
“Jauhi Rama atau gua bakal bongkar aib lu! Gua gak suka lu ngedeketin sahabat gua.”
“Aku ndak pernah ngedeketin dia! Dia yang selalu mencariku, aku pula ndak pernah memintanya untuk mendekatiku.”
Farid meminta Nifa untuk menemuinya. Dia terus meneror Nifa melalui pesan dan telepon membuat Nifa jengah. Hingga di gudang tempat penyimpanan bola ini Farid mengajak Nifa untuk bertemu.
“Gua bakal beritahukan keberadaan lu sama Iqbal kalau lu berani deketin Rama. Asal lu tau Rama gak pernah masuk kelas sampai-sampai mata kuliah basket kesukaannya dia pun gak masuk, jangan pengaruhi Rama!”
Menghembuskan nafas kasar, Nifa tak pernah sedikitpun mendekati Rama. Bahkan Rama yang selalu menghampirinya mencari-carinya. Menanyai semua orang yang pernah dekat dengan Nifa, bahkan Melinda pernah bercerita kepada Nifa jika Rama terus-terusan menerornya melalui pesan dan telepon hanya untuk menanyai Nifa.
“Bukankah kita ini sahabat Rid? Kamu tentu tau apa yang aku suka dan apa yang ndak aku suka. Kamu mengetahui segalanya tentangku tapi kenapa kamu masih meragukanku?”
“Itu dulu sebelum lu gila, sekarang gua gak sudi bersahabat atau pun berteman sama lu!”
“Dulu bahkan kamu berjanji akan menjagaku seperti adikmu sendiri. Lalu kamu meninggalkanku begitu saja, saat aku di timpa masalah. Itu kah yang di namakan sahabat sekaligus kakak?”
Nifa lemas tubuhnya merosot jatuh ke lantai, dulu ia dan Farid selalu bersama bahkan Farid menjaganya sangat posesif. Namun sekarang Nifa bahkan mendapat bentakan atas kesalahan yang tidak ia perbuat.
Farid diam membisu tidak tau harus berkata apa. “G-gua Cuma minta lu jauhin Rama!”
“Aku ndak bisa janji kalau Rama ndak akan mendekatiku lagi, karena Rama setiap hari selalu mencariku seperti anak ayam mencari induknya. Tapi aku berjanji akan membuat Rama selalu masuk kelas dalam mata kuliah apapun.”
“Oke gua tunggu itu, kalau sampai Rama gak masuk kelas gara-gara lu gua bakalan bertindak!”
Farid melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, memengang gagang pintu hendak keluar.
“Aku kangen kamu mas, seperti adik yang merindukan kakaknya.”
“Lupain semua yang terjadi dulu!"
Farid membuka pintu kemudian melangkah pergi. Setelah kepergian Farid Nifa menjatuhkan air matanya, merasa kehilangan sosok sahabat sekaligus kakak yang selalu ada untuknya. Nifa ingat dulu sewaktu masih kecil Nifa terjatuh dari sepeda dan lututnya terluka Farid selama seminggu menjadi kakinya. Menggendongnya kemanapun bahkan sampai menginap dan tidur bersama takut-takut Nifa ingin minum dimalam hari.
Rama mendapatkan giliran mengambil bola di gudang hari ini. Saat akan membuka pintu Rama mendengar suara perempuan menangis, seketika bulu kuduk Rama meremang karena di daerah gudang ini tempat sepi. Tempat yang jarang di lewati serta gelap, Rama ingin pergi saja dari sini tapi jika bola itu tidak diambil pasti ia akan kena marah dosen. Bisa-bisa Rama mendapat kelas detensi nantinya, Rama memberanikan diri untuk memasuki gudang. Rama memegang gagang pintu dengan gemetar.
“kakak, mbak, Ibu atau siapapun Rama yang ganteng ini, cuma pengen numpang ngambil bola aja kok. Suer abis ini Rama pergi lima menit aja ya Bu kunti.”
Tangan rama membuka pintu perlahan-lahan sambil menyipitkan mata, Rama paling takut kalau sudah menyangkut hal mistis. Saat pintu terbuka matanya langsung melebar, di lantai terdapat Nifa yang tengah menangis kencang tangisannya terdengar pilu. Rama bergegas menghampiri merengkuh tubuh mungil Nifa kedalam pelukannya.
“Gua gak tau apa yang terjadi sama lu, tapi percaya semua akan baik-baik saja.”
Rama mengelus punggung Nifa dengan lembut, menunggu Nifa tenang dan berhenti menangis serta tak melepaskan pelukannya. Biarkan baju olahraganya nanti basah oleh air mata Nifa yang terpenting Rama bisa menghentikan tangisannya.
Sekitar tiga puluh menit Nifa menangis di pelukan Rama, hingga akhirnya Nifa bisa menghentikan tangisnya. Rama membawanya bangun berdiri, membawanya menuju mini hospital karena badan Nifa terlihat lemas mungkin efek terlalu lama menangis. Saat berdiri Nifa hampir ambruk untung saja Rama berhasil menangkapnya.
Rama menggendong Nifa ala bridal style, Nifa tidak menolak karena sudah tidak memiliki tenaga. Nifa mengalungkan tangannya pada leher Rama, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rama. Ia malu karena sepanjang perjalanan banyak cewek-cewek menjerit histeris. Jika bukan karena penyakitnya pun Nifa tidak akan sudi di gendong oleh Rama.
Sesampainya di mini hospital Nifa di baringkan dengan pelan oleh Rama, kemudian satu petugas mini hospital mendatangi mereka.
“Nifa lu kenapa?”
Ya petugas hari ini adalah Melinda. Melinda terlihat khawatir melihat wajah pucat Nifa.
“Aku ndak apa-apa Mel mungkin hanya kecapekan. Mel boleh ndak aku minta minum?”
Melinda mengangguk. “Ya tunggu sebentar gua akan buatin teh manis hangat agar lu berenergi lagi.”
Melinda melangkah pergi meninggalkan Rama dan Nifa di bilik ini.
“Mas boleh ndak aku minta sesuatu.” Ujar Nifa lirih sambil menatap Rama.
“Ya apapun itu kecuali kalo lu minta gua ngejauhin lu, itu gak akan gua lakuiin.”
“Kalau aku minta Mas buat selalu masuk kelas dan ndak membolos apa Mas bakal lakuin?”
Rama tertegun mendengar permintaan cewek itu. Bagaimana dia tau kalau Rama sering membolos?
Menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian mengangguk pelan. “I-iya tap-“
“Gak ada tapi-tapian Mas kali ini aja, Mas bisa kok ketemu aku kapan aja tapi Mas gak boleh bolos. Kita beda Mas ambil kelas normal yang bisa kapan aja ada kelas dadakan. Sedangkan aku itu ambil kelas karyawan jam sebelas kelasku selsai.”
“Tapi bagaimana kita bisa ketemu?”
“Mas bisa temui aku kalau mas ada jeda jam mata kuliah. Sekarang aku minta Mas janji sama aku kalau Mas gak akan bolos.”
Rama menganggukkan kepalanya kemudian terseyum lebar. “Ya gua janji.”
Rasanya jantung Rama berdetak cepat ini pertama kalinya Nifa mengajaknya kontak fisik. Sugguh mendebarkan dan membuatnya serasa hilang kesadaran.
Melinda memasuki bilik dengan membawa segelas teh hangat dan satu roti. Saat bilik terbuka Melinda terkejut, hampir saja menjatuhkan bawaannya. Ini pertama kalinya ia melihat Nifa melakukan kontak fisik dengan lawan jenis.
“Wow apakah gua mengganggu?”
Melinda tersenyum menggoda kearah Nifa dan Rama. Membuat Nifa spontan melepaskan tautan jarinya dengan Rama.
“Aku mau minum dong Mel haus banget.” Ucap Nifa agar mengalihkan fokus Melinda.
Melinda segera memberikan teh hangat dan rotinya. “Ini lu habisin ya Nif, gua ada urusan tadi dosen biokimia manggil gua.” Setelah mendapat anggukan kepala dari Nifa, Melinda melangkah pergi.
“Mas kalo kamu ada kelas mending Mas pergi, aku udah mendingan jadi Mas ndak perlu khawatir. Kan Mas barusan janji sama aku kalo Mas ndak akan bolos toh?”
Rama menghela nafas pelan kemudian mengangguk, bangun dari duduknya mentap Nifa sebentar. “Gua tinggal gak apa kan? Kalau ada apa-apa kabarin ya.”
Nifa hanya menganggukan kepala serta tersenyum kearah Rama. Senyuman Nifa membuatnya enggan untuk meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi Rama sudah berjanji.
Saat didalam kelas Rama tidak fokus pikirannya terus kearah Nifa. Tadi Rama sudah meminta kontak Nifa kepada Melinda. Rama mengirimi pesan kepada Nifa tapi tak kunjung mendapatkan balasan, membuatnya geram.
Pukul lima sore Rama baru menyelesaikan semua mata kuliahnya, Rama mengendarai mobilnya menuju caffe om Herman. Tak sabar untuk bertemu Nifa, kali ini Rama harus berhasil untuk mengantarkan Nifa pulang.
Sesampainya di caffe Rama hanya menunggu Nifa didalam mobilnya. Malas untuk keluar karena rasanya lelah setelah mata kuliah voli tadi. Rama melihat Nifa sedang mengantarkan pesanan di beberapa meja, sayangnya Rama hanya bisa melihat dari kejauhan karena Rama sudah tidak lagi bekerja di caffe. Karena sudah berjanji untuk tidak membolos kelas.
Tepat pukul tujuh Nifa selesai bekerja, Rama keluar dari mobil menghampirinya. Membuat Nifa terkejut saat mendapati Rama berjalan kearahnya.
“Kamu ndak bolos kan Mas?” Nifa bertanya penuh selidik kepada Rama.
Rama menggelengkan kepalanya. “Gak kok gua tadi selsai jam lima. Terus gua kesini dan nunggu lu, pulang bareng yuk.”
Melihat raut wajah memohon Rama membuat Nifa tidak tega kemudian menganggukkan kepalanya.
“Tapi aku mau ke minimarket dulu Mas, soalnya stok makanan aku sudah menipis. Kalau Mas ndak mau ndak apa aku bisa naik bus aja.”
“Ayok kemanapun lu mau gua anterin.”
Rama hendak menggandeng tangan Nifa tapi Nifa dengan segera menepisnya. “Maaf Mas aku mungkin sudah sedikit toleransi saat Mas berada di dekatku. Tapi aku belum bisa diajak kontak fisik jadi Mas jalan dulu aku akan mengikuti dari belakang.”
Menurut saja dari pada Rama tidak jadi pulang bersama cewek pujaannya. Rama berjalan lebih dulu menuju mobilnya, Nifa mengikuti Rama dari belakang kemudian ikut Masuk kedalam mobil.
“Tadi kenapa gak bales pesan gua?”
Nifa menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Emm itu Mas handphone ku habis batrainya.”
Rama hanya menganggukkan kepala. “Kalau lu mau muntah itu ada plastik di depan lu pake aja.”
Nifa sebenarnya sudah lemas dan ingin muntah tapi mencoba ditahan. “Aku sedang mencoba agar ndak muntah Mas, takut nanti lemes malah ndak jadi belanja."
Sesampainya di minimarket Nifa memasukkan belanjaannya dengan cepat, ia sudah terbiasa berbelanja bulanan sendiri dan kebutuhannya selalu sama. Tidak sampai tiga puluh menit semuanya selesai, menuju kasir yang kebetulan senggang membayarnya kemudian keluar menuju mobil Rama. Rama terkejut melihat Nifa datang dengan cepat, Nifa menyuruhnya menunggu di mobil karena tidak ingin memperlambat proses belanjanya.
Saat di dalam mobil tiba-tiba perut Rama berbunyi. Nifa yang mendengar itu kemudian terkekeh membuat wajah Rama memerah menahan malu.
“Mas laper ya? Itu perutnya bunyi.” Ujar Nifa sambil terkekeh.
“Emm iya hehe, lu mau mampir makan dulu gak?”
“Gimana kalo makan malam di rumah aja Mas? Soalnya aku rasanya capek banget hari ini gimana?”
Rama terkejut hari ini terlalu banyak kejutan, ini makan malam pertamanya dengan Nifa. Rama segera menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di rumah kontrakan Nifa, Rama di persilahkan duduk di sofa ruang tengah. Rama menatap sekitar kontrakan Nifa, yang ini berbeda dengan kontrakan sebelumnya. Terlihat lebih kecil tapi entah kenapa membuat Rama nyaman.
Sekitar lima belas menit Nifa datang dengan membawa dua piring ditangannya, meletakkan di depan Rama. Kemudian pergi lagi dan kembali dengan dua gelas berisi air putih.
“Maaf ya mas aku Cuma bisa ngasih ini, karena cuma nasi goreng yang prosesnya cepat.”
Rama menganggukan kepala kemudian memakan nasi goreng buatan Nifa. Tidak terlalu enak tpi juga bukan tidak enak, standarlah. Tapi Rama tetap menghabiskannya ingin membuat hati cewek itu senang.
Walaupun dengan menu sederhana tapi membuat Rama seperti melayang kesurga. Pertama kalinya Rama dan Nifa makan malam bersama sangat luar biasa bagi Rama. Sebelumnya Rama pernah mengajak Nifa pergi makan bersama tapi selalu ditolak. Tapi kali ini justru Nifa yang mengajaknya untuk makan malam bersama di rumah kontrakannya.