
Suara dentingan musik kencang memasuki gendang telinga. Liukan gerakan badan yang tak beraturan kesana kesini, serta nyanyian sumbang ketiga gadis yang tengah menghabiskan waktu bersama. Menyalakan musik kencang serta mengubah lampu kamar menjadi kelap kelip layaknya diskotik. Konyol memang ketiga manusia ini, tapi inilah cara mereka melepaskan beban pahit kehidupan. Dari pada harus pergi ke bar untuk berbuat haram.
Nifa menggunakan hot pants serta tangtop tipis menggerakkan dirinya, melakukan dance tak beraturan. Siska memakai rok spans mini serta baju putih yang menerang hingga mencetak jelas branya. Sedangkan Melinda menggunakan mini dres kekurangan bahan. Mereka sengaja berdandan seperti ini agar menciptakan tempat haram versi mereka.
Gila.
Satu kata yang menggambarkan ketiganya, kelakuan yang kelewat abnormal. Tapi menyenangkan menciptakan suasana gila yang konyol.
“Ayo Nif kita minum lagi.” Melinda menyodorkan satu gelas kecil berisi air putih dan es batu.
Nifa menerimanya sambil berpura-pura sempoyongan layaknya orang mabuk. “Mari kita habiskan hari ini dengan bersenang-senang.”
Siska terkekeh. “Mari kita bangun kebahagiaan hari ini.” Mengangkat gelasnya yang langsung disambut dua sahabatnya.
Siska memainkan alat DJ semakin menghebohkan ruang kamar Melinda. Sedangkan Nifa dan Melinda terus melakukan dance seperti cacing yang di siram garam.
Pukul dua belas siang ketiganya merebahkan diri di ranjang. Rasa capek menghampiri, membuat ketiga sahabat itu terkapar begitu saja.
“Gila capek juga kayak gini doang.” Terkekeh kemudian memeluk Nifa yang ada di sampingnya.
Melinda ikut memeluk Nifa karena poisisi teman mungilnya itu di tengah. “Ini konyol sih, baru kali ini gua ngelakuin hal kayak gini.”
Siska bangkit dari duduknya. “Gila perut gua kembung kebanyakan minum air putih.”
Nifa terkekeh pelan. “Gak apa Sis, air putih itu sehat.”
“Sehat sih sehat tapi kita over. Ya tapi menikmati juga sih.” Siska tertawa sambil berjalan kearah kamar mandi.
Sepeninggalnya Siska, Melinda berbisik pada Nifa. “Jangan sedih lagi ya Nif, ada kita yang bakal selalu bareng-bareng. Lu gak sendiri kita semua punya cacat dalam kehidupan ini. Contohnya gua, meskipun gua bergelimang harta tapi lihat di rumah segede ini cuma gua yang nempatin.”
Nifa menghadap kearah Melinda memeluk sambil mengelus punggung sahabatnya dengan lembut. “Terimakasih atas segalanya ya Mel, kamu terbaik untukku.”
Pukul tujuh malam ketiga gadis itu baru terbangun dari tidurnya. Mungkin jika tidak ada suara bel rumah Melinda yang terus berbunyi, ketiganya akan terbangun di pagi hari. Sebab mereka sangat menyukai bahkan menggilai aktivitas yang bernama tidur.
Nifa mengucek kedua matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. “Biar aku aja yang buka pintunya.” Kedua sahabatnya hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, karena masih di serang kantuk.
Berjalan menuruni anak tangga menuju pintu utama, kala pintu terbuka refleks kedua mata bulatnya melebar. Raut mukanya berubah menjadi datar tatapannya menjadi tajam membuat seseorang di depannya menatap takut.
“Mau apa kesini?” Tanya Nifa dengan nada yang sekit meninggi.
Rama gugup saat mendengar pertanyaan Nifa dengan intonasi bicara yang meninggi. Dan tak sengaja Rama melihat baju seksi yang di gunakan Nifa membuatnya bertambah gugup tapi tetap harus menahan hasrat untuk tidak menerkam. “G-gua mau ketemu lu, gua mau minta maaf soal kejadian kemarin. Gua khilaf Nif.”
Terkekeh menatap tajam kearah Rama. “Khilaf katamu Mas? Khilaf itu hanya sekali. Jika berkali-kali itu namanya memang gila.”
“Ya lu benar! Katakanlah memang gua gila. Gua kecanduan sama lu, gua selalu kepikiran. Gua gua gu-“
Nifa memotong ucapan Rama. “Stop Mas, tidak perlu mengatakan apapun lagi. Aku tidak menyukaimu dan aku merasa frustasi ketika berada di dekatmu. Jadi jauhi aku mulai sekarang, anggap saja kita tidak penah saling mengenal.”
Nifa menutup pintu kencang di depan Rama. Membuat Rama terkejut dari balik pintu, ada apa sebenarnya dengan cewek itu? Apakah cewek itu di bawah pengaruh alkohol? Sebab penampilannya seperti habis dari suatu tempat.
Rama menggelengkan kepalanya, tidak mungkin cewek sepolos dan selugu Nifa bermain ke bar. Lagi pula tidak ada bau alkohol yang menghampiri penciumannya.
“Nifa gua mohon maafin gua Nif, gua tau gua salah. Tapi kasih gua kesempatan sekali aja.” Teriak Rama dari luar.
“Aku letih denganmu Mas! Pergilah, aku muak melihatmu.” Nifa berlari menuju kamar Melinda. Badannya lemas dan gemetar perlahan air matanya menetes.
Siska dan Melinda yang masih mengumpulkan kesadarannya pun terkejut kala melihat Nifa masuk dengan keadaan seperti itu.
“Siapa yang datang Nif sampai lu begini.” Siska menghampiri Nifa yang terduduk di depan pintu kamar.
Nifa tidak menjawab namun malah memeluk Siska erat. Terisak di pelukan sahabatnya, Melinda yang melihat sahabatnya terisak pilu pun menghampiri.
“Apa yang tadi datang itu Rama?” Tanya Melinda. Nifa hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Menghela nafas pelan. “Ya udah lupain Nif, gimana kalau kita malam ini nonton film horor. Gua bakal pesen makanan sama pizza.”
Menghapus air matanya kemudian terkekeh saat mendengar penuturan dari sahabatnya. Hatinya sedikit lega moodnya berangsur membaik lagi.
Mereka bertiga menonton film horor dengan tegang saat hantu muncul Siska yang paling kencang berteriak. Padahal Siska adalah orang pemberani, namun tak disangka hanya dengan film horor bisa membuatnya ketakutan.
Ketiganya menonton sampai pukul satu malam. Tidak tau siapa yang duluan tertidur saat menonton namun kini ketiga gadis itu tertidur di sofa saling berpelukan.
Pagi hari yang cerah tapi tak secerah ketiga gadis ini. Karena insiden nonton sampai larut malam membuat ketiganya bangun terlambat. Alhasil disinilah mereka bertiga berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kakinya.
Siska menurunkan kakinya yang diangkat satu. “Kita cabut aja lah gak guna, masa iya kita berdiri disini tiga jam yang bener aja. Ayuklah kita pergi malas.” Menggeret tangan kedua sahabatnya untuk pergi.
Mereka bertiga menuju mall untuk berbelanja. Berkeliling sepanjang mall sesekali mampir pada toko baju. Nifa menjilati es krimnya sambil berjalan di belakang kedua temannya.
“Kalian mau sampai kapan sih berbelanja? Kakiku rasanya mau patah mengikuti kalian.” Ucap Nifa dengan keras karena mall ini cukup ramai hari ini.
Kedua temannya menghentikan langkahnya, memutar badannya kebelakang kemudian merangkul pundak Nifa. “Sabar ya adik manis kita belum terpuaskan. Lu mau es krim lagi? Atau mau coklat?” Rayu Melinda.
Nifa memutar bola matanya malas, sebab sedari tadi kedua sahabatnya menyogoknya dengan makanan. “Aku sudah habis tiga es krim dan lima coklat. Perutku sudah kenyang, jadi ayo cepatlah pulang.”
Siska mencubit gemas pipi sahabat mungilnya yang mengembang ini. “Bentar lagi ya dedek, tiga puluh menit lagi.”
Nifa bosan sebab dari tadi Siska mengatakan tiga puluh menit lagi namun sekarang sudah hampir lima jam mereka berkeliling mall. Tidak lagi mau jika diajak berbelanja oleh kedua sahabatnya yang maniak baju ini. Bahkan Nifa sendiri heran seminggu yang lalu Melinda mengabarinya tengah berbelanja baju, namun sekarang sahabatnya itu berbelanja baju seperti yang sudah lima tahun tidak pernah beli baju. Menyebalkan! Tapi Nifa hanya menurut paksa. Mungkin inilah caranya membalas kebaikan sahabatnya yang selalu menemaninya di saat-saat susah.
Akhirnya setelah menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam mereka pulang kerumah Melinda. Katanya Melinda ingin di temani sebab itulah baik Siska maupun Nifa menginap lagi.
Melinda keluar dari kamar mandi menuju kedua sahabatnya. “Gimana bagus gak?” Tanya Melinda sambil memutarkan badannya di hadapan kedua sahabatnya.
Siska dan Nifa memutar bola mata jengah. Sebab sudah entah lebih dari lima belas kali Melinda mencoba bajunya lalu memutar seperti ini. Malas meladeni sahabatnya itu keduanya hanya mengangguk, mengacungkan ibu jarinya kemudian tersenyum tipis.
“Oke kalau gitu gua ganti lagi sama yang lainnya.” Kata Melinda bersemangat.
“Tidak usah Mel!” Jawab kedua sahabatnya serempak.
“Kenapa?” Melinda mengernyitkan dahinya.
Nifa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Emm… itu ak-“
“Kita lapar Mel, ya kan Nif?” Sahut Siska cepat.
“I-iya benar kita lapar. Ayo pesan makanan kalian mau makan apa?”
Melinda semakin bingung, sebab sebelum pulang tadi mereka sudah makan banyak. Apalagi Siska makannya rakus seolah tiada hari esok untuk makan lagi. Tapi ya sudahlah Melinda tidak mau membuat kedua sahabatnya kelaparan dirumahnya. Sama saja menyiksa anak orang kalau hanya menyuruh menemani tapi tidak di beri makan.
Setelah makanan datang Siska dan Nifa terkejut, betapa banyaknya makanan yang datang. Perutnya belum bernafas untuk sekedar di isi lagi.
Melinda berjalan menuju kedua sahabatnya yang sedang duduk di sofa kamar. Meletakkan makanan yang tadi di ambilnya dari kurir pengantar. “Nih makan yang banyak, terutama lu Nif biar cepat pertumbuhannya.”
Nifa melototkan kedua matanya. “Aku mau makan banyak pun tetap akan begini. Yang ada badanku semakin membulat nantinya.”
Kedua sahabatnya terkekeh mendengar balasan Nifa. Siska merapatkan duduknya kearah Nifa. “Gimana nih Nif, mana gua masih kenyang banget.” Berbisik di telinga Nifa.
Nifa hanya menggeleng lemah tanda tak tau harus berbuat apa. “Lagian kamu sih pakai acara bohong gini.” Balas berbisik ketelinga Siska.
Melinda yang melihat kedua sahabatnya sedang berbisik pun menatap bingung. “Kenapa? Dimakanlah kenapa diam aja? Tadi katanya lapar.”
Mampus
Mendadak keduanya seperti patung, Nifa memegangi perut kecilnya. Masih terasa penuh dengan makanan yang tadi. Dengan terpaksa mengambil satu burger mini melahapnya dengan terpaksa. Sedangkan Siska menahan mual akibat kekenyangan, tapi tetap mengambil satu potongan pizza jumbo. Tamat sudah riwayatnya, pasti perut mereka sebentar lagi menjerit.
“Gua capek mau mandi terus tidur kalian kalau udah selesai makan nyusul ya. Jangan lupa di habisin mubazir udah gua beli.” Melinda berjalan kearah kamar mandi kemudian membersihkan dirinya.
Keduanya melebarkan kedua matanya terkejut. Dan inilah akhir dari mereka, Siska dan Nifa tidur terlentang dengan tangan mengelus perutnya. Sudah hampir pukul empat pagi tapi keduanya tidak bisa tertidur. Ingin muntah tidak bisa, ingin di keluarkan lewat jalan lain juga tidak bisa. Rasanya penuh dan sesak. Keduanya hanya bisa meratapi nasib entahlah mungkin nanti pagi harus membolos kelas lagi.