First Fall In Love

First Fall In Love
First Date



Mata kuliah yang memberatkan otak serta menambah beban hidup akhirnya selesai, tapi tugas yang di berikan sangat mengerikan kira-kira jika di perumpamakan seperti terjun bebas ke neraka. Yah begitulah kiranya nasib seorang anak kuliahan. Pagi masuk kampus, siang kepala ngebul, dan malam harus begadang untuk menyelesaikan tugas.


Mantap!


Seorang gadis berjalan gontai dengan meneteng tasnya serta menundukkan kepalanya di sepanjang jalan. Badan serta otaknya terasa lelah, di tambah kedua sahabatnya tidak masuk hari ini. Rasanya membosankan hidup tidak ada gairah dan hanya melakukan aktivitas itu-itu saja.


Saat sedang asiknya meratapi nasib tiba-tiba tangan kekar mencekal lengannya, membuat gadis itu menoleh mencari pemilik tangan itu. “Jangan ganggu aku Mas, aku sedang ndak mood hari ini.”


“Oh baby lu lupa ya kita udah pacaran?”


Menganggukkan kepala, mencoba melepas tangan Rama. “Ndak lupa, lepaskan Mas sakit.”


“Ups sorry baby.” Melepaskan tangannya, tersenyum sumringah kearah ceweknya ini. “So mau jalan-jalan sayang?” Rama mencium puncak kepala Nifa.


Terkejut akan perlakuan si mesum yang sekarang menjabat sebagai pacar terpaksanya ini. “Mas apa-apaan sih! Lagian aku kerja, makan apa nanti kalau ndak kerja.”


“Tenang baby gua udah menghubungi om Herman untuk meliburkanmu hari ini.”


Menghela nafas kasar, cowok itu selalu saja seenaknya atas dirinya. Selalu memaksakan kehendak benar-benar laki-laki dominan yang menyebalkan. Bertemu dengan Rama adalah mimpi buruk yang paling buruk. Namun dasar yang lebih buruk adalah ketika harus menerima cintanya dan harus menjadi pacarnya. “Apakah aku terlihat bisa menolak?”


Senyum miring Rama perlihatkan, ceweknya memang harus penurut. Tidak boleh ada bantahan sebab Rama tidak menyukainya. Menggandeng tangan ceweknya di sepanjang perjalanan, sebenarnya Nifa menolak untuk di gandeng namun Rama tetaplah Rama sang pemaksa dan egois, membuat beberapa orang yang melihatnya menjerit histeris. Eh ralat maksudnya hanya fans alay Rama saja yang menjerit histeris.


“Jadi kamu akan membawaku kemana Mas?”


“Berhubung ini kencan pertama kita aku akan mengajakmu ketempat yang paling indah. Tempat dimana hanya ada ketenangan dan kenyamanan.”


Menganggukkan kepala, menurut saja lah apa yang di mau cowok yang sedang menyetir itu. Lagi pula percuma menolak moodnya juga sedang tidak bagus hari ini.


Rama melirik Nifa yang terus menghadap kearah jendela dengan tatapan bosan. “Tidurlah dulu perjalanannya masih tiga jam lagi.”


Melebarkan kedua mata bulatnya kemudian menatap kearah Rama dengan sorot mata tajam. “Kenapa lama sekali? Mau di bawa kemana aku, kenapa sejauh itu jarak tempuhnya. Mas gak lagi pengen macam-macam kan?” Menatap penuh selidik kearah Rama.


Terkekeh kencang, lucu juga pacarnya ini. “Kalau gua pengen macem-macem udah dari tadi lu gua bawa keapartemen gua. Ngapain segala jauh-jauh kesini kan, dah lah tenang aja baby gua gak akan macem-macem paling satu macem kayak waktu malam gua nembak lu.”


Mendadak kedua pipi Nifa bersemu merah secara cepat membuatnya memalingkan wajah kembali menghadap jendela. Rama terkekeh melihat tingkah unik ceweknya yang sedang malu-malu.


“A-aku mau tidur saja Mas, bangunkan aku ketika sampai.”


Rama hanya mengangguk saja. Sebenarnya Nifa enggan untuk tidur hanya saja ingatannya pada waktu Rama menyatakan cinta saat dalam kondisi pengaruh alkohol masih teringat jelas. Kala itu Rama mencumbunya dengan panas serta membuatnya bertelanjang dada hanya sebatas itu saja, kemudian Rama hilang kesadaran serta Nifa buru-buru memungut bajunya yang dibuang kesembarang arah oleh Rama. Setelah itu Nifa langsung pergi pulang meminta Melinda menjemputnya dengan ribuan telepon dan berhasil membuat beruang kutub itu terbangun dari hibernasinya.


Ketika terbangun Nifa sudah ada di dalam sebuah kamar, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dimana ini? Bukankah tadi ia tidur di dalam mobil. Secepat kilat menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Menghembuskan nafas lega pakaiannya masih komplit, beranjak dari ranjang menuju jendela.


Saat gorden di sibakkan mata Nifa melebar takjub akan pemandangan yang dilihatnya.


Terlihat ada gunung di kejauhan, serta ada sawah dan perkebunan di dekat sini. Rasanya mengingatkannya pada kampung halamannya tepatnya di rumah sang nenek. Matanya berkaca-kaca rasa rindunya pada sang nenek membludak hampir meneteskan air mata namun diurungkan saat tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang melingkar di perutnya.


“Indah kan, sama indahnya denganmu.” Menyandarkan dagunya pada pundak kanan Nifa.


Menganggukkan kepala tanda setuju memang benar indah pemandangan ini. “Iya sangat indah, ini mengingatkanku pada kampung halaman dan rumah. Terimakasih telah mengajakku kesini Mas.”


Mengecup leher pendek Nifa sembari berbisik di telinga kanan cewek itu. “Gua adalah satu-satunya rumah untuk lu singgah. Jadi kapanpun lu merindu datang dan peluk gua seerat yang lu mau.” Mengecup leher Nifa kemudian membalikkan badan mungil itu untuk menghadapnya.


Nifa tertegun atas ucapan dan perlakuan Rama padanya. Tak tau mesti berbicra apa tapi yang jelas sekarang rasanya mual. “Bolehkah aku kekamar mandi mas, perutku rasanya mual.”


Rama menyodorkan satu tas tenteng kearah Nifa. “Pake ini sekarang lu mandi dandan yang cantik pake semua yang ada di dalam sini.”


“Memangnya mas mau mengajakku kemana?”


Mengambil satu tangan cewek itu kemudian menyerah kan tas yang dibawanya. “Pakai aja nanti lu tau sendiri, gua tunggu di bawah ya.” Rama mecium kening ceweknya kemudian melangkah keluar dari kamar.


Menghela nafas panjang terpaksa harus menuruti si gila itu. Jika tidak pasti seorang Rama tak akan tinggal diam saja. Berjalan memasuki kamar mandi lagi membersihkan diri kemudian memakai apa yang di berikan oleh Rama.


Sebuah dres berwarna jingga dengan lengan pendek serta sepasang sepatu flat shoes berwarna senada. Nifa terlihat anggun saat memakainya, kaki mungilnya berjalan menuruni anak tangga.


Rama tertegun memandangi Nifa yang sedang menuruni tangga. Cewek itu benar-benar cantik dan imut di waktu yang bersamaan. Ingin rasanya mengurungnya di dalam kamar saja, dan mengujaminya dengan beberapa peluru yang di keluarkan oleh senjatanya. Namun di urungkan, bisa di penggal kepalanya kalau ceweknya hamil.


Menghampiri di bawah tangga sambil mengulurkan tangannya, seperti sedang menunggu tuan putri. Nifa menerima uluran tangan Rama dengan senyum tipis.


“Mas mau mengajakku kemana? Kenapa harus aku memakai dres seperti ini.”


Tersenyum kemudian mengecup punggung tangan Nifa dengan sayang. “Ikuti saja sayang semua akan baik-baik saja gua bakalan bikin lu bahagia, sampai bingung untuk mengutarakan kebagaiaan itu.”


Menghela nafas pasrah Rama memang super aneh jadi mau tidak mau Nifa harus mengikuti apapun maunya. Pria dominan seperti Rama memang sangat menyebalkan, tidak pernah mau menerima bantahan dalam bentuk apapun dan bagaimanapun. Batu hidup julukan yang pas untuk orang seperti Rama.


Rama menghentikan langkahnya kemudian mencegah Nifa untuk keluar dari mobil ketika mobil berhenti. “Tunggu lu harus tutup mata dulu.” Rama bergegas memakaikan penutup mata kepada Nifa, awalnya di tolak tapi ia memaksa akan mencium cewek itu dengan brutal jika di tolak permintaannya.


“Awas lompat ada lubang kecil.” Perintah Rama, ya saat ini Rama sedang memberi instruksi untuk Nifa agar bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat tanpa terjatuh.


Nifa hanya menurut saja karena ia tidak mau jatuh dan terluka di hari yang melelahkan ini. Saat penutup matanya di buka oleh Rama netranya membola kala melihat pemandangan yang sangat indah sedang di suguhkan tepat di depannya.


Gemerlap lampu malam yang sengaja terpasang di pohon besar serta danau yang indah saat memantulkan cahaya dari lampu tersebut, serta terdapat dua kursi dan satu meja yang dihiasi dengan berbagai macam bunga yaitu bunga lili kesukaannya.


“Indah banget Mas.” Mata bulat Nifa berbinar saat melihat pemandangan di depannya.


Tersenyum indah sebab melihat wajah terpesona dari cewek itu. “kamu jauh lebih indah dari apapun itu.” Menuntun Nifa menuju meja dan kursi yang sudah di persiapkan untuk makan malam bersama pujaan hatinya.


“Ini adalah kali pertama gua datang lagi setelah sekian lama, dan kali ini gua membawa orang terspesial dalam hidup gua.”


“Kenapa jadi kali pertama, memangnya Mas sering kemari bersama siapa?”


Menghela nafas panjang, ingatannya tertuju pada saat-saat terindahnya. “Gua dulu sering kesini bareng keluarga gua mama sama papa gua selalu ngajak kesini, dan rumah pohon itu adalah buatan papa gua waktu gua marah karena papa gua gak dateng pas acara ulang tahun gua.” Tunjuknya pada rumah pohon reot yang dimakan usia. “Setelah mereka cerai gua gak pernah lagi dateng kesini. Dan lu orang yang pertama kali gua ajak kesini setelah kejadian itu.”


Mata Rama nampak berkaca-kaca, namun buru-buru Nifa mengelus dan menggenggam tangan Rama agar menyalurkan ketenangan.


“Aku yakin Mas akan baik-baik saja, terkadang orang tua memang egois mengambil tindakan dan merugikan kita. Tapi percayalah keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik.” Tersenyum menatap Rama.


“Yuk makan dulu Mas, sayang makanannya kalau ndak di makan.” Sambung NIfa.


Menganggukkan kepala kemudian Rama menyantap makanan yang sudah di sediakan di meja makan tersebut, begitu pula Nifa yang ikut menyantapnya juga.


Setelah acara makan selesai Rama mengajak Nifa untuk memasuki rumah pohon favoritnya kala itu. Nifa hanya menurut ia jadi ingin tau ada apa di dalam rumah pohon itu sehingga Rama terlihat murung saat memasuki rumah pohon itu.


Saat sudah di dalam Rama mendadak meneteskan air matanya, membuat Nifa yang melihat pergerakan Rama langsung mengelus bahunya. Namun dengan cepat Rama menyeretnya cepat kemudian memberikan ciuman.


Pelan dan terkesan lembut namun memabukkan, Nifa hanya diam tidak membalas ciuman dari Rama. Namun saat Rama meneteskan air matanya di sela-sela ciumannya membuat Nifa tak tega. Entah dapat bisikan setan jenis apa dirinya kemudian membalas ciuman Rama. Mengesampingkan pobia menyebalkannya itu.