
Sinar matahari menembus celah-celah ventilasi dan jendela yang terbuka, seorang gadis menggeliat kala merasa silau. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka menatap langit-langit kamar. Seperti asing dan ada aroma obat-obatan, refleks mengedarkan pandangannya. Terkejut kala di samping kanannya terdapat seorang lelaki sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi sambil memegang tangannya, dan ada seorang perempuan sedang tertidur di sofa ruangan ini.
Nifa mencoba melepaskan tangannya yang di pegang oleh Rama, pergerakannya sangat pelan namun membuat Rama menggeliat dan membuka kedua matanya terkejut.
“Nifa lu udah sadar? Tunggu sebentar jangan kemana-mana, gua panggilin dokter dulu.”
Rama bergegas keluar ruangan dan berteriak-teriak memanggil dokter
Selang waktu lima menit seorang dokter dan dua perawat memasuki ruangan Nifa, dengan membawa beberapa perlengkapan untuk mengecek kesehatannya.
“Apa ada keluhan yang dirasakan saat ini?” Tanya dokter
Nifa hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
“Anda keluarga pasien?” Tanya dokter sambil menatap kearah Rama.
Rama menganggukan kepalanya. “Saya suaminya dok.” Jawabnya sambil tersenyum jahil kearah Nifa.
Nifa mendelik kearah Rama menggelengkan kepalanya, baru saja bangun sudah di buat pusing oleh Rama.
“Bisa ikut saya? Kita bicara di luar.” Dokter itu melangkah keluar yang segera disusul oleh Rama.
Saat diluar ruangan dokter itu memegang bahu kiri Rama. “Saya harap anda bisa menjaga istri anda lebih baik lagi, kondisi mentalnya sudah sedikit membaik. Pantau terus perkembangannya dan pastikan selalu rutin meminum obat.”
Setelah berkata itu dokter itu pamit pergi, menyisakan Rama yang kebingungan. Sebab setaunya Nifa memang sedang mengalami masalah akan trauma masalalunya itu kata Melinda. Tapi tak disangka bahwa sampai memengaruhi mentalnya, Rama merasa khawatir, ia harus mencari tahu ada apa sebenarnya dengan cewek itu.
Rama memasuki ruangan, terlihat Melinda yang sedang menyuapi makanan pada Nifa. Mereka berdua seperti ibu dan anak terlihat sangat serasi di tambah Melinda yang memiliki wajah boros dan Nifa yang memiliki wajah irit.
“Tiga suap lagi dong Nif, lu baru aja makan sesuap.” Melinda menyodorkan suapan lagi tapi Nifa menggelengkan kepalanyaa.
“Biar gua aja Mel biasanya kalau yang nyuapi orang ganteng bikin semangat makan.” Rama merebut mangkok bubur ditangan Melinda.
Menggelengkan kepala sambil melototkan kedua matanya kearah Rama. “Aku udah kenyang Mas.”
Rama menyeringai kearah NIfa. “Makan atau suamimu ini akan menciummu.”
Nifa memutar bola matanya jengah akan ancaman Rama, selalu saja memberikan ancaman di setiap Nifa tidak mau melakukan sesuatu.
Melinda yang mendengar itu terkejut sontak melebarkan kedua matanya. “Kapan lu nikahin Nifa main sebut suami-suami aja, gila lu Ram mungkin memang benar kata Bagas kalau otak lu sebesar biji kacang.” Melinda menjitak kepala Rama pelan.
Mengelus kepalanya. “Lu yang gila setan! Waktu itu aja si Nifa ngakuin gua pacarnya. Otomatis sebentar lagi gua bakal lamar pacar gua ini dong, ya kan sayang?”
Nifa menggelengkan kepalanya ia gugup teringat kejadian dimana dirinya mengakui Rama sebagai kekasihnya di depan Jesika. Itu hanya perkataan spontannya saja sebab emosinya kala itu tidak stabil, tapi tak disangka ada yang memvideo dan menyebarkannya.
“Itu juga karena Nifa dalam keadaan terdesak, mana mau Nifa sama cowok gak ada otak kayak lu.” Melinda terkekeh menatap Rama.
Begitulah mereka berdua jika bertemu selalu saja ada pertengkaran membuat Nifa yang baru saja sedikit membaik menjadi sakit lagi rasanya.
“Stop! aku pusing mendengar kalian berantem, Mas bisa tolong aku?” Nifa menatap kearah Rama dengan tatapan memohon.
Menganggukkan kepala kemudian tersenyum lebar. “Of course baby, apapun permintaanmu pacarmu ini akan memenuhinya.”
Menghela nafas pelan, menyampirkan anak rambut ke telinganya. “Lupain isi video yang menyatakan bahwa aku dan Mas berpacaran, aku ndak bermaksud apa-apa Mas karena waktu itu aku terbawa emosi.”
“Tidak bisa baby, secara tidak langsung sejak saat itu kita berpacaran. Dan mulai saat ini status kita berpacaran tidak ada penolakan.” Rama tersenyum devil.
“Mana bisa gitu tolol lu Ram.” Melinda menoyor kepala Rama dari belakang.
Rama menaruh mangkuk bubur disamping nakas tempat tidur Nifa, bangkit berdiri menatap Melinda. “Ya bisalah secara Nifa sendiri yang ngakuin kalau gua pacarnya, jadi kita sekarang resmi pacaran dong.”
Dan pertengkaran terus berlanjut membuat Nifa memijit pangkal hidungnya, kepalanya berdenyut luar biasa pusing rasanya.
“Ssstttoooppp!” Teriak Nifa agar kedua temannya diam.
Mereka berdua refleks berhenti berdebat, menatap kearah Nifa dengan tatapan tajam.
“Aku pusing kalau mendengar kalian ribut, jika kalian masih ingin ribut tolong keluar aku ingin istirahat.” Nifa mengganti posisinya yang semula duduk bersandar menjadi tiduran sambil menarik selimutnya sampai kepala.
Keesokan harinya Nifa di perbolehkan pulang namun Melinda tidak bisa menemani sebab katanya sepupunya dari Sulawesi datang berkunjung. Jadi hanya Rama yang menemani, awalnya Nifa menolak namun lagi-lagi mendapat ancaman jika Rama akan menciumnya membuat Nifa menurut saja.
Sesampainya di rumah kontrakan Nifa, Rama langsung menyuruh Nifa istirahat dikamarnya. Hanya menurut saja agar Rama tidak berbuat yang tidak-tidak. Apalagi hanya ada mereka berdua di rumah ini membuat Nifa bergidik ngeri kemudian masuk kedalam kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat kemudian membaringkan dirinya di ranjang.
Rama berkutat di dapur dengan bahan dan peralatan memasak, niatnya ia ingin membuatkan Nifa sup agar dapat mempercepat pemulihannya. Itu kata mamanya kala dulu Rama sakit Mamanya selalu membuatkannya sup. Tapi yang jadi masalah ia tak tahu bagaimana cara membuatnya.
“Apa gua telpon mama aja ya minta di bimbing cara bikinnya.”
Rama memutuskan untuk menelepon mamanya agar membimbingnya membuat sup.
“Halo Ram tumben nelpon kenapa?”
“Ma ajarin dong caranya bikin sup, soalnya teman Rama lagi sakit. Biasanya kan kalau Rama lagi sakit terus makan sup buatan Mama, bikin Rama ngerasa pulih lagi.”
“Teman apa teman tuh, pasti cewek ya pasti itu pac-“
Rama memotong ucapan mamanya dengan cepat. “Teman rasa pacar Mah, udah sekarang ajarin Rama ya.”
“Tapi kamu mesti janji satu hal sama Mama.”
Rama memutar bola matanya malas, pasti akan aneh-aneh permintaan Mamanya. “Ya apa cepetan Ma.”
“Setelah ini kamu harus ajak pacar kamu itu buat ketemu Mama, karena Mama mesti tau dong perempuan seperti apa yang sudah dengan hebatnya membuat pangeran Mama ini bisa jatuh cinta kepadanya.” Terdengar suara terkekeh Mamanya di sebrang telepon.
“Iya-iya Ma, sekarang cepetan ya.”
“Haha okay kita mulai sekarang.”
Rama terus megikuti instruksi dari mamanya, setelah matang Rama mematikan teleponnya. Memasukkan masakannya kedalam mangkuk kemudian menaruhnya di ruang tamu yang ada mejanya. Karena Nifa tidak memiliki meja makan, berjalan kearah kamar Nifa kemudian mengetuk pintunya.
“Sayang ayo makan gua udah siapin makanan.”
Nifa terbangun dari tidurnya karena gedoran di pintu kamarnya cukup kencang. Bangun berdiri membuka pintu mengucek kedua matanya saat ada di depan Rama membuat Rama gemas ingin memangsanya.
“Aku masih ngantuk Mas, mending Mas aja yang makan aku belum lapar.”
“Gak bisa baby gua udah capek-capek masakin ini buat lu. Dan lu harus makan gak ada penolakan.” Tersenyum miring. “Atau kalau lu mau gua makan, gimana?”
Nifa melebarkan kedua matanya, Rama ini cukup horror baginya. “I-iya ayo makan.”
“Biar gua aja yang suapin.” Rama mengambil mangkuk yang hendak diambil Nifa.
Menggelengkan kepalanya. “Aku bisa makan sendiri kok Mas.”
“Gak ada penolakan baby atau kal-“
“Okay!” Nifa dengan cepat memotong perkataan Rama bosan mendapat ancaman darinya.
Rama meniup sesendok sup agar tidak panas saat memasuki mulut Nifa. Setelah di rasa sudah tidak panas Rama menyuapkannya pada Nifa, dan segera di terima untuk masuk kemulutnya. Nifa mengunyah sup itu dengan ekspresi bingung.
“Mas nambahin berapa sendok gula dan garam?”
Rama menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Gak inget gua lupa, emangnya kenapa?”
“Gak apa-apa sih cuma rasanya manis.” Nifa tersenyum canggung menampilkan gigi gingul kecilnya.
Rama refleks mencicipi supnya, dan benar saja rasanya manis. Rama mengambil tisu di meja itu kemudian mengeluarkan sup yang ada didalam mulutnya.
“Gua asal masukin aja bumbunya, gua kira itu garam soalnya sama-sama halus. Duh... gak usah dimakan aja gua bakal keluar buat beli makanan.”
Nifa menahan lengan Rama yang hendak berdiri, kemudian mengambil mangkok yang ada ditangan Rama. “Gak perlu Mas ini aja gak apa-apa, rasa manis bisa mengembalikan energi.”
“Tapi kan it-“
Nifa memotong perkataan Rama kemudian tersenyum. “Dulu ibuku pernah bilang kita harus menghargai sesuatu yang di berikan orang lain kepada kita. Apalagi jika orang itu sudah membuatnnya dengan usahanya sendiri.” Nifa memakan supnya.
Rama menatap Nifa dengan tatapan tak percaya, ia beruntung menyukai gadis sebaik Nifa. “Gua juga akan makan, tunggu gua ambil supnya dulu.”
Rama mengambil sisa sup di dalam panci menaruhnya kedalam mangkok kemudian berjalan menghampiri Nifa. Mereka berdua makan dengan tenang, Rama sebenarnya ingin muntah tapi sebisa mungkin ia tahan dan tetap memakannya. Nifa saja bisa menghargai hasil karyanya masa dirinya sang pembuat tidak bisa.
Nifa sudah menghabiskan supnya kemudian bangkit untuk mencuci mangkuknya. “Lain kali biar aku saja Mas yang masak, bukan apa-apa tapi kasian pasti Mas capek. Aku juga takut jika tiba-tiba rumah ini terbakar karena Mas.” Nifa terkekeh membuat Rama cemberut.
Memang sih dapur Nifa sekarang berantakan seperti kapal pecah, Rama lupa untuk merapikannya kembali. Karena pikirnya semakin cepat selesai maka semakin cepat juga perut Nifa bisa terisi.
Rama berjalan kearah Nifa yang sedang mencuci beberapa perlengkapan memasak yang tadi di pakai Rama.
Memeluk perut Nifa dari belakang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kanan Nifa. Mengendus aroma strawberry yang melekat di badan Nifa, membuatnya merasa candu.
Nifa menghentikan aktivitasnya kemudian mencuci tangannya dan mencoba melepaskan tangan Rama yang melingkar di perutnya. Tapi sayangnya Rama terlalu kuat untuk di lepaskan, Nifa memuntahkan isi perutnya yang membuat Rama refleks melepaskan pelukannya.
Rama mengusap kasar wajahnya. “Sial! Selalu aja begini, mau romantis dikit aja susah.” Gumam Rama
“Mas mending pulang aja ini udah malem, Mas pasti butuh istirahat.”
Rama tidak menjawab moodnya buruk sekarang, berjalan meninggalkan Nifa. Mengambil kunci mobilnya dan jaket yang ada di sofa berjalan keluar rumah kemudian pulang ke apartemennya.
yuhuuu author balik lagi jangan lupa like komen dan tekan tombol favorit ya. aku sayang kalian yang baca cerita ini hehe ❤ salam manis dari author cantik 🤗