
Rama pov
Kenalin nama gua Rama Ardelard, gua mahasiswa jurusan Olahraga. Sedikit cerita gua adalah mahasiswa paling populer di kampus ini. Karena paras gua yang tampan menjadi incaran cewek-cewek di kampus ini. Ya secara gua blasteran indonesia-jerman. Tapi sayangnya dari banyaknya cewek yang ngejar gua tetap aja gua gak tertarik sama salah satu dari mereka.
Gua melihat Bagas berjalan sambil menenteng botol minumnya.
“Ram kantin yok.”
Nah ini salah satu temen gua namanya Bagas Saputra. Dia yang paling banyak makan diantara kami, selalu ngajak makan apapun kondisinya. Karena menurut dia, makan adalah kebahagiaan utama dalam hidupnya.
Arga mencubit perut buncit Bagas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Makan mulu lu ndut, otak lu emang isinya makan doang!”
Kalau yang ini namanya Argantara Ridwan Edi Pratama. Ya namanya mirip rel kereta api, eits... jangan salah dia paling pengertian diantara kami. Selalu bisa memberikan solusi disaat kita punya masalah apapun. Bisa dibilang dia konsultan kami.
Farid terkekeh melihat ekpresi si Bagas yang kesakitan, saat perutnya di cubit sama Arga.
“Dia kalau gak makan sejam aja mungkin pingsan Ar.”
Namanya Farid Ramadhan. Temen gua yang satu ini mirip emak rempong, apa-apa dikomenin ribetlah pokoknya, tapi di balik itu semua dia baik kok.
Sayup-sayup gua dengar keramaian dari arah belakang ketika gua dan temen-temen gua sedang duduk di tengah lapangan sehabis mata kuliah basket. Sontak membuat kita berempat kaget spontan melototkan kedua mata.
Gua menelan saliva kasar saat melihat itu, segerombolan fans alay gua. Berlarian kearah kita, sambil membawa handuk dan minum. Pasti tujuan mereka untuk di kasih ke gua.
Gua menghela nafas kasar frustasi melihatnya.
“Arrrghh sial kenapa sih mereka selalu ngejar-ngejar gua!”
Farid yang melihat gua menunjukkan ekspresi frustasi berat, malah tertawa kencang.
Sialan!
“Makanya Rama muka lu jangan kegantengan.”
Gua menatap tajam kearah Farid kemudian mengumpat. “Sialan lu!” Gua bangkit berlari menghindari cewek-cewek alay itu. Sebelum gua berakhir mengenaskan dengan cakaran atau cubitan gemas dari mereka.
Gua terus berlari tanpa menghiraukan teriakan Arga, Bagas, dan Farid yang memanggil-manggil nama gua. Ketika gua melewati koridor jurusan medis tanpa sengaja menabrak cewek mungil. Gua gak sengaja karena gua terlalu panik dalam berlari, lagi pula dia terlalu pendek gua gak ngelihat.
Tapi tunggu...
Posisi kita membuat gua tertegun gua jatuh menindih badan kecilnya. Dan sialnya, cewek dibawah gua ini kenapa membuat gua gak bisa berhenti menatapnya. Sorot tatapan tajam bulat dengan iris hitam pekat, hidung dan bibir mungil, serta aroma strawberry yang menghampiri penciuman gua. Oh, astaga gua rasanya candu. Apalagi ditambah detakan jantung gua yang entah kenapa berdetak kencang.
Cewek itu terus melebarkan matanya memandangi gua kemudian berkata. “Heh, tolol! Cepat pergi dari atasku. Kamu ndak tahu diri badanmu besar seperti hulk! Cepat menyingkirlah. Sebelum tak penggal kepalamu!”
Saat mendengar suaranya yang imut dan lembut, serta logat jawa yang kental. Membuat gua merasa gemas kemudian gua tersenyum devil untuk menjahilinya. “Kalo gua gak mau gimana?”
“Cepat bodoh!” Gua melihat ekspresi cewek itu seperti menahan sesuatu. Sehingga wajahnya memerah dan badannya sedikit bergetar.
Gua bisa merasakan badan cewek itu seperti menggigil menimbulkan kernyitan heran di dahi gua. Ah, mungkin dia grogi secara kan gua ganteng.
Gua tersenyum miring menatap kedua bola mata bulatnya yang bagai sihir candu. “Heh, bocah berani-beraninya lu-“
“Huek huek” belum sempat gua menyelesaikan omongan gua. Tetapi tiba-tiba cewek yang berada dibawah tindihan gua menyemburkan muntahan tepat diwajah ganteng gua yang membuat gua refleks bangun dari atas tubuh cewek itu.
“Lu gila ya arkh!” Ringis gua dan mengusap wajah gua yang terkena muntahan.
Ketika gua membuka mata, hendak memaki cewek itu dia sudah gak ada. Ini adalah kesialan pertama yang pernah gua alami karena biasanya, kalo gua ketemu cewek maka cewek itu akan langsung heboh. Tapi lihat cewek itu malah memberikan muntahan. Untung tidak ada yang melihat.
Rama datang dengan baju basah kedalam kelas, sambil memasang wajah menahan emosi yang siap meledak kapan saja. membuat aura yang mengerikan mengelilingi tubuhnya.
Arga yang melihat itu memandang heran kearah Rama. “Kenapa lu Ram? Perasaan kita gak ada mata kuliah renang hari ini, kenapa lu basah gitu?”
Rama yang moodnya sedang buruk semakin jengkel mendengar pertanyaan Arga. “Diem lu kagak usah banyak bacot!” Umpatnya. Setelah itu Dosen datang membuat semua diam tidak membalas umpatan Rama.
Setelah keluar dari kelas, tiba-tiba Bagas merengek. Meminta mampir dulu ke caffe karena lapar. Jika sudah begini pasti kita tidak bisa menolak. Karena malas mendengarkan suara melengking bagas yang terdengar menjijikan. Mungkin kalau yang merengek itu seorang cewek, pasti terdengar menggemaskan. Beda cerita jika yang merengek seorang cowok yang memiliki badan besar kelihatan menggelikan.
Dengan terpaksa Rama menghentikan mobilnya disebuah caffe. Mereka memilih tempat duduk paling ujung untuk mendapatkan ketenangan.
Seorang waiters dengan suara lembut bercampur logat jawa bertanya. “Permisi mau pesan apa Mas?”
Rama yang sedang memainkan handphonenya mendongakkan kepala ketika mendengar suara yang dikenalinya. Membuat Rama menatapnya dengan senyum devilnya yang membuat cewek itu merubah ekspresinya menjadi terkejut.
“Gua mau pesen spageti satu, ayam bakar satu, cake rasa strawberry, minumnya-“ Belum sempat Bagas menyelesaikan pesanannya tiba-tiba Rama menyeret tangan cewek itu. Yang membuat ketiga temannya menatap terkejut. “Woy Ram, lu mau bawa cewek itu kemana? Gua belum selesai mesen!” Teriakan Bagas yang menggelegar diabaikan begitu saja oleh Rama.
Rama terus menggeret cewek itu menuju ruangan pemilik caffe dengan tergesa. Kemudian mengetuk pintu pemilik caffe itu, dengan pelan setelah yang didalam menyuarakan untuk masuk. Mereka kemudian masuk kedalam ruangan tersebut.
Cewek itu meringis kala di rasa tangannya terasa nyeri. “Lepasin tanganku!” Menarik tangannya dari genggaman tangan Rama. Seketika dia mengelus pergelangan tangannya yang terasa ngilu karena cengkraman pada pergelangan tangannya.
Lelaki berumur sekitar 40an yang duduk sambil mengetik sesuatu di laptopnya itu spontan menatap kearah pintu masuk dengan tatapan terkejut.
"Wah Rama tumben sekali datang kesini. Kenapa membawa salah satu pegawai kemari?”
Dengan senyum mengembang, kemudian Rama menghampiri Om Herman dan memeluknya untuk melepas rindu karena lama tidak bertemu. Om Herman ini adalah adik dari mamahnya, sekaligus pemilik caffe.
“Ini Om, Rama mau izin untuk bawa pacar Rama pergi. Boleh kan Om? boleh ya boleh ya.” Rama memohon dengan muka memelas.
mendengar rengekan Rama seketika membuat mata bulat cewek itu melotot dengan horror. “Apa itu tid-“
Belum sempat cewek itu berkata Rama sudah memotong perkataannya.
“Gak apa-apa sayang jangan malu-malu dia Om ku. Jadi gak usah malu untuk memberi tahukan hubungan kita. Ya kan Om?” Kata Rama dengan senyum miringnya.
Om Herman menatap Rama dan Nifa bergantian kemudian berucap dengan nada menggoda. “Oh, jadi Nifa ini pacar kamu Ram? Wah om baru tau, pinter juga kamu cari pacar yang masih muda unyu-unyu gitu.”
Seolah mengerti maksud perkataan Om Herman. Rama melotot terkejut dikira seorang pedofil oleh Omnya sendiri.
“Om dia walaupun kecil tapi udah umur 20an. Jadi Rama bukan pedofil ya!” Kata Rama dengan tatapan tajam.
Om Herman terkekeh. “Haha ok, Om hanya bercanda. Ya udah Nifa kamu boleh ikut Rama, gak usah kesini lagi besok aja kesini lagi.”
Nifa terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Tapi pak saya buk-“
Lagi-lagi perkataannya di potong oleh Rama membuat Nifa menatap tajam kearah Rama.
“Udah gak apa-apa sayang kan udah diizinin ayok.” Rama dengan senyum kemenangan di wajahnya. Kemudian menggandeng tangan Nifa dan menyeretnya paksa masuk ke dalam mobilnya.
“Heh kamu ini edan atau gendeng toh! Kenapa membawaku dan ngaku-ngaku kalau aku ini pacar kamu! Kamu kehabisan obat atau gimana? Aku bahkan ndak kenal kamu lho!” Kata Nifa dengan emosi dan badan yang sudah gemetaran. Bisa di tebak sebentar lagi penyakitnya pasti kambuh.
Rama hanya diam, memandang Nifa yang berusaha membuka pintu mobilnya. Badan Nifa lemas wajahnya pucat.
“Heh! Budek yo kamu itu. Cepet buka!” Kata Nifa lirih.
Rama melihat Nifa dengan dahi berkenyit. Kenapa Nifa terlihat lemas, berkeringat, dan gemetaran. Muka Nifa terlihat merah seperti tomat padahal Rama tidak melakukan apapun padanya. Rama hanya ingin membuat Nifa bertanggung jawab atas kejadian tadi siang.
“Aku mohon cepat buka pint-“ Seketika Nifa ambruk pingsan kepalanya jatuh tepat dipangkuan Rama, membuat Rama melotot kaget.