First Fall In Love

First Fall In Love
One Room For Two



“Mas apa ndak sebaiknya kita tidur malam ini? Soalnya kan udah malam lagi pula besok kan kita harus kuliah.” Nifa menahan mual karena Rama terus memeluknya dari belakang sembari mengendusi lehernya. Seperti vampire yang hendak menghisap darah membuat bulu kuduknya meremang.


Menghentikan aksi mengendus aroma strawberry favoritnya kemudian menggelengkan kepalanya. “Gua masih betah begini aja dulu.”


“Ndak Mas aku pegel pengen rebahan tidur.” eluh Nifa dengan cepat.


Menghela nafas panjang, sedikit kesal karena aktivitasnya terganggu. Tapi ia kasihan dengan ceweknya yang menopang badan besarnya.


“Okay ayo kita tidur.” Rama menggandeng tangan Nifa memasuki kamar.


Puk...


Rama mendorong pelan badan Nifa keranjang. Ya mungkin bagi Rama itu dorongan ringan tapi lain lagi dengan Nifa yang memiliki ukuran mini.


Melebarkan kedua mata bulatnya saat ia di dorong ke ranjang dengan sedikit kencang, kemudian perlahan Rama menindihnya. “Mmas mau ngapain?” Badannya mengigil bergetar.


Tersenyum menyeringai lucu juga muka ceweknya ini Rama hanya ingin menjahilinya saja. “Mau honeymoon lah apa lagi. Ini malam pertama kita kan sayang.” Mulai mendekatkan wajahnya pada wajah milik cewek mungil di bawahnya ini.


Jantung Nifa terasa ingin melorot sampai keperut bawah. Menelan saliva dengan kasar, ini horror dan menyeramkan. “Mmaksud Mas apa? Honeymoon untuk pengantin baru, sedangkan kita bahkan belum menikah.”


“Ya udah kita nyicil dulu honeymoon dulu baru besok paginya menikah.” Tersenyum jahil.


“Ndak ma-“


Cup


Rama mencium bibir Nifa di sertai pagutan panas. Serangan tiba-tiba dari Rama membuat Nifa kaku di tempat, tidak tau harus bagaimana yang jelas kini jantungnya terasa berdetak lebih cepat.


Semakin jauh ciuman Rama yang hanya dilakukan sepihak tanpa ada balasan dari Nifa. Sehingga ia menghentikan aktivitasnya, ia tersadar pasti ceweknya itu ketakutan jika ia benar-benar melakukan hal itu.


“Gua gak akan ngelakuin apapun kecuali lu yang minta buat gua terobos.” Mengecup kening ceweknya sembari menyampirkan beberapa anak rambut ketelinga ceweknya.


Menghela nafas lega, syukurlah malam ini tidak jadi santapan harimau. “Ookay jadi apakah sekarang Mas bisa turun dari atas badanku? Badan Mas terlalu berat.”


Terkekeh sambil beranjak menjauh dari tubuh cewek mungilnya. “Ya udah berhubung ini sudah malam jadi ayo tidur.”


Nifa menganggukkan kepalanya kemudian membenarkan posisi tidurnya serta menarik selimut. “Mas mau ngapain?” Menatap heran Rama karena cowok itu tiba-tiba ikut naik keranjangnya.


“Tidurlah apalagi.” Menggidikkan kedua bahunya kemudian tiduran di samping Nifa serta menarik selimut sampai sebatas dada.


“Maksudku kenapa Mas tidur disini juga, bukankah ini kamar untukku? Oh atau aku salah kamar? Ya udah ndak apa-apa biar aku cari kamar lain.” Hendak beranjak dari ranjang.


Menangkap pergelangan tangan Nifa. “Gak ada kamar lagi gua dulu yang minta semua kamar di kunci dan jangan di bersihkan. Kecuali kamar ini, karena ini kamar gua. Gua cuma gak mau aja keinget kenangan dulu jadi ya gua sengaja ngunci semua kamar.” Menatap cewek mungil itu sembari menyipitkan kedua matanya. “Kalau lu gak percaya cek aja sendiri, lagian gua gak akan ngapa-ngapain lu kan udah gua bilang tadi.”


Menghela nafas berat, apalagi ini? Menyesal juga telah mau diajak kemari. Dengan berat hati ia kembali merebahkan diri di samping Rama. Mengambil guling dan menaruhnya di tengah-tengah dirinya dan Rama. “Ini pembatas Mas gak boleh melewatinya.” Ancam Nifa dengan tegas.


Rama hanya membalas dengan deheman kemudian memejamkan matanya. belum tidur hanya memejamkan matanya saja.


Nifa gugup sekaligus bingung bagaimana ia bisa tidur dalam satu kamar yang di isi dua makhluk berbeda jenis kelamin. Ia takut ketika tertidur besok paginya sudah mengenaskan.


“Tidur aja gua gak akan macem-macem tenang. Lu bisa percaya sama gua malam ini.”


Nifa terkejut seolah Rama mengetahui isi pikirannya. Kantuk sudah mulai menyerang dan matanya sudah tidak kuat lagi akhirnya ia memutuskan untuk tidur.


Membuka kedua matanya, mengarahkan pandangannya pada cewek mungil di sampingnya. Ternyata ceweknya sudah tertidur pulas. Mungkin kecapekan karena untuk kesini cukup jauh dan menempuh perjalanan yang lama.


Rama duduk bersandar di ranjangnya, merasa gerah kemudian membuka kaos lengan pendeknya. Entahlah ia memang gerah atau yang dibawah sana yang kegerahan karena menahan sesuatu saat berdekatan dengan pujaan hatinya. Ia kemudian kembali merebahkan diri membuang guling pembatas.


Penganggu!


Yang terpenting kan tidak melakukan apapun jadi tidak apa jika guling itu di buang. Ia menatap Nifa yang tiba-tiba memunculkan pergerakan seperti mencari sesuatu, tangannya meraba-raba mencari sesuatu ntah apa.


Rama terkekeh pelan, padahal tadi Nifa sendiri yang bilang agar tidak tidur berdekatan namun apa yang dilakukan cewek itu sekarang? Tertidur sambil memeluk erat dirinya. Rama memiringkan badannya menghadap ceweknya kemudian balas memeluk dan memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tertidur.


Sinar matahari pagi memasuki celah-celah fentilasi dikamar ini, membuat cewek mungil ini menggeliat dan terbangun. Membuka kedua matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. saat sudah terbuka sempurna kedua matanya melebar terkejut, apa ini? Kenapa bisa ia tidur dalam pelukan Rama.


Mendongakkan kepala menatap wajah damai Rama saat tertidur. Tersenyum tipis, Rama memang benar-benar tampan pantas saja semua perempuan jatuh hati padanya.


“Sudah mengagumi wajah tampanku?”


Tiba-tiba Rama membuka suara membuatnya terkejut seperti maling yang tengah tertangkap basah. “Ttidak siapa juga yang lagi mengagumi Mas.” Jawabnya gugup.


“Emm gitu ya? Btw semalem ada yang bilang gak boleh tidur berdekatan tapi kok malah pas udah tidur malah meluk-meluk ya.” Menatap cewek mungil itu dengan tersenyum jahil.


Apa? Benarkah itu? Ia tidak sadar apa yang dilakukannya saat tertidur semalam. Mendadak pipinya memanas kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rama, rasanya ia sangat malu.


Terkekeh pelan tingkah ceweknya itu benar-benar menggemaskan. Apalagi di tambah pipinya yang merona karena sedang malu-malu.


Mendadak perutnya terasa mual saat sadar kini sedang berdekatan dengan Rama, ia beranjak dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi. Memuntahkan semuanya di wastafel kamar mandi, kepalanya mendadak pusing.


Rama memutar bola matanya jengah, ceweknya memang hobi merusak suasana.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ah iya itu pasti pelayan di villa ini. “Masuk!” Perintah Rama.


Seorang pelayan perempuan sekitar umur tiga puluhan memasuki kamar dengan menundukkan kepala. Ia juga sungkan karena melihat majikannya sedang bertelanjang dada sembari menyandarkan badan di atas ranjang.


“Sarapan pagi sudah siap tuan.”


Rama hanya membalas dengan deheman sembari memijat pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak pening karena ceweknya yang selalu muntah jika di dekati olehnya.


Huek huek


“Maaf tuan apa yang terjadi pada pacar tuan kenapa dia muntah-muntah. Apakah perlu saya panggilkan dokter?” Tanya pelayan itu dengan hati-hati takut jika majikannya tersinggung lalu marah.


“Gak perlu dia hanya sedang hamil muda makanya begitu.”


Pelayan itu melebarkan kedua matanya terkejut atas jawaban dari majikannya. Rama yang melihat itupun semakin buruk moodnya. “Lu bisa keluar kalau udah selesai.”


Menganggukkan kepala kemudian pelayan tersebut pamit untuk undur diri.


Sepeninggalnya pelayan itu Rama beranjak dari ranjang menuju kamar mandi menghampiri ceweknya karena lama sekali berada di dalam kamar mandi.


“Nif gua masuk ya.” Rama membuka pintu dan betapa terkejutnya saat ia melihat badan mungil itu tergeletak tak berdaya di dekat wastafel.


Rama buru-buru mengangkat badan mungil ceweknya kemudian meletakkan badan mungil itu diatas ranjang. meneriakkan pelayannya untuk memanggilkan dokter.


Selang waktu 30 menit seorang dokter laki-laki datang untuk memeriksa kondisi ceweknya saat ini.


“Apakah pasien mengalami stress akhir-akhir ini?” Tanya dokter itu setelah selesai memeriksa kondisi Nifa.


Rama menaikkan sebelah alisnya bingung sebab sejak kemarin sepertinya ceweknya ini baik-baik saja. “Tidak dok kenapa ya?”


Menghela nafas berat. “Pasien mengalami suatu tingkat kestresan yang menyebabkan ia mengomsumsi dan ketergantungan pada suatu obat. saran saya ajak ia berobat lebih intens agar cepat sembuh.”


Setelah berbicara seperti itu dokter tersebut pamit untuk pulang. Rama melamun di samping ranjang tempat Nifa tertidur dan belum sadarkan diri. Ia terus berpikir apa sih yang terjadi dengan pujaan hatinya ini karena banyaknya hal janggal yang terjadi. Ia harus bertanya pada tante Riana selaku kakak dari papanya, sebab dulu sempat melihat Nifa memeriksakan diri kepada tantenya itu.


Mungkin saja ia menemukan jawaban atas semua kejanggalan yang terjadi pada pujaan hatinya, ia harus tau apapun yang telah dialami oleh ceweknya ini. Karena apapun yang menyangkut tentang ceweknya adalah urusannya juga. Tak mau ceweknya mengalami masa sulit seorang diri dan berakhir dengan hal-hal bodoh seperti waktu itu.


Hatinya berdenyut ngilu saat melihat wajah pucat Nifa sedang memejamkan mata sembari berbaring belum sadarkan diri. Rama mengelus punggung tangan Nifa mengecupnya kemudian beranjak mengelus puncak kepala Nifa dan mengecup kening cewek mungilnya penuh kasih sayang. Ia tak ingin melepaskan cewek ini apapun yang terjadi karena cintanya besar untuk cewek ini.