
Perlahan membuka kedua matanya rasanya kepala berdenyut ngilu pandangannya sedikit kabur dan berputar, mencoba untuk rileks menstabilkan kondisi tubuhnya agar tidak berangsur pusing. Setelah merasa rileks barulah ia menyadari ada lengan kekar sedang memeluk tubuhnya, menjadikannya sebagai guling.
Menghela nafas panjang, inilah si pembuat penyakitnya suka muncul. “Mas bangun badanmu besar aku ndak bisa bernafas.” Mencoba membangunkan Rama dari tidurnya dengan cara menggoyang-goyangkan badan Rama.
Menyebalkan!
Ternyata sangat susah membangunkan Rama dari tidurnya. Sudah hampir satu jam tetapi tak kunjung bangun cowok ini, dan selama hampir satu jam dirinya menahan mual dan ingin muntah.
Rama akhirnya menggeliat mencoba menyadarkan dirinya karena rengekan cewek dalam pelukannya ini. Semalaman suntuk ia susah tidur dan pagi harinya terjadi insiden ceweknya pingsan dan demam, yang membuatnya harus menjaganya sampai tak terasa ia tertidur dengan sendirinya.
“Mas lepas aku ngerasa sesak dan ndak bisa bernafas. Badan kamu besar banget Mas.”
Namun bukannya melepas pelukannya, Rama justru semakin mengeratkan pelukannya. Merengkuh Nifa seolah-olah cewek mungil itu adalah guling hidup. “Biarin gini dulu lagian gua capek tau seharian ngurusin lu yang lagi sakit.”
“Jadi Mas gak ikhlas ya?” mengerucukan bibirnya kemudian mencubit perut Rama.
“Aduh duh lu ya kecil-kecil nyubitnya sakit juga.” Melepaskan pelukannya kemudian mengelus perutnya yang tadi terkena cubitan Nifa.
Mendengus sebal kemudian memunggungi Rama, “Salah siapa Mas begitu, lagian kalau Mas ndak ikhlas ngerawat aku ya tinggal biarin aja segampang itu di bikin ribet.”
Melebarkan kedua matanya, apa-apaan ini? Bukannya berterimakasih tapi ceweknya malah marah-marah. “Maksud lu apa? Bukannya berterimakasih lu malah ngomong kayak gitu. Bagus banget ya lu,”
Rama dengan penuh rasa kesal membalikkan badan Nifa menjadi telentang. Sepertinya ceweknya ini perlu di beri pelajaran, tingkahnya sangat menyebalkan. Rama langsung menindih badan cewek mungil itu setelah berhasil di tarik terlentang dengan sekali tarikan. Smrik devil di perlihatkannya kala menatap wajah merah merona dari cewek mungil dalam tindihannya.
“Coba protes lagi gua mau denger.”
Nifa hanya mampu menggelengkan kepala lemah, menelan saliva kasar. Jika sudah begini kemungkinan akan terjadi hal-hal yang di inginkan Rama. Cowok itu suka bertindak mengerikan jika di usik, tukang perintah dan tidak bisa di bantah. Rama sangat terlihat beribu-ribu menyebalkan saat ini.
“Kenapa diam tadi aja lu berani protes dan marah-marah.” Rama semakin mendekatkan wajahnya kearah wajah Nifa.
“Ttidak Mas anggap saja yang tadi itu bercanda.” Nifa gugup saat Rama mulai mengikis jarak wajahnya mendekat. Memejamkan mata karena rasa gugup dan takut bercampur saat wajahnya sedekat ini dengan Rama.
Mencubit hidung mungil Nifa kemudian terkekeh kencang. “Hayo lu mikir gua mau nyium lu ya, tenang kali ini gua lagi jinak.” Tertawa kencang meledek Nifa.
Membuka mata kemudian melotot menatap Rama, mencubit perut Rama yang membuat Rama menjerit mengelus bekas cubitan Nifa.
“Kenapa sih hobi banget nyubit sekarang huh…”
“Itu balasan untuk keisengan Mas, dasar nyebelin!”
Rama menampilkan smriknya menatap cewek yang berada dalam kungkungannya dengan wajah mengerikan. Seperti singa buas yang menemukan mangsanya, ini semua juga karena ceweknya yang memulai.
Cup
hanya satu kecupan tidak lebih karena kali ini ada yang mesti di urus nanti setelah urusannya selesai ia akan menghabisi mangsanya lagi. Mungkin bisa di sebut babak kedua mungkin juga ronde kedua.
Melebarkan kedua mata bulatnya, kemudian mengerucutkan bibirnya tangan kanannya hendak mencubit perut Rama lagi. Namun dengan sigap Rama menangkap tangan Nifa agar tidak terkena cubitan maut Nifa.
“Mas apa-apaan sih ngeselin.”
“Itu DP dulu nanti pelunasannya di rumah.” Terkekeh sembari menatap jahil kearah Nifa.
“Udah kayak mau beli motor aja sih Mas.”
“Jangankan motor kapal pesiarpun gua kasih Fa, ayo mumpung masih sore kita jalan-jalan sambil jalan pulang.”
Menganggukkan kepala kemudian bangkit beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap untuk pulang rasanya sudah rindu dengan kedua sahabatnya itu. Karena sejak awal datang kemari Rama menyita handphonenya dengan alasan hanya ingin berdua tanpa adanya gangguan.
Di tengah perjalanan Rama mengajak mampir di sebuah restoran yang sangat mewah. Hanya makan malam biasa namun terasa sangat istimewa karena Rama sangat perhatian kepada Nifa, seperti menyuapi Nifa makanan, mengelap bibir Nifa jika belepotan saat makan, dan siap siaga memberikan minum jika Nifa tersedak.
Selama perjalanan menuju pulang Nifa hanya tertidur pulas. Karena saat di restoran tadi Rama memesankannya banyak makanan dan menyuruhnya untuk makan banyak, tanpa perlu memikirkan akan bertambahnya berat badannya. Sebenarnya Rama itu adalah tipe idamannya yang tak pernah memusingkan akan fisik Nifa, karena Nifa memiliki tinggi yang minim serta badan yang sedikit berisi. Jika di jawa ini di sebut bantet, ya dari dulu teman-teman Nifa sering mengejeknya seperti itu, sangat menyebalkan.
Rama sengaja membawa Nifa pulang ke apartemennya karena yang lebih dekat. Menggendongg Nifa menuju kamar apartemennya, karena tidak tega jika membangunkan ceweknya ini. Pasti ceweknya sudah sangat kelelahan karena perjalanan jauh. Setelah sampai didalam kamar ia menidurkan Nifa diatas ranjangnya kemudian ikut tidur di samping Nifa.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Rama bergegas menemui tantenya itu ingin menanyakan sesuatu. Ia melihat kearah ceweknya yang masih tertidur dengan pulas, wajah damainya saat tidur membuat Rama tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberinya note yang berisi jika ia pergi dulu dan harus menunggu disini sampai dirinya pulang.
Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak ingin celaka di pagi hari. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya Rama sampai pada rumah sakit tempat tantenya bekerja.
Mengetuk pintu sebanyak tiga kali kemudian seseorang yang di dalam ruangan menyuruhnya masuk.
Tante Riana terkejut saat melihat keponakannya berkunjung. Karena tidak biasanya keponakan gantengnya yang satu ini mau mengunjungi. Alasannya hanya satu takut jarum suntik padahal ia jarang sekali memperihatkan jarum suntik kepada Rama.
“Wah tumben banget keponakan gantengnya tante datang kesini, semoga setelah ini tidak terjadi hujan badai setelah kunjunganmu ini ya.”
Rama mengerucutkan bibirnya tanda bawa ia sebal dengan perkataan tantenya ini. “memangnya kenapa coba kalau Rama dateng kesini? Tante gak suka kalau Rama datang? Padahal Rama sudah membawakan makanan kesukaan tante dari Mama.”
“Eh eh eh jangan, siniin makanannya tante udah lama gak makan masakan mama kamu, rasanya rindu banget dengan aroma dan rasa khas masakan mama kamu.”
Menyodorkan rantang yang di bawanya kearah tantenya. Ya tadi sebelum menemui tantenya ia menelepon mamanya untuk di masakkan makanan kesukaan tantenya itu sebab ia akan berkunjung menemui tantenya. “Tapi tante harus janji dulu sama Rama apapun yang nanti Rama akan tanyakan, tante akan memberitahunya selengkap-lengkapnya tanpa ada yang di tutupi.” Menarik kembali rantang itu sebelum tantenya sempat menerima rantang tersebut.
“Ish iya-iya siniin cepat rantangnya.” Merebut paksa rantang dari tangan Rama. “Emang apa sih yang perlu ditanyain sampai rela pagi-pagi begini sudah ada disini?”
Menelan salivanya pelan ia sedikit gugup, “ini tentang pacar Rama yang namanya Nifa, pasti tante tau kan siapa Nifa yang Rama maksud?”
Menghentikan aktivitas membuka rantang pemberian Rama untuknya. Kedua matanya melebar kala mendengar pertanyaan Rama.
“Tunggu Nifa yang pendek dan sedikit berisi itu? Kalau tidak salah dia satu kampus denganmu kan?”
Menganggukkan kepala, mengeluarkan handphone kemudian memperlihatkan foto Nifa agar tidak salah dengan pasiennya yang lain.
Menatap keponakannya dengan intens. Bagaimana bisa keponakan gantengnya ini megaku sebagai pacar dari pasiennya yang sedang berjuang melawan depresinya. “Hal yang seperti ini tuh sebenarnya privasi tiap pasien Ram, tante gak bisa ceritain.”
“Ayolah tan, kali ini saja Rama ingin tau lagi pula aku ini pacarnya.” Rama terus merengek kepada tantenya.
Menghela nafas panjang. “Nifa sebenarnya baik-baik saja kok akhir-akhir ini. Cuma memang dari awal Nifa datang dan berobat padaku Nifa mengalami depresi. Kemudian depresi itu makin hari makin menjadi-jadi, setelah meneliti lagi ternyata Nifa mengidap penyakit philophobia.”
“Apa itu philophobia.” Tanya Rama dengan tatapan bingung
“Philophobia adalah pobia jatuh jatuh cinta, dan jika sudah parah ia akan pingsan saat kontak fisik lawan jenisnya. Mungkin saja bisa jadi timbul gejala lain seperti muntah dengan tia-tiba.”
“Ya sering kali Nifa muntah yang berujung jatuh pingsan.”
Menghela nafas panjang. “Tante rasa jika kamu hanya ingin main-main dengan perempuan lebih baik pilih yang lain saja, kasihan Nifa jika suatu saat kamu akan meninggalkannya. Dia sedang dalam tahap penyembuhan.”
Melebarkan kedua matanya menatap tajam kearah tantenya. “Enak aja Rama tuh bener-bener cinta sama Nifa, tante ini fitnah banget sih.”
“Yakan tante cuma memperingatkan, kasihan nasib Nifa itu tidaklah beruntung ada suatu masa lalu pahit yang dilewatinya. Masa lalu itulah yang menyebabkan timbulnya philophobia dalam diri Nifa.”
Mengernyitkan dahinya. “Masa lalu seperti apa itu tan?”
“Kalau yang itu tante gak bisa ngasih tau, kamu harus cari tau sendiri karena ini sangat privasi. Kalau kamu benar-benar mencintainya maka bantulah dia untuk melawan depresinya maka kamu akan mendapat jawaban dari dia langsung.” Bangkit berdiri menepuk bahu kiri Rama. “Tante tinggal dulu ya, ada pasien yang nungguin di luar.”
Rama hanya menganggukkan kepala lemah sebagai jawabannya. Ia masih bingung ada apa sebenarnya dengan pujaan hatinya itu.