First Fall In Love

First Fall In Love
My Brother's Toast



Gerimis berjatuhan membasahi bumi, dahan-dahan kering ikut terjatuh sebab lapuk, hawa dingin membuat siapa saja tak ingin terlepas dari ranjang empuk kesukaannya. Lagi pula siapa yang bisa menolak hawa senyaman ini untuk meninggalkan ranjang? Dirasa tidak akan ada. Termasuk seorang cowok dengan piyama merah muda sedang terlelap di balik selimut tebalnya, nikmat mana lagi yang tuhan dustakan? Tidak ada mata kuliah di hari senin yang terasa berat di sertai saat ini hawa dingin yang menambah nyenyak tidurnya. Namun sialnya handphonenya terus saja berbunyi dengan nyaring, kedua tangannya spontan mengambil bantal untuk menutup kepalanya serta telinganya.


Fu.ck! Seberapa keras kedua tangannya menekan bantal agar tidak mendengar dering telephone itu namun naas tetap terdengar nyaring. Rasanya ia ingin mencincang siapapun yang tengah menelponnya. Dengan malas dan terpaksa, tangan kirinya meraba-raba meja kecil di samping ranjangnya untuk mencari benda pipih yang terus berbunyi itu.


"Halo..." Jawabnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Eh kunyuk kemana aja baru angkat nih telpon! Lu gak tau apa gua nelpon lu berkali-kali!"


Mendengar balasan suara dari sebrang sana sedang mengeluarkan nada amarah, Farid pun mengecek handphonenya untuk melihat siapa bajingan tengik yang telah mengganggunya. Dan yup itu Rama sahabat tengiknya. "Hmm harusnya gua yang marah anjing! Lu udah ganggu tidur nyenyak gua!" Balas Farid tak kalah ketus dan sedikit emosi. Yang benar saja siapa yang di ganggu, siapa pula yang marah.


"Bangun lu adik lu minta sarapan roti buatan lu katanya, kalau gak di turutin dia gak mau minum obat."


Mengernyitkan sebelah alisnya bingung, sejak kapan ia punya adik sedangkan ia sendiri adalah anak terakhir. "Jangan ngadi-ngadi lu! Gua anak terakhir mana punya adik setan, dah lah lu ganggu gua aja njing." Hendak mematikan sambungan telphone.


"Gua bilangin si Nifa lu ya gak anggap dia adik." Ancam Rama penuh penekanan.


Mata yang awalnya masih terpejam kini terbuka lebar, bagaimana Rama bisa tau kalau Nifa sudah Farid anggap adik? Bisa gawat kalau ada yang tau keberadaan Nifa. Adiknya itu memang sembrono rupanya. Padahal berulang kali ia sudah memperingatkan jangan sampai ada yang tau, atau dia akan tertangkap.


"Udah gak usah mikir gua tau dari siapa pokoknya aman, gua gak akan kasih tau siapa-siapa. Lagian gua udh janji sama cewek gua yang sialannya adik lu itu!" Rama menjawab seolah-olah tau apa yang sedang di pikirkan Farid saat ini. "Dah sekarang buatin aja rotinya gua tunggu lu di rumah sakit, gua nanti share lokasinya. Cepetan gak pake lama atau adik lu bisa sekarat." Ucap Rama lagi sembari mematikan sambungan telphonenya.


Farid terduduk cengo diatas ranjang empuknya. Pikirannya berkecamuk memikirkan adiknya disana, apakah penyakitnya sedang kambuh? Dengan cepat ia bangun dan menuju dapur. Membuatkan roti bakar yang di isi telur mata sapi di dalamnya, ya adiknya sangat menyukai roti bakar buatannya. Padahal tidak ada yang istimewa dari roti bakar buatannya, hanya dua lembar roti bakar yang tengahnya di selipkan telur mata sapi, kemudiam di beri saus tomat serta selada. Hanya dengan menu itu dahulu Nifa bisa menghabiskan dua tangkap roti itu dalam sekali makan. Padahal menurut Farid rasanya aneh.


Setelah selesai membuatkan roti untuk sang adik Farid bergegas mandi, setelah mandi ia langsung mengendarai motor ninja besar kebanggaannya. Tidak sampai lama hanya membutuhkan waktu 50 menit untuk sampai, ia meneteng kotak bekal berwarna pink sembari mencari-cari ruang kamar inap adiknya.


Rama sedang menyisir rambut gelombang milik Nifa, ingin mengikat rambut gelombang milik pujaan hatinya. Tapi aktivitasnya terganggu kala seorang cowok dengan pakaian serba hitam, topi hitam, Masker hitam, dan kacamata hitam memasuki kamar. Rama dengan sigap memegang vas bunga yang ada di nakas samping ranjang Nifa.


"Eits ini gua!" Farid membuka masker serta topinya, karena terlihat Rama sahabat bodohnya itu sudah bersiap untuk melemparnya dengan vas bunga.


Menurunkan tangannya yang tadi sempat terayun ke atas hendak melempar farid dengan vas bunga. "Lagian lu nyeremenin banget sih dandanannya kayak terosis, ya gua sangka lu kriminal yang mau merampok kan." Ucap Rama santai.


"Lu gak tau seberapa hati-hatinya gua kesini? Kalau gak begini bisa ketauan, apalagi banyak orang suruhan orang tua Nifa berkeliaran." Menutup pintu kemudian menghampiri ranjang Nifa.


Mengernyitkan kedua alisnya, ia bingung dengan perkataan sahabatnya. Memangnya kenapa jika seorang orang tua mencari anaknya?


"Udah gak usah di pikirin gak pantes otak kecil lu buat mikir, nih rotinya... gua gak bisa lama-lama. Nitip adik gua ya jagain bener-bener kalau lu mau jadi adik ipar gua." Menyodorkan roti buatannya kepada Rama, memerintahkan agar Rama menyuapi adiknya. Karena biasanya adiknya itu akan susah makan jika sedang sakit.


Nifa menahan pergelangan tangan Farid yang hendak melangkah pergi. "Setidaknya sebentar saja aku ingin di suapi sama mas, kali ini saja ya. Aku rindu sama mas, aku ingin mas menyuapiku agar aku cepat pulih." Menatap kakaknya itu dengan tatapan memohon.


Tidak tega melihat tatapan sayu penuh permohonan sang adik, akhirnya Farid menarik kembali kotak bekal yang tadi di sodorkan kepada Rama.


Rama mempersilahkan Farid duduk di samping ranjang tempat ia duduk tadi. Sebenarnya Rama tidak rela jika posisinya di tempati oleh sahabat tengiknya yang sialan adik dari pacarnya.


Rama yang melihat adegan itu pun merasa sedikit cemburu, apalagi di tambah ekspresi wajah Nifa yang terlihat sangat bahagia. Sebisa mungkin ia menahan amarah, karena tantenya menyarankan agar ia menahan emosinya saat menghadapi Nifa. Supaya cewek itu nyaman berada di dekatnya tanpa ada rasa takut.


"Lu lihat? Cowok jelekmu itu lagi cemburu. Mukanya tambah jelek kayak bebek." Bisik Farid keras, sengaja agar sahabatnya itu mendengar dan semakin sebal.


"Gua denger ya sialan!" Sahut Rama ketus.


"Ups maaf sengaja Ram." Terkekeh kencang.


Rama melempar bantal sofa kearah sahabat tengiknya itu, namun dengan sigap Farid menangkapnya.


"Baby gimana bisa lu mau jadi adik dari orang kayak Farid ini? Mending gak usah deh, selagi masih sempat putuskan hubungan persodaraan kalian. Dari pada nanti menyesal lu malah nanti kacau hidupnya." Balas Rama sambil menjulurkan lidah kearah Farid.


Nifa yang melihat keduanya selalu beradu mulut hanya bisa menggelengkan kepala, ternyata begitu bentuk persahabatan mereka. "Udah ah aku pusing denger kalian beradu terus, aku lagi sakit lho... masa kalian gak kasian."


"Uh utuk utuk utuk adik kesayangan mas lagi sakit rupanya, kan princes Nifa kuat jadi pasti setelah ini sembuh." Mengelus pujuk kepala Nifa dengan lembut.


Rama yang melihat itu memutar kedua matanya sebal. "Gak usah lebay deh jijik gua dengernya Rid."


"Bodo amat orang lagi manjain adik sendiri wle..." Menjulurkan lidah kearah Rama.


Mereka terus beradu mulut hingga membuat Nifa pening, tak terasa roti yang dibuatkan kakaknya itu sudah habis. Farid kemudian memberikan segelas air putih dan obat yang ada di samping gelas tersebut. Nifa menerimanya kemudian meminumnya. Hatinya senang bisa bertemu kakaknya lagi setelah sekian lama walaupun sebentar saja.


Farid menidurkan Nifa kemudian menarik selimut hingga sebatas dada, tangannya bergerak mengelus pucuk kepala adiknya dengan sayang. "Istirahat ya mas harus segera pergi, kita gak boleh terlalu lama berdekatan." Mengecup singkat kening adiknya dengan sayang.


Melebarkan kedua matanya serta mengangakan mulutnya. Apa-apaan ini? pake segala ada kecupan. "Woy itu pacar gua Rid jangan di nodai."


Menjitak kepala Rama dengan kencang. "Bocah sialan mulutnya, siapa pula yang nodain adik sendiri. Dah gua pamit, gua nitip Nifa jagain bener-bener kalau lu mau jadi adik ipar gua."


Rama menatap sebal kearah Farid, bagai di dorong ke dasar jurang rasanya saat mengetahui Nifa adiknya Farid. Walaupun bukan kandung tapi mereka terlihat seperti adik kakak yang sesungguhnya. Sebenarnya ia iri melihat kebersamaan mereka, tidak seperti dirinya yang tak pernah akur pada kakaknya atau adik-adik tirinya. Sebab kakak kandungnya ikut sang papa dan adik tirinya sangat menyebalkan.


Setelah kepergian Farid, Nifa meminta Rama untuk duduk mendekat. "Mas boleh gak kali ini mas tidur di sampingku lagi, aku ingin tidur siang ini ada yang menemani. Rasanya sedih setelah kepergian mas Farid."


Terkejut!


Tentu saja, bagaimana bisa Nifa memintanya untuk berdekatan? Apakah ini tandanya ceweknya ini sudah mau sembuh. Dengan wajah sumringah dan senyum lebar Rama menghampiri Nifa, kesempatan tidak akan datang kedua kali bukan? Jadi kesempatan kali ini harus di gunakan sebaik mungkin. Menaiki Ranjang kemudian merebahkan diri di sampibg ceweknya. Ranjang ini kecil tapi entah kenapa mampu menampung keduanya tanpa takut rubuh.


Rasa terkejutnya tak hanya sampai situ, ia bertambah terkejut saat ceweknya meletakkan kepalanya pada dada bidangnya. Kemudian tangan mungilnya di lingkarkan pada perut absnya. Rasanya tidak bisa dipercaya, seperti mimpi tapi nyata. ia melihat perlahan ceweknya mulai memejamkan kedua matanya. Melingkarkan tangan kekarnya untuk balas memeluk cewek mungilnya. Rasanya nyaman, sangat nyaman. Rasa yang tak pernah Rama dapatkan pada siapapun, mungkin hanya Nifa sumber kenyamanan dan ketenangannya.


Jatuh cinta mungkin sebodoh ini hingga membuat Rama selalu luluh lantah perasaan dan juga hatinya. Semarah apapun, sekesal apapun akan tingkah ceweknya pada akhirnya Rama selalu luluh akan perbuatan tiba-tiba Nifa yang menghangatkan hatinya.