First Fall In Love

First Fall In Love
She Is Sick



Sinar pagi memasuki kamar dimana tempat seorang cewek tengah tertidur dengan nyenyaknya, badannya menggeliat kala sinar mentari pagi menghampiri kelopak matanya. Mengusik tidurnya yang terasa nikmat, ia ingin tidur lebih lama lagi karena entah kenapa badannya terasa bereaksi aneh.


Perlahan membuka mata kemudian bangkit bersandar di sandaran ranjang, menatap sekitar seperti tidak asing tempat yang kini di tidurinya. mencoba mengingat-ingat kamar milik siapa ini.


Melebarkan kedua mata bulatnya saat mengingat kamar milik siapa ini, mencoba menyadarkan dirinya dengan cara mencubit tangannya sendiri. "Aw sakit, berarti ini nyata aku tidak sedang bermimpi. Kenapa bisa aku berada disini." Seingatnya sewaktu habis dari restoran ia kembali masuk kedalam mobil. mungkin saja ia tertidur kemudian Rama tidak tega membangunkannya lalu membawanya kemari.


Menyibakkan selimutnya hendak menuju kamar mandi, tetapi belum baru saja satu kakinya menyentuh lantai pandangannya tiba-tiba kabur, kepalanya terasa berputar, serta rasa mual yang tidak bisa ditahan. Hingga akhirnya memuntahkan isi perutnya di samping ranjang. Badannya lemas tidak sanggup berjalan menopang badannya sendiri. Suhu tubuhnya mendadak berubah panas, terasa sangat panas atau mungkin hanya perasaannya saja? Mungkin begitu pikirnya. Mencoba lagi berdiri untuk membersihkan bekas muntahannya, dan berhasil namun baru dua langkah badannya mendadak kehilangan keseimbangan lalu terjatuh, lambat laun pandangannya mulai kabur dan menghitam dan kesadarannya mulai menghilang.


Disaat yang bersamaan Rama datang dengan membawa satu kresek makanan untuk pujaan hatinya sarapan, namun alangkah terkejutnya saat melihat ceweknya jatuh ambruk dan pingsan. Rama bergegas menghampiri Nifa yang tergeletak tak berdaya, menggendongnya dan menidurkannya kembali ke atas ranjang. Rasa khawatir, panik, serta kebingungan kini melanda Rama. Ia tak tau mesti menghubungi siapa untuk di mintai tolong haruskah dokter umum atau tante Riana saja. Sebab di lihat ada bekas muntahan yang di perkirakan pelakunya adalah Nifa. Bisa jadi penyakitnya sedang kambuh atau entah kondisi mentalnya memburuk. Dan akhirnya Rama memutuskan untuk menghubungi tante Riana agar dapat memeriksa kondisi Nifa.


"Ini buruk Ram, boleh tante bertanya sesuatu padamu?"


Rama menganggukkan kepala, rasanya bibirnya kelu hanya untuk menjawab kata 'iya'. Sebab sedikit khawatir terhadap kondisi ceweknya yang tiba-tiba berubah. Padahal seingatnya semalam cewek itu baik-baik saja.


"Apakah benar kalian berpacaran berdasarkan saling menyukai dan mencintai? Atau hanya kamu saja Ram?" Menatap keponakannya dengan tatapan intens dan menyelidik.


Rama yang mendapatkan tatapan seperti itu jadi gugup, rasa khawatirnya menjadi bertambah intonasinya. "Kenapa nanya kayak gitu sih tan, memangnya kenapa coba?"


menghela nafas panjang, padahal kemarin baru saja di jelaskan bagaimana kondisi Nifa. Apakah benar rumor yang beredar bahwa keponakannya ini ganteng tapi bodoh. "Aish bocah ini kan udah gua kata Nifa itu punya pobia aneh. Jadi lu gak boleh maksain kehendak dia kecuali memang dia sendiri yang cinta ke lu." Menoyor kepala keponakannya karena gemas, ternyata ia memiliki keponakan bodoh sungguh miris.


"Aduh tante apa-apaan sih main toyor-toyor aja sakit tau." Mengelus kepalanya yang telah di toyor tantenya ini. "Ya awalnya emang Rama yang maksa karena Rama merasa ketertarikan yang luar biasa sama Nifa. emangnya itu berpengaruh ya tan?"


"Tante rasanya gak puas hanya menoyor lu sekali Ram. Mulai sekarang agak jauhi Nifa, saat ini kondisinya sepertinya sedikit tidak labil. Emosionalnya sedikit meningkat. Jadi lu harus jauhi Nifa sementara."


Terkejut dengan perkataan tantenya Rama melebarkan kedua matanya, terkesan melotot karena sangat terkejut. "Apa-apaan tante ini main nyuruh-nyuruh buat jauhin pacar Rama. Asal tante tau ya Rama ini sehari saja gak bertemu Nifa itu rasanya mau sakaratul maut."


"Jangan lebay deh ini demi kebaikan Nifa!" Meninggikan sedikit nada bicaranya, sebab kesal menghadapi keponakannya ini.


"Aaaaaaaaaaa... jangan mendekat ampun-ampun aku mohon jangan lepaskan."


Rama yang hendak menjawab perkataan tantenya dengan tak kalah kesal, terhenti karena teriakan Nifa yang tiba-tiba.


Keduanya bergegas menghampiri Nifa yang berada di kamar Rama. Karena sejak setelah memeriksa kondisi Nifa tante Riana dan Rama memutuskan untuk berbincang di ruang tamu yang terletak di bawah. Keduanya lari menghampiri Nifa dengan kecepatan penuh, takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Saat telah memasuki kamar Rama, Nifa terlihat mengenaskan beberapa barang di kamar Rama di lempar kesana kemari. Kamar Rama menjadi seolah kapal pecah yang baru saja kerampokan. Nifa terus menjerit histeris meracau tidak jelas dan terus berusaha menghalau siapapun yang hendak mendekat.


Namun tante Riana dengan gesit mengambil suntikan dari dalam tasnya dan mencoba mendekati Nifa dengan perlahan-lahan. setelah sudah dekat tante Riana menyuntikan obat penenang agar Nifa tidak mengamuk dengan tiba-tiba. Dan ya setelah suntikan itu selesai di suntikkan, Nifa langsung terkulai lemas dan terjatuh perlahan memejamkan mata tanda kesadarannya mulai menghilang.


"Cepat gendong dia kembali keranjang." Perintah tante Riana.


"Siapin mobil sekarang, setelah selesai menyuntikkan ini kita pergi kerumah sakit. Cepat sebelum Nifa kembali sadar karena dosis obat ini hanya bertahan satu jam saja, sedangkan perjalanan kerumah sakit butuh waktu 50 menit dari sini."


Perintah dari tante Riana langsung di setujui oleh Rama. Rama menggendong Nifa menuju depan apartemen dengan tergesa-gesa karena kata tante Riana jika Nifa sadar dan bangun sebelum sampai rumah sakit akan sangat merepotkan. Karena pasti Nifa akan kembali mengamuk tidak jelas lagi. Dengan kecepatan penuh Rama melajukan mobilnya, tante Riana sempat bilang jangan ngebut tapi Rama tidak memperdulikannya. Yang terpenting hanya satu Nifa.


Sesampainya di rumah sakit Nifa langsung dibawa menuju UGD tempat rehabilitasi ini. seorang perawat mencegahnya masuk, karena katanya untuk keamanan bersama. Bagaimana bisa aman jika pujaan hatinya tengah di dalam memperjuangkan hidup dan matinya.


Perlahan air matanya jatuh, tak pernah ia menangisi seseorang semenjak perpisahan kedua orang tuanya. Ini kali pertama Rama kembali bisa menangis.


"Gimana kondisi Nifa Ram?" Kehadiran serta suara Melinda membuatnya terkejut, Rama memang sengaja menyuruh Melinda datang karena suruhan dari tantenya. Katanya hanya Melinda yang tau cara menenangkan Nifa jika sudah bertingkah aneh.


Menghapus air matanya yang membasahi wajahnya, Rama kemudian menggelengkan kepalanya. "Gua juga gak tau Nifa tiba-tiba begitu kenapa dan mengapa, yang gua tau semalem dia masih baik-baik aja."


"Kan udah gua bilang jangan maksain kehendak Nifa! Tapi lu ngeyel terus, sekarang kondisi Nifa pasti memburuk, pokoknya kalau terjadi sesuatu sama Nifa lu harus tanggung jawab." Melinda terlihat murka memandangi Rama yang hanya diam itu berarti menabg mesalagan Rama.


"Iya kalau Nifa kenapa-kenapa gua yang jamin, nyawa gua pun bakal gua kasih asal itu untuk Nifa." Rama mulai meneteskan air matanya lagi, perasaannya menjadi hancur kala mengetahui penyakit pacarnya. Orang yang selalu ingin di dekati ternyata memiliki pobia takut berdekatan dengan lawan jenis.


Melinda menghela nafas panjang, perasaannya kalut tiga hari sahabatnya itu tidak mengabari sekalinya mengabari malah mendapat kabar buruk seperti ini. Kemudian ikut duduk di samping kiri rama menunggui dokter keluar dari pintu itu.


selang waktu hampir dua jam dokter Riana keluar dari ruangan UGD. Spontan Rama dan Melinda menghampiri dokter Riana bersamaan. Mereka diarahkan agar masuk kedalam rungan pribadi dokter Riana. Hanya menurut saja dan ikut mengekor di belakang saling menyalahkan, mereka selalu begitu jika di persatukan. Pasti ada aja tindakan gila mereka berdua.


"Jadi gimana keadaan pacar Rama tan?" Rama memulai pembicaraan lebih dahulu setelah berada di dalam ruangan dokter Riana.


Menoleh kearah Rama kemudian menjitak kepala Rama, seenaknya saja mengklaim sahabatnya jelas-jelas Nifa terpaksa. "Apa lu bilang? Pacar? Gak salah denger gua ya, lu tau Nifa mau sama lu tuh karena terpaksa. Orang normal juga ogah kali pacaran sama lu."


Mengelus kepalanya yang terkena jitakan Melinda, cukup kencang juga cewek sialan ini tenaganya. "Lah emang Nifa pacar gua, buktinya dia fine-fine aja tuh sama gua. Gua bucinin dia juga dia fine aja." Melotot kearah Melinda.


"Itu karena terpak-"


"Syuuuuuttt diam kalian ini kenapa sih, lihat Nifa sedang sakit sempet-sempetnya kalian berdebat? Kalian ini anak kuliahan atau anak tk huh?" Mengelus keningnya, pusing setiap kali melihat Rama selalu berulah dimanapun itu. Keponakannya ini selalu kekanak-kanakan.


Mereka berdua langsung terdiam kala mendapat gertakan dari dokter cantik di depannya. Keduanya kini menundukkan kepala tanda bahwa mereka merasa amat bersalah.


"Sudah berantemnya?" Tanya dokter Riana


Keduanya hanya mampu menganggukkan kepala saja tanpa berani mengangkat kepala. Sebab dokter Riana jika sudah menggunakan nada tinggi dalam berbicara sangat mengerikan, seperti binatang buas yang ingin segera mencabik-cabik mangsanya.