First Fall In Love

First Fall In Love
Rain



Rintikan hujan yang terus berjatuhan membuat aroma aspal menguar. Ini hal yang paling di sukainya, hujan membawa sebuah anugrah dan dengan datangnya hujan ini membuat moodku semakin membaik. Aroma serta suara rintikan air yang jatuh menjadi favoritnya, tapi sayang yang tidak ku sukai dari sebuah hujan adalah hadirnya suara petir. Seperti suara tanda kehancuran sesuatu menggelegar dan mengerikan.


Nifa meringkukkan badannya dibawah kolong meja caffe. Menyesal tidak menerima tawaran Nisa untuk pulang bersama menggunakan motor meticnya. Sekarang nasibnya malah buruk saat sedang menengadahkan tangannya untuk bermain air hujan di depan caffe, tiba-tiba petir dengan suaranya yang menggelar membuatnya takut.


Badannya mengigil karena ketakutan menatap sekitar, sudah sangat sepi. Pemilik caffe yang notabenya adalah omnya Rama sudah pulang sejak siang tadi karena anaknya sakit.


Tangannya gemetaran kala mendengar suara petir muncul berkali-kali air matanya menetes begitu saja.


Tangannya bergerak mencari kontak untuk dihubungi agar bisa menolongnya. Berkali-kali dirinya menghubungi Melinda tetapi tak mendapat balasan apapun. Karena tangannya gemetaran tanpa di sadari ia telah memencet panggilan pada kontak seseorang.


“Halo Nif kenapa?” Suara Rama terdengar serak pasti baru saja tertidur di kelas seperti biasa.


Nifa terkejut kala mendengar suara dari handphonenya, matanya melebar kala melihat namanya adalah panggilan yang terhubung dengan Rama. Tidak ada pilihan lain selain meminta pertolongan kepada Rama. Sebab hujan mulai bertambah deras serta angin kencang dan petir yang semakin menjadi-jadi.


“Mas tolong aku, aku… ada di caffe, ku mohon Mas.” Berucap dengan nada bergetar, membuat Rama khawatir.


“Jangan kemana-mana tunggu gua di situ okay.”


“Iya mas.” Nifa memutuskan sambungan telponnya.


Tiga puluh menit kemudian Rama datang setelah menembus hujan lebat serta angin kencang. Netranya menjelajah caffe mencari presensi bocah mungilnya namun tak terlihat dimanapun.


“Nifa lu dimana.” Meninggikan nada bicaranya.


Nifa terkejut kala mendengar namnya di panggil, keluar dari tempat persembunyiaannya. Rama yang melihat Nifa keluar dari salah satu kolong meja terkekeh pelan.


“Lucu banget sih.” Gumam Rama.


“Mas aku disini.” Berdiri gemetar raut ketakutan kentara jelas di wajahnya.


Duuuaaarrrr


Kencangnya suara petir membuat Nifa refleks berlari kearah Rama kemudian memeluknya kencang. Rama terkejut akan serangan yang mendadak, hampir saja tubuhnya limbung kebelakang kalau saja tidak berpegangan pada salah satu kursi.


Rama mengelus bahu Nifa lembut mengecup puncak kepala gadisnya. “Jangan takut ada gua di samping lu.”


Menganggukkan kepalanya. “Mas bawa aku pergi dari sini.” Nadanya melemah.


“Tapi jarak dari caffe ini ke rumah lu cukup jauh. Bukan gak mau nganterin tapi bahaya banget hujannya deras, kalau kita maksa bakal membahayakan diri kita. Gimana kalau ke apartemen gua.”


“Kemanapun asal jangan disini Mas aku takut.” Nifa terisak pelan badannya sudah lemas karena ketakutan.


Duuuuaaaaarrrr


Nifa semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Rama. Membuat jantung Rama seperti lari maraton ini pertama kalinya Nifa memeluknya.


“Emm btw gimana caranya kita jalan kalau lu meluk gua mulu baby. Ayo lepasin biar kita cepat sampai.”


Menggelengkan kepalanya sambil terisak kecil. “Gak mau Mas, aku takut.”


Mengelus dagunya mencoba mencari akal. Rama melepas paksa pelukan erat Nifa setelah berhasil ia berjongkok kemudian mengalungkan kedua tangan Nifa di lehernya, mengangkat tubuh Nifa menggendongnya seperti koala. Nifa hanya menurut menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Rama.


Rama sedikit berlari agar sampai pada mobilnya, menembus hujan lebat. Ia membawa Nifa kedalam pangkuannya sambil menyetir. Sebab ketika ia membuka pintu sebelah tempat duduk disamping pengemudi Nifa menolak.


Dengan terpaksa Rama menyetir sembari memangku Nifa, sebenarnya posisi ini menguntungkan Rama namun ia kesusahan menyetir. Walaupun Nifa mungil tapi badannya sedikit berisi tidak berat hanya sesuatu di bawahnya sedikit berontak akibat benda kenyal diatasnya.


Rama membelah lebatnya hujan di jalan ia menyetir dengan kecepatan pelan, sedikit susah menyetir dalam posisi seperti ini. Tidak ingin membuat celaka jadi opsi ini yang diambil Rama. Lagi pula kapan lagi ia bisa seperti ini dengan Nifa, jangankan berpelukan berdekatan saja Nifa sudah mual. Rama merasakan nafas teratur dari Nifa, tidak berani membangunkan bocah mungil itu kemudian Ram memutuskan untuk menggendong seperti koala menuju kamar apartemennya.


Pelukan kedua tangan mungil Nifa ternyata kencang juga padahal sedang tertidur. Rama bingung bagaimana cara membaringkan Nifa di ranjangnya. Dengan terpaksa Rama berbaring membiarkan Nifa tidur diatasnya kemudian menarik selimut menggunakan kakinya untuk menyelimuti badan keduanya. Posisi nyaman yang membuat Rama ikut mengarungi alam tidur.


Sinar matahari memasuki jendela membuat Nifa merasa terganggu kemudian membuka matanya. Betapa terkejutnya saat mendapati ia tidur diatas badan Rama, Nifa mendongakkan kepalanya menatap wajah Rama. Wajahnya begitu damai saat tertidur berbeda saat tidak sedang tidur sangat menyebalkan.


“Sudah puas memandangi wajah tampanku baby.” Perlahan membuka matanya.


Sebenarnya Rama sudah bangun dari tadi sengaja memajamkan matanya saat merasa tubuh diatasnya menggeliat.


Nifa terkejut saat mendengar suara dan mata Rama yang tiba-tiba terbuka. Refleks mendudukan badannya, masih diatas badan Rama.


“Ahh sh.it! Baby.” Erang Rama.


Nifa tidak sengaja bergerak tanpa sadar membuat Rama langsung membalik tubuh Nifa, jadi si cewek mungil yang gantian di bawahnya. Rama mengukung Nifa yang berada di bawahnya, menyampirkan anak rambut ke telinga Nifa.


“Lu sengaja ya bikin adik gua bangun hum.” Tersenyum menyeringai.


“Mas punya adik disini? Duh maaf ya Mas aku gak tau. Biar aku bantuin nenangin adiknya Mas, sekarang adik Mas ada di kamar mana.”


Rama menatap Nifa dengan senyum menyeringai begitu polosnya ceweknya ini. “Lu yakin mau bantuin adik gua biar tenang?”


Nifa hanya menganggukan kepalanya, Rama dengan cepat menciumi Nifa membabi buta. Nifa terkejut dengan perlakuan Rama yang tiba-tiba, tetapi tetap diam tidak merespon tangannya meremas seprai. Rama yang sudah terbakar api gairah di pagi hari semakin ganas.


Mengigit bibir bawah Nifa agar terbuka dan berhasil kemudian secepat mungkin lidahnya menyusup masuk mengabsen deretan gigi kecil Nifa. Tangannya tak tinggal diam, mencoba meraba dua bukit kecil, membuat sang empunya terkejut refleks tak sengaja mendesah membuat Rama kian brutal.


Meneteskan air mata dan meronta, tapi sulit. Tetiba telpon Rama berbunyi membuatnya tersadar, menjauhkan badannya mengusap wajahnya kasar.


“Nif maafin gua, gua gak bisa ngontrol diri gua.”


Nifa hanya diam menarik selimut sebatas dadanya, merapikan bajunya yang telah di singkap keatas oleh Rama. Menangis terisak kemudian menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya. Rama yang mengerti jika ceweknya akan muntah pun kemudian menunjuk kamar mandi di sebelah kiri. Setelah Nifa keluar kamar mandi. Rama hendak langsung mengantarkan Nifa pulang.


Bangkit dari tidurnya setelah merapikan dirinya yang berantakan, melangkah keluar kamar dengan derai air mata. Dirinya kacau selalu di lecehkan oleh Rama tanpa sebab.


Pernafasannya sudah mulai menipis rasanya sangat sesak, raut mukanya berubah ketakutan, badannya sudah gemetar hebat seperti menggigil dan suhu badannya sudah berubah. Rama terus mengejar langkah cepat Nifa tapi gagal cewek itu berlari kencang membuka pintu dan keluar.


Saat di depan apartemen Rama, ia mencari taksi untuk di tumpanginya namun keinginannya terhenti kala melihat seseorang menghampirinya.


“Nifa lu ngapain disini?” Tanya seseorang sambil menepuk pundak kiri Nifa.


Nifa menoleh kemudian berhambur memeluk Siska sambil terisak. Siska terkejut akan tindakan temannya yang tiba-tiba memeluknya sambil menangis.


Mengelus punggung mungilnya. “Gua gak tau lu kenapa dan mengapa, ayo gua anter pulang. Tapi gua bisanya nganter pake taksi soalnya motor gua lagi rusak.”


Nifa hanya mengangguk, mulutnya bergetar tak mampu mengucapkan apapun barang sekata saja. Siska bingung dari sedari tadi hingga masuk kedalam taksi temannya ini selau diam saat ditanyai. Sesampainya di rumah Nifa segera masuk dengan cepat tanpa menghiraukan panggilan dari Siska. Pintu rumahnya segera di kunci rapat olehnya, tak peduli di luar temannya sedang menggedor pitunya.


Kacau dan berantakan itu yang menggambarkan kondisinya saat ini. Bayangan tentang masalalu kelamnya silih berganti berdatangan dalam ingatannya.


Potongan-potongan kisah kelam memasuki rongga ingatannya, membuatnya menangis kencang menjambak rambut kepalanya dengan kedua tangannya. Nafasnya mulai menipis, kulit putihnya sudah berubah menjadi merah, ia muntah-muntah tanpa henti. Kaki mungilnya melangkah kearah kamar mencari obat di dalam laci nakas kamarnya. Meminum obat dengan brutal sedikit demi sedikit ia mendapatkan ketenangan.


Air mata jatuh begitu saja, memikirkan hidupnya yang sedari dulu selalu menderita. Sekarang di tambah penyakitnya yang kian hari kian memburuk. Bahkan sudah pernah merasakan pengobatan rehabilitasi, benar-benar kacau sekarang hidupnya.


Merasakan semesta tak pernah adil terhadapnya ‘kenapa harus aku yang selalu merasakan paitnya kehidupan?’.


Saat mencoba menenangkan diri suara pintu di gedor lagi, tapi kali ini bukan cuma Siska ada suara Melinda juga. Dengan terpaksa ia bangkit berdiri dan menuju pintu utama rumahnya. Sebenarnya badannya masih lemas efek dari obat tersebut pun membuatnya sedikit terserang kantuk. Namun apa boleh buat, jika pintu tak dibuka maka pintu itu akan dirusak oleh dua cewek brutal itu.


Nifa membuka pintu yang langsung mendapat jeweran di telinga kiri, siapa lagi pelakunya kalau bukan Melinda.


“Aduh aduh… ampun Mel sakit.”


Melinda menyeretnya masuk kedalam rumah. “Demen banget ya bikin orang khawatir. Lagian lu kenapa gak bukain Siska pintu dasar anak nakal.” Mencubit perut Nifa.


Demi apapun cubitannya serasa bisa ular yang mematikan, mungkin perut Nifa nanti akan membiru. “Iya maaf aku terlalu terburu tadi lepasin.” Nifa melepas paksa jewerannya dan berhasil.


Siska terkekeh kala melihat wajah Nifa yang memelas seperti anak kucing. “Lu ngapain Nif ke daerah apartement gua?”


Nifa melebarkan kedua matanya tiba-tiba di serang gugup, meremas ujung bajunya. Itu kebiasaanya ketika gugup dan membuat Melinda menatapnya sambil melotot menandakan meminta kejujuran.


Menghela nafas pelan, jika seperti ini ia tak akan mampu berbohong. Kemudian bercerita tentang kejadian kemarin waktu hujan di caffe sampai kejadian di apartement Rama.


“Maaf ya gua waktu itu lagi tidur gak denger lu nelpon gua.” Menudukkan kepala Melinda merasa sangat bersalah.


Siska mengepalkan kedua tangannya kala mendapatkan penjelasan dari temannya. “Lain kali kalau Melinda gak angkat telpon lu, jangan sungkan buat minta bantuan gua Nif. Kita sahabat kan kita udah lama sama-sama gini. Gua yang bakal kasih pelajaran buat Rama, ini gak bisa dibiarin namanya memanfaatkan keadaan apalagi lu polos banget orangnya.”


Nifa memeluk Siska dari samping ia bersyukur, walau hidupnya merasa di ujung kematian namun ternyata semesta masih sudi memberikannya orang-orang yang peduli dengannya. Melinda yang melihat dua sahabatnya berpelukan pun ikut bergabung.


“Gimana kalau malam ini kita nonton bareng di rumahh gua. Tapi sebelum itu kita belanja cemilan yang banyak.”


Nifa dan Siska menganggukkan kepalanya, kemudian ketiganya keluar rumah menaiki mobil Melinda menuju supermarket setelah itu pulang kerumah Melinda.


jangan lupa like, komen dan favorit ya... salam manis dari author cantik 😅❤