
Sweet adalah semacam rastoran yang hanya menyediakan menu yang rasanya manis. Seperti es krim, kue, permen dan banyak lagi. Rama memarkirkan mobilnya di depan restoran tersebut, kemudian turun dan membukakan pintu untuk pacar kesayangannya.
Mengulurkan tangan, berharap ceweknya mau menyambut uluran tangannya. Namun naas Nifa malah mengabaikan uluran tangan dari Rama dan turun dari mobil begitu saja. Menghela nafas berat, sudah di pastikan ceweknya masih ngambek atas insiden tadi. Rama mengejar cewek mungilnya yang tengah berjalan memasuki restoran, menyamakan jalan cewek mungilnya. "Mau duduk disana?" tunjuk Rama kearah meja yang ada diujung dekat jendela, namun pertanyaan Rama hanya dijawab dengan anggukan kepala saja oleh Nifa.
"Udah dong ngambeknya nanti cantiknya ilang gimana?" memegang tangan Nifa yang berada diatas meja.
Menarik tangan yang di pegang oleh Rama, Kemudian menatap tajam kearah Rama. "Jadi maksud mas karena sekarang aku lagi ngambek cantik aku udah hilang gitu? Secara gak langsung mas lagi ngatain aku jelek kan sekarang ini."
"B-bukan begitu baby, maksud aku it-"
Suara seorang pelayan yang menyodorkan menu membuat ucapan Rama terpotong.
Menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, ia bingung harus bagaimana menghadapi ceweknya. Ia takut salah bicara atau membuat mood ceweknya semakin buruk. Apalagi saat ini ceweknya itu terlihat memasang muka murung sembari memainkan handponenya. Bingung adalah kalimat yang ada di pikiran Rama, sebab takut salah bicara lagi. Jadi ia memutuskan untuk diam sembari memperhatikan ceweknya yang sedang sibuk bermain game di handphonenya.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan Rama dan Nifa, Nifa awalnya yang memasang muka murung serta terus menunduk memainkan game di handphonenya kini mengangkat kepalanya. Kedua bola matanya berbinar kala melihat pesanannya datang. Setelah pelayan tadi pergi Nifa tanpa ragu-ragu langsung mengambil es krim rasa strawberry beserta tambahan toping strawberry yang melimpah.
Rama terus memperhatikan wajah ceria ceweknya kala mendapatkan pesanannya sudah datang. Senyum tipis terbit di wajah tampannya, ceweknya ini sangat unik lucu jika wajahnya sedang ceria. Apalagi di tambah dengan wajah belepotan karena sedang memakan es krim.
Mengambil tisu kemudian mengelap pipi kanan yang terdapat noda es krim. "Uuuh babynya daddy makannya sampai belepotan gini."
"Daddy mau?" menyodorkan satu sendok es krim strawberry kearah Rama.
Terketut, jelas saja bagaimana tidak? Ini untuk pertama kalinya Nifa memanggilnya daddy. Apalagi di tambah cewek itu mau menyuapinya tanpa paksaan. Rama buru-buru menerima suapan dari Nifa, takut jika ceweknya berubah pikiran.
"Enak kan daddy?"
Rama menganggukkan kepalanya, entah kenapa rasa strawberry begitu terasa istimewa jika yang menyuapi adalah orang tercinta. "Enak baby habiskan ya."
Nifa hanya membalas ucapan Rama dengan anggukan kepala saja, sebab mulutnya kini penuh dengan satu sendok es krim. Rama mulai memakan es krim rasa coklat pesanannya, sembari terus menatap pujaan hatinya. Itu menambah cita rasa yang sangat lezat menurut Rama. Tentu saja Rama kan seorang buciners sejati saat ini.
Setelah selesai menghabiskan satu mangkuk es krim strawberry, kini Nifa beralih pada kue bolu strawberry mini yang di pesannya. Mood Nifa hari ini sedang baik karena makanan yang di pesannya. "Ini enak mas mau mencobanya gak?" Tanya Nifa sembari menyodorkan satu sendok kue kearah Rama.
Rama memegang tangan kanan Nifa, kemudian memajukan wajahnya. Bukan untuk menerima suapan kue dari Nifa tetapi...
cup
Iya benar, Rama mengecup bibir mungil milik Nifa. Bukan hanya mengecup tapi juga memagut, Nifa terkejut akan perlakuan Rama yang tiba-tiba dan tidak kenal tempat. Rama terus memagut bibir mungil Nifa, mencoba mengambil kue yang ada di bibir mungil ceweknya ini kemudian memundurkan wajahnya dan mengelap bibir mungil Nifa dengan ibu jarinya.
Terkekeh kecil kala melihat ceweknya memalingkan muka karena wajahnya terlihat seperti tomat matang. "Udah gak apa, kan kita sudah sering berciuman. Jadi itu gak masaah dong."
"Tapi kan ini tempat umum mas." Balas Nifa dengan suara sangat pelan, namun Rama masih bisa mendengarnya.
"Btw kuenya enak, boleh aku mencobanya lagi melui bibirmu?"
"MAS RAMA!" ucap Nifa murka dengan nada tinggi.
Bagaimana tidak meninggikan nada bicara, jika lawan bicaranya semesum ini. Entah apa yang terjadi dengan cowoknya hari ini, kenapa pikirannya terlihat seperti tong sampah yang kotor begini.
Terkekeh kencang, "ya sudah habiskan makanannya ya nanti kita naik delman seperti yang lu mau." Mengelus kepala ceweknya dengan sayang.
Nifa menganggukkan kepalanya, kemudian menyendokkan kue yang tadi dimakannya dan makanan lain seperti jelly dan permen yupi yang di pesannya. Semuanya serba rasa strawberry karena itu kesukaan cewek mungil itu. Baginya tiada hari tanpa strawberry.
Bagi Nifa rasa strawberry adalah perumpamaan jalan hidupnya. Rasa asam dan manis seperti lekukan kisah hidupnya yang terkadang baik dan buruk, banyak kisah yang terasa asam yang bahkan dirinya sendiri pun belum bisa untuk memaafkan ataupun berdamai dengan keadaan.
"Mas boleh tidak jika aku ingin mengabadikan setiap momen yang kita lewati melalu foto."
Rama yang tengah meminum coklat hangatnya kini tersedak, bukan karena rasa minumannya namun melainkan dari pertanyaan ceweknya. Apakah ia salah dengar, atau memang telinganya suka berhalusinasi.
Melihat respon dari Rama yang hanya diam membuat Nifa lesu seketika. "Gak boleh ya? ya sudah gak apa-apa deh."
Tersenyum lebar menghampiri cowoknya, mengibaskan tangannya memanggil salah satu pelayan restoran.
"Mbak tolong ya bantuin fotoin kita." Menyerahkan handphone pada pelayan restoran saat pelayan tersebut menghampiri Nifa.
Sang pelayan hanya pasrah saat di mintain tolong, mau bagaimana lagi kenyamanan pelanggan nomer satu.
Nifa dengan segera menghampiri Rama lagi, lebih mendekat dan tiba-tiba saja duduk di pangkuan Rama. Rama yang mendapat perlakuan seperti itu terkejut, karena posisi ini terlalu intim.
Merangkul pundak Rama, menempelkan pipi chubynya ke pipi tirus milik Rama. "Ayo mbak mulai foto ya hitung sampe tiga."
"Satu... dua... tiga."
Cekrek
Keduanya mengambil beberapa pose, setelah handphonenya di kembali Nifa mengucapkan terimakasih pada pelayan restoran tersebut.
"Bagus ya mas liat deh yang ini lucu." Nifa menunjukkan foto dimana dirinya dan Rama tengah berpose nyengir, dengan kedua jari membentuk huruf 'v'
"I-iya"
"Mas kenapa gak suka ya?"
"B-bukan begitu, emm... k-kita kan mau naik delman yuk cari delman."
"Tapi aku masih kenyang mas, pengen disini dulu."
Gawat!
"Kita istirahat di mobil aja yuk." Ajak Rama penuh permohonan.
Nifa menengok kearah Rama dengn kesal. "Mas kenapa sih! Gak suka kalo aku deketin ya?"
Membolakan kedua matanya, pasalnya bukan masalah mau atau gak di dekati dengan ceweknya. " B-bukan gitu baby, lu duduk di pangkuan gua. Dan you know iman gua lemah, dia nih yang di bawah sudah berdiri tegak."
Melihat arah jari telunjuk Rama, Nifa yang memang polos salah menanggapi. "Oh jadi maksud mas aku ini gendutan gitu, jadi kalau di pangku sama mas bikin kaki kesemutan gitu."
Melingkarkan kedua tangannya pada perut Nifa, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu kiri ceweknya. "Bukan begitu sayang, sekarang pun kalau lu mau di gendong gua gendong kok. Masalahnya itu yang dibawah gak bersahabat saat ini, coba rasain deh ada yang menonjol gak di tempat lu duduk."
"Iya sih itu apa ya mas, emang mas masukin apa kedalam kantong celana kok keras sih."
"Itu benda sakti baby dia suka mengeras dengan sendirinya."
"Wow benarkah? Boleh aku melihatnya."
Rama membolakan kedua bola matanya, apakah ceweknya belum paham juga. Rama menegakkan posisi duduknya, takut-takut kepalanya lepas jika memang ceweknya tidak paham dengan perkataannya. "Itu... gak bisa di tunjukin sekarang baby."
"Jadi sekarang mas main pelit sama aku." Memasang wajah cemberut kemudian bangkit berdiri dari pangkuan Rama.
"B-bukan pelit baby, cuma aduh gimana ya." Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pokoknya aku mau liat sekarang!"
Mengusap wajahnya kasar, cewek mungilnya kenapa bisa sepolos ini. Rama tidak keberatan memperlihatkan benda saktinya tapi tidak di tempat umum seperti ini. Bisa di sangka gila jika tiba-tiba dia mempertontonkan di kalayak umum.
"Nifa..."
Keduanya menengok kesumber suara, terkejut saat melihat siapa yang tengah memanggilnya saat ini.