sampe bikin lu selalu pengen muntah.” Tanya Rama dengan dahi mengernyit, karena setaunya ia sudah menyemprotkan banyak parfum. “Atau lu gak suka bau parfum gua?”


Menggelengkan kepala dengan lesu. Menyandarkan kepalanya pada tempat duduknya, memejamkan matanya tenaganya rasanya tersedot habis. “Jangan mendekatiku ataupun kontak fisik denganku, kamu akan menyesal mas aku penyakitan jauhi aku.”


Menatap tajam kearah Nifa. “Gua gak peduli lu penyakitan atau apapun. Gua suka sama lu gua gak akan ngejauhin lu, jangan ngehindari gua lagi atau gua akan melakukan hal yang gak-gak ke lu.”


Membuka matanya terkejut. “Apa yang membuatmu menyukaiku Mas?”


“Menyukai seseorang tak perlu alasan. Intinya kalau lu sampai ngehindarin gua, gua bakalan narik lu paksa dan cium lu di tempat umum.” Ucapan Rama penuh penekanan. Ia benar-benar akan melakukan hal itu jika cewek itu selalu menghindarinya lagi.


Memakai safety belt nya lagi kemudian melajukan mobilnya. “Gua anter lu balik tunjukkan jalan kerumah lu.”


Ada yang kepo gak sebenernya Nifa tuh sakit apa sih sampai kayak gitu. Yuk stay terus tunggu kelanjutannya ya, jangan lupa like dan komen biar semangat buat next


salam manis dari author ❤