
Terik matahari siang ini terasa sangat menyiksa, ditambah dengan mood Rama yang tidak terlalu baik hari ini. Ia bertengkar lagi dengan ayah tirinya karena saat Rama disuruh berkunjung kerumah orang tuanya Rama melihat ayah tirinya sedang memukuli mamanya.
Rama yang melihat itu langsung memberikan pukulan bertubi-tubi hingga ayah tirinya terkapar jatuh pingsan. Yang membuatnya marah adalah mamanya justru malah menampar Rama, membuat Rama pulang tanpa menginap.
“Jadi Bapak harap yang terpilih untuk mewakili perlombaan badminton minggu depan dapat berlatih dengan giat. Jangan ada yang membolos saat latihan.” Pak Roni selaku dosen mata kuliah badminton meneliti satu persatu mahasiswanya. “Rama kamu dengar apa yang Bapak bicarakan tidak? Bapak lihat kamu melamun.”
Rama tidak mendengar perkataan Pak Roni sehingga hanya diam saja tidak merespon, pikirannya masih pada kejadian kemarin dengan keluarganya. Pertengkarannya dengan ayah tirinya yang berakhir dengan tamparan dari mamahnya, pasalnya Rama tak pernah di pukul oleh mamahnya sebelumnya.
“Rama!”
Pak Reno memanggil Rama sampai empat kali tapi Rama masih diam tidak merespon. Arga yang duduk di sebelah Rama menyikut perut Rama kencang agar Rama tersadar.
“Arrgh sialan! Kenapa lu nyikut perut gua!”
Rama menatap Arga marah Karena sikutan Arga pada perutnya sangat kencang membuatnya kesakitan.
Arga mendelik kemudian mengkode dengan mengangkat dagunya kearah Pak Reno yang berdiri di depannya, tapi dasarnya otak di tempurung kepala Rama memang kecil jadi dia tidak paham kode dari Arga.
“Rama! Berdiri dan lari keliling lapangan dua puluh kali sekarang!”
Rama terkejut saat mendengar dan mendapati presensi dosennya di depannya dengan raut wajah marah.
“Tapi Pak ken--“
Ucapan Rama terpotong oleh Pak Reno. “Tidak ada tapi-tapian sekarang cepat lari keliling lapangan dua puluh kali Rama!”
Berdiri dari duduknya kemudian berlari mengelilingi lapangan, Rama menurut saja dari pada mendapat kelas detensi nantinya. Ini hari tersial menurut Rama, pipinya saja masih berdenyut nyeri ditambah dengan lari keliling lapangan dua puluh kali. Meski ini biasa Rama lakukan sejak dulu tapi rasanya kali ini kondisinya tidak tepat, di tambah para cewek-cewek yang sedang kebetulan melewati lapangan bersorak kagum melihatnya berkeringat seperti ini.
Setelah menyelesaikan larinya para sahabat Rama menghampirinya yang sedang duduk di pinggir lapangan. Yang membuat Rama terlihat kesal adalah saat melihat Arga berjalan menghampirinya dengan terkikik seperti psikopat berdarah dingin.
Arga melempar air mineral dingin kearah Rama yang langsung sigap ditangkap. “Makanya Ram kalo lagi mata kuliah Pak Reno jangan melamun.”
Bagas tertawa sambil mengunyah cemilannya. “Betul tuh, lagian udah kayak punya otak aja pake melamun segala.”
Rama melempar handuk keringatnya tepat kearah muka Bagas. “Sialan lu!”
“Btw Ram kita nanti malam ada latihan badminton jam tujuh malam, gua di minta Pak Reno buat kasih tau lu.” Farid duduk disamping Rama menepuk bahu Rama. “Jangan bolos nanti lu dihukum lagi.”
Tuh kan… hari ini memang hari sial Rama, ia tak bisa bertemu dan menjemput pujaan hatinya. Pupus sudah harapannya, pikirnya setelah melewati hari yang berat Rama bisa bertemu Nifa melepas penat dengan melihat senyuman Nifa yang bagai candu.
Menghembuskan nafas berat. “Harus banget datang ya?” Rama menatap Farid di sampingnya kemudian Farid mengangguk.
“Double sialan!”
Pukul setengah tujuh malam Rama sudah datang bersama Farid kelapangan. Karena hanya mereka yang terpilih untuk mengikuti perwakilan, sebab Arga dan Bagas mengikuti lomba lainnya. Sebenarnya Rama tidak terlalu bisa bermain badminton tapi entah kenapa dosen itu memilihnya.
Rama mencoba menelepon Nifa beberapa kali, tapi yang menjawab hanya operator yang berbicara bahwa nomor Nifa tidak aktif. Mengusap wajahnya kasar duduk di bangku sebelah Farid.
“Sudahlah fokus dulu latihan, Nifa pasti baik-baik aja paling batrainya habis.”
“Dari mana lu tau kalau batrai handphone Nifa habis?” Rama menatap farid penuh selidik.
“Ya mungkin aja kan, lagian kata lu dia pulang jam tujuh kan? Mungkin sekarang sedang perjalanan pulang kerumahnya. Entar juga pas udah selesai lu bisa telpon dia lagi.”
Benar juga kata Farid, mungkin cewek itu sedang berada di dalam bus atau naik ojek online. Nanti Rama akan meneleponnya jika sudah selesai latihan. Selang beberapa menit Pak Reno datang mereka semua langsung latihan badminton.
Sudah seminggu lamanya Rama tidak bertemu Nifa membuatnya seperti kehilangan separuh jiwanya. Sebenarnya Rama tidak bersemangat untuk mengikuti lomba ini, tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur.
Hari ini tepat acara pertandingan dimulai, saat di tengah lapangan Rama mengedarkan pandangannya kearah para penonton. Khususnya yang dari kampusnya, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan mata cewek itu. Terlihat Nifa tersenyum tipis kearahnya membuat energi Rama bertambah.
Farid menepuk bahunya agar Rama tersadar. “Sudah mengagumi cewekmu itu? Setelah ini lu harus berterimaksih sama gua Ram, lu harus traktir gua habis ini.”
Rama mengernyit bingung akan perkataan Farid. “Maksud lu apa?”
“Gua yang bilang ke Pak Reno mengusulkan untuk Fisioterapi pendampingnya ada ceweknya biar bersemangat, dan yah gua request Nifa buat lu. Sempet gak di setujui masalahnya Nifa itu Fisioterapi pediatric atau anak bukan Fisioterapi sport, tapi gua tetep ngeyel dan bilang Nifa itu manis biar nambah semangat kita.” Farid menjeda sebentar perkataannya kemudian terkekeh. “Ntahlah jika diantara kita ada yang cedera mungkin saja cedera kita bisa saja tambah parah, ya udah yok kita ketengah lapangan.”
Pertandingan sudah di mulai sejak lima belas menit yang lalu, semakin panas pertandingan terus berlanjut. Saat ini skor dari tim Rama lebih tinggi dari tim lawan.
Saat hendak memukul bulu tangkis dengan gerakan atau teknik overhead kaki Farid tersandung kaki yang satunya, membuatnya oleng dan terhuyung jatuh kedepan. Nifa dan Rico salah satu Fisioterapi pendamping yang terpilih langsung bergegas menghampiri ketengah lapangan.
Nifa terlihat khawatir spontan membantu Farid berdiri memapah Farid berjalan ke pinggir lapangan, menuju tempat matras di ujung khusus pemain yang cedera. Sedangkan Rico pergi mengambil perlengkapan dengan berlari.
“Biar aku aja Rico bolehkan?” Nifa menatap penuh harap kearah Rico membuat Rico menganggukkan kepalanya.
Nifa menggunakan metode RICE yaitu Rest, Ice, Compression, And Elevation. Nifa meminta Farid untuk rileks dan tidak menggerakkan kakinya. Meminta Farid untuk berbaring dan Farid hanya menurut tanpa protes sebab rasa sakit di kakinya membuatnya hampir menangis, mungkin jika tidak dalam perlombaan sudah di pastikan Farid sudah menangis kencang.
Nifa menaruh es batu didalam ember kecil yang sudah di sediakan kemudian diisi air dan mencelupkan handuk kecil kedalam air es tersebut lalu menempelkan pada pergelangan kaki Farid yang cedera selama 15-20 menit. Farid meringis dan mengaduh sebab ketika handuk basah yang terasa dingin karena di celupkan di air es tersebut membuat area cederanya terasa ngilu.
Kemudian Nifa membalut pergelangan kaki Farid menggunakan elastic bandage tidak terlalu kencang juga tidak terlalu longgar agar tidak menghambat aliran darah. Kemudian yang terakhir Nifa menyuruh Farid berbaring dan meminta agar kakinya yang cedera di letakkan pada bantal yang sudah di sediakan Nifa, agar dapat mengembalikan kekuatan dan kelenturan jaringan agar kakinya dapat berfungsi seperti sedia kala. Farid hanya menurut saja selama proses pengobatannya sesekali memandangi wajah Nifa.
Tanpa disadari Rama memperhatikan gerak gerik Nifa saat memberi penanganan pada Farid. Kenapa Nifa mahu kontak fisik dengan Farid sedangkan dengan dirinya dia tidak mau. Rama bermain badminton dengan mode devil agar bisa membuat pertandingan cepat selesai, dan ya benar berselang beberapa menit kemudian pertandingan selesai dan tim Rama pemenangnya.
“Ikut gua!”
Setelah pertandingan selesai Rama menarik tangan Nifa begitu saja, padahal Nifa sedang memberi minum untuk Farid yang langsung di gantikan dengan Rico.
“Mas sakit lepasin!”
Rama membawa Nifa keparkiran setelah sampai di sampingan mobilnya, Rama melepaskan tautan tangannya. Memojokkan badan mungil Nifa samping mobilnya, menaruh tangannya di sisi kanan kiri badan Nifa. Sedangkan Nifa sudah gemetaran dan wajahnya merah, terlihat jelas oleh Rama.
“Kenapa lu bisa berdekatan dengan Farid sedangkan sama gua lu selalu pengen muntah begini hah!”
Rama merendahkan intonasi suaranya membuat aura dominan kentara, terasa mengerikan. Nifa menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, melepaskan kungkungan tangan kiri Rama setelah berhasil Nifa memuntahkan semua isi perutnya. Rama marah melihat itu, membuatnya membuka pintu belakang mobilnya mendorong paksa badan Nifa sampai jatuh di jok kursi penumpang kemudian menindih badan mungil Nifa.
Rama menyeringai devil aura mendominasi masih melekat. “Lu gak boleh menyukai orang lain kecuali gua.” Memandangi wajah Nifa yang memerah di bawahnya, menyingkirkan anak rambut di wajah bulat Nifa kemudian mengusap bibir mungil Nifa dengan ibu jarinya.
“Dan ini hukuman untuk bocah nakal.”
Rama menyatukan bibirnya dengan bibir Nifa, membuat Nifa terkejut sontak melebarkan kedua mata bulatnya. Nifa memberontak dibawah badan Rama tapi sulit badan Rama terlalu kekar untuk ukuran Nifa yang mungil. Nifa menangis didalam ciuman Rama, tapi Rama tak peduli terus mencium Nifa dengan membabi buta. Ini bagian candu yang Rama selalu inginkan.
Setelah tiga puluh menit ciuman itu berlangsung, hanya sepihak sebab Nifa hanya diam dan menangis. Rama melepaskan ciumannya karena melihat Nifa kehabisan nafas, Rama beralih menciumi leher Nifa serta menjilatnya.
“Mas hentikan tolong kamu sudah merebut ciuman pertamaku sejak waktu itu dan sekarang Mas melakukannya lagi. Jangan lanjutkan untuk merusakku Mas.” Nada bicara Nifa bergetar dan isakan tangisnya memilukan membuat Rama tersadar dan bangkit dari atas tubuh Nifa.
“Nifa maaf gua lepas kendali, itu Karen-“
“Biarin aku pergi Mas.” Nifa bangun kemudian berlari terseret-seret badannya lemas.
Saat dirasa sudah jauh dari jangkauan Rama, Nifa berhenti di tempat duduk pinggir jalan.
“Halo Mel, boleh ndak aku minta jemput please tolong aku.”
Melinda yang mendapat telepon dari Nifa dengan nada bicara seperti menangis membuatnya bergegas mengambil kunci mobilnya. Membelah jalanan dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, ia khawatir pada sahabatnya. Saat sampai di tempat Nifa berada spontan Nifa memeluk Melinda dan menangis dengan kencang. Melinda membawanya untuk menginap dirumahnya.
“Apa yang terjadi sama lu Nif?” Melinda bertanya setelah Nifa menghentikan tangisnya.
Nifa hanya diam, membuat Melinda geram melihatnya. “Cerita aja gua sahabat lu jangan sungkan.”
“Kamu tau kan penyakit aku? Aku sulit untuk berdekatan atau kontak fisik dengan laki-laki. Tapi tadi itu… Rama menciumku aku ketakutan Mel.” Nifa menangis lagi. “Aku takut dia memperkosaku dia menyentuh tubuhku untung aku bisa melarikan diri.”
Mendengar penjelasan Nifa membuat Melinda melebarkan kedua matanya. Menghampiri Nifa memeluk tubuh mungilnya kemudian mengelusnya. Sialan! Rama harus diberi pelajaran besok oleh Melinda.
“Tenang lu aman disini, besok kita gak perlu masuk kampus dulu. Lu tenangi diri lu disini dulu gak perlu sungkan gua tinggal dirumah sendiri.”
Nifa hanya menganggukkan kepalanya lemah. “Terimakasih telah menampungku dan menolongku Mel.”
Melinda hanya mengangguk kemudian menyuruh Nifa untuk tidur, Melinda menyelimuti tubuh Nifa lalu ikut tertidur di samping Nifa.