
Berjalan dari arah parkiran menuju kelas dengan gontai. Raut wajah Rama terlihat mengenaskan dengan sebelah pipi memerah, sudut bibir robek berdarah. Itu semua ulah Ayah tirinya, semalam dia diminta untuk menginap ke rumah orang tuanya. Mamanya bilang merindukannya, lagi pula Rama sudah lama tidak bertemu sang mama.
Setelah di rumah hanya makan malam biasa dan obrolan pun tidak seru. Rama hanya menanggapi beberapa pertanyaan saja. Malas dengan keberadaan Ayah tiri serta Adik tirinya.
Pagi hari ketika hendak pergi menuju kampus sayup-sayup mendengar pertengkaran. Sudah di pastikan itu pasti ulah orang tuanya. Terdengar suara benda jatuh dan pecah. Rama tidak tahan lagi, dia bergegas melihat apa yang terjadi. Begitu terkejutnya saat melihat Mamanya tengah mendapatkan perlakuan kasar dari Ayah tirinya.
Menarik bahu pria tua itu kemudian meloloskan satu bogeman mentah kearahnya. “Bajingan! Laki-laki jika berani melukai wanita itu di sebut sampah!”
Cuh…
Rama meludahi wajah Ayah tirinya setelah memberinya bogeman.
Ayahnya bangkit kemudian menampar pipi sebelah kirinya. Sangat keras sehingga membuat Rama terhuyung kearah kiri.
“Anak kurang ajar! Tidak tau sopan santun. Sama seperti Ibunya!”
Mendengar perkataan itu dari mulut sampah Ayah tirinya membuat Rama tersulut emosi. Hendak melayangkan satu atau beberapa bogeman lagi untuk pria tua itu. Tapi terhenti kala Mamanya memeluknya dari belakang.
“Mama tidak apa-apa Ram sabarlah. Ini semua Mama yang salah.” Kemudian menarik lengan anak kesayangannya untuk keluar dari kamarnya.
“Ma ceraikan laki-laki busuk itu! Ayo hidup berdua saja.” Menatap lekat dan memegang kedua tangan Mamanya dengan lembut.
Tersenyum tipis kearah anaknya, kemudian mengelus pipi kanan Rama.
“Mama tidak apa-apa Ram. Suatu hari kamu akan merasakan bahwa berumah tangga tidaklah mudah.” Mengecup kening anaknya dengan sayang. “Pergilah kamu bilang akan berangkat kuliah. Nanti mama akan memasakkan makanan kesukaanmu.”
“Tidak perlu Ma, aku tidak ingin tinggal di sini lagi! Rama pamit.”
Menyalimi tangan Mamanya kemudian bergegas kedalam mobil. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ketika hendak melangkahkan kakinya kedalam kelas. Samar-samar melihat cewek yang Rama kenali walau dari jarak jauh, berbelok arah kemudian Rama memasuki ruang mini hospital. Membuka pintu kemudian masuk.
“Permisi gua terluka, bisa gak gua dapat pengobatan.”
“Oh, ya silahkan berbaring disini.” Salah satu mahasiswa penjaga mini hospital ini berucap ramah sambil tersenyum.
Melirik ke arah kiri tepat dimana yang dicari sedang mencari buku di lemari. “Boleh gak gua minta dia aja yang ngobatin. Soalnya dia biasanya ngobatin gua pas cedera, gua juga kebetulan pasien pribadinya.” Tunjuk Rama ke arah Nifa yang tengah mencari buku. Padahal dia tidak pernah sekalipun diobati oleh Nifa.
“Lu salah satu pasiennya ya? Ya udah gua panggilin dulu.” Cewek itu berjalan menghampiri Nifa di dekat lemari.
“Nif ada yang nyari tuh, katanya pasien pribadi lu saat cedera.” Tunjuk cewek itu di bilik nomor tiga.
“Siapa? Perasaan aku ndak punya pasien pribadi deh.”
“Udah lihat aja dulu, orang dia bilang pasien pribadi. Lu beruntung tau punya pasien seganteng itu.”
Mengernyitkan dahi bingung seingatnya tak pernah mempunyai pasien pribadi. Apalagi seorang laki-laki, tapi Nifa tetap berjalan ke bilik nomer tiga. Ia harus professional tidak boleh pilih-pilih pasien. Membuka tabir skat yang menghalangi kemudian menutupnya kembali. Saat di lihat siapa yang tengah berbaring Nifa melotot terkejut.
“Hai sudah datang, kita ketemu lagi ya. Memang kalo jodoh gini suka kebetulan.”
Mengabaikan ucapan Rama, kemudian mengambil stetoskop dan tensi darah dari dalam sakunya.
“Keluhan kamu apa? Biar aku periksa.” Nifa berkata dengan nada datar serta tatapan datar juga.
“Jantung gua rasanya berdenyut dan berdetak cepat saat ada lu. Sumpah! Saat ini jantung gua berdetak kencang, cepat periksa gua!” Rama memegang dada sebelah kanannya dengan ekspresi kesakitan yang di buat-buat.
Terkekeh pelan Nifa kemudian menatap Rama lekat-lekat. Membuat Rama gugup saat mendapatkan mata bulat nan imut menatapnya.
Pemandangan yang indah. Melihat cewek itu tertawa membuat Rama berbunga-bunga sekaligus gugup. “Y-ya mana gua tau kan gua bukan tenaga medis, gua jurusan Olahraga jadi wajar aja kalau gak tau!”
“Tapi kan waktu sekolah ada pelajaran biologi Mas. Ya udah, Mas Rama jurusan Olahraga ada keluhan apa? Cepat aku ndak punya banyak waktu!”
“Emm apa ya?” Rama menggosokkan jari telunjukknya di dagu sedang berpikir. “Gua tadi jatuh nah lihat pipi gua sama bibir gua luka, gua boleh minta di obatin?”
Menghela nafas pelan. “Itu bukan tugasku Mas aku di sini sebagai Fisioterapi. Hanya akan menangani cedera atau yang berhubungan dengan otot, tulang, sendi. Jadi itu bukan tugasku kamu membuang-buang waktuku.” Menatap tajam ke arah Rama. “Biar aku panggilkan yang lebih ahlinya mengatasi luka.”
Belum sempat Nifa berbalik dan berjalan keluar langkahnya terhenti. Rama memegang tangannya membuatnya terkejut kemudian menoleh. “Tolong jangan memegang tanganku. Atau kamu akan menerima muntahanku seperti waktu itu.”
“Oke tapi gua mohon jangan pergi. Hari ini aja please… gua bener-bener terluka, cuma lu yang gua pengen buat sembuhin luka gua.” Rama memohon dengan tatapan iba. Membuat Nifa menghela nafas berat, melepaskan tangan Rama pada pergelangan tanganya. Menganggukkan kepala menatap Rama datar.
“Temui aku di perpustakaan jam sebelas nanti. Aku saat ini ada kelas jam delapan dan lima belas menit lagi kelasku di mulai. Aku akan memanggilkan temanku untuk mengobatimu.”
Nifa berjalan keluar dari bilik menghampiri temannya, untuk meminta mengobati luka Rama yang berada di bilik tiga. Kemudian bergegas keluar dari mini hospital menuju kelasnya.
Tepat jam sebelas Rama datang ke perpustakaan. Saat memasuki perpustakaan penghuninya menatap penuh atensi ke arah Rama. Karena merasa heran untuk apa si populer itu mengunjungi perpustakaan. Tapi Rama cuek saja, toh dia gak akan melakukan hal kriminal di sini. Kepalanya menengok ke kanan dan kekiri mencari sosok cewek yang sudah membuat janji padanya.
“Nyari siapa Ram?”
Penjaga perpustakaan menanyai Rama dengan tatapan menyelidik.
“Saya nyari Nifa Pak, apa Bapak tahu dia dimana?” Rama menjawab dengan sopan karena orang itu lebih tua.
“Ada di meja baca cari aja disana.”
Mengucapkan terimakasih kemudian berlalu mencari Nifa. Saat matanya tengah menelisir pandangannya menemukan sosok Nifa yang duduk sambil membaca buku. Benar-benar terlihat manis, rambut sebahunya yang tergerai, kacamata yang bertengger di hidung peseknya menambah kesan imut. Rama berjalan menghampiri, seketika aroma strawberry memasuki indra penciumannya. Ini yang membuat candu seorang Rama.
“Udah lama di perpustakaan?” Mendudukan diri di depan Nifa. Membuat cewek itu terlonjak kaget karena tiba-tiba ada suara bas yang tertangkap oleh telinganya.
Menatap datar cowok di depannya kemudian bangkit. “kalau ingin berbicara denganku kita keluar saja. Karena penjaga pasti akan marah jika ada keramaian.”
Nifa berjalan keluar perpustakaan yang di ikuti Rama dari belakangnya. Tapat di belakang gedung jurusan Medis, Nifa menghentikan langkahnya mendudukan diri di salah satu bangku disana.
Rama hendak duduk berdekatan dengan Nifa. “Tolong duduklah diujung tempat duduk panjang ini. Kalau tidak kamu mungkin akan melihatku kabur dari sini.”
Rama menurut saja dari pada tidak jadi bersama cewek itu. “Kenapa lu selalu menolak saat gua mau ngedeketin lu? Apa bener gosip yang gua dengar kalau lu lesbi?”
Terkejut akan perkataan Rama, tapi sebisa mungkin raut mukanya tetap sedatar mungkin. “Aku bukan hanya menolak untuk kamu dekati. Tapi aku menolak semua laki-laki yang mahu mendekatiku. Bukan berarti aku lesbi, aku hanya tidak bisa karena itu di sebabkan oleh penyakitku.” Nifa bangkit dari duduknya. “Aku harap setelah ini kamu tidak berusaha mencariku lagi. Dan berhenti menanyai keberadaanku kepada teman-temanku.”
Tertangkap basah sudah! Rama memang mencarinya sudah satu minggu ini. Bertanya pada Melinda atau teman sekelas cewek itu. Semenjak insiden dia pingsan itu Rama khawatir dan terus mencari keberadaan cewek itu. Mereka mengabarkan kalau Nifa sudah satu minggu lebih ini memang tidak masuk kelas. Membuat Rama semakin khawatir takut-takut cewek itu memiliki penyakit parah. Entah apa yang membuat Rama sangat tertarik dengan cewek ini, yang jelas Rama merasa kecanduan.
“Kenapa? Apa sebenarnya penyakitmu, yang menyebabkan lu gak mau berdekatan dengan cowok?”
Menghela nafas kasar menatap tajam ke arah Rama. “Urusi urusanmu sendiri tak perlu mengetahui tentangku. Karena itu bukan urusanmu.”
“Tentu itu urusan gua.”
“Kenapa jadi urusanmu?” Tatapan Nifa semakin tajam ke arah Rama.
Gugup di tatap seperti itu tidak pernah ada yang berani menatapnya seperti itu. “K-karena gua suka sama lu.” Berdiri kemudian menatap cewek itu lekat.
Nifa pergi berlari begitu saja dari hadapan Rama. Membuat Rama semakin penasaran akan sosok cewek itu.